Rogoh Sukmo

1022 Words
Kegagalan Janur yang tidak bisa menarik informasi lebih dari Pram, membuat gadis muda itu kecewa. Setiap mencari kesempatan, selalu tidak pas. Dengan penuh harapan, Janur terus mencoba mencari celah. Setiap hari ia membantu Sri secepatnya dan meminta untuk menangani Pram. Kondisi Trining belum cukup kuat dan kadang wanita itu terlihat kelelahan. Siang itu Trining tidur di kamarnya sementara Sri sibuk menampi beras. Janur mengendap-endap menuju ruang tengah. Pram tidak ada di sana. Biasanya, siang seperti ini, Pram duduk menonton televisi. Padmi sepertinya juga memilih mengurung diri di kamar setelah pagi tadi menengok Dayu di rumah sakit. Setelah mencari ke setiap ruangan di rumah, Janur harus kembali kecewa. Pram mungkin ada di kamarnya. “Nur, kamu dipanggil dari tadi kok nggak jawab?!” seru Sri dari pintu tengah. Gadis muda itu menoleh dan tampak gugup. “La-lagi nyari paklek Pram, Bulek!” sahut Janur dengan cepat. “Pram lagi tidur. Kamu mendingan bantuin nyiangin sayur, buat makan malam!” cetus Sri. Janur mengangguk dan mengikuti langkah seniornya menuju dapur. Selama menyiapkan makan malam, Janur terlihat diam. Sri menganggap gadis itu lelah. “Kamu sebaiknya libur aja besok. Selama kerja, kamu belum pernah libur,” saran Sri padanya. Janur menggelengkan kepala. “Aku nggak capek kok, Bulek,” tukas Janur dengan pelan. Tanpa mengindahkan kelesuan Janur, Sri segera mengaduk nasi yang akan ia kukus. Hingga pekerjaan mereka selesai, Janur tidak menemukan cara lagi untuk mengulik informasi dari Pram. ** Makan malam baru saja berakhir, Padmi mengatakan pada Trining untuk belanja beberapa kebutuhan bulanan. Selanjutnya, tidak ada obrolan yang berarti. Masing-masing bungkam dan tidak berniat bicara. Kejadian yang menimpa Dayu cukup meninggalkan bekas yang begitu mendalam. Usai mencuci piring dan membereskan meja makan, Sri segera pamit pulang sementara Janur berjaga malam itu. “Besok pagi, habis subuh aku balik, Nur.” Janur mengiyakan dan Sri pulang untuk menemui keluarganya. Meski rumah Sri tidak jauh, hanya sekitar tiga puluh menit dari rumah joglo, tapi wanita itu hanya pulang seminggu sekali. Pengabdiannya yang begitu besar, membuat Sri bahkan melupakan untuk menikah. Sri pulang untuk menengok ayah dan ibunya yang sudah tua dan hanya dijaga oleh adik bungsunya. Janur baru saja selesai mencuci muka dan hendak masuk kamar. Tiba-tiba dia melihat Pram yang keluar dari kamar, sendirian. Dengan buru-buru, Janur keluar dari kamar mandi dan mengikuti Pram yang membuka pintu depan teras, lalu duduk di salah satu kursi. “Paklek …,” panggil Janur. Pram terdiam dengan pandangan lurus ke depan. Janur menoleh ke kanan dan kiri, tidak ada siapa pun. Mungkin Totok berjaga di dekat gerbang belakang, karena mereka baru saja panen kopi. Untuk menjaga pencuri kopi, biasanya Totok bertugas menunggu area gudang setiap tahunnya. Gadis itu duduk di sebelah Pram dan mulai merapalkan ilmu rogoh sukmonya. Ya, kali ini, Janur tidak hanya akan membuka jiwa Pram supaya terhubung dengannya. Janur mengambil resiko dengan mengambil jiwa Pram yang terkekang oleh sesuatu. Setelah merapal selama beberapa detik, tangan Janur meraih sesuatu yang tidak kasat mata dari ubun-ubun Pram dengan gerakan memutar. Seketika Pram tersadar lalu menoleh ke arahnya. Janur menarik tangan dan tersenyum hangat padanya. “Janur …,” ucap Pram lirih. “Iya, Paklek. Ini aku, Janur.” “Ke-kenapa aku terkurung terus?” keluh Pram dengan suara terbata-bata. Hati Janur merasakan iba atas kondisi pria tersebut. “Janur akan berusaha nolong, tapi Paklek harus bantu Janur, ya?” Pram masih terlihat bingung. “Paklek, siapa yang membuat perjanjian awal dengan iblis di keluarga ini? Paklek ingat, perjanjiannya seperti apa?” Pria itu menelan ludah dan bimbang. “Mbak Padmi ndak cerita ke kamu?” tanya Pram. Janur tersentak. Benar dugaannya, Padmi tahu mengenai ini semua! “Semua menyembunyikan rahasia dan menutupi hal ini. Saya perlu tahu karena dengan cara itu kita bisa membatalkan perjanjian kalian!” Rasanya Janur tidak lagi sabar ingin mendengar setan macam apa yang mengekang keluarga ini! “Ndak bisa. Mustahil kamu bisa, Nduk.” Bibir Pram tampak gemetar dan tangannya mulai bergerak cepat, seperti tidak terkontrol. ‘Aduh, masak kejadian lagi,’ keluh Janur mulai gugup dan cemas. “Paklek, bantu saya kali ini, berusahalah buat nggak kalah dari kendali mereka!” pinta Janur memelas. Pram melotot dengan tubuh gemetar dan tangan juga kaki bergerak kian cepat. “Bukan mereka saja yang mengendalikan aku, Nduk. Dia juga,” sahut Pram dengan suara pilu. Air mata pria itu mengalir menuruni pipinya yang tirus. “Dia? Dia siapa?” desak Janur. Pram tidak lagi sanggup mengucapkan kalimat berikutnya. Mendadak tubuhnya mengejang dan Janur segera melepaskan mantra penutup. Tapi Pram masih terus kejang sementara mulutnya berbuih. Tidak peduli, seberapa sigap Janur menotok dan mengalirkan tenaga dalamnya, Pram terus pada kondisi yang sama. Gadis itu mulai berteriak memanggil Padmi dan Trining juga Totok. Begitu Padmi keluar kamar dengan tergopoh-gopoh, Pram seketika lemas dan terkulai dengan mata terbuka. Tatapan itu terlihat kosong dan hampa. “Ada apa, Nur?!” teriak Padmi dengan panik. “Paklek Pram kejang-kejang, Bu!” seru Janur seperti ingin menangis. Padmi melesat dengan cepat, memangku adiknya yang merosot ke lantai dan menepuk pipi Pram untuk menyadarkan. Pram bagaikan boneka yang tidak bernyawa. Meski matanya terbuka, tapi tidak ada reaksi dan tubuhnya lemas. “Pram, bangun. Ayo, Le. Bangun,” pinta Padmi mulai menangis tergugu. Trining dan Totok yang datang kemudian mulai mengambil mengambil minyak dan mengurut kaki juga tengkuk Pram. “Aku lupa kunci pintu kamarnya,” sesal Trining dengan sesegukan. “Seharusnya dia tetep di dalam kamar,” ratap Trining makin terisak. “Bu, kita bawa ke rumah sakit,” saran Janur dengan pasrah. Padmi menatap Totok dan mengangguk. Dengan sigap pria itu menuju garasi untuk menyiapkan mobil. Tidak lama kemudian, Padmi dan Trining membawa ke rumah sakit terdekat. Janur menatap mereka yang menjauh dengan mobil. Hatinya didera ketakutan karena Pram kini semakin parah. Selain karena situasi tersebut, kalimat terakhir Pram yang menyebutkan pihak lain juga ada andil dalam kemelut keluarga ini, mementahkan semua kesimpulan Janur. Bukan hanya terror Sayekti saja yang kini membelenggu mereka. Ada sosok yang lebih jahat lagi, dan Janur lebih merasa ketakutan akan fakta baru tersebut. Inilah sebabnya, Darmo harus melanglang buana mencari bantuan demi mengurai benang kusut tersebut. Janur merasa ini melebihi kemampuan juga kesanggupan yang ia miliki!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD