Kecurigaan Sigit

1000 Words
Pria itu terlihat berbicara dengan Pardi selama beberapa waktu. Namun agaknya Pardi berusaha menghindar dan berkali-kali mengatakan tidak tahu menahu mengenai kisah awal keluarga yang menjadi tempat dirinya bekerja. Pardi bahkan mengatakan dengan tegas dan sedikit kesal padanya untuk tidak terlalu ikut campur dalam masalah keluarga Amandaru. Kalimat yang bernada seperti peringatan itu membuat Sigit terhenyak. Dengan raut kecewa, Sigit pun meninggalkan Pardi di area sawah dan kembali ke rumah. Sementara hatinya sedang gusar, ibunya membuatkan minuman lalu memintanya duduk untuk beristirahat di teras. Udara siang itu cukup dingin. Mungkin karena musim hujan akan tiba bulan berikutnya. “Kamu jangan terlalu berharap Pram bisa sembuh. Dia itu sudah menderita bertahun-tahun dan ndak ada kemungkinan sembuh, Git.” Ibunya adalah pensiunan guru dan cukup bijak dalam memberi nasehat. Sigit dan adiknya kini sukses dengan pekerjaan yang cukup terpandang di masyarakat. Arum berhasil menjadi dokter dan Sigit bekerja di instansi pemerintah menempati bagian perpajakan. Meskipun hanya bersahabat dengan Pram dari kecil, namun Sigit menganggap Pram lebih dari seorang teman. Keduanya tumbuh besar bersama dan Pram yang selalu mendorong Sigit untuk berhasil. “Aku pergi itu ‘kan belum terlalu lama, Bu. Baru lima tahun. Kalau Pram memang punya bakat gila, mustahil dia itu nggak menunjukkan tanda-tanda dari dulu. Pram adalah manusia waras yang cerdas dan kayaknya kok nggak masuk akal kalo mendadak gila!” “Isi kepala dan hati orang kita ndak pernah tahu, Le. Kamu itu ‘kan harusnya paham, Pram semenjak ditinggal mas Cokro jadi linglung.” “Tapi nggak cukup kuat untuk bikin seseorang gila, Bu!” Arum muncul dari dalam dan bergabung dengan kakak dan ibunya. Asmi, ibunya menoleh dan tersenyum. “Memang ndak cukup kuat. Tapi apa dari kita tahu kalo Pram sebetulnya ndak pernah menyimpan tekanan batin sebelumnya? Ingat soal Lunar sama Binar? Bahkan mbak Padmi, ibu mereka sendiri, yakin jika anaknya sakit yang secara medis disebut kanker. Tapi kita juga tahu, kalo Lunar dan Binar sakit setelah Genta diobati sama Ki Sukmo!” bantah ibunya dengan berapi-api. “Maksud Ibu apa?” Arum yang dulu masih kecil dan belum tahu apa-apa kini mulai penasaran. Asmi menoleh pada putranya yang kini menunduk. “Kamu harus tanya sama masmu, temen sekolah mereka berdua. Dia yang paling tahu mengenai siksaan Binar sama Lunar. Tapi ibu yakin, siapa pun penyebab kemelut keluarga Amandaru, sebetulnya akar dari semua ada dalam keluarga itu sendiri!” “Mas, itu omongan ibu bener?” tanya Arum. Sigit menghela napas dan menunduk. “Aku nggak satu sekolah sama mereka dulu. Binar sama Lunar itu adik kelas jauh sama aku dan Pram. Karena Pram itu lahir beda cuman empat tahun aja sama kedua keponakannya.” “Lha terus?” Arum kini makin penasaran. “Aku kelas dua SMA sama Pram. Sementara Binar dan Lunar kelas satu SMP. Kebetulan waktu itu ‘kan sekolah kita satu wilayah, bersebelahan gedungnya. Yang aku tahu, Binar sama Lunar mendadak sering sakit semenjak Genta kecelakaan, tenggelam di sendang.” Wajah Arum kini tampak tertegun. “Dan Ki Sukmo yang nyembuhin?” tanya Arum. “Secara medis ya di rumah sakit. Tapi setelah pulang, Genta suka ngilang dan kesurupan. Akhirnya Ki Sukmo yang ngobatin. Katanya sih ketempelan sama penunggu sendang.” “Jadi ini semua udah terjadi sejak dulu,” gumam Arum dengan wajah termenung, seperti merangkum dan mengambil kesimpulan. “Bener ndak dugaan ibu? Kalau memang mau mencari akar dari penyebab Pram sinting, kalian harus tanya sama mbak Padmi. Apa yang terjadi waktu Genta disembuhin sama dukun itu? Apa ada perjanjian tertentu? Mereka yang tahu jawabannya,” timpal Asmi. “Menurut ibu, apa Genta hidup karena ada perjanjian sama setan? Begitu? Terus Binar sama Lunar jadi tumbal?” “Ya kamu simpulkan sendiri,” sahut Asmi tampak sinis. “Tapi Pram nggak ada kaitannya sama mereka, Bu!” “Kamu ini udah jadi pegawai kok ya masih nggak nyambung!” seru ibunya kesal. “Ya jelas ada hubungannya! Pram tahu kalo Binar sama Lunar jadi tumbal! Itu yang bikin dia jadi stres! Semua muncul dan tambah parah bertepatan mas Cokro sedho (meninggal)!” Baik Sigit ataupun Arum terlihat tertegun dengan wajah pias. Asmi mendadak merasakan simpati untuk putrinya. “Rum, ibu tahu kamu cinta setengah mati sama Pram. Tapi udahlah. Ikhlaskan dan berdoa semoga dia ndak tersiksa lagi. Mustahil Pram bisa sembuh, Nduk.” Mata Arum berkaca-kaca dan kristal bening pun mengalir satu persatu menuruni wajahnya. “Pram nggak pantas jadi korban dan dia layak dapat kesempatan buat sembuh. Aku akan terus berjuang buat dia,” ucap Arum dengan lirih dan terdengar pilu. Sigit menghela napas panjang. Dia sangat menyayangi adik semata wayangnya dan Pram adalah sahabat karibnya. “Mas akan bantu kamu, Dek. Tapi inget, terus ikhtiar dan berdoa itu jadi utama. Kalau gagal, jangan kecil hati,” ucap kakaknya dengan lembut. Arum mengusap air matanya buru-buru dan meninggalkan ibu juga kakaknya. Asmi semakin prihatin akan sikap Arum. “Susah payah dia menjadi dokter. Sekarang malah terpuruk dan lesu kayak gini. Semangat hidupnya cuman buat Pram,” gumam Asmi terdengar putus asa. Sigit tidak menimpali ucapan ibunya. Dia tahu jika Arum begitu terpukul semenjak Pram kehilangan kesadaran. Salahnya dia tidak segera pulang. Tugas yang dulu ia emban mengharuskan Sigit jauh dari kampung halaman selama bertahun-tahun. Cinta memang bisa menjadi kekuatan maha dahsyat untuk bahagia. Namun cinta juga bisa meruntuhkan kekuatan itu sendiri, hingga manusia yang merasakan menjadi luluh lantak dalam depresi. Mungkin saran ibunya benar. Mencari tahu dari keluarga Amandaru adalah langkah yang tepat. Dia bertekad untuk menguak semua ini. Pram dan Arum harus memiliki kesempatan bahagia. Jika menyimpulkan kisah yang ibunya paparkan tadi, Sigit mulai menduga bahwa Padmi adalah kunci dari semua ini. “Kamu harus menemui Trining dulu. Mbak Padmi tidak semudah itu dijangkau. Dia selalu menutup diri,” saran terakhir dari ibunya terucap kembali. Sigit menatap perempuan yang selama ini menjadi sandarannya. “Nggih, Bu. Biar Arum yang akan menengok bulek Trining nanti. Alasan berkunjung sebagai dokter, mungkin nggak bakal nimbulin kecurigaan.” Ibunya mengangguk setuju dan angin siang yang mulai terasa dingin itu kembali berhembus. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD