Sudut Pandang Alpha Zedd
Karyk Moonbane tidak pernah gagal membuktikan betapa bodoh dirinya.
Aku duduk di kepala meja obsidian yang panjang, jemariku memainkan pena tanpa minat. Karyk Moonbane terus membual, memperagakan salindia yang tidak berarti apa pun bagiku. Suaranya membawa irama yang telah dilatih, lengkap dengan jeda yang diatur untuk memberi penekanan serta intonasi yang mungkin dia yakini akan membuatnya terlihat pintar. Aku tahu betul sidik jari siapa yang berada di balik seluruh presentasi ini. Milik Delilah. Semuanya milik wanita itu.
Betapa membosankan.
Aku bersandar di kursi kulit, membiarkan pandanganku menyapu ke sekeliling ruangan yang dipenuhi pria-pria berjas yang berpura-pura bahwa keberadaan mereka itu penting.
Mereka sama sekali tidak penting.
Tidak ada satu pun dari mereka yang penting.
Aku telah membangun kerajaan bisnis saat pria-pria seperti Karyk masih belajar cara mengikat tali sepatu mereka sendiri. Dia menyusun kepingan-kepingan itu—kepingan milik Delilah—bagaikan seorang anak kecil yang memainkan teka-teki gambar milik orang lain. Penghinaan yang dingin mengendap di dalam dadaku.
Aku telah mengamati Delilah Moonbane selama bertahun-tahun dengan perhatian khusus yang tidak pernah kuberikan kepada siapa pun. Dia membangun hal-hal yang bertahan lama. Dia mengubah kekacauan menjadi sistem yang menghasilkan kekuatan dan kekuasaan.
Dan si bodoh ini mengenakan hasil kerjanya bagaikan setelan jas rapi sembari memperlakukannya hanya sebagai aksesori.
Aku memeriksa jam tanganku dan memutuskan untuk membiarkannya menyelesaikan satu salindia lagi. Suaranya meninggi dengan rasa percaya diri palsu saat dia mengulas angka-angka terakhir.
Cukup.
Aku berdiri perlahan. Ruangan langsung mendadak hening, dan kata-kata Karyk terhenti di tengah kalimat.
"Tuan Vale—" mulainya.
"Membosankan," kataku dengan suara dingin dan tajam. "Rapat ini selesai."
Tidak ada yang membantah. Mereka tidak pernah berani. Aku berjalan keluar tanpa menoleh lagi, asistenku melangkah menyusul di sampingku bagaikan bayangan.
"Kosongkan jadwalku siang ini," kataku padanya di depan lift. "Aku ingin sendiri."
Dia mengangguk dan menghilang. Bagus. Aku jarang mendambakan kesendirian, tetapi hari ini udara terasa berbeda, bahkan terasa sarat akan ketegangan. Ingatan akan rintihan halus dan penuh keputusasaan masih tertinggal di ingatan terbelakangku, badai kecil yang hancur di tanganku.
Delilah kini telah bebas dan berbahaya dengan cara yang hanya bisa dimiliki oleh wanita cerdas yang terluka. Aku selalu penasaran tentangnya, dan kejadian semalam sama sekali tidak meredakan rasa penasaran itu. Malahan, itu makin mengasah rasa penasaranku.
Denting lift berbunyi. Pintunya bergeser terbuka.
Dan dia ada di sana.
Delilah berdiri di tengah-tengah lift, blus hijau zamrudnya sedikit kusut, rok pensil hitam membingkai lekuk tubuh yang baru saja kupetakan dengan mulutku beberapa jam lalu. Mata hijau indahnya melebar, keterkejutan melintas di wajahnya sebelum dia berusaha mengendalikannya. Kemudian gelora panas menyusul. Panas yang gelap, tak tertahankan, dan begitu nikmat. Pipinya merona, dan denyut nadinya melonjak di pangkal tenggorokannya. Aku menikmati pemandangan itu, membiarkan keheningan terbentang di antara kami. Tak satu pun dari kami yang bergerak.
Aku melangkah masuk. Pintu tertutup dengan bisikan halus, mengurung kami di dalam.
Kami berdua saja.
Udara mendadak menjadi pekat, berat oleh aromanya—melati, sisa wiski dari semalam, dan di bawah semua itu, aroma khas dari gairahnya yang tidak bisa ditutupi, yang telah mengkhianatinya.
Badai kecilku.
"Selamat pagi," kataku santai, seolah-olah kami tidak sengaja bertemu saat makan siang. Aku bergerak mendekat, menjulang di atasnya dalam ruangan yang sempit ini. "Tidur nyenyak, badai kecil?"
Napasnya tertahan. Dia menempelkan punggungnya ke dinding, dagunya terangkat menantang bahkan saat putingnya terlihat jelas mengeras di balik kain sutra blusnya. "Ini tidak sopan."
"Masa?" bisikku, melangkah ke dalam ruang geraknya hingga hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara kami. Aku menahan satu tangan di samping kepalanya, mencondongkan tubuh hingga bibirku menggesek daun telinganya. "Kamu sepertinya tidak keberatan dengan ketidak sopanan ini semalam. Tidak saat kamu hancur di atas jemariku di kursi belakang mobilku, merintihkan namaku seolah-olah aku pemilikmu."
Gumpalan getaran terlihat jelas menjalar di tubuhnya. Paha dalamnya merapat rapat. Aku tersenyum di dekat telinganya.
"Wanita berstatus istri orang," lanjutku, suaraku makin merendah, "terbangun telanjang di tempat tidur seorang Alpha dengan cincin pria lain masih terlingkar di jarinya. Pilihan yang nekat. Aku menyukainya."
"Aku tidak—" mulainya dengan suara terengah-engah, tetapi aku memotongnya dengan menelusurkan jemariku di sisi tubuhnya, hinggap secara posesif di pinggangnya. Dia terasa begitu pas di sana, seolah-olah dia diciptakan memang untuk tanganku.
"Kamu tidak apa?" tanyaku, menarik tubuhku sedikit hanya untuk mengamati wajahnya. Mata hijau indahnya memancarkan kemarahan sekaligus kelaparan. "Tidak basah sekarang? Tidak mengingat betapa hebatnya kamu mencapai puncak saat aku menidurimu lewat o*****e kedua itu? Katakan padaku, Delilah. Berbohonglah padaku. Aku suka melihatmu mencoba."
Tangannya terangkat, menekan dadaku. Dia tidak mendorongku menjauh, tetapi juga tidak menarikku lebih dekat. Badai kecilku sedang mengujiku. "Kamu arogan."
"Percaya diri," koreksiku, menggeser tanganku lebih tinggi, meremas bagian bawah payudaranya dari luar kain sutra. Ibu jariku mengusap putingnya dengan gerakan lambat. p****g itu langsung mengeras seketika. Desahan halus lolos dari tenggorokannya. "Dan kamu menyukainya. Tubuhmu tidak bisa berbohong, badai kecil. Tidak akan pernah bisa."
Aku memutar putingnya di antara jemariku, menyaksikan bulu matanya bergetar. Dia menggigit bibirnya erat-erat, berusaha menahan diri, tetapi pinggulnya tersentak ke depan tanpa bisa ditahan. Aku mengambil waktu, meremas payudaranya, mempelajari kembali bobotnya dalam terang hari yang sadar. Napasnya telah berubah. Menjadi lebih pendek dan dangkal, dan dia telah berhenti berpura-pura menginginkanku untuk berhenti.
"Zedd—" bisiknya, separuh protes, separuh memohon.
"Sstt." Aku menyeret ibu jariku di atas putingnya sekali lagi sebelum membiarkan tanganku meluncur perlahan menyusuri lekuk pinggangnya, melewati pinggulnya, jemariku menelusuri kelim roknya. Aku merasakan perutnya menegang di bawah sentuhanku. Merasakan dia menahan napasnya.
"Still want me to stop?" gumamku di dekat telinganya.
Dia tidak mengatakan apa-apa, yang mana merupakan jawaban tersendiri.
Tanganku menyelinap ke bawah kelim roknya, jemariku merayap naik di paha dalamnya dengan tingkat kesabaran yang luar biasa. Kulitnya terasa sangat lembut. Dia sedikit gemetar saat aku memanjat lebih tinggi, mengambil waktuku, membuatnya merasakan setiap sentimeter perjalanan sebelum aku sampai di tujuan.
Ketika aku akhirnya menyentuh kain renda pakaian dalamnya, kain itu sudah basah kuyup.
Semalam adalah tentang alkohol dan keputusasaan. Hari ini, kami berdua memegang kendali penuh.
Aku menggeser kain renda itu ke samping dan menyusupkan dua jari menembus lipatannya secara perlahan, mengamati wajahnya saat aku melakukannya. Mulutnya terbuka. Dinding kewanitaannya mengatup rapat pada kehampaan, sudah begitu mendambakan. Lalu aku mendorong jemariku masuk.
Aku memompa jemariku lebih dalam, ibu jari menekan kuat pada k******s-nya, mengamati wajahnya sepanjang waktu. Pipi yang merona. Bibir yang tertekuk terbuka. Mata yang berkaca-kaca oleh kenikmatan dan rasa malu.
"Kamu akan mencapai puncak untukku lagi, Delilah. Tepat di sini. Di dalam lift ini. Dengan mengetahui siapa saja bisa saja menunggu di sebalik pintu ini."
"Pria berengsek yang arogan," desisnya, tetapi suaranya serak saat aku menambahkan jari ketiga, meregangkannya.
Aku terkekeh gelap, menggigit lembut cuping telinganya. "Ya. Tapi akulah pria berengsek yang membuatmu mencapai puncak lebih hebat daripada yang pernah dia lakukan. Katakan kalau aku salah."
Dia tidak menjawab. Tidak bisa. Napasnya menjadi memburu, pinggulnya bergerak tanpa rasa malu sekarang. Aku memainkannya dengan presisi tanpa ampun. Jemariku melengkung, mengelus, dan menekan hingga pahanya mulai gemetar.
"Tatap aku," perintahku lembut.
Matanya bertatapan dengan mataku, liar dan penuh keputusasaan. Pada momen itu, saat dia hancur di atas jemariku, aku melihat dirinya secara utuh. Dia adalah wanita yang telah membangun kerajaan bisnis saat pria yang mengklaim dirinya tertidur melewati kehebatannya.
"Kamu sungguh luar biasa," gumamku di bibirnya, tidak benar-benar menciumnya. "Hal-hal yang bisa kamu lakukan dengan kekuasaan yang nyata… Aku melihatmu, badai kecil. Dirimu sepenuhnya."
Orgasmenya menghantam bagaikan gelombang yang pecah. Dia menjerit, tubuhnya melengkung kuat menempel padaku, dinding kewanitaannya berdenyut hebat mengencang di sekitar jemariku. Aku terus mengelusnya melewati puncak itu, memperpanjang rasanya, mengamati setiap kilatan kenikmatan dan rasa malu yang melintasi wajahnya. Dia begitu indah saat dia hancur. Sungguh indah.
Denting lift berbunyi.
Aku menarik tanganku perlahan, menjilat jemariku hingga bersih sambil tetap mempertahankan tatapan mataku padanya. Dia menatapku dengan wajah merona, berantakan, d**a naik turun memburu, amarah dan hasrat mentah bertarung di matanya. Aku merapikan jas ku, tenang seperti biasanya.
Aku menarik kartu hitam dari saku dan mengulurkannya padanya.
"Datang dan berbicaralah denganku, badai kecil. Pembicaraan yang bersahabat."
Pintu bergeser terbuka. Aku melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang, rasa dari tubuhnya masih tertinggal di lidahku.
Di belakangku, Delilah berdiri sendirian di dalam lift, kartu itu tergenggam di jemarinya yang gemetar, tubuhnya masih bergetar oleh efek susulan dari puncak gairahnya.
Dia akan datang.
Aku tidak ragu sedikit pun.