Arbi semakin menikmati ciumannya ketika Yoga sudah pergi dari tempat itu. French kiss mereka semakin panas saat Arbi semakin menarik pinggang Raisa dan Raisa menarik tengkuk Arbi.
"Hhh.....Aku mencintaimu....Sangat mencintaimu...." Ucap Arbi terengah setelah ciuman panjang mereka. Raisa hanya tersenyum menatap intens wajah Arbi kemudian mengusapnya dan Arbi pun menatap intens Raisa penuh cinta dan kerinduan.
"Pantaskah Aku melakukan ini?!...." Batin Raisa berucap ketika ingatan tentang keluarganya, Yoga, dan Nuri kemudian Arbi yang merupakan pria dengan kesempurnaan yang Ia miliki dari penampilan, karier dan kemapanan.
"Ini sudah hampir malam....Aku harus pulang...." Lirih Raisa masih menatap Arbi dan tentunya melihat perubahan di ekspresi di wajah Arbi. Wajah Arbi kembali datar dan matanya memancarkan kekecewaan.
"Arraseo....kita akan bertemu lagi secepatnya...." Yakin Arbi dan kembali memeluk Raisa. Raisa hanya bergumam sebagai jawabannya.
"Semoga saat kita kembali bertemu Aku sudah memiliki keputusan agar tidak berlama-lama menggantungmu...." Batin Raisa berucap harap.
~oO0Oo~
Kini Raisa sedang berada di lorong apartementnya ketika melihat Ibu mertuanya, Anna, berada di apartementnya bersama Yoga dan Nuri yang sudah terlelap di gendongan Yoga.
"Raiaa, Kau baru pulang?...." Tanya Anna setelah Raisa memeluk dan mencium pipinya singkat.
"Iya Mah..." Sahut Raisa pelan karena tahu Anna tidak menyukai kesibukannya.
"Sebaiknya Kau kurangi kesibukanmu sehingga kau memiliki banyak waktu bersama Yoga dan Nuri.... Agar bukan orang lain yang mengurus mereka...." Ucap Anna lembut namun penuh penekanan dan juga tatapan tajam. Anna segera berlalu setelah mengucapkan kata-kata yang cukup untuk membuat Raisa terdiam.
"Tidak perlu Kau pikirkan..... Masuklah...." Yoga berucap lembut kemudian merangkul punggung Raisa mengajaknya memasuki apartement dengan tangan kanan masih menggendong Nuri.
~oO0Oo~
"Nuri sudah di kamarnya?...." Tanya Raisa ketika keluar kamar mandi. Sedangkan Yoga sedang duduk di tepi ranjang yang menghadap kamar mandi seolah sengaja menunggu Raisa.
"Aku ingin tidur bersama Nuri.... Aku merindukannya...." Ucap Raisa sembari melangkah menuju meja riasnya untuk menyisir rambutnya. Raisa berusaha bersikap biasa saja saat sadar tatapan Yoga mengikutinya.
"Kemarilah....Mas ingin bicara...." Pinta Yoga ketika Ia sudah duduk di sofa dekat jendela. Dengan langkah gugup dan perlahan Raisa mulai melangkahkan kakinya mendekati Yoga dan duduk di sebelah kanan Yoga. Yoga menarik pundak Raisa lembut kemudian membawa Raisa ke pelukannya. Raisa hanya bersandar pada d**a Yoga tanpa memeluk Yoga.
"Kau belum mau menceritakan apapun pada Mas?...." Kembali suara Yoga terdengar lembut menyampaikan pertanyaannya. Yoga merupakan pengusaha sukses yang terkenal dengan sikap tegas dan nada intimidasinya. Namun tidak pernah sekalipun Yoga menggunakan sikap tegasnya atau pun nada intimidasinya pada Raisa. Yoga selalu berucap dan bersikap lembut pada Raisa seolah takut menyakiti Raisa sedikit saja.
Menanggapi pertanyaan Yoga, Raisa pun hanya bisa diam. Mungkin jika pada orang lain Raisa bisa pura-pura tidak mengerti, berbohong atau mengalihkan pembicaraan. Namun tidak jika orang itu adalah Yoga. Yoga terlalu peka dan mengenal Raisa sehingga Yoga selalu tau apa yang terjadi pada Raisa bahkan apa yang Raisa pikirkan atau rasakan.
"Kau tahukan Mas mencintaimu melebihi apapun?!....Dan Mas akan melakukan apapun asal bisa membuatmu bahagia..... Bagi Mas, kebahagianmu adalah yang terpenting....." Ucap Yoga lembut dan bergetar karena mencoba meredam emosinya.
Raisa mendongakkan wajahnya agar dapat menatap mata Yoga dan Ia bisa melihat dengan jelas ketulusan dan kesungguhan Yoga akan kata-kata yang Ia ucapkan. Tanpa terasa airmata Raisa menetes dan Ia segera memeluk pinggang Yoga juga menyembunyikan wajahnya pada d**a Yoga untuk menutupi kesedihan dan kegalauannya. Yoga hanya bisa mengusap punggung Raisa dan sesekali mencium kepala Raisa tanpa memaksa Raisa untuk mengatakan apapun. Cukup lama mereka berpelukan hingga tangisan Raisa reda.
"Aku akan ke kamar Nuri....." Ucap Raisa pelan setelah melepaskan pelukannya dan beranjak untuk keluar kamar.
"Pikirkanlah baik-baik Sa....Pertimbangkanlah apa yang membuatmu bahagia.....benar-benar bahagia....bukan hanya kebahagiaan semu...." Raisa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Yoga kemudian Ia pun meninggalkan kamarnya. Tidak lama kemudian Yoga pun keluar menuju pintu yang hanya diketahui oleh Yoga, Raisa, Nuri dan seorang sahabat mereka.
~oO0Oo~
"Ayo Nuri kita lari......Papa sedang jadi buaya dan akan memakan kita....." Teriak Raisa dengan nada pura-pura takut sembari menggandeng Nuri untuk berlari.
"Iya Mah.....Aku tidak mau dimakan buaya.....Aaa......" Nuri berlari semakin kencang saat Yoga semakin dekat.
"Papa buaya akan memakan kalian.....Aaa....." Yoga berakting menjadi buaya dengan membuka lebar mulutnya. Nampak senyum dan tawa bahagia di wajah keluarga kecil itu. Semalaman Raisa tidak bisa tidur karena kegalauannya sehingga tadi pagi Ia mengajak keluarga kecilnya berlibur di pantai. Untuk menyegarkan pikirannya dan juga sebagai pertimbangan akan keputusan yang Ia ambil.
"Papa buaya....daripada memakan gadis-gadis cantik itu lebih baik kita makan-makanan yang lezat ini...." Seru seorang wanita yang diajak Raisa untuk berlibur bersama.
"Yeee......Mama......makaaaannn...." Nuri berteriak dan berlari mendekati wanita itu meninggalkan Yoga dan Raisa yang tersenyum melihat kebahagiaan Nuri.
"Mbak bawa makanan banyak sekali...." Raisa berucap dengan nada ceria sembari memeluk wanita berusia 30 tahun itu dari belakang dan meletakkan dagunya di pundaknya. Mereka dalam posisi di duduk di sebuah pondok tepi pantai yang dinaungi pohon.
"Karena Aku tahu perut kalian bertiga itu memiliki kapasitas yang besar....bukankah itu juga alasanmu mengajakku?!...." Tanya wanita itu tersenyum menggoda kepada wanita yang sudah ia anggap adik sendiri itu.
"Mbak Shinta memang yang terbaik...." Ucap Raisa kembali dengan nada cerianya kemudian mengecup pipi Shinta.
"Sayang.....kalian makanlah....tidak perlu bermesraan seperti itu.....membuatku iri saja...." Ucap Yoga pura-pura merajuk. Sedangkan kedua wanita itu hanya tersenyum lebar dan semakin mengeratkan pelukan mereka.
"Aku bahagia..... Aku tidak tahu ini kebahagiaan semu atau kebahagiaan yang sebenarnya.... Tapi bukankah kebahagiaan tidak selalu ada karena ada saatnya kebahagiaan terhenti sesaat ketika adanya cobaan....yang jelas saat ini Aku bahagia.... Dan Aku sudah menemukan pilihanku...." Raisa tersenyum menatap satu persatu wajah keluarga kecilnya itu.
"Nuri... Mama lapar....suapi Mama....Aaa....." Nuri pun dengan cekatan menyuapi Raisa dengan sepotong nugget membuat Raisa tersenyum bahagia.
"Sekarang giliran Papa yang menyuapi Mamamu....Aaa...." Yoga sudah menghadapkan telur gulung di depan mulut Raisa membuat Raisa berusaha dengan cepat menelan nugget di mulutnya. Dan karena mulutnya terlalu penuh makanan membuat Raisa sulit bicara dan hampir tersedak namun Yoga dan Nuri justru tertawa membuat Raisa pura-pura kesal namun juga bahagia melihat orang-orang di sekelilingnya yang selalu membuatnya tertawa dan melupakan masalahnya.
~oO0Oo~
Two weeks later
Dua minggu sudah Arbi tidak dapat bertemu Raisa karena kesibukannya membuat Ia begitu bersemangat hari ini untuk bertemu Raisa. Arbi kini sudah menunggu Raisa di ruangan private sebuah restaurant.
Cklekk
Pintu terbuka dan masuklah wanita yang Arbi tunggu sejak tadi. Arbi berdiri dan hendak beranjak memeluk Raisa saat Raisa bergeser untuk mempersilakan seseorang masuk diikuti seorang balita cantik.
Arbi terdiam tidak menduga hal ini. Bukan tidak menduga hal ini akan terjadi namun tidak menduga hal ini terjadi secepat ini.
Selama dua minggu ini Raisa nampak menghindari Arbi terlihat dari jarangnya membalas panggilan atau pesan singkat Arbi seperti 2 minggu yang lalu. Namun Arbi hanya menduga Raisa masih bimbang sehingga Arbi berfikir ketika bertemu saat ini Ia akan membuat Raisa kembali mencintainya dan menyambutnya seperti 2 minggu yang lalu. Namun rencana tinggal rencana saat kini Ia melihat Raisa datang bersama suami serta anaknya.
"Kakaak..... perkenalkan ini suamiku Yoga Chandra dan puteri kami Nuri Arini ...." Raisa berucap gugup. Arbi terdiam dan memejamkan matanya beberapa saat untuk meredakan emosinya.
"Hmm....Aku sudah mengenalnya..... duduklah...." Kim Bum mengeluarkan suara datarnya.
"Om Arbi....Aku Nuri....Aku penggemar Om..." Ucap Nuri polos dengan senyumannya mendekati Arbi membuat suasana sedikit mencair.
"Benarkah.....kalau begitu kemarilah..." Suara Arbi kini terdengar begitu lembut kemudian membawa Nuri duduk dipangkuannya. Raisa dan Yoga tersenyum melihat pemandangan itu.
Mmuach....muach...muach...
Semua nampak terkejut saat Nuri mencium pipi Arbi berulang kali. Arbi terdiam namun kemudian tersenyum tipis mendapat ciuman dari Nuri.
"Kau cantik dan lucu sekali....cup cup cup...". Arbi membalas perlakuan Nuri dengan memberikan kecupan singkat di kedua pipinya dan terakhir di keningnya. Nuri tersenyum senang.
Arbi menatap dan meneliti intens wajah cantik dan tersenyum miris saat melihat mata Nuri memiliki warna mata seperti Yoga begitu pula dagunya. Hal itu membuat Arbi sedikit tidak suka sehingga Ia langsung memeluk Nuri berharap rasa bencinya pada Yoga tidak membuat Ia juga membenci Nuri.
Tanpa terasa tiba-tiba Nuri sudah terlelap di pangkuan Arbi.
" Nuri sepertinya kelelahan... " Ucap Raisa dengan nada lembut penuh kasih sayang. Mendengar suara Raisa membuat Arbi kembali ingat apa yang terjadi.
"Jadi....apa maksud semua ini Arini?..." Arbi bersuara datar masih dengan Nuri dipangkuannya namun posisinya sudah dengan posisinya nyaman.
"Ini keputusanku Kaak... Aku mencintai keluarga kecilku.... Aku tidak ingin kehilangan mereka..." Raisa berucap jujur walau dengan sedikit keraguan. Yoga sedikit terkejut dan ingin mengucapkan sesuatu saat tangan Raisa menggenggam sebelah tangannya.
"Kau mencintainya?...." Tanya Arbi penuh kekecewaan saat melihat tangan Raisa yang menggenggam tangan Yoga.
"Iya....Aku sangat mencintainya... Sangat mencintainya....sehingga Aku tidak ingin keegoisanku menghancurkan semuanya...." Raisa berucap penuh keyakinan dan menatap mata tajam Arbi yang sudah memerah penuh kepedihan.
"Dengan melakukan semua ini Kau pikir Aku akan dengan mudah melepasmu?...". Arbi berucap sinis berusaha menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya.
" Kakaak...Kau-..."
"Aku ingin bicara dengannya.... Hanya berdua...." Raisa ingin membantah namun terhenti ketika Yoga menggenggam tangannya dan memberikannya senyuman keyakinan. Wajah Arbi semakin memerah dan emosi. Tanpa orang lain sadari setetes airmata sudah keluar ketika melihat interaksi pasangan suami isteri itu.
"Kalian tunggu di mobil saja.... " Ucap Yoga dan Raisa hanya tersenyum sembari menggendong Nuri. Raisa berjalan menuju pintu dan keluar ruangan tanpa melirik sama sekali ke arah Arbi membuat Arbi semakin emosi.
20 menit kemudian nampak Arbi sudah tiba di parkiran mobil dengan jaket dan juga topi untuk penyamarannya. Walau keadaan gelap namun Raisa bisa melihat dari mobilnya bahwa wajah Arbi mengeras penuh emosi dan matanya yang memerah dan berkaca-kaca.
"Maaf ..." Lirih Raisa saat tanpa sengaja Arbi menatap ke arah mobilnya yang kebetulan bersebelahan dengan mobil Arbi. Tanpa berucap apapun Arbi segera memasuki mobilnya melajukannya keluar parkiran dengan sedikit kasar.
Tidak lama kemudian Yoga pun keluar dari restoran dengan menggunakan topi yang entah darimana.
"Mas....Apa yang terjadi?...." Tanya Raisa terkejut dan panik melihat wajah Yoga yang penuh lebam.
"Aku tidak menyangka Dia kuat sekali....Sepertinya Dia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk membunuhku..." Yoga masih bisa bergurau dan menampilkan senyumannya sementara Raisa sudah menangis merasa bersalah.
"Raisa ....Dia sepertinya sangat mencintaimu... Dan semua ini tidak akan selesai hanya sampai di sini.... Dia masih akan berjuang untukmu... Itu yang Ia ucapkan tadi...." Yoga kali ini berucap serius menatap Raisa intens. Raisa mulai gemetar khawatir dan takut.