Dalam sebuah ruangan khusus di bar. Sebotol anggur sukses lolos menuju sudut ruangan dan menyebar menimbulkan aroma khas anggur. Beberapa kali Devano menggebrak meja di depan nya dengan tangan terkepal kuat.
Sekertaris Edi merasa bingung dengan apa yang di lakukan oleh tuan mudanya. Dia juga heran kenapa tuan nya harus melempar botol anggur yang sama sekali tidak bersalah. Edi masih memperhatikan raut wajah sang tuan mudanya yang merah padam.
" Keluarlah Ed, dan terus awasi gadis itu laporkan padaku apapun yang terjadi," titah Devano.
" Apa tuan Devano.......???" Kata sekertaris Edi pada dirinya sendiri saat melangkahkan kakinya keluar ruangan khusus CEO itu.
Tak mau ambil pusing dengan tingkah bosnya, dia memilih duduk di depan meja bartender dan meminum cola dingin.
Sedangkan di sana di depan rumah kontrakan Puspa.
" Sampai jumpa minggu depan sayang..." Bastian mengecup kening kekasihnya itu lalu masuk ke dalam mobil.
Puspa tertegun mendapat perlakuan dari Bastian yang secara tiba - tiba itu. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan nya saat Bastian membunyikan klakson mobilnya dan berlalu pergi.
Puspa masuk ke dalam rumah. Setibanya di kamar dia segera menutup pintu kamarnya. Dengan mata berkaca - kaca, dia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. Dia terduduk di lantai dengan tangan kanan yang masih memegangi tali paperbag yang di berikan Bastian padanya.
Puspa tak mampu menahan genangan air di matanya yang kini mulai mengalir deras di pipinya. Dia menoleh ke arah paperbag itu dan tangisnya pecah.
" Kenapa aku begitu lemah hingga tak mampu mengatakan yang sesungguhnya pada Bastian, apa yang akan dia katakan padaku jika dia tahu dari orang lain.... hiks....hiks..."
Rasa lelah menjalari tubuh Puspa yang masih tersedu - sedu. Dia melangkah menuju tempat tidurnya dan menghempaskan dirinya sendiri di atas kasur. Dia memejamkan matanya dengan buliran air yang terus menetes dari sudut matanya. Hingga membawanya dalam dunia mimpi.
Waktu begitu cepat berlalu, kini hari yang cerah berganti malam dan malam yang gelap telah tergantikan dengan guratan tinta - tinta emas di ufuk timur. Puspa telah bersiap dengan pakaian rapi dia keluar dari rumahnya menaiki gojek pesanan nya menuju sebuah toko alat tulis lengkap dengan fotokopian dan percetakan nya.
" Maaf mas... apa cetakan skripsi atas nama ini sudah bisa di ambil?"
" Oh.... iya sebentar ya mbak saya ambil contohnya dulu," ucap seorang pria yang merupakan pegawai di percetakan itu.
Tak lama pria itu pun keluar dengan sebuah buku dengan tinta keemasan menghiasi tulisan - tulisan di atasnya.
" Ini mbak silahkan di cek dulu, kalau - kalau ada yang salah atau kurang."
Puspa duduk di depan percetakan itu sambil mengecek lembar demi lembar skripsinya.
" Pena yang paling mahal satu pak," ucap seseorang dengan angkuhnya.
Puspa mendengar apa yang di katakan orang itu tapi ia sama sekali tak menoleh ke arahnya.
" Apa ini? Aku mau pena yang lebih mahal dari ini!" Orang itu mengucapkan kata - kata angkuhnya dengan lebih keras.
" Tuan, anda tidak perlu marah, anda hanya perlu pindah ke toko lain," ucap Puspa yang merasa telingganya terasa sakit mendengar orang di sebelah nya berteriak.
" Jika anda berbicara lihatlah orangnya nonaaaaa...."
" Ak...... " Kalimat Puspa terputus saat ia menoleh ke arah orang itu.
Puspa langsung berdiri dan menyerahkan cetakan skripsi itu dan meminta pegawai percetakan segera mengepak skripsinya. Dia segera menanyakan berapa tagihan yang harus dia bayar.
Dengan segera Puspa mengeluarkan beberapa lembar uang tapi pegawai percetakan itu menolaknya.
" Maaf nona, tuan ini telah membayarnya dan ini barangnya nona...."
Belum sempat Puspa mengambil kotak berisi skripsinya, Devano telah mengangkatnya sambil menyeringai dan menyerahkan pada sekertaris Edi untuk di bawa ke dalam mobilnya. Tanpa berkata apapun Devano segera melangkah masuk menuju mobilnya.
" Hei... Devaaanooo....." Puspa berdecak kesal.
" Apa lagi yang kau tunggu, cepat masuk," kata Devano dengan gaya khasnya.
Dengan terpaksa Puspa masuk ke dalam mobil Devano. Puspa duduk di sebelah Devano dan dengan segera sekertaris Edi melajukan mobilnya.
Nampak dari kaca spion yang mengantung di depan atas sekertaris Edi, suasana yang begitu hening. Hanya pendingin udara yang menghembuskan kebekuan di sekitar mereka. Puspa hanya menoleh ke arah luar jendela.
Tiba - tiba " chiiitttt....."
Sekertaris Edi memberhentikan mobil yang di kendarainya secara mendadak.
Sekertaris Edi mendongak ke arah kaca spion di atasnya. Bosnya si tuan muda Devano sedang mencuri kesempatan dalam ketidaksadaran gadis yang ada di sebelahnya.
" Apa yang terjadi sekertaris Edi?" Tanya Puspa yang masih belum sadar bahwa dirinya ada dalam pelukan Devano.
" Ada kucing yang mendadak menyebrang jalan nona..."
" Oo..... "
" Apa yang kau lakukan... lepas..." Ucap Puspa menatap Devano marah seraya melepaskan diri dari dekapan Devano.
" Dasar.... bisa - bisanya dia mencuri kesempatan dalam kesempitan...." Gerutu Puspa dalam hatinya.
" Aku hanya mencoba menyelamatkan mu agar tidak jatuh atau terbentur sesuatu.... " Ucap Devano dengan santai .
Puspa kembali menatap luar jendela. Dan keheningan kembali terjadi.
Hingga suara bariton berbicara padanya.
" Maaf.... maafkan aku..." Suara bariton yang biasanya berbicara dengan tegas itu kini bernada lembut.
Puspa menoleh ke arahnya, ada rasa penasaran dalam fikiranya. Apa gerangan kiranya yang membuat singa itu menjadi jinak. Meski hatinya melunak mendengar itu, tapi rasa sakitnya lebih dalam dari itu.
" Sudahlah... tidak ada yang perlu di bahas lagi, aku sudah memaafkanmu, kau tidak perlu memikirkan ucapanku yang dulu." Kata Puspa dengan lembut sambil membenahi ikatan rambutnya yang merosot saat Devano memeluknya tadi.
" Deg..."
Melihat pemandangan itu Devano menelan salivanya dengan kasar. Masih teringat jelas lekuk tubuh si gadis kasar malam itu sewaktu terjadi kecelakaan di dalam kamar bar.
" Sekertaris Edi, pelankan laju mobilnya, kau bisa melewatkan kampusku."
Sekertaris Edi memandang bosnya dari kaca spion, dan dia segera memperlambat laju mobil yang dikendarainya setelah Devano mengangguk kan kepala.
" Apa kita bisa bertemu minggu depan?"
Tanya Devano pada Puspa, tapi Puspa hanya diam.
" Aku ingin mengajakmu makan siang sebagai tanda permintaan maafku..."
" Aku akan memikirkan nya nanti... Terimakasih atas tumpangan nya," jawab Puspa seraya keluar dari dalam mobil Devano.
Devano masih menatap kepergian Puspa yang semakin menjauh, hingga pertanyaan sekertaris Edi menyadarkan lamunan nya.
" Tuan.... apa kita jalan sekarang?"
Devano menganggukan kepalanya, dan seketika mobil itu melaju cepat menyusuri jalanan itu.
" Berhenti......."
" Chitttt....."