Genta merampungkan lari pagi hingga ke batas dusun Lendoh. Dari jauh ia melihat, rumah Ki Sukmo tampak gelap gulita.
Warga memulai aktivitas pagi dengan penuh semangat. Para pria menenteng cangkul dan sabit siap menuju sawah atau ladang, sedangkan para ibu-ibu mengendong bakul dan bersiap mendampingi suami mereka. Ada juga yang hendak menuju sendang untuk mencuci baju. Genta menikmati suasana pedesaan yang sederhana, tapi membuat hatinya menjadi sejuk kembali.
Sapaan beberapa orang yang mengenalnya, dibalas dengan ramah. Ia harus mulai menyamankan diri, walau berbagai peristiwa tidak menyenangkan terjadi.
‘Tidak mungkin ada masalah yang tidak ada penyelesaiannya,’ pikir Genta optimis. Dari hal tersebut, dirinya akan jauh lebih bersemangat untuk menghadapi semuanya.
Rumahnya tampak lenggang. Dayu masih menjemur baju di halaman samping. Setelah mandi dan bersiap, Genta memanggil Dayu untuk sarapan bersama.
"Mau ngantor, Mas?" tanya istrinya.
"Iya. Drajat sudah memperingatkan jika saat ini banyak pasien dan terus membludak," sahut Genta. Dayu menyendokkan nasi goreng untuk suaminya. Setelah bersantap, Genta pun berangkat ke kantor.
"Dayu!" panggil Trining dari arah dapur.
"Ya, Bulek!" Dayu bergegas menuju arah belakang.
"Minta tolong untuk awasin Pram. Bulek harus merapikan hasil panen di lumbung padi," ucap Trining sembari mengikat celemek di tubuh. Dayu mengiyakan dengan senang hati.
Ia melangkah masuk dan melihat Pram sedang duduk sambil memandang layar televisi dengan tatapan kosong.
Wanita itu berpikir untuk menyambi sambil menulis. Pram tampak tenang dan tidak gelisah seperti hari-hari sebelumnya. Keduanya duduk dengan kesibukan masing-masing.
***
Genta sudah menyelesaikan pemeriksaan pasien yang kesekian kali. Perawat yang membantunya mengatakan jika itu pasien terakhir.
"Ada permintaan dari pihak kepolisian untuk membantu mereka, Dok," ucap perawatnya. Genta menerima dokumen dalam map dan membaca sekilas.
"Kasus baru?" tanyanya.
"Iya. Sudah ada otopsi sebelumnya, tapi mereka ingin second opinion," jawab sang perawat.
Genta mengangguk dan melenggang menuju ruang otopsi di lantai bawah. Ada dua jenazah yang baru masuk dan dari genangan darah yang tercetak pada kain penutup, sepertinya korban tidak dalam kondisi utuh.
Genta terbiasa dengan pemandangan yang menggenaskan. Sebagai dokter spesialis paru-paru, dirinya terkadang harus melakukan operasi untuk pasien yang jauh lebih mengerikan. Kasus terakhir yang pernah ia tangani adalah saat korban kecelakaan yang dadanya robek dan paru-parunya terluka.
"Dokter Genta?" tanya seorang pria yang cukup matang. Genta mengiyakan.
"Saya dokter Bram," sapa dokter yang rupanya senior Genta di rumah sakit tersebut.
"Otopsi sudah selesai dilakukan, tapi keluarga korban masih ingin pendapat yang kedua. Polisi mengambil kesimpulan dari hasil otopsiku, korban meninggal karena keracunan."
Dokter Bram mengarahkan lampu pada d**a jenazah. Bagian tubuh yang sudah terbuka itu menganga lebar. Genta mendekat.
"Paru-parunya menghitam ...," desis Genta.
"Ya. Sangat aneh untuk orang yang bukan perokok, bukan?" timpal seniornya.
"Mungkinkah hasil dari racun?" tanya Genta. Bram menggelengkan kepalanya.
"Ya, ada residu racun walau kadarnya tidak banyak. Seharusnya itu tidak bisa membunuh pria malang ini." Bram kemudian mengangkat paru-paru tersebut.
Genta terkesiap. Ada tanda goresan yang berbentuk aneh di balik paru-paru. Itu bukan luka karena sayatan pisau. Goresan itu mirip luka lama.
"Siapa pun harusnya mati karena luka seperti ini di paru-parunya." Ucapan Bram membuat Genta merinding.
"Kenyataannya, pria ini meninggal karena keracunan," ucap Bram. "Dan Dokter Genta, pria ini adalah polisi yang menerima laporanmu, tempo hari," sambung Bram.
Genta membeku dan senter kecil di tangannya terlepas. Bram menghela napas berat dan mengambil senter yang tergeletak di atas tubuh korban.
"Wajahnya dirusak cukup parah. Wajar jika kau tidak mengenalinya. Ada beberapa hal yang memang tidak bisa dijelaskan secara medis, tapi sebaiknya kau hati-hati. Siapa pun yang berurusan denganmu, bukan manusia sembarangan," ucap Bram prihatin.
Genta tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ini gila! Benar-benar sinting!
Hari itu, Genta meninggalkan ruang otopsi dengan rasa bersalah yang sangat mendalam. Tidak seharusnya ia melibatkan orang lain dalam masalah ini.
***
Trining selesai memasukkan semua karung berisi padi ke dalam lumbung. Besok adalah jadwalnya untuk menjemur padi tersebut. Dengan wajah berpeluh dan puas, wanita itu meminta ketiga pekerjanya untuk menghitung jumlah karung.
"Ada empat puluh, Mbak," ucap Pardi. "Masih ada tiga puluh lagi yang akan masuk sore nanti," sambungnya.
"Maturnuwun ya, Par," balas Trining senang. Walaupun sebagian lahan terbakar, ternyata hasilnya masih cukup lumayan.
"Par, ini bayaranmu dan yang lain. Kamu yang bagi," ucap Trining memberikan amplop pada pria yang sudah begitu setia.
"Alhamdullilah ...," sambut Pardi sumrigah. Trining tersenyum hangat dan menyuruh semuanya makan siang.
***
Sore itu hujan turun kembali. Dayu baru saja menerima telepon dari Genta yang mengabarkan akan pulang terlambat.
"Ibumu mungkin besok baru pulang dari Jogja," cetus Trining sambil menggelung rambutnya yang panjang.
"Semoga ada kabar baik," harap Dayu lesu. Trining mengusap wajahnya dengan pelan.
"Yang bisa kita lakukan itu hanya bisa bertahan dan terus berjuang," balas buleknya sendu.
"Saya tidak punya keteguhan besar seperti Bulek dan Ibu."
Trining menoleh pada Dayu. Wajah wanita yang duduk di hadapannya tampak tirus dan pucat.
"Kita belajar dan terus menempa diri, Yu. Sebagai perempuan, harus kuat. Ndak boleh lemah. Lihat aku, Yu. Ditinggal suami demi perempuan lain. Aku bangkit dan menolak untuk terpuruk. Jangan goyah dan lemah," nasehat Trining dengan lembut. Dayu mengangguk dan mengusap air matanya.
"Aku liat jamu buat kamu dulu," pamit Trining. Dayu tersenyum dan mulai kembali optimis.
***
Trining meminta Sri untuk menyiapkan jamu untuk Dayu.
"Sudah ada di atas meja, Bu," jawab Sri cekatan. Eti masih mengaduk nasi untuk malam nanti. Trining membuka tutup panci yang sedang mengolah opor bebek. Senyum senang tersungging di bibirnya.
Saat mengangkat muka, dari jendela, ia melihat sekelebat bayangan. Trining mengernyitkan dahi.
'Ngapain Pardi balik lagi?' batinnya heran. Karena berpikir pekerjanya datang untuk mengantar sisa padi, Trining bergegas keluar menuju lumbung yang tidak jauh dari rumah utama. Sri dan Eti menatap Trining yang terburu-buru keluar dengan heran.
"Majikan kita kenapa?" tanya Eti pada Sri. Wanita itu memberi isyarat untuk diam. Dari pintu dapur, Sri memperhatikan Trining dengan seksama dan matanya menyorot tajam.
Trining mendorong pintu kayu gudang padi tersebut sekuatnya. Benar! Begitu pintu terkuak, ia melihat Pardi berdiri tak jauh darinya.
"Par, mana mobilnya? Kok gerbang sebelah ndak dibuka?" seru Trining heran. Sosok itu tidak bergerak.
"Par! Cah iki diundang kok meneng wae lho!" gerutu Trining kesal. (Anak ini dipanggil kok diam aja lho!)
Baru selangkah ia hendak menghampiri Pardi. Sosok itu berjalan mundur dengan cepat tanpa menoleh. Trining terhenyak dan menjerit sekuatnya!
Makhluk yang menyerupai Pardi itu menarik Trining, hingga terhempas masuk ke dalam lumbung. Sri segera mengangkat roknya dan berlari. Saat langkahnya hampir sampai, pintu gudang tertutup dan jerit ketakutan Trining makin terdengar memilukan.
Dari mulutnya, Sri mengumamkan kalimat yang berdengung dan membuat dinding lumbung bergetar.
Wanita itu kemudian bersila di tanah, depan lumbung, dan terus merapalkan doa. Selang beberapa detik, pintu gudang terbanting serta terbuka.
Trining merangkak keluar dengan rambut kusut dan tangis tergugu. Wajahnya penuh cakaran dan bajunya terkoyak. Darah menetes dari tiap goresan dan sayatan di tubuhnya!
Sri segera bangkit dan berteriak histeris pada Eti juga Dayu, untuk membawa Trining ke rumah sakit.