Iring-iringan sekelompak anak sekolah berseragam pramuka tampak menyusuri jalan raya yang tidak begitu ramai. Mereka baru saja pulang sekolah dan berjalan melewati pasar sambil bercerita riang.
Tidak berapa lama, mereka tiba di depan sebuah situs bekas peninggalan bersejarah dari zaman purba. Peninggalan itu berupa sarkogafus atau meja batu yang tepat berada di depan sekolah dasar, bersebelahan dengan kelurahan Bedono.
Dua pohon beringin besar menaungi meja batu tersebut, sementara tembok yang tidak begitu tinggi mengelilingi lokasi situs. Ada beberapa bekas sajen yang masih tampak baru di atas meja batu tersebut. Tawa para remaja yang tadinya terbahak riang, berubah menjadi siulan genit, saat seorang gadis cantik keluar dari areal meja batu.
Wajahnya begitu menawan dengan lesung pipit di pipi. Kulitnya putih mulus dan mengkilat seperti pualam. Kaos warna biru muda dan rok selutut berwarna hitam yang ia kenakan tampak sederhana. Namun kecantikannya jelas terpancar, menunjukkan kesan anggun dan ayu.
Sayekti, nama wanita yang berusia dua puluh lima tahun itu. Rambutnya yang tebal bergelombang, terkepang dengan rapi ke samping. Semua pemuda bahkan duda mengejar serta berharap bisa mempersunting Sayekti. Namun bagi orang yang mengenal siapa ayah dari Sayekti, mereka akan mundur teratur.
Putri dari Ki Sukmo ini menjadi kembang desa dan idaman setiap pria tanpa bisa tersentuh. Pembawaannya sangat halus dan ia jarang bicara.
Setiap pagi, Sayekti membawa sajen dengan rajin ke lokasi meja batu di depan kelurahan.
Terkadang sendiri, tidak jarang juga dengan ayahnya. Ada yang mengira keyakinan mereka adalah Hindu. Tapi hingga detik ini, tidak ada yang mengetahui dengan pasti, alasan mereka memberikan sesajen di meja batu tersebut.
Siang terik berubah menjadi mendung tiba-tiba. Orang-orang yang tadinya berada di lapangan bola dekat pasar berlarian mencari tempat meneduh. Langit gelap menyelimuti dengan cepat dan gerimis turun kian deras.
Sayekti menghentikan kayuhannya, lalu berlari sambil menuntun sepeda. Ia berteduh di teras sebuah warung pecel bersama dengan beberapa orang lainnya. Titik-titik air membasahi wajahnya, ia mengusap dengan ujung lengan kaos dengan anggun.
“Budhe, mie pecelnya masih ada?” tanya Sayekti dengan suara lembut.
Para pria berbisik sambil melirik dengan tatapan kagum. Tumitnya yang tampak berwarna merah muda, terlihat menggoda. Tungkai kakinya yang mulus dan indah, terjuntai saat Sayekti duduk di bangku depan warung.
“Masih ada, Nduk. Mau pesan berapa?” tanya penjual pecel dengan ramah.
“Lima bungkus. Pedas semua ya, Budhe,” sahut Sayekti.
Kemudian ia duduk dengan tenang. Tubuhnya tegak dan matanya menatap ke depan lurus, seperti menikmati derai hujan yang tak kunjung reda.
Salah satu pria yang berasal dari desa sebelah mulai memberanikan diri untuk mendekatinya. Penjual pecel langsung tampak resah.
“Boleh kenalan nggak?” tanya pemuda itu awalnya sopan dan sedikit tidak yakin.
Sayekti tidak menoleh dan hanya tersenyum samar.
“Boleh. Aku Sayekti,” sahutnya pelan.
Pemuda itu tersenyum lebar. Niatnya bersambut manis.
“Aku Narko,” ucap pemuda itu dengan senang.
Sayekti tidak menanggapi uluran tangan Narko.
“Bukan muhrim. Kita kenalan lewat lisan aja ya, Mas,” tolak Sayekti dengan santun, namun senyumnya menyiratkan aura eksotis yang menggoda.
Narko makin terpesona dan penasaran.
“Nduk, pecelnya sudah jadi!” seru ibu penjual keras berusaha mengalahkan deru hujan.
Sayekti bangkit dan mengulurkan uang untuk membayar. Sambil menenteng plastik, gadis itu kemudian menggantungkan di stang sepeda tuanya dan bersiap pergi.
“Masih hujan, kok mau jalan?” tahan Narko dengan wajah khawatir.
Sayekti menoleh serta tersenyum.
“Sudah berhenti,” sahutnya.
Seketika hujan reda dan matahari bersinar samar. Penjual pecel menelan ludah dengan gugup dan memberi isyarat pada pemuda yang lain untuk menahan Narko. Pria yang memakai baju bola berwarna hijau menarik kepala Narko dan membisiki sesuatu. Namun pemuda tersebut tidak bereaksi.
“Boleh aku anterin, ya?” pinta Narko.
Sayekti mengangguk malu-malu. Tanpa berpikir panjang, Narko menyambar tas ransel dan mengikuti langkah Sayekti.
“Kenapa kalian tidak tahan dia?!” seru ibu penjual dengan suara tertahan.
“Udah, Budhe. Tapi dia kayak nggak denger begitu!” tangkis temannya dengan heran.
“Memangnya kenapa, Budhe? Dia sudah menikah?” tanya pemuda yang satu lagi.
“Kalian tahu dia anak siapa?” tanya penjual pecel dengan kesal.
“Ti-tidak. Bapaknya galak nggih, Budhe?”
“Bukan cuman galak! Dia itu anak Ki Sukmo! Dukun yang suka meresahkan desa sini!” sahut ibu penjual dengan wajah garang. Semua wajah para pemuda langsung pucat.
***
Narko mengikuti langkah Sayekti dan mengajak ngobrol yang hanya ditanggapi sesekali. Wanita itu benar-benar membuatnya terpesona. Jalanan menanjak dan mereka tiba di depan pagar sebelum memasuki rumah Sayekti.
“Wah, udah sampe kita,” ucap Narko sedikit kecewa. Sayekti tertawa kecil.
“Memangnya obrolan tadi ndak cukup?” tanya Sayekti kemayu.
“Nggak cukuplah. Lebih asyik kalo ngobrol lama-lama,” sahut Narko bahagia.
“Mau masuk ke rumah? Mampir sekalian,” tawar Sayekti dengan halus.
“Emangnya boleh?” seru Narko bertanya.
Hatinya berbunga-bunga karena ia mendapat sambutan yang ia harapkan. Sayekti belum sempat menjawab, ketika seorang pria tua muncul dan membuka pagar dari bambu tersebut. Narko mendadak sungkan dan menciut nyalinya.
“Sayekti, masuk!” pinta pria yang ternyata Ki Sukmo.
“Tapi, Pak …,” jawab Sayekti tampak keberatan.
“Masuk! Jangan keterlaluan kamu!” bentaknya keras.
Sayekti membalas pandangan ayahnya dengan berani.
“Jangan macam-macam kamu!” ancam Ki Sukmo pada putrinya sendiri.
Sayekti mendengus kasar. Gadis itu berbalik dan membisikkan sesuatu pada Narko. Setelah itu berlalu dengan menuntun sepedanya, serta melewati Ki Sukmo dengan langkah kesal.
“Pulang, jangan menoleh sebelum tiga belas langkah, atau kau celaka!” usir Ki Sukmo dengan wajah bengis.
Narko mundur dan mengiyakan dengan gugup. Pemuda itu setengah tergesa menjauh. Karena panik dan bercampur takut, Narko salah menghitung dan bingung. Lamat-lamat ia mendengar suara yang memanggil dan ia tergoda untuk menengok ke belakang. Hatinya berteriak untuk melarang kepalanya berbalik, Narko mengalami gejolak batin yang begitu kuat.
***
Ketukan di pintu yang begitu kuat membuat Genta dan Dayu terbangun.
“Astaga, baru jam empat pagi?” keluh Genta sambil bangun dan menyeret kakinya menuju pintu kamar. Azan subuh terdengar sayup-sayup, Dayu turut terjaga dan memutuskan untuk sholat subuh sekalian.
“Bulek?” seru Genta kaget.
“Pak RT meminta tolong untuk memeriksa korban pembunuhan!” pekik Trining panik.
Genta tergagap dan mengiyakan. Dia tidak sempat mencuci muka dan menyambar tas prakteknya. Dayu tercenggang beberapa saat. Pikirannya masih terpaku dengan kata ‘pembunuhan’. Suaminya pergi dengan Pak RT dan tampak terburu-buru.
Keduanya mengendarai sepeda motor untuk mencapai lokasi. Penemuan mayat itu ternyata di sebuah sendang atau mata air yang tidak jauh dari rumah Genta. Dalam waktu setengah jam, mereka tiba dan sudah ada beberapa warga yang berkerumun.
Sendang itu umum dipergunakan para warga untuk mencuci baju atau sekedar mandi saja. Genta menyeruak kerumunan dan melihat tubuh seorang pemuda terbujur kaku di tepi sendang, di atas lantai permanen dari semen bercampur kerikil.
Wajahnya membiru dan tampak sebelum meninggal, jenazah sempat tercebur karena kondisinya basah kuyup. Genta memeriksa semua alat vital jenazah dan sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dokter itu sempat memompa d**a untuk memastikan jantung bisa berdetak kembali namun sia-sia.
“Dia tenggelam?” tanya Genta.
“Mboten ngertos (tidak tahu), Dok. Tadi ditemuin sudah dalam kondisi seperti sekarang. Belum ada yang berani menyentuh,” sahut salah satu warga.
Genta heran karena seluruh tubuh jenazah basah kuyup. Kedua jari tangan menekuk dan telapak kaki lurus. Mirip seperti sebelum meninggal, mengalami kejang-kejang.
Karena cukup gelap, Genta meraih senter kecil dalam tasnya lalu meneliti pupil mata yang melotot. Dengan seksama, ia memeriksa kuku dan saat beralih pada tangan sebelah kiri, Genta terkesiap. Ada helai rambut panjang tersangkut dan jumlahnya cukup banyak.
“Bawa dia ke rumah sakit. Jenazah tidak bisa diselamatkan lagi. Waktu kematian belum diketahui,” ucap Genta dengan gontai. Para warga bergotong royong memapah tubuh kaku korban itu dan menaikkan ke atas pick up.
“Siapa dia, Pak?” tanya Genta prihatin. Sulis, ketua RT yang datang bersamanya, menghela napas dengan berat.
“Anak desa Wawar Lor. Dia salah satu bintang sepak bola kecamatan kita. Sunarko, masih kuliah dan pemuda yang baik,” sahut Sulis sendu.
“Innailillahi …,” desis Genta menyayangkan kematian pemuda malang itu.
“Dok, terakhir sebelum dia kita temukan, Narko mengantar Suyekti,” bisik Sulis lirih. Genta terhenyak.
“Sudah ada yang memperingatkan, namun dia tidak mau dengar,” sambungnya dengan nada menyesal.
“Mungkinkah …,” Genta tidak melanjutkan lagi.
“Ki Sukmo makin merajalela,” lengkap Sulis dengan setengah geram, namun Genta masih mendengar nada gentar di suaranya.
Genta tidak mengerti kenapa semua warga terkesan diam dan tidak melawan semua teror yang dilakukan oleh pria yang bernama Ki Sukmo tersebut!