Karena kehidupan terus berjalan

1069 Words
" Lepas..... lepas.... lepaskan aku...." Puspa memukul - mukul d**a bidang Devano berusaha lepas dari cengkraman lengan kekarnya. Ada rona kemarahan nampak jelas dari wajah anggun gadis itu. " Baiklah aku akan melepaskan mu tapi jelaskan padaku kenapa kau lari dariku...." " Justru aku yang harusnya bertanya padamu. Apa kau berniat membeli apa yang sudah kau renggut dariku dengan kekayaan mu itu hah...." Bentak Puspa pada Devano yang tercengang mendengar perkatanya. Devano teringat black card yang tadi ia berikan pada Puspa, lalu berkata, " tidak Puspa aku tidak punya niat sedikitpun, dengarkan penjelasanku dulu." Ucap Devano memegang satu tangan Puspa yang terus berusaha ingin lepas darinya. " Hei..... lepaskan dia," sontak Devano dan Puspa menoleh ke arah suara itu. " Ba....astian," ucap Puspa melihat seorang pria dengan celana kantong dan kaos yang menampak kan sisi kelaki - lakian pria yang beratatus kekasihnya itu. Dengan tidak sadar, Devano melepaskan gengaman nya. " Sayang ... ada apa? Siapa dia?" Tanya Bastian yang sesekali menoleh ke arah pria yang tadi sempat ia lihat memegang tangan Puspa. Melihat kekasihnya diam dan menitikan air mata, Bastian menjadi tersulut emosi. Dia hendak melayangkan kepalan tangan nya ke arah wajah Devano. Untung saja Devano sempat mengelak dan Puspa mengajaknya pergi dari sana. " Bastian, sudah biarkan saja, dia itu gila, tolong bawa aku pergi dari sini aku mohon...." Puspa mengatupkan kedua telapak tangan nya memohon pada Bastian. Merasa tak tega, Bastian segera membawa Puspa masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi. " Sialan.... " Devano mengusap wajahnya kasar melihat kepergian Puspa dalam pelukan pria lain. Sedangkan di dalam mobil, Bastian memberikan jaket yang dia ambil dari kursi belakang kepada Puspa untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin. " Sayang... apa yang sebenarnya terjadi? Siapa dia?" Tanya Bastian lagi pada Puspa tapi Puspa hanya diam menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Wajah Puspa nampak pucat, badan nya mengigil. Melihat Puspa yang hanya diam dan nampak lemas, Bastian menyentuh kening Puspa. " Ya ampun... sayang kau demam....kita kerumah sakit dulu ya..." " Aku tidak papa mas... antarkan saja aku pulang mas, aku hanya butuh istirahat," pinta Puspa. Bastian menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kencang untuk segera sampai ke rumah Puspa. Setibanya di rumah, Bastian memapah Puspa masuk kerumah agar gadisnya itu tidak jatuh. " Mas... maaf ya, harusnya hari ini pergi ke rumah papa dan mama mas... tapi keadaan ku malah kayak gini mas..." " Tidak apa Puspa, kan masih bisa lain waktu, yang penting sekarang kamu sehat dulu ya sayang..." Dengan telaten Bastian membawa Puspa duduk di ruang tengah. Bastian mengambilkan makanan dan menyiapkan obat untuk Puspa. Bahkan dia akan menunggui Puspa jika gadis itu tidak mencegahnya. " Mas apa tidak ada hal lain yang akan kau kerjakan? Aku merasa tidak enak jika harus membuatmu menjagaku sepanjang hari." " Hari ini kan minggu Puspa.... lagi pula mas memang sengaja meluangkan waktu untuk bersama mu." Mendapat perlakuan yang sedemikian perhatian dari Bastian, Puspa merasa sedih. Hatinya terasa teriris - iris karena tidak mampu menjaga apa yang seharusnya menjadi hak suaminya kelak. Yang ada dalam fikiran Puspa saat ini hanyalah bahwa dia sudah tak pantas menjadi pendamping pria sebaik Bastian Prandika. " O...ya Puspa.... apa kau ingin sesuatu untuk di makan?" " Tidak usah mas, dengan kehadiran mu di sampingku itu sudah menjadi hal yang paling berharga untuk ku" " O... ya mas, sebenarnya ada yang ingin ku katakan pada............mu...." Ucap Puspa lagi namun kata - katanya terputus karena handphone Bastian berdering. " Sebentar ya Puspa... aku terima telfon dulu, ini mama...." Puspa tersenyum dan menganguk kan kepalanya pelan sedangkan Bastian menerima telfon dari mamanya di luar. Di tempat lain. Di depan meja bartender, seorang pria nampak mabuk berat. Terkadang dia meletak kan kepalanya di atas meja namun masih bersikeras untuk terus meneguk minuman berbau menyengat itu. " Lagi...." Ucap Devano menghentak - hentak kan gelasnya di atas meja meminta pegawainya terus menuangkan minuman ke dalam gelas yang kosong itu. Sementara itu sekertaris Edi hanya duduk sedikit berjauhan dengan tuan mudanya karena dia tak mau mengganggu tuan nya itu. Entah apa yang membuat tuan muda itu minum sebanyak ini. Tidak biasanya seorang Devano Permana sampai semabuk ini. Ini adalah kondisi terparah selama Edi menjadi sekertarisnya. Sekertaris Edi tak berani mencegahnya karena dia takut sang tuan muda akan marah padanya. Singa itu akan menerkam apa saja yang di depan nya apalagi saat ia sedang marah. Devano Permana merupakan putra mahkota di keluarga Permana. Di pundaknya ada segudang tanggung jawab yang harus dipikul dari ribuan karyawan dari beberapa cabang perusahaan keluarganya. Devano adalah tipe pria yang lebih senang menyendiri. Dia hanya memiliki beberapa teman dekat saja karena dia memang tidak sekolah di dalam negri. Terkadang saat fikiran nya sedang rumit dia memilih untuk menghabiskan waktunya minum di bar. Sejujurnya dia bukan tipe pria yang senang berganti - ganti wanita. Tapi entah mengapa malam itu dia meminta sang sekertaris mencarikan seorang wanita untuk menemaninya tidur. Hingga terjadi satu kesalahan seperti yang telah terjadi. Dulu dia sangat menghargai wanita sebagai tanda karena dia sangat menyayangi ibunya. Tapi semenjak dia tahu bahwa wanita yang dekat dengan nya hanya berambisi dengan kekayaan keluarganya bahkan rela menyerahkan harga diri mereka demi semua gemerlapnya harta. Devano menutup dirinya dari jatuh cinta karena baginya cinta wanita hanyalah harta dan kemewahan. Sejak itulah dia menilai semua wanita sama terkecuali sang ibu. " Prank....." Suara gelas yang jatuh dilantai dan telah menjadi berkeping - keping itu terdengar sangat keras. Mungkin karena hari ini bar masih sepi. Sekertaris Edi segera memapah tuan mudanya yang telah berdiri dan hampir saja terhuyung serta membawanya ke dalam kamar khusus CEO. Kembali ke rumah Puspa. Setelah menerima telfon dari mamanya, Bastian berpamitan kepada Puspa untuk pulang dulu karena mama memintanya mengantarkan ke suatu tempat. Bastian berjanji akan menelfonnya saat urusan dengan mamanya telah selesai. Bastian pun beranjak pergi. Hari begitu cepat berganti, dan di keesokan harinya. Puspa telah bangun sejak pagi. Dia duduk di ruang tengah di temani secangkir teh. Puspa yang merasa sudah lebih baik pun bangun dari duduknya dan meletak kan surat kabar yang telah ia lingkari pada salah satu kolom di bagian lowongan pekerjaan. Dia bersiap diri dan juga menyiapkan beberapa berkas untuk di kirimkan ke sebuah perusahaan yang memerlukan seorang penerjemah. " Bismilah.... semangat Puspa.... sedih dan senang ibarat dua sisi telapak tangan mu... jangan jadikan itu penghalang dalam hidupmu karena kehidupan ini akan terus berjalan beriringan dengan hal - hal itu...." Kata Puspa pelan pada dirinya sendiri dan melangkah pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD