Kabur

1097 Words
Puspa terisak, dia tak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Dia hanya bisa memegangi kepalanya yang terasa mau pecah hingga ia terkulai di lantai. " Hei.... hei.... gadis kasar.... banguuun..." Devano menepuk - nepuk pipi gadis itu berharap dia sadar, tapi nihil. Devano terpaksa mengangkatnya ke atas tempat tidur. Saat membaringkan gadis itu Devano sempat melihat bercak berwarna merah bertebaran di seprai berwarna gelap itu. Devano ingat tentang apa yang ia rasakan tadi malam, rasa manis itu masih terngiang dalam ingatan nya hingga membuat dia tersenyum. Devano menatap wajah gadis itu dan menyibak kan rambut yang menutupi pipi sang gadis. Dia tersenyum dan berkata, " manis, sangat manis." Beberapa waktu Devano menunggui gadis itu tapi dia tak kunjung sadar. Devan mengambil benda pipih canggih yang tergeletak di atas meja. " Bawa seorang dokter ke sini sekarang," perintahnya pada seseorang di sebrang telfon. Kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar Devano. " Tok.... tok.... tok..." " Masuk.... " Devano menjawab ketukan itu dengan cepat. " Apa yang terjadi tuan muda?" Seseorang pria bertanya dengan sangat khawatir pada Devano. " Kenapa kau bawa dokter pria?" Ucap Devano dengan kesal pada sekertaris Edi yang masih bingung melihat tuan nya duduk di kursi ruang tamu dengan tanpa kekurangan sesuatu apapun. " Suruh dokter memeriksa gadis itu dengan benar dan bilang padanya jangan macam - macam." " Gadis... kenapa tuan muda bilang gadis? Aku fikir tuan muda, ataukah itu Joana?" Kata sekertaris Edi dalam hatinya. " Baik tuan muda." Sekertaris Edi meminta dokter yang ia bawa untuk masuk ke dalam kamar seperti yang di perintahkan oleh tuan nya. Setelah beberapa menit, dokter memberikan resep obat yang harus di berikan pada gadis yang tengah terbaring itu dan sekertaris Edi mengantarkan nya hingga ke depan pintu. " Terimakasih dokter," ucap sekertaris Edi terdengar ramah dari dalam ruangan. " Kau tidak perlu ramah dengan dokter itu, kau tahu siapa dia kan?" Celetuk si tuan muda yang masih duduk di ruang tamu. Sekertaris Edi hanya mengangguk pelan mendengar perkataan tuan mudanya itu.Edi menatap tuan nya sekilas dan berkata , " tuan ... ada apa dengan pipi anda?" Mendengar pertanyaan sekertaris Edi, Devano refleks mengelus pipinya. " Bukan urusan mu, cepat panggil orang - orang mu ke sini." Tanpa berkata lagi sekertaris Edi segera memanggil anak buahnya masuk ke dalam ruangan. Telah berbaris tiga orang di depan Devano dengan terus menundukan wajah mereka. " Siapa yang kalian bawa tadi malam?" Bentak Devano pada orang - orang nya itu. Namun saat melihat mereka tak berani menjawab bahkan hanya saling sikut satu sama lain, Devano menoleh ke arah sekertarisnya dan menggerakkan tanggan nya tanda meminta dia yang menyelesaikan. " Tuan muda bertanya pada kalian, siapa yang kalian bawa tadi malam?" " Nnona Jjjoana bos," jawab salah seorang dengan gugup. " Yang kalian bawa itu bukan nona Joana." " Hah.... tapi bos bilang wanita itu memakai kemeja merah dengan bawahan hitam," ucap salah satu dari tiga orang itu dan saling memandang satu sama lain. Devano yang mendengar itu mengurut keningnya. Dia nampak frustasi. Entah apa yang ia fikirkan kini. " Sudahlah... kalian tetap di sini untuk berjaga - jaga," ucap Devano seraya melangkah keluar ruangan. " Apa kita menunggu di dalam sini?" Bisik salah seorang dari tiga bodyguard itu.Salah seorang memukul kepala yang berbisik barusan tadi. " Dasar bodoh, tentu saja di luar, tapi kalau kau mau di bunuh tuan muda tidak masalah kau menunggu di sini." Mereka segera meninggalkan ruangan dan berjaga di depan pintu. Sementara itu di dalam kamar. Puspa yang sedari tadi telah sadar dan mendengar pembicaraan mereka, nampak mengerutkan dahinya. " Dia pasti orang kaya yang bisa melakukan apapun, pasti dia tak akan mau bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan, bahkan mungkin aku bisa di bunuhnya," fikir Puspa. Puspa memeras otaknya mencari cara untuk bisa lari dari tempat itu. Hingga akhirnya, " Aaaaa......." " Ada apa nona? Apa yang terjadi nona?" Ucap dua orang bodyguard itu bersamaan. " A... aku butuh pembalut, jika kalian tidak menolongku maka aku akan membelinya sendiri dan kalian pasti akan kena marah bos kalian," ucap Puspa meyakinkan ke dua bodyguard yang nampak ragu - ragu itu. " Baik nona... nona di sini saja, kami akan belikan untuk nona." Setelah merasa aman, Puspa segera memunggut sepatunya dan langsung keluar dari ruangan itu. Puspa mengendap - endap takut jika ada orang yang memergokinya. Dia terus berjalan perlahan hingga akhirnya tiba di dapur. Ada dua orang pegawai bar yang sedang membuat sesuatu di sana. Mereka saling tatap dan salah satu dari mereka menaikan alisnya. " Oh.... maaf... saya pegawai baru di sini tapi kesiangan, bisa tunjukan di mana pintu keluar lewat belakang sini? Karena kalau ibu saya tahu saya keluar dari tempat terkutuk ini, saya bisa kena marah," Puspa mengatupkan kedua tangan nya pertanda memohon. Mendengar penjelasan Puspa, dua orang itu merasa kasihan dan memberi tahu padanya di mana pintu keluar daruratnya. " Di sebelah kamar mandi di ujung lorong sana, ada pintu bertuliskan exit. Tapi nona harus berjalan melewati gang sempit di sebelah bangunan ini." " Ah.... tidak masalah... kalau begitu terimakasih saya permisi dulu," Puspa langsung menuju ke pintu di ujung lorong sesuai dengan instruksi yang di berikan para pegawai bar tadi. Puspa terus berjalan menyusuri gang sempit yang lumayan panjang itu dengan menenteng sepatu hellsnya di tangan kiri. Tak lama ia tiba di tepi jalan raya, ada taxi lewat di depan nya dan Puspa pun berlalu bersama lenyapnya taxi itu. " Fiuh.... akhirnya aku bisa bebas dari tempat terkutuk itu.... hah..." Pak supir yang mendengar dan melihat dari spion ekspresi gadis itu hanya tersenyum, lalu berkata, " kemana tujuan kita nona?" " ke xxx bookstore ya pak." " Baik nona..." ada sekilas senyum nampak lain terukir dari bibir sang driver. Taxi itu menyusuri jalanan kota menuju ke arah tempat yang di tunjukan Puspa pada sang driver tadi. Namun tiba di persimpangan jalan taxi itu memutar arah mobilnya dan melaju ke arah yang sama sekali berbeda dengan tempat tujuan Puspa. " Loh pak... ini kok belok ke arah lain sih pak... pak ... pak..." Puspa nampak bingung dan terus menepuk - nepuk punggung driver itu. " Sebentar lagi kita sampai nona..." " Tapi ini bukanlah tempat yang saya katakan tadi pak." Tak lama taxi itupun berhenti di depan sebuah kompleks apartement elit. Puspa masih bingung dengan apa yang di lakukan driver yang kini telah keluar dari mobil itu dan membuka pintu penumpang. Puspa mulai merasa takut saat driver itu mendekatinya. Dan tanpa persetujuan dari Puspa orang itu langsung saja memegang tangan Puspa dan menariknya keluar. Betapa terkejutnya Puspa saat driver itu membuka topi dan masker yang di pakainya. " Kkkkau...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD