Dugaan

1210 Words
" Dreettt.... drettt.... drett...." Handphone sekertaris Edi terus saja bergetar saat ia baru saja merebahkan punggungnya. " Hhhh.... baru saja ingin istirahat, ada saja yang mengganggu," gumam sekertaris Edi dengan malas seraya mengambil handphone nya yang ia letakkan di meja tanpa merubah posisinya. " Hem... ada apa lagi?" " Nona yang ada di dalam kamar itu kabur bos." " Apa? Cari sampai dapat jangan lupa hubungi bagian cctv!" Edi terperanjat dan langsung duduk dengan tegang. Sekertaris Edi segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Devano. " Maaf tuan, nona kabur tuan." " Besok ganti anak buahmu, cari yang lebih kompeten," kata Devano seraya menarik jaket hitam dan segera melangkah keluar dari apartemen nya. " Minta bagian cctv mengirimkan salinan rekaman nya!" Titah Devano pada sekertaris Edi sembari membuka pintu mobilnya. Sementara itu, Puspa terus saja berjalan menyusuri gang sempit dengan menenteng sepatu hellsnya di tangan kiri. Tak lama, iapun tiba di tepi jalan raya, dari kejauhan terlihat sebuah taxi menuju ke arahnya. Puspa melambaikan tangan dan saat taxi itu berhenti, dia segera masuk. " Fiuh.... akhirnya aku bisa bebas dari tempat terkutuk itu.... hah...leganya...." Ucap Puspa pelan sambil menoleh ke arah belakang, namun masih dapat di dengar sang supir taxi. Pak supir yang mendengar dan melihat dari kaca spion ekspresi gadis itu, hanya tersenyum, lalu berkata, " kemana tujuan kita nona?" " ke xxx bookstore ya pak." " Baik nona..." ada sekilas senyum nampak lain terukir dari bibir sang driver. Taxi yang membawa Puspa menyusuri jalanan kota menuju ke arah tempat yang di tunjukan Puspa pada sang driver tadi. Namun tiba di persimpangan jalan taxi itu memutar arah mobilnya dan melaju ke arah yang sama sekali berbeda dengan tempat tujuan Puspa. " Loh pak... ini kok belok ke arah lain sih pak... pak ... pak..." Puspa nampak bingung dan terus menepuk - nepuk punggung driver itu. " Sebentar lagi kita sampai nona..." " Tapi ini bukanlah tempat yang saya katakan tadi pak." Tak lama taxi itupun berhenti di depan sebuah kompleks apartement elit. Puspa masih bingung dengan apa yang di lakukan driver yang kini telah keluar dari mobil itu dan membuka pintu penumpang. Puspa mulai merasa takut saat driver itu mendekatinya. Dan tanpa persetujuan dari Puspa orang itu langsung saja memegang tangan Puspa dan menariknya keluar. Betapa terkejutnya Puspa saat driver itu membuka topi dan masker yang di pakainya. " Kkkkau...." Ada seringai menakutkan yang dapat Puspa lihat dari sudut bibir laki - laki itu. " Lepas...lepaskan aku." Puspa berusaha keras melepaskan gengaman tangan Devano tapi itu sungguh lah tindakan yang tidak berguna. Sedang Devano tanpa memperhatikan perkataan Puspa, terus saja menariknya masuk ke lobi apartement dan menuju lift. Saat Devano menekan tombol lift, Puspa berusaha kabur tapi sia - sia karena Devano berhasil mengengam tangan nya kembali dan bahkan sekarang Puspa tidak di tarik tangan nya tapi perutnya telah berada di atas punggung kanan Devano. Jelas saja Puspa terkejut mendapati tindakan Devano yang seperti itu padanya. " Turunkan aku.... turunkan ... turunkan aku..." Rengek Puspa dengan terus memukul - mukul punggung Devano dan menggerak-gerak kan kakinya agar Devano menurunkan dia. Bahkan di dalam lift pun Devano tetap tidak menurunkan Puspa. " Tling..." Pintu lift terbuka dan Devano segera membawa Puspa menuju kamar apartemen nya. Devano menghempaskan tubuh Puspa ke atas tempat tidur dengan keras layaknya sekarung beras. " Ahh.... kau membuat punggungku pegal," ucap Devano menggerak - gerak kan otot punggungnya. " Aku tidak pernah menyuruhmu membawaku seperti itu, salahmu sendiri." Kata Puspa mengalihkan pandangan nya dari Devano, orang yang sangat, sanggaat ia benci. " Kau menyusahkan ku saja." Devano melangkah pergi. " Aku tidak akan menyusahkan mu jika kau tidak melakukan itu padaku, apa kau bisa bertanggung jawab atas perbuatan mu itu ha...." Devano menggurungkan niatnya untuk keluar dari kamar. Dia membalikan tubuhnya menatap tajam manik mata gadis yang telah dengan berani meminta pertanggung jawaban nya itu. " Kau...." " Apa ha..." Puspa balik membentak lelaki yang menatapnya seolah - olah ingin memangsanya. " Ah... sudahlah... percumah berdebat dengan wanita sepertimu..." Devano mengacuhkan umpatan gadis itu dan kembali menuju pintu. Kini pintu ruangan itu telah tertutup rapat dan Devano menguncinya. " Tidak.... tidak.... hei kau jangan di kunci pintunya... dasar saraf... buka.... buka...." Puspa terus mengedor pintu itu tapi pintu itu tetap seperti semula, hingga ia letih dan terduduk di sana. Tiba - tiba ada sesuatu yang bergetar di dalam tasnya. " Halo...." " Puspasari kemana saja kau, kau aku pecat.... tuut...tuuut...." Suara itu terdengar sangat keras di telingga Puspa. Kini dia penganguran, dia telah diberhentikan secara sepihak oleh bosnya tanpa mendengar penjelasan dari Puspa. " Dasar bos sialan, aku bisa mendapatkan tempat kerja lebih baik dari tokomu," umpat Puspa kesal. Ada tetesan bening menuruni sudut matanya. Hatinya pilu, masa depan nya telah hancur dan bahkan sekarang ia tak bisa berbuat apa - apa lagi. Puspa meratapi nasibnya yang begitu sial. Hingga akhirnya pintu itu terbuka. Puspa menatap siapa yang berada di balik pintu itu dan itu adalah lelaki yang berbeda. Dia tampan dan kharismatik dengan garis wajah tegas yang lelaki itu miliki. " Siapa lagi ini?" Kata Puspa dalam batin nya. " Maaf nona... saya di perintahkan tuan muda untuk memberikan baju ini pada anda, beliau menunggu anda di ruang makan." Mendengar kata " makan", Puspa memegang perutnya yang terasa meronta - ronta minta di isi. Sekertaris Edi memberikan tiga paper bag berwarna coklat pada Puspa dan segera pergi. " Apa ini? jangan - jangan..... ada udang di balik batu..." " Tapi.... aku butuh makan... aku butuh energi untuk melawan nya," katanya pada diri sendiri. Puspa beranjak menuju kamar mandi. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. " Me-nge-nas-kan," Puspa mengeleng - gelengkan kepalanya dan segera mandi serta mengganti pakaian nya. Sebuah gaun lengan pendek merah muda selutut dengan renda - renda di ujung bawah gaun. " Baju ini cantik, tapi sayang kurang bahan," ucap Puspa saat mendapati bagian d**a yang sedikit terbuka. Puspa melihat paper bag yang lain lagi dan mendapati sepatu berwarna senada dengan bajunya. Puspa terpana melihat sepatu yang sangat indah itu tapi lamunan nya segera berakhir saat ia mendengar suara pintu di ketuk. " Nona.... anda sudah di tunggu tuan muda..." " Iya... iya... baiklah... aku segera ke sana... dasar cerewet..." Mendengar sahutan gadis itu, sekertaris Edi tersenyum dan segera keluar menunggu di depan pintu kamar. Puspa pun memakai sepatu itu, menyisir rambutnya dan mengikatnya asal hingga anak rambutnya nampak bertebaran namun menambah ayu wajah gadis itu. Dia tergesa - gesa ingin segera keluar, bukan untuk menemui lelaki yang di panggil tuan muda itu tapi karena perutnya yang sudah sangat lapar. " Mari nona, tuan sudah menunggu anda di meja makan," ucap sekertaris Edi saat mendapati Puspa membuka pintu. Puspa mengangguk dan mengikuti langkah kaki sekertaris Edi. " Tak... tak... tak..." Suara sepatu yang Puspa pakai mengundang perhatian Devano untuk menoleh ke arahnya. Devano mengerutkan dahinya saat yang ia lihat bukan gadis itu tapi sang sekertaris. Tiba di dekat meja makan sekertaris Edi menarik kan kursi untuk Puspa duduk di sana. Puspa tersenyum dan berkata , " terimakasih." " Sama - sama nona." Sekertaris Edi melirik ke arah tuanya yang masih belum berkedip saat melihat gadis itu duduk di sana menggucaplan terimakasih pada sekertaris Edi dengan senyuman terbaiknya. " Maaf... tuan apakah kita langsung saja memulai pembicaraan nya di sini?" " Aa... em... ..... ....."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD