Kasus kematian Narko membawa akibat dua desa berada dalam situasi yang memanas. Tudingan karena dendam desa Bedono pernah kalah dalam pertandingan sepak bola menjadi isu yang gencar dihembuskan. Sulis beberapa kali mengadakan perundingan dan pendekatan, dengan ditemani Woro, lurah desa tersebut.
“Narko terakhir dilihat berada di lapangan ini dengan pemain kalian. Jangan mungkir!” serang salah satu paman Narko yang terlihat terluka.
“Betul. Tapi budhe Marti mengatakan dia pergi dan itu jelas bukan dengan pemain kami! Kalian tahu siapa yang kami maksud!” bantah Sulis.
Penjual pecel yang menjadi saksi tampak memucat.
Kesepakatan dan perdamaian pun akhirnya kembali terjalin setelah mediasi melibatkan kepolisian yang menyatakan tidak ada andil pemain sepak bola dusun Bedono dalam kematian Narko.
Kemarahan dusun Wawar Lor pun mereda.
Pak lurah mengusulkan mengadakan selamatan untuk tolak bala dengan menanggap wayang. Kematian tidak lagi diusut karena terbentur dengan beberapa saksi mundur, saat mengetahui siapa yang terakhir kali bersama dengan mendiang Narko.
Siang itu Dayu mampu menyelesaikan bab yang keempat puluh dalam novelnya. Dirinya merasa puas akan pencapaian yang cukup mengherankan dalam kondisi tertekan saat ini. Dayu sedang mencoba menulis kisah legenda horor suatu desa. Suatu keuntungan bagi Dayu karena mengalami beberapa peristiwa sendiri dan itu menambah kengerian dalam novelnya meningkat.
“Aku harus menghadiri undangan dari pak lurah nanti malam,” keluh Genta sambil membawa baju batiknya yang baru selesai disetrika.
“Perhelatan desa maksudnya, Mas?” tanya Dayu.
“Iya. Ada acara wayang dan itu pasti bikin aku ngantuk,” sahutnya. Dayu menutup laptop dan berputar menghadap suaminya.
“Pergi aja. Sekarang Mas Genta ‘kan wakil bapak. Baik juga menjalin hubungan dengan mereka,” saran Dayu pada suaminya.
“Iya, Istriku Sayang,” goda Genta pada Dayu. Keduanya bercanda dan bergulingan sambil tertawa geli.
“Udah jam delapan tuh! Bentar lagi kamu dijemput sama pak Sulis,” ingat Dayu. Genta mengiyakan dengan enggan.
***
Suasana balai desa sangat ramai oleh penonton yang berjubel. Warga berduyun-duyun menyaksikan wayang yang mengundang dalang terkenal.
Genta menjadi salah satu tamu kehormatan dan duduk di jajaran kursi depan. Sebelum dalang memulai, mereka menampilkan tarian yang dipersembahkan sebagai pembuka acara. Lampu diredupkan dan lagu gending jawa terdengar dengan sangat indah dan mendayu.
Awalnya suara gending cukup ceria. Beberapa detik kemudian, muncul tiga penari yang keluar dengan luwesnya meliuk sesuai dengan iringan gamelan. Suara sinden berdengung dengan cengkok khas dan Genta seperti tersihir, ia terpesona.
Salah satu penari adalah wanita yang sangat dirinya hindari, Sayekti!
Genta tidak melihat sosok Ki Sukmo di antara tamu undangan. Namun malam itu, Sayekti muncul dan menari seperti mengenang sebuah kemenangan yang baru ia capai. Wajahnya tampak menawan dan memabukkan para pria yang memandangnya.
Apa yang telah ia alami saat ini, ternyata juga terjadi pada para pria yang tidak segan-segan melemparkan saweran mereka ke atas panggung. Genta merasa mulai tidak enak dan pikirannya berteriak untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
Sayekti melemparkan pandangan melirik penuh arti padanya. Genta semakin gelisah dan tidak nyaman. Dalam hati ia mulai menggumamkan lantunan doa dengan kesungguhan.
Wajah pria itu memang sangat tampan. Selain karena menawan, Genta juga terkenal sebagai pemuda yang cerdas. Dulu, banyak sekali para orang tua yang merelakan putrinya untuk dipinang oleh Padmi. Namun semua tidak berhasil meluluhkan hati Genta. Dayu yang memenangkan simpati Genta dan menjadi istrinya.
Tarian gambyong yang seharusnya dibawakan sebagai tarian penyambutan tamu, kini berlanjut menjadi tarian sawer dan membuat para pemuda dan p****************g menjadi liar dan tergoda untuk berjoget. Genta menunduk untuk mengalihkan pandangannya dari panggung.
Bau harum bunga kantil tercium dan Genta semakin merasakan sensasi menggelitik yang mendesaknya untuk menatap Sayekti kembali. Pria itu semakin gencar melantunkan doa lebih khusyuk lagi. Tangannya berkeringat dan lututnya gemetar.
Sebuah sentuhan lembut menyentuhnya dari samping.
Genta memejamkan mata. Ia takut membuka netranya karena khawatir akan godaan yang ia tahu, mungkin, dilakukan oleh sosok perempuan bernama Sayekti tersebut.
“Genta,” panggil sosok tersebut.
Seketika Genta merasakan hatinya damai dan tenang. Itu adalah suara guru mengajinya masa kecil dulu! Genta membuka mata dan menoleh.
“Mbah Darmo!” seru Genta tertahan.
Pria tua yang tampak bersahaja dengan balutan baju koko dan celana hitam itu tersenyum penuh kerinduan. Genta mencium tangan pria yang ia anggap seperti ayahnya sendiri. Sejak kepulangannya, Genta setiap hari mengunjungi rumah mbah Darmo yang kosong. Drajat sahabatnya mengatakan jika mbah Darmo pergi, namun tidak jelas kemana.
“Ayo pulang, Le. Makin ndak apik di sini,” bisiknya dengan lembut.
Genta mengangguk lalu bangkit, serta berpamitan pada para aparat desa yang mengundangnya. Dengan segan, mereka membungkuk takzim ketika melihat mbah Darmo. Belum sempat keduanya mencapai pintu keluar. Ki Asmo masuk dengan bahasa tubuh yang angkuh.
“Sayekti!! Pulang kamu!!” teriaknya hingga bergema ke seluruh ruangan.
Musik gamelan berhenti dan setiap mata memandang Ki Sukmo dengan ngeri. Satu persatu mundur dan menghilang dari depan panggung. Sayekti berdiri tegak sementara dua penari berlari ketakutan.
“Sudah kularang kau pergi, lancang kau langgar!!” teriak Ki Asmo dengan penuh amarah.
“Aku juga berhak berada di sini!” bantah Sayekti. Sikapnya terlihat menentang ayahnya.
“Kurang ajar!!” pekik Ki Asmo makin murka.
Mbah Darmo mendekati panggung dan menatap keduanya dengan wajah tenang.
“Sayekti, kau dengar barusan. Hindari keributan, pulanglah,” ucap pria yang tampak lebih tua dari Ki Asmo tersebut.
Genta tidak ingin Ki Asmo menyerang dan menyakiti mbah Darmo. Ia berniat untuk mendekati mereka. Ketika Genta ingin melangkah, kakinya terasa berat dan tidak bisa ia gerakkan. Tidak peduli seberapa kuat ia berusaha, Genta tidak bisa menggerakkan kaki.
Setelah dibujuk oleh mbah Darmo, Sayekti berbalik dan meninggalkan panggung dengan wajah kecewa bercampur marah.
Begitu mbah Darmo berbalik dan Ki Asmo pergi, Genta mampu menggerakkan kakinya kembali. Napasnya menjadi tersenggal dan memburu karena panik.
“Ayo kita balik,” tepuk mbah Darmo dengan ringan di pundaknya.
Genta menatap lelaki tua yang masih tampak sama seperti dulu dengan terheran-heran. Mendadak ia bisa menguasai diri kembali dan rasa sesak di dadanya lenyap.
Dengan langkah cepat, ia menyusul mbah Darmo. Keduanya beriringan jalan kaki menuju rumah Genta yang tidak jauh dari balai desa.
“Mbah Darmo, kenapa baru kembali? Kemana saja? Sudah lima tahun ndak pernah kelihatan, seperti menghilang begitu saja,” tanya Genta dengan penasaran.
Sejak ayahnya meninggal, mbah Darmo hanya datang sekali kemudian pergi tidak kembali lagi. Kakek tua yang masih tampak gesit tersebut terkekeh pelan.
“Pernikahan saya juga Simbah nggak dateng,” keluh Genta.
“Yang penting semua selamat dan aman, tho?” sahut pria tua itu dengan santai.
“Alhamdullilah, Mbah. Hanya saja …,” Genta urung mengatakan tentang berita paman dan hantu yang muncul sejak kepulangannya. Seperti memiliki kemampuan khusus, mbah Darmo menebak pikiran Genta dengan mudah.
“Pram kenthir (gila) dan banyak yang ganggu, gitu maksudmu?” tanyanya dengan senyum mengambang. Genta mengiyakan dengan lemah.
“Nanti, kalau ada waktu yang tepat mbah jelasin semua. Sekarang kamu pulang, tenangin pikiran dan salam buat ibumu,” nasehatnya dengan lembut.
Genta heran karena mereka sudah berada di depan rumah. Kenapa rasanya cepat sekali mereka berjalan? Seharusnya mereka ….
“Udah, Genta. Masuk. Salam buat Dayu istrimu yang luar biasa itu ya, Le,” pamit mbah Darmo seraya memberi tepukan hangat yang biasa ia lakukan pada Genta tiap bertemu dan berpisah. Genta berpaling ke samping untuk mengajak mbah Darmo mampir. Pria tua itu sudah lenyap!