Bunga - bunga cinta

1055 Words
Puspa keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya dengan penuh semangat. Dia berhenti sejenak memandang gedung nan megah menjulang tinggi beberapa puluh lantai. Itulah gedung kantor tempat di mana Puspa akan melamar pekerjaan. Dengan menyandang tas di sisi kiri dan berkas lamaran pekerjaan nya di tangan kanan. Puspa dengan penuh semangat hendak melangkahkan kakinya saat tubuhnya tiba - tiba lemas dan dua orang pria membawanya masuk ke dalam mobil. Di apartement Devano. " Tuan...." " Hem.... " Sekertaris Edi menunjukan laporan anak buahnya barusan. " Braak.... " Devano mengebrak meja di depan nya. Tangan nya mengepal kencang dan suara giginya mengeretak geram. Dia segera berdiri dan melangkah pergi. Sementara itu, Puspa mulai mengerjap - ngerjapkan matanya yang terasa berat, kepalanya pun terasa pusing. Ingin rasanya ia memijat keningnya. Tapi saat Puspa berusaha menggerak kan tangan nya. " E.. kenapa tangan ku terikat seperti ini," gumamnya dalam hati. " O.... sudah bangun rupanya...." Suara itu terdengar lantang mengejutkan Puspa di iringi nada sepatu tinggi dengan irama langkah yang angkuh terdengar. " Tak....tak...tak...." Wanita dengan sepatu hak tinggi, kakinya jenjang dengan rok pendek diatas lutut, baju berenda - renda , dengan rambut panjang lurus tergerai. " Siapa wanita cantik ini?" Kata Puspa dalam hatinya. " Siapa kau...... nona Puspa?" Tanya wanita itu. " Aku Puspa." Jawab Puspa tegas tak ingin kalah dengan keangkuhan wanita di depan nya itu. " Aku tahu." " Dari mana kau tahu? Dan siapa mereka?" Puspa menoleh ke arah dua pria berbaju hitam - hitam yang berjaga di belakangnya. " Ituuu...." " Oh......" Ucap Puspa saat wanita itu menunjukan berkas yang harusnya dia bawa ke Star Group. " Siapa kau sampai - sampai Devano mengirimkan anak buahnya untuk mengikutimu?" Kata wanita itu berjalan memutar hingga ke sebelah Puspa. " Apa? Mengikutiku?" Tanya Puspa pada dirinya sendiri. Wanita itu membuka berkas yang tergeletak di lantai ruangan kosong yang seperti gudang itu. Banyak kotak - kotak kardus tergeletak di sudut - sudut ruangan tak beraturan. " Kau pintar juga," ucap wanita itu mengangguk - anggukan kepalanya saat melihat berkas - berkas milik puspa lalu meletak kan nya lagi dengan kasar di lantai nan berdebu itu. " Jawab aku gadis bodoh.... kamu siapanya De...va....no..." Kuku - kuku jemari tangan menyentuh pipi Puspa saat wanita itu mengangkat dagu Puspa. " Kenapa aku bisa sesial ini sih... aku bahkan muak mendengar nama laki - laki itu, tapi wanita ini terus saja menyebut namanya... aku bahkan tak tahu siapa dia dan aku juga tak mau tahu... wanita ini sungguh akan mendapatkan kesialan yang teramat dalam karena laki - laki sialan itu." Puspa terus saja mengerutu di dalam hatinya. Merutuki nasib sial yang ia alami baru - baru ini. Puspa berusaha berontak sekuat tenaga namun ia tak bisa berbuat apa - apa karena tangan nya terikat bahkan juga kakinya, untung saja mulutnya tidak di lakban. " Cepat jawab aku," bentak wanita itu. Namun tiba - tiba suara pintu yang di dobrak paksa oleh seseorang membuat perhatian mereka semua beralih. Sinar menyilaukan yang berasal dari luar ruangan sungguh menyilaukan mata mereka ketika sesosok pria melenggang masuk diikuti beberapa orang di belakangnya. " Dia... calon istriku..." " Duar....." Bagaikan petir di siang hari yang kilatan nya menyambar hati dua orang wanita di dalam gedung itu. Wanita bernama Joana itu sontak mulutnya mengangga dan rona wajahnya berubah. Puspa pun tak kalah terkejutnya saat mendengar apa yang diucapkan pria yang sangat ia benci berdiri dengan angkuh dan mengatakan kalimat itu dengan sombongnya sambil terus menatap ke arah Puspa yang masih terikat. Devano memerintahkan sekertarisnya untuk membuka ikatan tangan Puspa yang terikat di belakang kursi sedang Devano sendiri sibuk bersimpuh di hadapan Puspa untuk membuka ikatan kakinya. Dia tak mau orang lain menyentuh sedikitpun kulit lembut kaki Puspa yang pernah ia sentuh itu. Puspa sungguh di buat tercengang dengan tingkah laku Devano yang bahkan mau melepaskan ikatan kaki Puspa dengan tangan nya sendiri. Padahal dia tahu jika tuan muda di depan nya itu hanya tinggal memberi perintah pada anak buahnya dan semuanya selesai. Belum sempat Puspa tersadar dari perkataan dan perbuatan Devano padanya barusan, kini dia telah berada dalam dekapan Devano dengan kedua kakinya berada di atas lengan tangan Devano yang satunya dan Devano mengendongnya keluar dari gudang pengap nan berdebu itu. " Vano..... Devano....." Joana berteriak saat Devano membawa gadis yang sedang dia introgasi itu begitu saja tanpa penjelasan apapun. " Sebaiknya anda jangan sembarangan menculik orang nona, jika tak ingin sesuatu yang fatal terjadi pada anda," demikian sekertaris Edi memperingatkan wanita ular itu setelah mengambil berkas yang tergeletak di lantai dan berlalu pergi. Di dalam mobil Devano duduk di sebelah Puspa dan terus memperhatikan gadis yang pergelangan tangan dan kakinya nampak memar dan memerah akibat ikatan tali yang terlalu kencang. Tak lama sekertaris Edi masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobil mereka melaju keluar dari gerbang gedung dan diikuti beberapa mobil para bodyguard di belakangnya. " Berhenti di apotik sebentar," ucap Devano. " Baik tuan," sahut sang sekertaris. Suasana di dalam mobil begitu hening. Puspa hanya diam menatap ke arah luar jendela kaca sambil memegangi pergelangan tangan nya yang terasa perih memar. Sedangkan Devano terus memandangi gadis yang ada di sebelahnya itu. " Sepertinya bunga - bunga cinta mulai memutik..hi...hi...hi..." Kikik sekertaris Edi dalam hatinya ketika melihat tuan mudanya tak mengalihkan pandangan dari si gadis galak yang nampak jinak. Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah apotik. Devano turun dari mobil dan kembali lagi dengan membawa sesuatu dalam kantong plastik dan mobil pun kembali melaju. " Eem... apa aku bisa di antarkan ke rumah saja..." Ucap Puspa memecah keheningan di dalam mobil. " Keapartemen Ed..." Kata Devano melirik ke arah Puspa. " Baik tuan...." Tak lama kemudian mereka tiba di depan apartement. Devano segera keluar dan membuka kan pintu mobil untuk Puspa. Dia menggulurkan tangan nya tapi Puspa menolaknya. " Aku ingin pulang ke tempatku sendiri..." Ucap Puspa dengan nda kesal. Tanpa tunggu lama Devano segera menarik tubuh Puspa dan membawa gadis itu ke punggungnya seperti memanggul sekarung beras. Dia sama sekali tak menghiraukan teriakan Puspa yang terus meronta. Bahkan dia tidak menaiki lift untuk sampai ke kamarnya tapi melalui tangga darurat. Setibanya di apartement, Drvano menghempaskan tubuh Puspa di atas tempat tidur nan empuk itu. Puspa terus meringkuk mundur saat Devano berusaha naik ke atas kasur mendekatinya. " Aaapa yang kau lakukan..." Puspa tergagap saat melihat seringai licik tersirat di wajah Devano.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD