Genta masih di rumah sakit dan baru kembali menjenguk buleknya yang juga di rawat saat ini. Kalimat yang Bram, seniornya, katakan semakin menegaskan bahwa kemelut ini bukanlah hal yang sederhana.
Logikanya mungkin ingin mengatakan jika ini terlalu mengada-ada.
Tapi kenyataan bicara lain.
Genta mengingat dengan jelas saat ia melakukan laporan tempo hari pada kepolisian dan detektif penyidik itu dengan penuh semangat berjanji membantunya. Kematian yang terjadi beberapa tahun terakhir tanpa penyebab jelas memang mengusiknya.
Polisi itu bahkan mengatakan jika kecurigaannya pada Ki Sukmo mungkin akan menemukan titik terang jika Genta bersedia bekerja sama. Setelah menjalin kesepakatan, Genta menyediakan semua cerita dan kisah yang bisa membantu penyelidikan.
Terakhir kali, polisi itu menyebutkan tentang niatnya mengunjungi situs, tempat Sayekti dan Ki Sukmo sering datang untuk memberikan sajen. Pesan yang Genta terima jelas tertulis bahwa detektif itu menyatakan ada kekuatan dan praktek ilmu hitam yang terlibat dalam kasus ini.
Sebelum mereka sempat bertemu, mendadak Genta mendengar kabar jika polisi itu ingin mundur.
Alasannya tidak jelas. Berkali-kali Genta menelepon dan mengirim pesan beruntun, tapi tidak ada balasan. Yang ia temui justru jenazah polisi yang malang dalam keadaan tragis.
Ketika buleknya diserang oleh kekuatan yang gaib, pria itu makin tidak memahami sedikit pun. Apa yang harus ia lakukan untuk melenyapkan semua petaka ini?
Kenapa dirinya harus mengingat dan sudah ada beberapa orang yang mengatakan hal sama.
Apakah dirinya melupakan detail yang ia anggap sepele? Ayahnya adalah pria yang tidak pernah melewatkan waktu untuk berbincang dengan Genta. Jika ada hal yang tidak baik, ayahnya pasti sudah membicarakan hal itu sejak dulu.
Ada selubung gelap yang harus ia uraikan dan ini mungkin akan menguak semua misteri tersebut.
Karena mustahil melaporkan Ki Sukmo dan Sayekti dengan tuduhan yang berdasarkan hal-hal di luar nalar!
**
Sigit mendengar jika Trining mengalami p*********n yang membuatnya terluka. Laporan Arum, adiknya, membuat pria itu harus kembali ke desanya dengan pesawat pertama. Dalam perjalanan, Sigit terus berpikir dengan pikiran rumit.
Kenapa keluarga Amandaru tidak segera mengambil tindakan yang tegas? Seharusnya ini bisa mereka selesaikan hingga tuntas!
Padmi memiliki akses untuk meminta bantuan pada keluarganya di Jogja.
‘Apakah mbak Padmi malu? Bahwa ada kisah di keluarganya yang kini mengundang maut?’ batin Sigit dalam diam.
Tekadnya kini bulat. Mungkin dirinya tidak memiliki ilmu klenik apa pun. Tapi semoga dengan keberanian dan rencana matang, dirinya bisa membantu Pram terlepas dari kungkungan iblis tersebut.
Sigit yakin, Pram gila karena andil iblis tersebut.
**
Gadis ayu dengan rambut terkepang itu terlihat berjalan masuk ke halaman rumah Drajat.
“Kamu udah gede aja, Nur!” serunya dengan gembira.
Gadis yang merupakan sepupunya itu tersenyum lebar dan mencium tangan Drajat dengan takzim. Wajahnya tampak mungil dan cantik. Matanya yang bulat dan lentik, mencerminkan kesantunan dan kematangan.
“Berapa lama ya kita nggak ketemu?” tanya Drajat dengan cepat meraih ransel milik Janur, nama gadis itu, dan meletakkan di amben (dipan kayu).
“Ya mungkin udah sepuluh tahun lebih!” seru istrinya dengan keras.
Janur menoleh dan memekik gembira. Istri Drajat tertawa dan memeluk dengan kuat-kuat.
“Aku kangen sama Mbak Yani,” balas Janur terkesan manja.
Yani, istri Drajat mengusap kening dan wajah Janur dengan penuh kasih sayang.
“Mbak juga kangen sama kamu, Nduk. Sayangnya kamu kan sekolahnya jauh, jadi kudu sabar.”
Janur mengangguk dan mereka duduk di amben dengan obrolan yang santai.
Setelah beberapa saat saling berkabar, mendadak Janur mengungkapkan jika dia akan memenuhi permintaan Drajat untuk membantu keluarga Amandaru.
“Kok sekarang berubah pikiran?” tanya Drajat heran.
“Kamu ke sini bukan buat liburan?” timpal Yani terlihat syok. “Sebenarnya aku nggak setuju! Masak sarjana jadi pembantu! Sayang sekolahmu!” kilah Yani terdengar ketus.
Janur tertawa dan mencomot wajik serta menyantapnya.
“Yang penting tujuannya kan baik. Mau bantuin. Siapa lagi yang mau nolong mereka? Janur yakin, semua orang pasti menjauh sekarang dari keluarga itu,” timpal Janur.
Yani cemberut dan masih menunjukkan sikap tidak suka.
“Mereka yang membiayai sekolahku, Mbak. Lagipula, Mbah Darmo minta sendiri.”
Ucapan Janur itu membuat Drajat dan Yani terkejut.
“Dia datangin kamu?” tanya Drajat.
Janur mengangguk.
“Mbah guru minta kalo aku sebaiknya nemenin bulek Trining dan mbak Dayu buat sementara waktu.”
Akhirnya Yani dan Drajat mendengar seluruh pesan dan amanat dari mbah Darmo hingga tuntas.
“Nggak ada yang tahu tentang kisah sebenarnya selain Pak Cokro, Ki Sukmo dan Mbah Guru, kecuali mereka, tiga orang itu,” pungkas Janur dengan wajah prihatin.
“Tiga orang itu siapa?” selidik Yani.
“Aku juga nggak tahu. Mbah Guru nggak mau kasih tahu. Aku harus menguak sendiri selubung itu, Mbak.”
Drajat mengingat pembicaraannya tempo hari dengan Genta.
“Genta kayaknya juga terlihat aneh. Dia kayak orang yang nggak kenal aku. Banyak kenangan kita berdua yang dia lupakan. Apa mungkin penyakit mendiang mbak Binar sama Mbak Lunar mulai menjangkiti dia?” tanya Drajat.
“Mustahil, Mas. Gangguan yang Binar dan Lunar alami itu bukan penyakit keturunan!” Yani yang merupakan seorang bidan dan memiliki pengetahuan medis cukup baik segera menangkis hal itu.
“Ya, aku tahu. Tapi dalam segi medis, walau aku dokter umum, seharusnya genetik seseorang yang terbukti tidak baik, dalam satu garis keturunan memiliki garis yang sama.”
“Sebenarnya, Binar dan Lunar sakit apa?” tanya Janur dengan wajah penuh penasaran.
Drajat dan Yani saling berpandangan.
“Sebaiknya kamu cari tahu sendiri. Kami nggak berhak menyebar kerahasiaan mereka.”
Jawaban Drajat yang diplomatis makin menguatkan keinginan Janur untuk segera terlibat dalam kemelut Amandaru.
“Kamu harus hati-hati dan jaga diri, Nur. Ilmu saja nggak cukup. Iman dan keteguhan mental juga perlu.” Semua saran dan wejangan terlontar dari kakak sepupunya dan Janur mengangguk dengan patuh.
“Nur,” panggil Yani.
“Ya, Mbak?”
“Aku nggak ikhlas kalo kamu juga terlibat,” keluh Yani.
Janur tersenyum dan meraih tangan Yani dengan lembut. Ia tahu, istri kakak sepupunya ini sangat menyayanginya dengan sangat. Yani memperlakukan dirinya seperti adik kandung sendiri.
“Mbak, yakinlah. Gusti Allah pasti nuntun aku,” hibur Janur.
Yani mengangguk dan mengalah. Ini memang balas budi yang tepat untuk keluarga Cokro yang begitu baik dengan mereka.
Janur lega karena akhirnya Yani mau menerima.
Dalam pikirannya, ini bukan hanya sekedar masalah baru. Ada akar yang menjadi asal muasal dimana telah dimulai sejak dulu dan sudah ada jauh sebelum mereka menyadari. Jika dia tidak turut andil, tidak ada yang akan memulai pencarian yang tepat untuk mengakhiri.
Selubung ini harus terkuak!