Dayu masih diopname dan pengunjung dibatasi untuk memberinya waktu istirahat yang banyak. Meski begitu, Genta tidak pernah sedetik pun beranjak dari sisi istrinya.
Padmi masih harus bolak balik antara rumah sakit dan rumahnya. Ia meminta Janur dan Sri membentengi rumah dan melakukan pembersihan. Sementara itu, Binari dan Jetro datang dari pagi namun hanya bisa puas dengan melihat dari balik kaca.
Dokter hanya mengijinkan Genta saja yang berada bersama Dayu.
“Kandungannya tidak ada masalah. Kondisi bayi aman, tapi ibunya harus benar-benar pulih karena kehilangan banyak darah.”
Itu informasi dari dokter yang menjelaskan pada nenek dan ayahnya.
Tidak memiliki peluang untuk bersama Dayu, Binari dan Jetro harus bersedia untuk bersabar.
“Gelang itu terbukti nggak bisa melindungi Dayu dari celaka. Mungkin perkiraanku salah, Jet. Iblis itu terlalu kuat dan bukan sembarangan.” Binari tampak menyesal.
Jetro meraih tangan ibunya dan mencoba menghibur dengan kalimat yang menenangkan.
“Ma, seharusnya kita tidak mengajarkan pada Dayu untuk bersandar pada hal-hal yang seperti itu.”
Binari mengangguk dan tampak makin menyesal.
“Hanya Allah yang bisa melindungi Dayu, Jet. Mungkin membawa pulang Dayu ke Bali juga bukan tindakan yang bijak,” ucap Binari yang paham akan cara kerja iblis yang bisa melakukan hal apa saja untuk mendapatkan targetnya.
“Jadi kita biarkan Dayu di sini? Menghadapi ini semua?” tanya Jetro.
“Apa kamu bisa membujuk Dayu buat pulang? Dia itu sama keras kepalanya kayak kita, Jet,” keluh Binari.
Jetro tidak bisa membayangkan putrinya dalam situasi bahaya. Kehilangan istrinya adalah hal yang membuatnya terpukul selama bertahun-tahun. Jika Dayu juga celaka, Jetro mungkin tidak akan memaafkan dirinya lagi.
“Aku akan coba, Ma. Dayu adalah satu-satunya anakku.” Jetro terlihat geram dan tidak terima begitu saja.
**
Janur dan Sri baru saja selesai membentengi rumah sesuai permintaan Padmi. Sri kemudian mengatakan harus melanjutkan pekerjaan menjemur kopi membantu Trining, sementara Janur membersihkan rumah.
Begitu Sri pergi, rumah tampak lenggang. Padmi masih dalam perjalanan untuk kembali dari rumah sakit dan Totok bersama majikannya tersebut.
Entah kenapa Janur merasa inilah saat yang tepat untuk melihat berapa lama kutukan yang meminta tumbal ini berlangsung.
Dengan hati-hati Janur berjalan menuju ke ruang tengah, di mana Pram sedang duduk.
Wanita muda itu mengambil tempat di sebelah Pram dan mulai mengumamkan kata demi kata untuk membuka jiwa Pram, meski dalam tempo sekian detik.
Hanya cara itu yang bisa Janur lakukan untuk meraih Pram. Dia tidak akan bisa mengembalikan pria tersebut dan sembuh dari kegilaan yang menimpanya.
Usai mengucapkan kalimat yang seperti untaian doa, Janur menyentuh tengkuk Pram dan menekannya sedikit.
“Paklek, dengar suaraku?”
Pram mendadak melotot dan tubuhnya kaku.
“Si-siapa ini?”
Ajaib! Selama bertahun-tahun Pram tidak pernah bicara normal dan dalam kesadaran penuh, kini pria itu mengucapkan kalimat yang terdengar normal.
“Janur. Murid dari mbah Darmo. Aku butuh bantuan Paklek.”
Mata Pram tampak nanar dan ia baru sadar jika ini bukan sekedar ilusinya semata. Akhirnya dirinya bisa berbicara dengan orang yang nyata dan bukan sosok yang mengukungnya selama ini.
“Ak-aku bisa ngomong?”
“Bisa, Paklek. Tapi nggak lama, jadi Janur butuh kerjasama.”
Pram mengangguk dan masih dalam keadaaan kaku, ia mendengarkan pertanyaan Janur.
“Sejak kapan tumbal itu diminta, Paklek?”
“Sejak Genta meninggalkan desa ini.”
“Siapa saja yang membuat perjanjian dengan iblis, Paklek? Apakah ada dari keluarga ini yang tahu?”
Pram mengejang dan mulai membuat gerakan seakan-akan tercekik.
Tidak ada kata-kata yang bisa Janur mengerti karena Pram sepertinya dalam kendali sesuatu.
“Janur!” teriakan itu membuat Janur tersentak.
Trining berdiri di pintu menuju dapur dengan tatapan tajam.
“Apa yang kamu lakukan?!” teriak Trining segera menghampiri Pram.
Janur mengeluh dalam hati dan waktunya habis. Tidak ada lagi kesempatan untuk mencari tahu lagi.
“Saya lagi bantu Paklek karena dia tadi tercekik, Bulek,” sahut Janur dengan sikap tenang dan tidak tampak gugup.
Trining terlihat lega dan meminta Janur menyingkir. Sementara Trining mengusap punggung Pram, Janur menutup kembali koneksinya dengan jiwa Pram.
Sesuatu telah mengendalikan Pram dan Janur tidak bisa menyingkirkan itu.
“Kamu lanjutin pekerjaanmu, aku bawa Pram ke kamar,” ucap Trining setelah Pram tidak kejang lagi.
Tentu saja Pram tidak kejang, Janur tidak lagi membuka jiwa Pram dan pria itu kembali seperti robot.
Dengan sabar dan telaten, Trining menuntun Pram menuju kamarnya.
Dugaan Janur benar!
Ada yang membuat perjanjian sebelumnya dan itu melibatkan salah satu dari keluarga ini. Bukan Cokro karena tumbal mulai diminta setelah pria tersebut meninggal.
Tapi Janur juga tidak begitu saja mengambil kesimpulan. Perjanjian dengan iblis biasanya memakan tumbal sebagai syarat atau, jika seseorang mengingkari!
Dengan pikiran yang kalut, Janur meneruskan pekerjaannya dan memendam dalam-dalam semua kecuriagaannya.
**
Sigit dan Arum tertegun ketika Janur menjelaskan usahanya untuk menggali dari Pram.
“Jadi benar, kutukan itu adalah dari perjanjian iblis,” desis Arum dengan wajah ngeri.
“Belum lama perjanjian itu terjadi, Mbak Rum. Karena korban berjatuhan sejak Genta dan Dayu menikah. Pak Cokro jelas tidak ada kaitannya dan ini bukan kutukan keturunan. Orang yang mengadakan perjanjian masih hidup dan Sayekti terlibat.”
“Kami tahu jika Sayekti terlibat. Tapi apa kamu yakin jika ini bukan kiprah pak Cokro dan Ki Sukmo juga?” tanya Sigit.
Janur menggelengkan kepala dengan lemah.
“Aku nggak peduli jika ini dilakukan siapa. Yang perlu aku ketahui, apa isi perjanjian dan mencari cara bagaimana mengakhiri. Itu yang paling penting.” Janur menghela napas dan menyilangkan tangan di d**a.
“Kenapa kamu begitu gigih, Nur? Bukan hanya karena mandate dari gurumu, kan?” tanya Arum pada gadis itu.
Janur melirik sekilas dan menatap ke bawah.
“Pak Cokro yang membiayai hidupku selama dibuang oleh keluarga, Mbak. Mungkin nggak ada yang tahu jika pak Cokro juga membiayai kuliah sampe saya lulus menyandang gelar sarjana hukum. Mbah guru merahasiakan ini, begitu juga pak Cokro. Karena sebagai anak yang dicap pembawa s**l, seharusnya hidupku hancur dalam petaka.”
“Drajat tahu?” Sigit menjadi tergelitik ingin tahu.
Janur mengangguk pelan. “Hanya mereka saja, pak Cokro, mbah Darmo dan mas Drajat sama mbak Yani, istrinya.”
Arum dan Sigit sama-sama terhenyak.
“Anggap saja ini balas budiku, untuk seseorang yang membuatku kembali menjadi manusia dan bukan binatang yang jika cacat akan dibunuh atau dibuang,” ucap Janur dengan lirih dan mata berkaca-kaca.
Arum mengangguk dan tampak terharu begitu juga Sigit.
Pram adalah sahabat dan temannya yang begitu ia sayangi. Tidak mungkin dia diam dan membiarkan petaka ini menelannya.
Tindakan Janur juga didasari oleh hutang budi yang harus ia bayar dengan tulus. Untuk Sigit, Pram adalah manusia yang juga menariknya dari lubang nasib buruk.
Ketiga manusia yang kini duduk di teras itu sibuk dengan pikiran masing-masing. Arum mungkin yang paling tersiksa. Kekasihnya dalam genggaman iblis dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.