Mimpi Dayu

1435 Words
Kejadian di kediaman Ki Sukmo menimbulkan gempar di daerah tersebut. Kedua perwira polisi mengalami luka dalam yang cukup serius. Dokter Bram menangani sendiri dua pasien dari kepolisian tersebut. Sebagai ahli penyakit dalam, dokter Bram menjadi orang yang paling tepat merawat mereka, dibantu Genta yang menjadi spesialis paru-paru. Luka dalam yang mereka derita cukup parah. Entah apakah ini petunjuk pada kematian yang menimpa detektif polisi minggu lalu, karena penyebab batuk darah yang Genta dan Bram temukan adalah sama. Sementara itu, Dayu hanya duduk dalam kebimbangan yang makin mendesaknya untuk memutuskan. Cerita mertuanya tentang Sayekti yang terpasung dan melukai perwira polisi, membuat dirinya makin dirundung ketakutan. Ini bukan hal yang bisa ia hindari. Mungkin berlari menjauh dari kampung halaman suaminya adalah yang terbaik. "Saya mau pulang ke Bali, Bu," ucap Dayu dengan wajah ketakutan. Ia khawatir jika keluarga suaminya akan menolak keras ide tersebut. Padmi menoleh pada menantunya. "Mungkin itu lebih baik. Demi keselamatanmu dan cucuku," sahut Padmi terpaksa. Dayu terkejut, tapi mengangguk dengan cepat walau agak sungkan. "Tapi, siapa yang akan urus rumah, Bu? Bulek Trining belum pulih dan paklek Pram juga masih belum membaik," cetus Dayu risau. "Biar ibu yang urus. Sri juga bisa mengambil alih semua. Jangan khawatir." Padmi mencoba menenangkan menantunya, untuk tidak terlalu memikirkan. Pembicaraan mereka tidak lagi berlanjut, karena Trining memanggil Dayu dari kamar. *** Ada hal yang tidak bisa ungkapkan pada situasi saat ini. Dayu tidak lagi mendesak ibu mertuanya untuk menceritakan sisi lain yang belum ia pahami. Meredam pertanyaan dan penasaran hingga kehamilannya usai, adalah keputusan Dayu yang terbaik. Genta sangat keberatan ketika mendengar keinginan istrinya untuk kembali ke Bali. Tapi setelah ibunya memberikan alasan yang masuk akal, Genta tidak mampu membantah lagi. “Kamu jaga diri dan jangan terlalu capek nulis,” pesan Genta ketika melepas istrinya di bandara. Dayu mengangguk dengan berat hati. Bukan suaminya yang membuatnya terasa beban meninggalkan kota Semarang. Namun permohonan Trining yang membuat Dayu menjadi berat dalam melangkah pergi. Buleknya tersebut, terus menerus menangis dan memintanya untuk jangan pergi. Seandainya dia tidak mengalami kehamilan, maka bertahan adalah pilihannya. Suara petugas bandara yang mengingatkan penumpang untuk segera memasuki pesawat, membuat Dayu segera bergegas pergi. *** Bali masih seperti terakhir kali ia mengunjungi saat bulan madu bersama Genta. Lahir dan besar di pulau Dewata, tidak membuat Dayu kehilangan cinta untuk tanah seribu dewa ini. Orang tua Dayu berasal dari Jawa Timur, namun hijrah ke Bali karena tugas ayahnya sebagai pegawai pemerintahan. Kini Jetro Budaya Sentro, ayahnya, menjadi kepala bagian keuangan di kantor gubernur. Ibunya meninggal sejak dirinya berusia dua tahun. Dayu sebagai putri tunggal tidak pernah menjadi manja dan mandiri sedari dulu. Neneknya, Binari, yang mendidik Dayu dan mengajarkan semua prinsip menjadi wanita tangguh dan juga perkasa. Binari sendiri adalah istri seorang kepala polisi yang menjanda dengan tiga anak. Perempuan yang berusia hampir delapan puluh tahun tersebut masih tampak kuat dan gesit. Jetro sendiri tidak pernah berniat untuk menikah. Pria matang berusia lima puluh tahun tersebut masih terlihat tampan dan gagah. Entah apa yang membuatnya terus memutuskan untuk menduda. “Kamu terlihat lemah dan tidak lagi kokoh. Ada apa?” tanya Binari dengan mata cermat menatap cucunya. Dayu tersenyum lembut. Neneknya masih saja terlihat jeli dan tidak tampak berubah sejak ia kecil. “Bahasa Nebin masih aja unik,” sindir Dayu pada neneknya. Nebin adalah Panggilan sayang Dayu untuk Binari, yang artinya Nenek Binari. “Mungkin karena hamil, Ma,” timpal Jetro. Raut bahagia tampak dari keduanya. Binari masih belum puas atas jawaban dari putranya tentang kondisi Dayu. “Aku ini orang tua, bukan anak kecil. Kehamilan nggak pengaruh dengan mental,” tukasnya kesal. “Mungkin Dayu terkena baby blues yang memang menyerang ibu-ibu pada awal kehamilan,” tangkis Jetro masih membela putrinya. Binari mengibaskan tangan dengan cepat. “Mustahil. Aku kenal cucuku, Jet! Dayu Alinari ini tidak selemah itu!” bantahnya masih bersikukuh. Dayu berdoa dalam hati, semoga pembicaraan ini cepat selesai. “Dayu kangen ayam betutu yang biasa Nebin masak,” cetus Dayu ingin mengalihkan topik obrolan. Binari menghela napas. Ia menahan semua penasarannya dan mengiyakan permintaan cucu tersayangnya. “Kabar mertuamu gimana?” tanya Jetro. Binary sudah melenggang pergi ke dapur. “Sehat semua, Pa. mas Genta dan Ibu kirim salam untuk keluarga di sini,” sahutnya. Jetro mengangguk senang. “Mertua kamu itu masih termasuk putri keraton Jogja. Kamu seharusnya belajar budaya mereka untuk jadi bahan novel yang mengangkat kearifan lokal,” saran Jetro. Ayahnya sangat mendukung Dayu untuk menjadi penulis. “Belum sempat. Dayu masih terikat kontrak untuk menyelesaikan trilogy novel TEROR.” “Kamu ini kok senang banget nulis hal-hal yang berbau paranormal. Itu cuman tahayul,” sergah ayahnya kurang setuju. Dayu tersenyum samar. ‘Seandainya saja mereka tahu,’ jerit Dayu dalam hati. “Kan mengikuti keinginan pasar, Papa. Masak Dayu nulis novel berdasarkan idealisme sendiri. Mana laku?” “Yaaah … asal kamu tidak terbawa dan kemudian mengalami hal-hal yang aneh aja.” “Maksud, Papa?” “Ada novelis yang terlalu mendalami isi ceritanya, hingga kemudian betul-betul terjadi dalam hidup mereka. It’s the power of your mind!” Dayu seketika bungkam. Kejadian yang terjadi dalam hidup Dayu tidak ada kaitannya sama sekali dengan isi novelnya. Tidak mungkin ini disebabkan oleh tulisan dari hasil imajinasinya selama ini! “Papa, semua akan baik-baik aja. Dayu bisa membedakan mana cerita dan mana dunia nyata kok.” Jetro menatap putrinya dengan penuh kasih. Betapa pusat hidupnya selama ini untuk Dayu seorang. Saat anak semata wayang memutuskan menikahi Genta, Jetro sempat khawatir. Dayu memang sudah berusia dua puluh delapan tahun kala itu. Tapi ternyata, Genta mampu membuktikan pada Jetro, dia memberikan kehidupan yang luar biasa pada Dayu. “Dayu mau istirahat dulu ya, Pa. Capek,” keluhnya. Jetro mengelus rambut Dayu yang panjang sebahu. “Ya, biar seger lagi. Papa bangga sama Genta yang bisa membahagiakan dirimu, Nak,” ucap Jetro mendadak melankolis. Dayu tertawa dan mengecup pipi ayahnya. “Kalian berdua adalah lelaki hebat dalam hidupku!” tegas Dayu. Kini Jetro yang tergelak. Dayu meninggalkan ayahnya yang masih terkekeh senang. *** Kabut tipis itu melayang turun dan menutupi pandangan Dayu. Dirinya sedang berdiri di teras rumahnya, di Bali. Seharusnya daerah Ubud tidak sedingin Bedono yang hampir selalu berkabut setiap hari. Tapi kenapa kali ini terjadi di rumahnya? “Nebin! Papa!” panggil Dayu. Tidak ada jawaban. Rumahnya tampak lenggang. Tiga pegawai rumahnya yang biasa mondar mandir juga tidak terlihat. “Kalian di mana, sih?” seru Dayu heran. Wanita itu melenggang masuk ke dalam dan menuju dapur. Kosong. Ia masuk kamar ayahnya dan juga neneknya. Semua kosong. Dayu mengira mereka mungkin ada di halaman belakang tempat barbekyu. Dengan langkah cepat, ia bergegas menuju ke belakang. Halaman hijau dengan pohon yang rindang tampak tertutup kabut tipis, tidak ada satu pun manusia di sana. Ayunan yang biasa ia mainkan saat keci terayun perlahan. Dayu menajamkan penglihatannya. Tidak ada yang duduk di ayunan yang ayahnya pasang di bawah pohon kelengkeng tersebut dan angin tidak bertiup sama sekali. “Siapa di situ?!” teriak Dayu mulai khawatir. Wanita itu melangkah tanpa alas kaki, melintasi rumput teki yang terpotong rapi. Dayu melihat embun membasahi telapaknya. Dengan gelisah, ia menelan ludah. Baju tidur yang ia pakai terlalu tipis untuk menahan rasa dingin yang kini terasa menggigit. Ada kibasan angin yang berkelebat di belakangnya. Dayu menoleh dengan cepat. Tidak ada siapa-siapa. ‘Kenapa ini jadi semakin aneh?’ batin Dayu makin merasa resah. Kini ia berdiri di depan ayunan yang berhenti bergerak. ‘Mungkin aku berhalusinasi’ batin Dayu menghibur diri. Akhirnya ia memutuskan berbalik. Saat wanita itu memutar tubuhnya, dari arah jauh, muncul sosok hitam yang menderu menuju padanya dengan asap bergumpal. Dayu terhuyung mundur. Sosok itu makin jelas dan Dayu melihat wajah Pram! “Getih!!” teriak Pram dengan wajah pucat mengerikan. “Arrrgh!!” Dayu berteriak histeris dan limbung. Ia jatuh terhempas ke belakang. Sosok itu kemudian pergi, menguap begitu saja saat membumbung ke atas. Dayu merasakan perutnya sakit yang teramat sangat. Saat ingin berdiri dengan tertatih, ia melihat darah meleleh di kakinya. Jeritan Dayu kembali bergema. “Dayu!” teriak Binari menguncang tubuh cucunya. Dayu terbangun dan wajahnya tampak ketakutan sementara keringat membanjiri tubuhnya! “Ceritakan yang telah terjadi, Dayu! Kali ini jangan bohong atau menutupi!” tuntut Binari dengan tajam. Dayu mengatur napas dengan terengah-engah. Tidak ada darah dan ia berada di kamar tidurnya. Kenapa ia mengalami mimpi yang mengerikan tersebut? “Dayu!” panggil Binari kembali. “Kau tidak pernah mengalami mimpi buruk seperti ini!” Nenekanya paham dan memiliki firasat yang kuat ada yang tidak beres. Dayu menoleh dan mengusap peluhnya dengan gusar. Bibirnya terasa kering. “Ya, Nebin. Dayu akan ceritakan semuanya,” ucap Dayu lirih, tidak lagi mampu menahan semuanya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD