Padmi tak henti-hentinya mengusap perut Dayu yang masih rata. Ucapan syukur terlontar dan matanya terus menggulirkan air mata bahagia.
"Bu, biar Dayu istirahat dulu," ucap Genta yang tidak memiliki kesempatan menuangkan kegembiraannya.
Padmi terlalu mendominasi penuh suasana menyenangkan yang hadir saat ini. Dayu tertawa saat ibu mertuanya melotot kesal.
"Kamu nengok bulekmu dulu sana! Ibu yang jaga Dayu!" perintah Padmi jengkel.
Genta berlalu dengan bersungut-sungut.
"Ibu dan Genta sudah bertekad menemui Ki Sukmo hari ini. Dari pihak kepolisian dan petinggi desa akan mendampingi kami. Ini semua demi ketenanganmu selama mengandung. Sayekti harus kita singkirkan."
Kalimat Padmi barusan seharusnya membuat Dayu lega. Namun ternyata justru menimbulkan kecemasan akan akibat yang mereka harus terima.
"Semoga ini akan jadi akhir dari semuanya, ya, Bu," harap Dayu.
Padmi mengangguk walau terkesan ragu.
"Semua cara akan kita coba ...," harapnya menggantung kalimat.
Wanita setengah baya tersebut tidak yakin, jika bisa semudah itu mengakhiri kutukan dari Sayekti.
***
Arum mengunjungi Trining secara reguler, seminggu tiga kali. Trining belum juga mau keluar dari rumah. Kembali ke tempat ini adalah hal yang sebetulnya tidak ia inginkan.
"Mereka akan mengunjungi kediaman Ki Sukmo siang ini," cetus Arum pada Dayu.
Wanita yang tengah berbadan dua tersebut mengangguk puas. Kejahatan Sayekti tidak bisa ditolerir lagi.
"Aku akan bicara pada Trining, berdua saja. Boleh?" tanya Arum berbisik.
Dayu mengangguk dengan ragu. Buleknya duduk di pinggir jendela dengan wajah termenung, memandang keluar.
Begitu Dayu menutup pintu kamar, Arum mendekati Trining dan duduk di hadapannya.
"Bu, mas Sigit sepertinya sudah memiliki dugaan atas penyebab dari semua petaka ini." Kalimat Arum terdengar tajam dan dingin.
Trining berpaling pada Arum. Matanya berkaca-kaca. Ada emosi yang mengelegak dalam jiwanya.
"Jangan pernah sekali pun kau ucapkan pada Dayu, Arum!" desis Trining setengah mengancam.
"Tapi, Bu!"
"Jika kau berani mengungkap, dia akan kembali dan teror ini akan makin memburuk!" bentak Trining.
Arum terhenyak di tempat duduknya. Keluarga macam apa ini? Tidakkah mereka ingin terbebas dengan menyelesaikan dari akar penyebabnya?
"Jangan pernah ikut campur, Arum! Pram akan pulih dan semua akan baik-baik saja!" tegas Trining. Arum akhirnya berdiri dengan tangan terkepal.
"Jadi sebetulnya Bulek sudah tahu? Aku nggak ngerti. Kalian ingin terbebas, tapi cara kalian salah!" seru Arum jengkel. “Kalian memilih untuk terus bergelut dengan penjahat sebenarnya dan menuding pada pihak lain yang sebetulnya hanya korban?!” tuduh Arum dengan berani.
Trining membuang mukanya. Dokter itu meninggalkan kamar dengan bahasa tubuh yang kesal. Rasanya sia-sia mengajak keluarga Amandaru untuk bekerja sama. Mereka tidak peduli akan Pram!
"Maafkan bulek, Dayu," sesal Trining lirih. Air matanya bergulir perlahan. Wanita ini menyimpan rahasia jauh lebih besar dari yang terjadi saat ini!
***
Genta dan Padmi mengunjungi rumah Ki Sukmo bersama tiga polisi dan beberapa pamong desa.
Mereka bersama-sama meluncur ke rumah tersebut dengan wajah tegang. Tanpa mbah Darmo, Padmi membuat keputusan yang cukup nekat.
Rumah itu seperti biasa sepi dan lenggang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan si tuan rumah. Tapi saat mereka mengalunkan salam, terdengar teriakan dari belakang rumah.
Dua petugas kepolisian tersebut segera mencabut s*****a dan mengendap menuju ke belakang. Genta dan Padmi berdiri menunggu di teras. Para pamong desa juga tampak resah.
Setelah beberapa saat menunggu, salah satu dari petugas polisi kembali ke depan dan melapor pada komandannya.
"Lapor, ada suara perempuan menangis dan meratap dari gudang belakang, Ndan!"
"Bisa dibuka?"
"Siap! Nggak bisa, Ndan! Digembok dari luar."
Komandan polisi itu tampak ragu dan tidak yakin untuk mengambil keputusan.
Pak Lurah maju ke depan.
"Kita ketuk sekali lagi. Jika ndak ada jawaban, ya terpaksa kita dobrak," cetusnya berani.
Komandan itu setuju dengan usulan tersebut. Padmi kembali mengetuk pintu rumah, namun walau berkali-kali tetap tidak ada sahutan dari dalam.
"Kita tidak punya cara lain. Dobrak gudang belakang!" perintah komandan polisi itu.
Dua petugas polisi tersebut segera meluncur ke belakang dengan cepat. Dibantu oleh Sulis dan petugas kelurahan, mereka menghancurkan rantai besi dan gembok.
Setelah beberapa hantaman, engsel pintu itu pun patah dan gembok juga rantai terlepas.
Perwira yang bertubuh jangkung menendang pintu dan melesak masuk.
Gudang itu gelap dan bau pesing juga bangkai busuk menguar. Padmi mundur ke belakang dengan menutup hidung.
Perwira itu meraih senter dan yang tampak hanya tumpukan jerami yang tinggi beserta kayu bakar. Tapi di balik tumpukan itu, sepertinya suara erangan tersebut berasal. Dengan bahasa isyarat, komandan memerintahkan perwira yang satunya untuk masuk dan memeriksa.
"Astagfirullah!" seru dua perwira yang berada di dalam.
Mereka menyerbu masuk dan Genta melihat dengan jelas, Sayekti sedang terpasung!
"Siapa yang begitu k**i melakukan ini!" desis komandan polisi dengan raut muak.
Sayekti tubuhnya tampak lunglai dan bersandar di dinding kayu. Bajunya tampak kotor juga compang camping. Kotoran manusia belepotan di seluruh tubuhnya, Sayekti mirip seperti binatang yang dikurung. Gadis itu tampak tersiksa.
"Tolong aku ...," ratapnya lemah.
Padmi gemetar dan tidak menyangka jika perempuan yang ia pikir meneror keluarganya dengan kutukan, kini dalam kondisi tidak berdaya.
"Hei! Apa yang kalian lakukan!" seruan bercampur marah terdengar dari luar.
Ki Sukmo muncul dan bertolak pinggang.
"Kau! Begitu kejam mengurung putrimu sendiri!" cecar Komandan polisi tidak kalah murka.
Ki Sukmo menarik tangan satu persatu orang untuk keluar.
"Kalian tidak tahu, jika iblis dalam tubuhnya hanya melemah, kalian semua celaka! Jangan termakan tipu daya!" tangkis Ki Sukmo.
"Lepaskan pasungnya, Ki!" perintah komandan polisi.
Tubuh Ki Sukmo memutar dan menghadap pria itu.
"Sudah kubilang, jika Sayekti terlepas, teror berikutnya adalah untukmu!" balas Ki Sukmo dengan wajah memerah.
Genta, Padmi dan para pamong desa memilih menyingkir cepat-cepat.
"Tapi cara kau memperlakukan dia, seperti binatang! Lihatlah! Bahkan dia buang kotoran dan tidak mampu berdiri!" bantah komandan polisi tersebut masih bersikeras.
Saat mereka sibuk berdebat, mendadak suara tawa melengking dari mulut Sayekti. Bulu kuduk para perwira berdiri tegak dan menoleh pada gadis yang terpasung.
"Keluar dari gudang ini, atau kalian akan menerima akibatnya," pinta Ki Sukmo mulai putus asa.
Sayekti makin terkikik.
"Segel gembok itu telah terlepas! Cepat keluar!" perintah Ki Sukmo kini habis kesabaran.
"Kau benar-benar keras kepala, Ki Sukmo! Ini kejahatan yang bisa membuatmu dipenjara!" ancam komandan itu memperingatkan.
Ki Sukmo menatap tajam perwira itu.
"Penjarakan aku, dan kalian semua akan mati menjadi mangsa Sayekti!" desisnya geram.
"Ok. Jadi memang tidak bisa diajak ker ...."
Belum sempat komandan itu menyelesaikan ucapannya, tubuh dua perwira di belakangnya terpental.
"Aaargh!!"
Kedua polisi itu terhempas dan mulai batuk darah. Entah siapa yang melakukannya, tapi wajah kedua anak buah si komandan, mulai tergores dan mereka berteriak kesakitan.
"Keluar!!" raung Ki Sukmo panik.
Genta melesat ke dalam dengan pak Lurah, lalu mengendong tubuh perwira polisi yang terluka.
Ki Sukmo menutup pintu gudang dari dalam cepat-cepat. Selang beberapa detik kemudian, terdengar Sayekti meminta ampun. Semua tertegun menyaksikan kejadian barusan.
Pak Lurah menepuk pundak komandan dan mengajaknya bergegas pergi. Padmi tidak sanggup melontarkan satu kata pun. Selama menuruni tangga, ia tampak gemetar. Genta sementara memanggul tubuh perwira tampak khawatir pada ibunya.
"Bu ...," panggil Genta. Padmi menoleh pada putranya dengan wajah berduka.
"Ki Sukmo harus memasung Sayekti, karena dia yang menyerang Trining," ucap ibunya lirih.
Sulis dan pak Lurah mendengar dengan jelas kalimat tersebut. Komandan polisi tidak lagi berkomentar. Mereka meninggalkan kediaman Ki Sukmo dengan kengerian mendalam.