Sarapan membawa luka....

1065 Words
" Berhenti......." " Chitttt....." Mobil yang sedang melaju di jalanan itu dipaksa untuk berhenti secara mendadak. Untung saja sekertaris Edi belum melajukan mobil yang di bawanya itu dengan kecepatan tinggi. " Ada apa tuan?" " Aku lupa memberikan ini padanya," Devano mengangkat paperbag gold yang di bawanya tadi. " Lalu bagaimana tuan?" " Apa kau punya ide?" " Kalau begitu kita tunggu saja nona Puspa pulang dari kampus tuan." " Boleh juga." Sementara itu di kampus. Puspa tengah sibuk dengan penandatanganan skripsinya dan membagikan nya. " Tinggal satu lagi ke perpustakaan," ucap Puspa melangkahkan kakinya ke arah perpustakaan dan memberikan salah satu cetakan skripsinya sebagai sumbangan karya ilmiah mahasiswa untuk perpustakaan. Setelah selesai, dengan langkahnya yang sedikit gontai, Puspa duduk di bawah pohon nan rindang pada salah satu kursi panjang di taman kampus. Ia beristirahat sebentar dan sejenak meluruskan kakinya yang terasa begitu lelah. " Ehem...." Seseorang berdehem di sebelah Puspa. Puspa pun menoleh ke arah sumber suara. " Hah..... dia lagi...." Gumam Puspa dalam batinya. Jujur, melihat wajah Devano membuat Puspa mengingat hari yang sungguh - sungguh membuatnya terluka itu. " Ada apa lagi?" Kata Puspa dengan malas. " Aku melupakan sesuatu sewaktu di mobil tadi, ini, pakailah, sampai jumpa minggu depan," dengan cepat Devano melangkah pergi. Dia tahu jika dia berlama - lama di sana, Puspa pasti akan menolak pemberian nya. " Apa yang membuat singa itu menjadi sangat manis?" Puspa betanya - tanya dalam batin nya. Puspa menatap malas pada paperbag yang Devano letakkan di sebelahnya. Puspa lalu berdiri, menenteng paperbag itu di tangan kanan nya dan berlalu pergi. Akhir - akhir ini Puspa memang lebih sering sendiri dan jarang bertemu dengan teman - teman nya karena kesibukan mereka masing - masing. Bahkan bastian juga banyak kerjaan dalam minggu - minggu ini sehingga jarang menemuinya. Hanya sesekali menghubungi Puspa melalui telfon atau chat. Waktu begitu cepat berlalu, kini hari - hari telah menjadi minggu, dan seminggu pun telah berlalu. Puspa melalui hari - harinya dengan tenang selama seminggu ini. Dia benar - benar menikmati waktu istirahatnya setelah kepenatan urusan kampus dan juga tentang Devano. Bahkan Puspa berencana akan mulai mencari pekerjaan lagi. Pagi ini saat Puspa baru saja keluar dari kamar mandi, dia mendengar seseorang mengetuk pintu rumah kontrakan nya. " Tok....tok..tok..." " Ya.... sebentar....." Jawab Puspa dari dalam rumah. Seseorang dengan setelan jas rapi setia menunggu pintu yang baru saja dia ketuk terbuka. " Siaaa....pa....." Kata Puspa terbata melihat sekertaris Edi berdiri di depan nya. Dengan senyumnya yang sangat karismatik. Puspa baru saja akan menutup kembali pintu rumah namun sekertaris Edi dengan sigap menahan nya. " Maaf nona.... saya di minta menjemput nona.... " Ucap sekertaris Edi dengan lugas. Dengan terpaksa Puspa mempersilahkan sekertaris Edi masuk dan duduk di ruang tamu. Puspa yang masih dengan handuk menutupi rambutnya yang basah terus saja mengerutu dalam batin nya. " Hobi sekali dia mengganggu ketenangan orang lain." " Maaf sekertaris Edi, aku tidak bisa menemui tuan mudamu itu, aku sudah ada janji." Kata Puspa berkelit. " Maaf nona anda bisa menunda janji yang lain nanti karena tuan Devano sudah menunggu anda." " Bagaimana kalau aku tidak mau?" " Maaf jika saya sedikit memaksa." Puspa tersenyum sinis mendengar perkataan sekertaris Devano itu. Tanpa berkata apa pun Puspa segera beranjak menuju pintu kamarnya. " Jangan lupa untuk memakai pemberian dari tuan Devano kepada anda waktu itu nona," sela sekertaris Edi sesaat sebelum Puspa menutup pintu kamarnya. Dengan terpaksa Puspa mengambil paperbag gold yang Devano berikan padanya seminggu yang lalu. Bahkan Puspa tak melihat sedikitpun isi dari paperbag itu. Tak lama kemudian, Puspa keluar dengan balutan gaun berwarna merah lengkap dengan sepatu high hells yang ada dalam paperbag tadi. Dengan sedikit riasan dan rambut yang di gulung dengan rapi sehingga nampak sangat anggun. Puspa melangkahkan kakinya keluar dari pintu sedang sekertaris Edi telah siap berdiri dan berjalan lebih dulu menuju mobil. Puspa mencoba meyakinkan dirinya sebelum masuk ke mobil. " Tuhan tolong lindungi aku..." " Mari nona...." Kata sekertaris Edi menyadarkan Puspa yang sibuk dengan pemikiran nya sendiri. Puspa masuk ke dalam mobil, dan sekertaris Edi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara itu di sebuah restoran milik keluarga Devano. Nampak seseorang sedang duduk di sudut ruangan. Wajahnya nampak gelisah, beberapa kali dia terlihat menatap handphone nya dan menoleh ke arah parkiran yang terlihat jelas dari dalam jendela kaca. Devano memang sengaja tidak meminta sekertarisnya menyiapkan ruangan vvip karena dia ingin Puspa tak menolak permintaan nya apalagi jika di hadapan banyak orang Puspa pasti akan lebih menurut padanya. Lima menit kemudian, ia melihat sekelebat sosok seorang gadis berjalan di belakang sekertaris Edi. Ya... Devano masih mengingat dengan jelas warna baju yang ia berikan pada Puspa waktu itu. Gaun lengan pendek berwarna merah dengan panjang selutut. " Deg.... deg.... deg.... " Irama detak jantungnya seakan lebih tinggi beberapa oktaf dari biasanya. Sesekali Devano nampak merapikan kemejanya. Dia binggung harus bersikap seperti apa untuk menghadapi gadis yang begitu anggun perlahan mendekat ke mejanya. " Tuan.... nona Puspa sudah datang," ucap sekertarisnya. Sekertaris Edi menarik satu kursi di depan Devano dan mempersilahkan Puspa duduk. " Terimakasih sekertaris Edi," kata Puspa dengan sekilas senyum yang begitu manis pada sekertaris Devano itu. " Sama - sama nona." " Ehem.... Puspa....kau mau sarapan apa?" Tanya Devano mengalihkan perhatian Puspa agar tertuju padanya. " Apa saja," jawab Puspa singkat. " Kau tidak perlu melakukan ini, bukankah sud...." belum sempat Puspa melanjutkan perkataan nya, jari telunjuk Devano telah melekat di bibirnya pertanda memintanya untuk diam. Hingga Puspa pun tidak jadi melanjutkan kalimatnya. " Sarapan dulu.... oke...." Ucap devano dengan melengkungkan senyum di bibirnya. Tak ada kata terucap dari bibir mereka berdua saat mereka menikmati sarapan yang di sediakan pihak resto. Akhirnya Devano membuka pembicaraan lebih dulu. " Terimakasih kau telah datang ke sini," kata Devano tapi Puspa hanya diam. " Aku harap kau mau menerima ini," Devano meletak kan sebuah kartu mirip atm di depan Puspa. Puspa hanya diam tak bergeming menatap kartu berwarna hitam yang di sodorkan Devano padanya. Puspa berusaha mencerna apa yang sebenarnya pria itu inginkan darinya. " Ambil ini untukmu saja, dan kau tak perlu takut akan apapun, karena aku tidak akan menuntut apapun darimu, terimakasih sarapan nya, saya permisi tuan muda...." Dengan cepat Puspa beranjak pergi dari sana, dia bahkan mempercepat langkahnya saat merasa Devano mengejarnya. Puspa berusaha berjalan dengan lebih cepat bahkan dia kini telah berlari saat tangan kekar memegang lengannya dan menariknya hingga tubuh Puspa membentur d**a pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD