Kesempatan Kedua

1253 Words
Di sebuah ruangan serba putih terbaring seorang gadis remaja dengan perban melilit lengannya di atas brankar kamar rawat inap tersebut, aroma obat-obatan tercium khas memenuhi ruangan. Perlahan kelopak mata itu terbuka, sinar jendela kamar yang sedikit terbuka masuk menusuk retina matanya. Gadis itu terdiam sesaat mencoba mengingat dimana dirinya sekarang, tersadar tak merasakan remuk di badannya refleks tangannya ia angkat ke atas matanya memicing melihat betapa kecil dan mulusnya lengan yang terbungkus baju lengan pendek berwarna pink polos dan beberapa lilitan perban. Tunggu dulu, kenapa tangannya sangat kecil. Batinnya dalam hati bingung. Matanya mengerjap beberapa kali linglung. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, alisnya semakin mengkerut dalam melihat suasana ruangan yang tampak seperti rumah sakit. Dan bau obat-obat membuatnya terdiam. Benar, ini rumah sakit. Kenapa aku ada di sini. Apa aku sudah mati sekarang. Batinnya penuh tanda tanya. Gadis itu berusaha mengubah posisi duduk. Ketukan pintu dari luar kamar dan suara derit kayu yang bergeser menarik lamunannya. Gadis itu menatap tiga orang berbeda gender dan usia masuk dengan raut cemas menuju kearahnya. Matanya membola ketika melihat sosok remaja lain yang datang dengan jantung berdetak hebat. Tashi. Gumamnya tidak percaya melihat penampilan remaja itu. Lalu ia pun terpaku ketika melihat pantulan dirinya dari cermin yang tergantung. Aku kembali muda. Gumamnya tidak percaya. "Ya Tuhan, sayang kamu sudah bangun. Apa ada yang sakit?" Bangun. Belum sempat gadis di atas ranjang pasien itu mencerna pertanyaan pria paruh baya di hadapannya, remaja yang juga ikut datang itu tiba-tiba memeluk dirinya erat. Hingga dirinya terkesiap kaget. "Huhuhu, maafin Tashi ya, Kak. Seharusnya Tashi nemenin Kakak pergi ke sana. Gara-gara Tashi, Kakak jadi kaya gini. Maaf, Kak." isak gadis bernama Tashi itu heboh memenuhi ruang rawat inapnya. "Tashi." gumamnya nyaris tak terdengar. Pelukan mereka terlepas, Tashi gadis di depannya menatap heran kearahnya. "Kak Tasha kenapa? Kakak tidak apa-apa kan? Mana yang sakit lagi, Kak." Kepalanya seketika berdenyut hebat nyeri, ia hanya menggeleng kecil merespons pertanyaan remaja itu. Usapan lembut di kepalanya membuat gadis itu sontak mendongak, raut khawatir ayahnya terpampang jelas di sana. Seketika matanya berkabut karena ingin menangis. Benarkah ini ayahnya. Ayahnya masih hidup. Batinnya lirih. "A--ayah." panggilnya. "Iya, Tasha Sayang, ada apa, Nak? Mana yang sakit, Nak. Bilang sama Ayah." suara lembut dan penuh kasih sayang itu begitu ia rindukan. Anastasha Bella Andaran yang tidak tahu mengapa dirinya bisa kembali ke kehidupan 7 tahun yang lalu, setelah dirinya berada dalam neraka atas ulah Tashi adik tirinya dan suaminya yang ingin menguras harta warisannya. Kini sebuah kesempatan kedua ia dapatkan. "Nak." "Hiks Ayah." Tasha tak bisa berkata apapun, ia sangat merindukan ayahnya. Ayah yang pergi sebelum hari pernikahannya dengan suaminya di masa lalu, kini tengah berdiri tepat di hadapannya memandang cemas kearahnya. Raut wajahnya yang masih segar membuat Tasha kembali meneteskan air mata dan menangis haru. Tak di pungkiri perasaan penuh syukur memenuhi relung hatinya, karena Tasha dapat melihat dan bertemu lagi dengan ayahnya. "Sayang, ada apa, Nak?" Tanya beliau khawatir. "Hiks Ayah, Tasha kangen." bisiknya terisak di balas helaan napas lega beliau yang langsung memeluk putrinya erat. "Astaga, kamu bikin Ayah kaget saja. Ayah juga kangen kamu, Sayang. Ayah lega kamu tidak cedera serius." ucap beliau lembut menenangkannya. Tasha hanya bergumam gadis itu menghirup aroma kayu manis khas ayahnya yang sudah lama hilang. "Sayang, kamu istirahat lagi ya." Suara seorang wanita paruh baya memisahkan pelukan Tasha dengan ayahnya. Gadis itu menoleh menatap wanita paruh baya itu dengan raut wajah polos, meskipun dalam hatinya menggeram teringat apa yang sudah mereka lakukan kepada keluarganya. Mereka harus menerima balasannya. "Benar kata Mama kamu, sekarang kamu istirahat ya. Sebentar lagi suster datang bawa makan siang untuk kamu." seru ayahnya di balas anggukan patuh Tasha. Gadis itu memperbaiki duduknya bersandar pada bantal ranjang pasien, matanya terus mengikuti gerak-gerik ibu tiri serta adik tirinya dengan pandangan penuh kebencian yang duduk di sofa kamar rawat inapnya. "Besok kamu kalau pergi harus sama sopir Ayah ya, Nak. Ayah tidak mau kalau kejadian ini terulang lagi. Kamu hampir bikin Ayah jantungan." Tasha tersenyum manis kepada ayahnya. "Baik, Yah. Maafin, Tasha ya, Yah." Pria paruh baya itu ikut tersenyum menawan, sekali lagi mengusap kepalanya lembut. Diam-diam Tasha melirik kearah Tashi, gadis yang dulu di bawa ke rumah oleh ayahnya sebagai adiknya saat usia Tasha 7 tahun dan usia mereka hanya berbeda 2 tahun saja. Adik perempuan yang Tasha sayangi tulus di masa lalu, ternyata membawa duri berbisa untuknya. Gadis itu sibuk dengan ponselnya sendiri, dalam hati Tasha mendecih jika mengingat apa yang sudah di lakukan gadis itu di kehidupan sebelumnya kepadanya. Kamu tunggu pembalasanku, Tashi. Geramnya dalam hati sinis. Tasha sempat melihat tahun dirinya terbangun dari meja nakas samping yang terdapat kalender kecil. 2015. Tasha sudah ingat mengapa dirinya sekarang bisa berada di rumah sakit, hari dan tahun itu adalah hari dimana Tasha ingin pergi ke makam ibunya. Untuk bercerita karena ayahnya ingin menjodohkan Tasha dengan Dipo, suaminya di masa lalu. Namun, tiba-tiba saja ada yang menyerempetnya dengan sengaja hingga Tasha mengalami luka di lengannya. Beruntung Tasha tidak terluka berat. Ya, benar. Dipo adalah calon tunangannya. Ayahnya dan ayah Dipo sudah kenal lama, mereka ingin mempererat hubungan persahabatan menjadi keluarga. Dipo yang Tasha kenal di masa lalu, selalu bersikap manis dengannya. Tak memanjakannya, namun perhatian kepadanya. Dan seketika ia rasanya ingin muntah jika teringat siapa yang sebenarnya di cintai oleh laki-laki berengsek tersebut. Wajah sok polos dan tak merasa berdosa milik Tashi seketika membuat tangan Tasha mengepal kuat di balik selimut hingga buku-buku jarinya memutih. "Ayah, Tasha mau pulang hari ini." serunya di balas anggukan kepala oleh Tommy ayahnya. "Ayah tanya dokter kamu dulu ya, Sayang. Ayah nggak mau kalau nanti kamu ada apa-apa kalau nekat bawa kamu pulang kerumah." Balas beliau. "Baik, Yah." Tiba-tiba terdengar lagi ketukan dari luar, sosok yang baru saja Tasha pikirkan muncul membawa bunga dan buket buah berjalan sopan kearah ayahnya. "Selamat siang, Om. Tante. Maaf, Dipo baru datang. Tadi ada urusan sebentar." Tommy ayahnya menatap pemuda yang sedang kuliah semester 2 itu dengan hangat. Berbanding terbalik dengan Tasha yang menggigit bibirnya dalamnya menggeram tertahan. "Tidak apa-apa, Nak Dipo. o*******g kamu sudah repot-repot datang ke sini. Nah, Tasha itu ada Nak Dipo. Kok diam saja, Nak." ucap ayahnya. Tasha mengangguk dan menyapa Dipo dengan nada tenang pelan. Pemuda itu balas dengan senyuman menawan yang sudah tak lagi membuat Tashaberdebar jatuh cinta hanya dengan melihatnya. Tasha tak banyak bicara ketika Dipo mengajaknya mengobrol. "Ayah Tasha mau tidur sebentar." Muak Tasha memilih akan berpura-pura tidur dengan alasan capek, karena enggan berbicara apapun dengan pemuda itu. "Baik, Sayang. Kalau gitu Ayah dan Mama ke kantin dulu ya. Nak Dipo, boleh Om titip Tasha sebentar?" "Baik, Om." jawab pemuda itu patuh kepada Tommy. Tasha memejamkan matanya, mengabaikan Dipo yang mengucapkan selamat istirahat dengan nada penuh perhatian kepadanya. Cukup lama Tasha berpura-pura tertidur sampai suara obrolan menjijikkan yang sama seperti di masa lalu masuk ke dalam indera pendengarannya membuat jantungnya berdenyut marah dan mual sekaligus. "Kak Dipo, kapan kita jalan-jalan lagi?" suara manja Tashi membuat Tasha muak. "Nanti Kakak kabarin ya, Tashi Sayang. Sabar ya, Kakak harus urus dia dulu." balas Dipo begitu lembut seperti dulu saat bersamanya. "Hmm, tapi jangan lama-lama ngurusinnya. Kakak juga jangan terlalu dekat sama kak Tasha. Aku nggak suka, aku cemburu loh." rengek Tashi lagi menyebalkan berbisik-bisik. "Iya, Sayang. Maaf ya cinta." Kekehan kedua orang itu memenuhi kamar tersebut. Dasar berengsek, kalian benar-benar bukan manusia. geram Tasha dalam hatinya. Baiklah nikmati saja kebersamaan kalian berdua. Kalian akan membayar semua tetes darah yang sudah aku keluarkan di masa lalu. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang dan bahagia sekarang. Aku kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD