Genta masih tidak mampu menyingkirkan bayangan, sosok yang meneror dirinya dan Pardi. Dayu menenangkan suaminya dengan terus memijit lengan Genta. Pria itu terbaring di kamar dengan wajah gelisah.
Hatinya berdebar sakit dan nyalinya menciut. Tidak pernah terlintas, ini akan menjadi pengalaman yang hadir dalam hidup Genta. Dirinya adalah seorang dokter yang seharusnya mampu berpikir lurus serta bijak. Namun, siapa yang mampu menghindari jika teror mulai memburu?
Trining mengetuk pintu dan Dayu mempersilahkan masuk. Buleknya membawakan semangkuk sup hangat untuk Genta. Sejak maghrib tadi, Genta masih diliputi perasaan syok. Tidak ada satu pun makanan yang sanggup ia telan.
Para pemuda yang mengantar Genta dan juga Pardi mengatakan, jika keduanya membisu dan tidak bisa berjalan. Dengan beramai-ramai, mereka memapah hingga tiba di rumah.
"Seruput kuahnya aja ya, Mas?" bujuk Dayu. Genta menoleh dan kembali mengalihkan wajahnya.
"Nanti," jawab Genta singkat. Trining memberi isyarat Dayu untuk tidak memaksa.
"Aku mau tidur," ucap Genta berbalik memunggungi istrinya. Dayu mengalah dan merapatkan selimut di tubuh suaminya.
Dengan hati penuh kecemasan, ia keluar mengikuti Trining.
"Biarin suamimu istirahat. Mungkin masih lemas," bisik Trining seiring Dayu menutup pintu kamar. Wanita itu mengangguk lemah.
Dengan langkah gontai, Dayu memutuskan mencari udara segar di teras. Trining menawarkan teh dan Dayu mengiyakan.
Saat ia membuka pintu depan, Pram sedang duduk di kursi teras dengan tubuh tegak dan mata menerawang hampa. Kemeja dan baju yang ia kenakan tampak rapi.
"Paklek, sedang apa? Sudah malam kok malah duduk di luar?" sapa Dayu heran. Pram terdiam. Dayu mendekat dan duduk bersamanya.
"Genta sudah mendingan?" tanya Paklek suaminya tiba-tiba. Dayu terkejut. Belum pernah ia berkomunikasi dengan Pram satu kali pun. Mungkin ada kalanya pria malang ini tersadar, pikir Dayu gembira.
"Lagi tidur, Paklek," jawab Dayu tidak mampu menyembunyikan rasa senangnya.
'Semoga Paklek bisa pulih kembali' batin wanita itu.
"Kamu jangan pernah putus asa ya, Nduk," ucap Pram berubah menjadi lembut kebapakan. Dayu terharu akan sapaan yang dilontarkan Pram padanya.
"Iya, Paklek. Dayu berusaha untuk terus bertahan. Walau ... kadang takut," akunya Dayu menjawab dengan sendu.
Pram menoleh pada Dayu dengan mata sayu dan penuh duka.
"Ini semua salah paham yang harus diluruskan. Seandainya Mas Cokro masih hidup, tidak mungkin terjadi." Pram terdengar kecewa dan sekaligus menyesal.
"Dayu berharap ini akan berakhir dengan baik, Paklek. Tanpa menyakiti siapa pun," harap Dayu lirih. Pram memandang Dayu penuh kasih dan mengangguk.
"Mungkin Sayekti juga kecewa. Harapannya pupus ketika pria yang menjadi pilihan hati, malah bersanding dengan perempuan lain," sambung Dayu penuh pengertian.
"Itulah tajamnya janji yang terucap dari lidah. Saat tidak sanggup memenuhi, menjadi s*****a makan tuan," timpal Pram kemudian menunduk.
Dayu menatap pria itu dan tersenyum paham. Di bawah sinar lampu minyak gantung, wajah Pram tampak pucat.
"Inget-inget pesanku, Nduk. Jangan lengah dan ikhlaskan jika terjadi sesuatu," pesan Pram semakin lirih. Dayu mendengarnya, namun ingin mempertegas pernyataan pakleknya.
"Maksudnya, Paklek? Ikhlas untuk apa?" tanya Dayu dengan hati mulai cemas. Tepukan di pundak Dayu, membuat wanita itu menoleh. Trining menatapnya dengan heran.
"Kamu ngomong sama siapa, Yu?"
"Sama ...." Dayu berpaling ke arah bangku di mana Pram tadi duduk, kosong! Tengkuknya seketika merinding. Tadi ia melihat Pram dan mereka sempat mengobrol panjang lebar.
"Ta-tadi ada paklek Pram di situ, Bulek," jawab Dayu gugup.
"Mosok tho?" sergah Trining tidak percaya.
"Pram sudah tidur dan pintu aku kunci dari luar, lho!" seru Trining sambil memeriksa kunci di sakunya. Wanita itu bergegas masuk diikuti Dayu yang penasaran.
Dengan cepat Trining membuka gembok dan mendorong pintu kamar. Pram tampak tidur pulas, sementara lampu menyala. Trining mematikan lampu itu dan mengganti dengan lampu tidur di samping pembaringan. Dayu menyandarkan tubuhnya dengan jantung berdetak kencang.
Apakah ia berimajinasi? Siapakah yang berbicara dengannya tadi? Arwah Pram? Tapi paklek suaminya masih hidup!
"Bulek memakaikan pampers, supaya Pram tidak perlu ke kamar mandi. Jendela tertutup rapat agar dia nggak kabur seperti tempo dulu," terang Trining sambil menutup kembali pintu serta menggemboknya.
"Mungkin saya yang ngelantur," balas Dayu lemas. Suaranya seperti tercekat. Trining mengajak Dayu ke depan.
"Saya tidur aja, Bulek. Perasaan saya nggak enak," tolak Dayu. Trining mengangguk dan paham. Setelah Dayu masuk kamar, Trining memanggil Sri. Pembantunya muncul dan sibuk menggulung rambutnya yang panjang.
"Tolong rapikan gelas teh di teras," pintanya. Sri mengiyakan dan bergegas. Saat kembali, Trining mengatakan sesuatu sebelum ia masuk kamar.
"Arwah Pram menemui Dayu. Pagari kamarnya, Sri."
Pembantu sempat terhenyak, tapi kemudian mengangguk. Trining menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
***
"Sontoloyo! Kowe nek ngomong sing nggenah!" seru pria yang bertanya kabar tersebut pada Pardi. (Enak aja! Kamu kalo ngomong yang bener!)
"Saestu, Mas!" jawab Pardi sungguh-sungguh. (Beneran, Mas!)
"Aku itu kenal Pram dari kecil. Nggak mungkin dia itu gila! Selain rajin ngaji, dia itu juga ilmu tenaga dalamnya tinggi. Mana bisa mempan diguna-guna atau santet!" omel pria tersebut kesal dan tidak terima.
"Sampeyan (kamu) itu merantau sudah lama. Sejak lima tahun yang lalu, Mas Pram kayak orang linglung. Malahan tempo hari saya dengan Mas Genta hampir dicekik sama setan!" adu Pardi disertai mimik yang serius.
Pria yang bernama Sigit itu tampak terpukul. Dirinya bersahabat dengan Pram sudah dari kecil. Ketika besar dan lulus kuliah, Sigit menjadi pegawai pemerintahan dan bertugas di luar pulau.
Sementara Pram memilih mengembangkan pertanian desanya dengan Trining. Sebagai sarjana pertanian, andil Pram dalam mengenalkan sistem irigasi yang mudah sangat sukses.
Belum lagi, pria tersebut juga mengajari para petani untuk meninggalkan pupuk buatan dan beralih kembali pada pupuk alam.
Keberhasilan perkebunan kopi juga sayuran adalah perjuangan Pram selama ini. Sigit mengusap wajahnya serta beristigfar. Pria itu meminta Pardi mengantar ke rumah joglo.
***
Pram duduk dengan pandangan hampa. Sigit yang duduk di sebelahnya terlihat sangat hancur dan kecewa.
"Kamu bilang, kita ketemu dan saling membanggakan pencapaian kita. Tapi kok malah kamu begini tho, Pram," sesal sahabatnya.
Trining mengusap pipinya untuk menyeka aliran bening yang terus bergulir. Dayu keluar dan menyuguhkan minuman untuk Sigit dan buleknya. Pardi sendiri sudah berpamitan buru-buru karena harus meneruskan panen di sawah.
"Ayo, Pram. Berjuang untuk pulih. Kita harus meneruskan janji kita," ucap Sigit seakan-akan Pram mendengar.
Hati Dayu berdenyut sakit. Ini tambahan duka yang menyelimuti keluarganya. Bukan hanya mereka yang terpuruk, sahabat juga teman mereka merasakan hal yang sama. Dayu beruntung tidak menceritakan peristiwa saat ini pada keluarganya. Jika mereka tahu, maka akan terjadi ribut besar dan merambah pada hal yang tidak baik.
"Diminum dulu, Dek Sigit," tawar Trining.
Sigit menghela napas berat dan meraih cangkirnya. Usai menyeruput, pria itu kembali berpaling pada Pram.
"Aku tadinya mau ngasih kabar kalo mau menikah, Pram. Tapi, aku tunggu kamu pulih dulu. Sebelum kamu kembali, aku nggak akan melakukan itu," janji Sigit.
"Hush! Jangan begitu, Dek. Ndak baik!" cegah Trining merasa tidak enak. Sigit menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa jadi bener dan lurus karena dia, Mbak Tri. Sekarang, waktunya untuk berbuat hal yang sama," bantah Sigit yakin.
Trining tergugu dan mengucapkan terima kasih. Dayu melihat sudah cukup matang untuk usia Pram dan Sigit saat ini. Mungkin kisaran empat puluh tahun. Tapi ternyata untuk menikah pun, mereka begitu kukuh dan setia memegang janji persahabatan.
"Pram, cepatan kembali ya?" pinta Sigit lagi. Pram menoleh dan menatap Sigit, sahabatnya, dengan lekat.
"Kita bangun desa, seperti mimpi dulu," sambung Sigit masih gigih mengajak Pram berkomunikasi.
"Aku meh (akan) mati!" cetus Pram tiba-tiba.
"Pram!" pekik Trining syok.
Sigit dan Dayu tertegun, menatap sosok pria yang kini kembali bermata hampa.
"Biar Pram istirahat dulu," ucap Trining gugup.
Dayu menatap dua sosok yang kini melenggang pergi ke dalam. Sigit masih termangu dalam hati yang penuh tanda tanya.
"Aku akan nyelametin jiwa Pram. Sebaiknya kita mulai ambil sikap tegas pada keluarga Ki Sukmo!" seru Sigit geram. Dayu tidak berani menimpali. Kenyataannya, semua yang berniat menuntaskan, berakhir buruk!