Trining beringsut dari tempat tidurnya dengan pelan. Walau luka di tubuhnya mulai pulih, namun fisiknya masih lemah. Sulit untuknya menelan nasi dan kalau dipaksa, berakhir dengan memuntahkan kembali.
Padmi meminta Sri untuk membuatkan bubur Trining, tapi itu juga tidak berhasil. Tubuh Trining tampak ringkih dan makin menyusut hingga terlihat tulang belikatnya. Genta makin khawatir akan kondisi buleknya yang tidak menuju kesembuhan.
Trining duduk di meja dan meraih piringnya dengan pelan. Potongan buah itu terlihat menarik. Hanya itu yang bisa masuk ke dalam tenggorokannya. Dengan perlahan, ia menyuap dan mengunyah potongan demi potongan.
Padmi masuk dan tersenyum melihat adik iparnya.
“Kamu suka buahnya, Tri?” tanya Padmi lembut. Wanita itu menoleh dan mengangguk.
“Makasih, Mbakyu,” sahutnya lirih. Padmi mengambil salah satu kursi dan duduk di hadapan Trining.
“Dayu kapan balik ke rumah, Mbak?” tanya Trining. Padmi tersenyum.
“Biar dia tenang dulu. Kasihan kalo terus menerus mengalami kondisi yang tidak baik, dalam kehamilannya yang sekarang,” ucap Padmi memberi pengertian. “Demi cucu kita, Tri,” lanjut Padmi seketika tercekat oleh haru.
Mata Trining merebak. Ia mengusap buliran yang menetes di pipinya. Dirinya merindukan Dayu teramat sangat. Tapi membiarkan Dayu berada di sini adalah egois.
“Setelah kandungan Dayu kuat, mungkin kita akan memintanya balik,” hibur Padmi. Jujur, dia tidak tega melihat Trining yang terus menerus menanyakan kapan Dayu kembali.
“Iya, Mbak,” sahut Trining dengan suara parau. Ia tidak akan membantah atau bersikeras. Trining selalu menuruti dan patuh pada Padmi.
“Kamu jangan lupa minum obat ya? Aku ngeliat Sri dulu,” pamitnya. Trining mengangguk dengan sopan.
Sepeninggal Padmi, Trining tergugu dan meletakkan garpunya dengan perasaan yang letih. Haruskah ia mengungkapkan semua rahasia yang tersimpan selama ini pada Dayu? Apa reaksi Dayu nanti?
“Lâ Ilâha illalLâh Muhammad RasûluLlâh …,” desisnya sambil berusaha menahan sedu sedan.
***
Sri mengajari sepupu Drajat yang kini bekerja membantunya. Janur adalah gadis yang sangat gesit dan cekatan. Dalam waktu kurang dari seminggu, ia mampu menangani pekerjaan rumah yang penting. Sementara itu, Sri menggantikan Trining mengurus penjualan hasil panen kopi dan padi.
Semenjak kejadian yang mereka saksikan di rumah Ki Sukmo, teror memang mereda. Kehidupan kembali tenang walau masih terasa mencekam. Ketakutan dan rasa khawatir dalam diri masing-masing, membuat mereka selalu waspada.
Genta menyibukkan diri dengan pekerjaannya di rumah sakit. Padmi tinggal sementara di rumah joglo untuk memastikan semua berjalan dengan baik.
Siang itu, Sigit datang bersama Arum mengunjungi Trining. Padmi mempersilahkan Sri untuk membantu Trining menemui kedua tamunya. Dengan kursi roda, wanita itu menemui mereka.
“Maaf mengganggu waktu istirahat sampeyan, Mbak,” sapa Sigit dengan sopan. Trining tersenyum kaku.
“Hanya ingin mengetahui kabar kesehatan, Bulek,” sambung Arum.
Dia memang jauh terpaut usia dibandingkan kakaknya. Meski Sigit memanggil Trining dengan sebutan mbak, Arum terbiasa memanggil bulek.
“Aku baik-baik aja. Hanya masih sulit meningkatkan nafsu makan,” jawabnya dengan pelan.
Ada raut tidak suka dengan kehadiran Arum dan Sigit.
“Ini mengenai waktu itu, Bulek. Saya pernah menyampaikan tentang …”
“Tidak!” sambar Trining tajam memotong kalimat Arum. “Lancang sekali kalian berdua, masih menanyakan hal yang aku tegaskan sebelumnya!” seru wanita itu dengan geram.
Padmi keluar dari dalam dan menatap kedua tamu dengan mata tidak bersahabat.
“Ada apa, Tri?” tanya Padmi pada adiknya.
“Ndak ada apa-apa, Mbak. Kita hanya ngobrol saja,” jawab adiknya dengan tatapan tajam pada Arum juga Sigit.
“Kalo butuh sesuatu, aku di ruang tamu,” ucap Padmi sebelum berbalik kembali.
Suasana menjadi hening. Baik Arum maupun Sigit menjadi kecut. Ada sengkokol yang perempuan-perempuan ini sembunyikan!
Entah apa motivasi mereka, tapi jelas itu tidak baik. Sigit terlihat sudah tidak berminat memaksakan kehendak pada keluarga tersebut. Baginya, niat baik yang selama ini ia utarakan adalah demi Pram, sahabatnya. Sungguh disayangkan, keluarga ini tidak terlihat menganggap kesembuhan Prambudi itu penting.
Setelah terdiam dalam suasana tidak mengenakkan, keduanya pun pamit. Trining menatap mereka dengan pandangan dingin dan mata terpicing. Sri menawarkan untuk membantu masuk ke dalam.
“Biar, Sri. Aku di sini dulu,” tolaknya. Sri membiarkan Trining duduk di teras dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
“Tumben kamu pulang cepet, Le!” sambut Padmi gembira.
Genta mencium tangan ibunya dan tersenyum.
“Tidak begitu banyak pasien hari ini, Bu,” sahut Genta dengan wajah letih.
“Mandi, habis itu kita makan bersama. Sudah lama kamu tidak menemani ibu makan,” saran ibunya. Genta mengiyakan dan bergegas.
Begitu usai mandi dan sholat isya, Genta bergabung dengan keluarganya. Trining juga duduk di ruang makan. Padmi sedang memasang celemek di leher Pram.
“Janur, nasinya bawa ke sini!” seru Padmi. Genta berdecak kagum pada pilihan menu malam itu.
“Ada acara apa, Bu? Kok istimewa sekali?” tanya Genta. Ada ikan gurame masak tepung dengan saos cabai hijau kesukaannya. Tidak ketinggalan opor bebek dan perkedel daging.
“Kamu itu lupa? Dayu hari ini genap tiga bulan mengandung. Kita mesti rayakan!” jawab ibunya setengah mendelik. Genta terkekeh.
“Iya, Genta ingat. Tadi Dayu juga menelepon ngabarin kok. Di Bali sedang selamatan,” jawabnya. Janur datang dengan nasi hangat yang masih mengepulkan asap.
“Cocok ini! Nasi hangat dan lauk yang melimpah!” seru Genta makin bersemangat.
“Besok kita kendurian. Buat syukuran Dayu,” timpal Trining seraya mengingatkan pada Padmi.
“Iya, Tri. Besok Sri belanja pagi-pagi. Janur, kamu kabari makwo Uci sama budhe Sarti ya?” tanggap Padmi sekaligus berpesan pada pembantunya. Janur mengiyakan dan segera berlalu.
Setelah mengucapkan doa dipimpin Genta, mereka segera bersantap. Sri datang dan menuangkan nasi ke masing-masing piring, sementara mereka mengobrol.
“Astgafirullah!” seru Trining dengan ekspresi mual.
Seketika mereka berhenti. Trining mendorong piringnya menjauh.
“Kenapa, Tri?” tanya Padmi. Ia berpikir mungkin Trining sulit menyantap makanannya. Tapi begitu telunjuk Trining teruju pada piring, semua tersentak!
Nasi itu dipenuhi belatung yang mengeliat! Itu tidak hanya terjadi pada piring Trining saja, tapi semuanya. Sri gemetar dan terlihat bersalah.
“Nasi yang di bakul ini ndak ada belatungnya, Bu,” ucap Sri terbata-bata, menunjukkan bakul yang masih berada di tangannya.
Wajah masing-masing memucat. Dengan cekatan, Sri meminta Janur mengganti semua piring dan mengambil nasi yang baru.
“Mungkin karena nyucinya tidak bersih,” cetus Padmi gugup.
Genta terdiam membeku.
Setelah mengambil dan menuangkan nasi yang baru, peristiwa tersebut terulang kembali. Belatung muncul di piring dan mengeliat dengan gerakan menjijikkan! Bau busuk menguar dari piring tersebut.
Malam itu, mereka terpaksa menyantap lauk tanpa nasi. Sri dan Janur yang juga turut makan di dapur sangat heran. Nasi yang berada di atas piring mereka baik-baik saja dan tidak ada belatung sedikit pun!
“Bulek Sri, kok aneh?” bisik Janur dengan bingung.
Sri menelan kunyahannya dengan wajah menunduk. Tidak mampu menjawab pertanyaan Janur. Ini semua bukan kejadian yang bisa ia uraikan.