Sebelumnya di " Arogansi Cinta".
Saat sekertaris Edi menyelesaikan penjelasanya, tanpa berkata apapun Puspa pergi meninggalkan meja makan dan juga dua orang lelaki saraf itu. Puspa terus saja menggerutu dalam hatinya, dia merasa di hina, dan sangat terhina.
" Dasar tidak punya otak, setidaknya dia gunakan otaknya jika hatinya sudah mati."
Puspa masuk ke dalam kamar, dia membanting pintu kamar dengan keras. Puspa mengganti baju yang tadi ia kenakan dengan kemeja lusuhnya. Kemudian memasukan baju dan sepatu itu ke dalam paperbag semula. Puspa meraih tasnya dan segera keluar dari kamar itu tanpa menggunakan alas kaki karena dia tak tahu sepatu yang ia bawa jatuh di mana.
Dan....
" Bruuuk...."
" Maaf aku kembalikan milikmu". Puspa meletak kan paperbag yang tadi di berikan oleh sekertaris Edi padanya dengan keras.
" Kau tidak perlu memberikan apapun padaku Tuan Muda yang terhormat, dan satu lagi... jangan ganggu aku lagi titik... .... " Kata Puspa lagi dengan sangat lantang dan melangkah pergi dari tempat itu. Dengan cepat Puspa masuk ke dalam lift turun ke lantai terbawah.
Sedangkan dua lelaki yang duduk di kursi ruang tengah itu hanya saling tatap. Devano mengangkat ke dua alisnya. Layaknya berkata " apa yang terjadi?" pada sekertaris Edi. Namun sekertaris Edi hanya mengangkat ke dua bahunya pertanda tak tahu apapun.
Sebelum mereka menyadari, Puspa telah pergi berlalu bersama sebuah taxi. Saat Devano dan sekertaris Edi menyusul Puspa, mereka sudah tak mendapatkan nya lagi.
" Shitt!!!"
" Kenapa kau tidak mengejarnya tadi," bentak Devano pada sekertaris Edi.
" Kenapa tuan membiarkan dia pergi?" Tanya balik sekertaris Edi.
Devano merasa kesal dan kembali ke apartement nya dengan sekertaris Edi mengekor di belakangnya.
" Tidak ada yang berani bersikap seperti itu di depanku... apa yang membuatnya begitu berani padaku...." Devano mengerutkan keningnya.
Setibanya di dalam kamar, Devano duduk di kursi santainya dan berkata pada sekertaris Edi, " ikuti dia dan jangan sedikitpun ada yang terlewatkan."
Sementara itu, Puspa kembali ke rumah kontrakan nya. Dia segera masuk ke kamar, membanting tasnya di atas tempat tidur dan merebahkan badan nya juga di sana.
Puspa menatap ke langit - langit kamarnya, tatapan nya menerawang tak jelas. Bahkan ada buliran mutiara - mutiara bening menetes dari ke dua sudut mata Puspa.
Puspa terisak, " Tuhan... kenapa semua ini terjadi padaku, aku telah kehilangan kehormatanku dan bagaimana jika aku hamil, apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibuku juga pada Bastian..... hiks....hiks....hiks..."
Puspa merasakan perih di matanya tapi lebih parah lagi di hatinya. Lama ke lamaan matanya mulai menyipit dan terpejam dalam kepedihan.
Selama tiga hari berikutnya, Puspa tak beranjak ke manapun. Dia tidak keluar rumah, ke toko bahkan ke kampus untuk menyelesaikan penandatanganan skripsinya pun tidak.
Hari berikutnya, Puspa merasa dirinya bodoh, sebodoh bodohnya. Bagaimana bisa dia membiarkan keburukan merasuk ke hati dan fikiran nya sedang Tuhan tak memiliki satu keburukan pun.
Puspa teringat perkataan seorang kiai yang pernah ia dengar bahwa yang ada pada Tuhan hanyalah segala hal yang baik. Adapun hal buruk yang terjadi pada kita merupakan akibat perbuatan kita sendiri dan jika kita telah berusaha sebaik mungkin tapi masih terjadi, itu berarti takdir yang tuhan berikan sebagai ujian dan Tuhan telah berjanji dalam kitab suci yang di bawa nabinya jika akan ada kemudahan setelah kesulitan.
Getaran handphone nya membuyarkan lamunan Puspa.
" Drett... drett.... dreet..."
Bastian calling.
Demikian tertulis pada layar benda pipih nan canggih itu. Puspa ragu untuk menerima panggilan itu. Puspa meletak kan kembali handphonenya. Hingga beberapa kali Bastian memanggil namun Puspa tak juga menjawabnya.
Dan.... tlinngg...
Sebuah pesan chat timbul dalam whats app nya.
" Halo darling.... apa terjadi sesutu? Kenapa telfonku tidak di angkat? Aku menunggumu di tempat biasa jam makan siang. Bye... sayang sampai bertemu nanti."
Puspa menitikkan air mata membasahi layar hapenya. " Aku tidak bisa seperti ini terus, apapun yang akan Bastian katakan aku akan menerimanya."
Mengatakan itu, Puspa mengusap mata dan pipinya. Bersegera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sementara Puspa sedang bersiap - siap menemui bastian, ada perbincangan serius dalam sebuah ruangan di bar. Ya... itu adalah Devano dan sekertarisnya.
" Apa yang kau dapatkan Ed?"
" Nona Puspa tidak keluar dari kontrakan nya sama sekali selama tiga hari tuan."
Devano mendongak ke arah sekertaris Edi yang tengah berdiri di sebelahnya.
" Nona juga sudah di pecat dari pekerjaan nya tuan..." Lanjut sekertaris Edi.
" Lalu...."
" Non.....a....." Belum sempat sekertaris Edi menyelesaikan kalimatnya, handphone nya berdering dan dia langsung melihatnya.
Nampak ekspresi yang sulit di artikan oleh Devano yang menoleh ke arah sekertarisnya itu saat Edi tidak jadi menyelesaikan kalimatnya.
" Ada apa?" Tanpa menunggu izin dari sekertaris Edi, Devano langsung mengambil hape itu dari tangan nya dan mendapati sebuah foto kiriman orang suruhan Edi.
Mata Devano memerah, dia menatap nanar pada foto itu, di mana seorang pria berperawakan gagah dengan kulitnya yang bersih menggenakan pakaian rapi layaknya seorang pegawai pemerintahan, nampak memegang tangan Puspa dan menatap wajah Puspa dengan intens.
" Suruh orang mu lebih dekat agar aku bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan!"
Devano memberikan handphone nya pada sekertaris Edi dan dengan cepat Edi segera menghubunggi anak buahnya.
" Puspa..... ada apa? Kenapa kau nampak murung, ceritakan padaku apa masalahmu... sayang...?"
Nampak dalam vidio itu Puspa hanya diam dan tersenyum dengan manis.
" Tidak ada apa - apa mas..." Jawab Puspa.
" Bagaimana dengan skripsimu?"
" Rencananya besok aku akan pergi ke kampus untuk mengurus penanda tanganan skripsiku mas..." Jawab Puspa sambil meminum jus alpukat di depan nya.
" Puspa... "
" Hem...."
"Minggu depan aku ingin mengajakmu ke rumah untuk bertemu mama."
Mendengar itu Puspa tersedak.
" Uhuk.... uhuk..."
Bastian memberikan sebotol air mineral pada Puspa.
" Pelan - pelan saja sayang...." Ucap Bastian mengusap lembut ujung bibir Puspa dengan tisu.
" Ini... pakailah untuk minggu depan..." Imbuh Bastian.
" Apa ini mas? Kau tak perlu melakukan ini mas...?
" Sudahlah sayang.... terimalah sekali iniiii... saja.... aku mohon..." Bujuk Bastian.
Puspa tak mengeluarkan sepatah katapun, saat Bastian meletak kan paperbag bermotif batik di dekatnya. Bibirnya terasa kelu melihat perhatian Bastian yang begitu besar padanya.
" Pyarr....."
Sebotol anggur sukses lolos menuju sudut ruangan dan menyebar menimbulkan aroma khas anggur. Beberapa kali Devano menggebrak meja di depan nya dengan tangan terkepal kuat.