Nebin

1072 Words
Jetro tampak tertegun dengan tangan terkepal saat mendengar semua kisah yang Dayu ceritakan. Keluarga besannya mengalami kemelut keluarga yang mengerikan. “Semua itu nyata, Papa. Bukan tahayul ataupun khayalan semata,” ucap Dayu mengakhiri ceritanya. Binari mengetukkan jari di mulut keriputnya. Ada rasa cemas muncul dalam diri Dayu saat menceritakan pada keluarga. Mungkinkah ayah dan neneknya meminta Dayu untuk meninggalkan Genta? “Papa tidak mau kau kembali lagi ke Semarang, sebelum masalah mereka selesai!” seru Jetro akhirnya. “Mereka juga menginginkan Dayu selamat, Pa. Tidak ada yang mencoba menjadikan Dayu sebagai tumbal!” timpal putrinya. “s**l!” umpat Jetro kalut. Binari jauh lebih tenang dibandingkan Jetro. “Nebin …,” panggil Dayu tampak ingin mengetahui pikiran neneknya. “Ada yang mencurigakan dari semuanya,” ucap Binari seperti bergumam. “Semua memang ganjil. Dayu sendiri tidak bisa mengungkap, apa akar permasalahan dari semua terror ini?” keluh Dayu. Bunyi adzan isya terdengar dari radio tua yang berada di meja ujung. Binari menyudahi semuanya dan mengajak mereka sholat berjamaah. Usai sholat, mereka menyantap makan malam dengan tenang. Ada rasa damai yang Dayu rasakan dalam hati. Tidak seperti ketika di Bedono. Entah sudah berapa kali ia mencoba pasrah dalam doa, tapi semua tampak sia-sia. Mungkinkah aura kelam membuat ibadahnya tidak berpengaruh? “Nebin akan menghipnotismu setelah makan malam,” cetus neneknya. Dayu tercekat. Neneknya memang memiliki keahlian dalam menerapkan terapi melalui hipnotis. Tentunya semua dilakukan dengan cara medis, bukan sesuatu yang mengandung magis ataupun sihir. “Nebin perlu tahu yang terjadi melalui pengalamanmu selama di sana, bukan dari cerita yang bisa kau rangkai,” sambung Binari. Neneknya masih saja tidak mudah percaya dan sangat teliti dalam menyelidiki tiap permasalahan. “Papa akan ikut,” timpal Jetro. Tidak seperti biasanya, Jetro ingin terlibat kali ini. Setelah menyelesaikan santap malam, Binari segera mengajak keduanya menuju ke ruang tengah. Dayu tidur di sofa dan berbaring dengan napas teratur. Jetro duduk di sofa seberang, sementara ibunya di samping Dayu. Binari mengarahkan Dayu untuk berkonsentrasi dan mengikuti semua ucapannya. Dayu menuruti semua. Lambat laun matanya berat dan ia tertidur dalam kendali Binari. Satu persatu cerita bergulir dari bibir Dayu, dalam kondisi setengah sadar. Setiap pertanyaan dijawab dengan baik dan Binari makin gencar mengajukan kalimat, yang akan mengulik dan mengungkap semua kisah dari keluarga Genta. “Hingga detik ini, semua kisah bersumber dari perjodohan yang tidak diketahui tercetus oleh siapa. Tidakkah itu aneh buatmu, Dayu?” tanya Binari. “Ya, sangat aneh.” “Kenapa kau tidak berusaha menanyakan langsung pada mereka?” “Semua membungkam mulut mereka. Mas Genta juga tidak mengetahui apa pun mengenai perjodohan tersebut.” Binari menyandarkan tubuh ke belakang. Ada raut mendung yang menyelimuti wajahnya. “Semua keluargamu di Jawa, sangat mencurigakan. Mereka menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin kau ketahui,” ucap Binari dengan lemah. Jetro memberi isyarat pada ibunya untuk menyudahi hipnotis tersebut. Tidak lagi membantah, wanita tua itu meminta Dayu kembali sadar sepenuhnya. *** Dayu baru saja berlalu dan masuk ke kamarnya. Ni Luh, pembantu mereka menemani. Binari melipat syalnya dan duduk dengan wajah tampak lelah. “Ma, aku jadi nggak nyaman membiarkan Dayu kembali ke sana,” ungkap Jetro dengan khawatir. “Bukan dia sasaran utamanya. Tapi jika Dayu tidak berhati-hati, maka iblis itu akan mengincar dirinya,” balas Binari juga terlihat cemas. “Haruskah aku menelepon mereka dan menanyakan hal ini?” tanya Jetro. Binari berpaling pada putranya. “Jika Dayu saja tidak mereka beritahu, kamu pikir alasan apa yang membuat mereka memilih mengungkapkan hal ini sama kamu?” tanya Binari tajam. Jetro memahami maksud ibunya. “Aku akan membentengi Dayu dengan baik. Tapi jangan ikut campur terlalu jauh. Kupikir sumber petaka sendiri, bukan dari pihak luar, melainkan dari keluarga itu sendiri.” Ibunya terlihat sangat yakin akan pernyataannya. Jetro tidak lagi melanjutkan pembicaraan tersebut. Binari sibuk menjahit sulamannya. Malam semakin larut, namun perempuan tua itu belum juga kunjung tidur. Jetro menguap beberapa kali dan memutuskan untuk berpamitan tidur. Made masih begitu setia menunggu majikannya sembari menonton televisi. “Made, besok belikan Nebin bunga setaman dan juga ayam kampung jantan,” pesan Binari. Made menoleh dan mengiyakan. “Aku istirahat dulu. Kamu jangan terlambat bangun besok,” ucap Binari sebelum masuk kamar. Made hanya mengangguk dan mematikan televisi. *** Pagi-pagi sekali, Dayu bangun dan menghirup udara dengan hati lega. Perasaannya jauh lebih baik walau pegal di badannya belum hilang. Rasa mual yang kadang muncul setiap mencium bau masakan, makin terasa parah. Ni Luh telah menyiapkan jus dan nasi kuning untuk sarapan sementara Made masih sibuk menyiapkan sesuatu di kamar mandi. Tapi Dayu memilih untuk menghabiskan jusnya dan tidak berminat menyentuh nasi tersebut. “Mual,” keluh Dayu saat Ni Luh membujuknya. Neneknya muncul dengan seutas benang wol yang kemudian dililitkan pada tangannya. “Pakai ini dan jangan pernah kamu lepas,” pesan neneknya. “Ini untuk apa, Nebin?” tanya Dayu heran. “Hanya sedikit bantuan perlindungan untuk menjagamu. Tapi yang paling penting, jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu,” sahut neneknya. Dayu tidak bertanya lebih jauh lagi. Hari itu, Dayu memilih menyelesaikan novelnya seharian. Binari tidak mengusiknya dengan pertanyaan seputar terror di rumah mertuanya. Ayahnya sudah berangkat ke kantor sudah dari pagi. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Kehamilannya membuat Dayu gampang mengantuk dan sering tertidur. Makanan juga begitu sulit melewati tenggorokannya. Sore hari, Binari memanggil Dayu dari luar. “Bergegas ke kamar mandi. Kamu harus membersihkan semua hal buruk yang kamu bawa dari Jawa,” perintah Binari pada Dayu. Seember penuh air dengan taburan bunga setaman sudah siap di kamar mandi. Tanpa bertanya, Dayu mengikuti. Begitu air mengguyur tubuhnya, segala rasa sakit dan ngilu mendera badannya. Dayu berpikir mungkin ia masuk angin. Tapi begitu usai, rasa sakit itu hilang dan berganti dengan tubuh yang ringan dan segar. Rasa mual juga kantuk hilang seketika. Binari tersenyum puas saat cucunya usai mandi. “Sekarang kamu sudah terlepas dari semua ikatan yang menderamu waktu di jawa,” ucap Binari. Dayu mengernyitkan dahi tanpa memahami arti ucapan tersebut. Wanita itu segera berlalu dan menuju kamar untuk mengganti pakaian. Binari melirik ke arah kamar mandi dan hatinya begitu geram. Beberapa makhluk dengan wujud tidak jelas, berwarna hitam pekat sedang mengeliat tidak berdaya. Binari menggumamkan ayat-ayat suci dan makhluk tersebut memekik kesakitan. Peluh menetes dari kening dan pelipisnya. Setelah dengan gigih melantunkan doa yang tidak kunjung putus, makhluk itu mulai melemah. Tak lama kemudian, mereka melesat pergi tak berbekas. Binari terengah dan menyandarkan tubuh rentanya di tembok. Cucunya sudah aman sejauh ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD