Situasi memang cukup kacau saat ini bagi keluarga Amandaru. Dayu baru mengalami kejadian tidak masuk akal dan kini menyusul Pram dalam keadaan koma.
Dokter menyatakan jika otak pria tersebut tidak mampu merespon dengan baik. Seluruh tubuhnya dalam kondisi yang baik dan sehat, hanya saja kemampuannya untuk sadar dan terjaga tidak terpenuhi.
Genta duduk di bangsal rumah sakit dengan wajah lelah dan raut putus asa. Kesalahan apa yang telah keluarganya perbuat, sehingga bencana bertubi-tubi menimpa diri mereka.
Setiap kejadian seperti kutukan yang tidak ada akhir. Meski semua adalah akibat dari manusia yang mereka tahu bernama Sayekti, tapi hingga detik ini Genta tidak bisa memahami apa yang menyebabkan Sayekti begitu dendam pada keluarganya.
‘Apakah karena perjodohan kami yang aku ingkari? Tapi bagaimana aku menyanggupi sesuatu yang tidak pernah tercetus dari bapak dan bahkan mulutku sendiri? Siapa yang mengadakan perjanjian itu dan tega membuat kesengsaraan yang tidak pernah berakhir ini?’ keluh Genta dengan hati hancur.
Sekuat apa pun Genta mencoba mengingat, tidak ada satu pun memori yang terekam dalam benaknya. Dirinya lelah menjalani hari demi hari dengan kungkungan ketakutan. Pikirannya melemah setiap menyaksikan satu persatu anggota keluarganya jatuh sebagai korban.
Suasana rumah sakit tampak sepi dan mencekam. Genta belum beranjak dari tempat duduknya. Pria itu terus merenung dalam tekanan batin yang kian mendera. Sementara beberapa kali rekan sejawatnya mengingatkan Genta untuk beristirahat, ia justru semakin terbebani dengan tugasnya menjaga Dayu sekaligus Pram.
Mustahil ia memilih untuk tidur santai malam tersebut.
“Dokter Genta, kok belum pulang?” sapa Bram, seniornya.
Seperti baru tersadar, Genta menoleh.
“Saya jaga istri sekaligus paklek, Dok. Mungkin agak nantian, baru istirahat di dalam,” sahut Genta dengan sungkan.
Bram membaca sikap Genta yang sepertinya tidak ingin mendapat pertanyaan lebih lanjut lagi.
“Kalo begitu, aku pulang dulu,” pamit Bram.
Genta menganggukkan kepala penuh hormat dan Bram berlalu cepat-cepat. Jam baru menunjukkan pukul sembilan malam tapi hujan yang turun gerimis sejak sore membuat para pengunjung malas hilir mudik.
“Dok, mendingan tidur sebentar. Saya jagain ibu dan pak Prambudi.” Perawat senior yang bertugas malam itu terdengar memberitahu Genta untuk mengambil jeda sejenak.
Akhirnya, dengan pikiran yang betul-betul buntu, Genta menyerah.
“Bangunin nanti kalo ada apa-apa ya, Sus?” pinta Genta.
“Beres, Dok,” sahut Marni, perawat yang tadi.
Setelah melihat sekilas ke dalam kamar Pram dan Dayu yang sengaja Genta minta bersebelahan, pria itu melenggang pergi. Rumah sakit ini begitu banyak membantunya. Bahkan Pram diperkenankan untuk menempati salah satu kamar di bagian maternal, meski bukan pasien yang akan melahirkan.
Setelah merebahkan tubuh di atas kasur rumah sakit, tempat ia biasa istirahat, Genta mulai merasakan serangan kantuk yang hebat. Matanya meredup dan dalam sekejap, ia terlelap dengan dengkuran halus.
**
Marni meracik obat untuk tiap kamar yang membutuhkan malam itu. Ada beberapa pasien yang harus mendapatkan obat setiap empat hingga delapan jam sekali. Setelah berpesan pada perawat lainnya, Marni memutuskan untuk berkeliling.
Detak halus sepatu pantofel menginjak lantai terdengar bergaung, seiring dia melewati lorong bagian maternal tersebut. Marni memastikan setiap pasien dalam kondisi nyaman dan tidak membutuhkan pertolongan yang mendesak.
Ada beberapa calon ibu yang mengeluh mengalami kontraksi terus menerus, sementara setelah Marni periksa baru bukaan empat.
“Sabar, masih jauh lagi, Bu. Sekarang latihan atur napas, ya?” hiburnya dengan senyum.
Pasiennya mengangguk dengan wajah meringis, menahan sakit.
Marni meneruskan tugasnya, berkeliling. Begitu tiba di kamar paling ujung, Marni melihat jam pada pergelangan tangannya. Jam sepuluh lebih sedikit.
Seorang perawat keluar dari kamar di sebelah dan menyapanya.
“Kamar yang di ujung udah kosong, Sus. Tadi sore keluarganya minta pindah ke rumah sakit swasta,” cetus anak buahnya sembari menyimpan stetoskop ke dalam saku.
“Kamu hapus dari chart kalo gitu. Di papan masih tertulis pasien belum keluar lho,” pesan Marni mengingatkan.
“Baik, Sus. Saya yang hapus sebentar lagi,” jawabnya dengan sigap.
Perawat itu berlalu buru-buru dan Marni berniat untuk segera berbalik untuk kembali ke arah kamar Dayu berada.
Baru tiga langkah, terdengar bunyi perempuan merintih dan mengaduh. Marni berhenti, menajamkan pendengarannya. Selama ia tugas berpuluh tahun, gangguan makhluk tidak kasat mata memang sering dialami. Akan tetapi, dari kejadian yang saat ini terjadi, suara itu lebih mirip dengan suara perempuan yang hendak melahirkan.
Melupakan keterangan dari anak buahnya yang mengatakan bahwa kamar di ujung kosong, Marni mendekati ruangan tersebut, karena suara itu berasal dari sana.
Begitu tangannya menguak daun pintu, di atas tempat tidur seorang wanita setengah menungging serta merintih, sementara lelehan merah mengucur dari kedua belah pahanya.
“Astaga, Ibu! Kenapa tidak menekan bel panggilan?!” pekik Marni serta merta menghampiri.
Wanita berwajah pucat itu menoleh sekilas dan sepertinya tidak sanggup menjawab.
Tangannya terus memegang perut dengan ringisan menahan sakit.
Marni mengambil tindakan dengan cepat dan menekan tombol darurat untuk memanggil timnya.
“Jangan mengejan dan tahan terus!” perintah Marni sementara ia berusaha mencari bantal tambahan untuk menganjal tubuh perempuan tersebut.
Karena begitu banyak cairan merah yang mengucur, Marni mengira wanita itu dalam kondisi kritis dan mungkin sebentar lagi akan pingsan. Pasien itu bibirnya mulai membiru.
"Terus atur napas dan jangan tutup mata, Bu!" Marni terus menguatkan pasien tersebut untuk tidak jatuh pingsan.
Tidak lama, dua perawat masuk dan Marni menoleh buru-buru.
“Kalian bawa semua perlengkapan melahirkan?!” tanyanya tidak sabar.
“Sus, perlengkapan untuk siapa?” Suster yang tadi ia temui bertanya dengan wajah bingung.
Marni kembali berbalik ke arah pasien yang tadi ia tolong dan sontak mundur.
Wanita itu tidak ada lagi!
Tempat tidur memang berantakan karena Marni menarik sprei untuk menahan aliran yang mengucur hingga menetes ke lantai.
“Astagafirullah,” desis Marni baru tersadar.
Kedua suster memahami apa yang terjadi dan segera menuntun seniornya untuk segera keluar dari kamar tersebut.
Baru saja mereka mencapai pintu, mendadak terdengar serentak dari setiap kamar, para wanita merintih dan mengerang.
“Periksa mereka!” pinta Marni mulai waspada.
“Tapi, Sus.”
“Nggak usah pikiran aku, cepat cek semua kamar!” ulang Marni sembari menahan tangannya di tembok.
Kepalanya berdenyut sakit dan kini rasa mual memenuhi lambungnya.
Beberapa perawat yang bertugas segera mengunjungi tiap kamar buru-buru. Marni susah payah berjalan sembari meraba tembok untuk mencari pegangan supaya tidak jatuh.
Beberapa detik kemudian, satu persatu perawat keluar kamar dengan wajah memucat yang membuat suasana makin dalam kengerian.
“Ke-kenapa?!” tanya Marni mulai kalut.
Salah satu anak buahnya berbalik dan menatap Marni, disertai tatapan putus asa.
“Semua pasien akan melahirkan serentak, Suster Marni,” jawabnya.
Marni tertegun. Teriakan pasien semakin terdengar dan kini menyerupai lolongan yang pilu. Marni berteriak pada satpam untuk segera memberitahu dokter jaga.
Petugas keamanan tidak bertanya lagi, segera meminta bantuan.
Marni menatap setiap ruangan dengan ekspresi terpukul. Bagaimana mungkin? Perempuan yang kandungan baru empat bulan, kini mengejan kesakitan karena janinnya mendesak keluar?
Itu tidak hanya terjadi satu, tapi seluruh pasiennya saat ini!
Terlihat Genta berlari lalu menerobos masuk kamar istrinya.
Dayu sedang menatap Genta raut pucat serta napas terengah.
“Di-dia meminta tumbal, Gen,” ucap Dayu dengan terputus-putus.
Apa yang istrinya dan semua pasien alami sangat tidak masuk akal. Kengerian yang menimpa keluarganya, sekarang merambah hingga rumah sakit, tempat ia dan Dayu berada.
Semua kalang kabut dan terlihat panik. Konsentrasi semua dokter juga perawat tertuju pada bagian bangsal tersebut.
Bau anyir pun kini menguar dan lolongan para pasien menambah situasi yang sangat mencekam!