MCL 02 #12 Year ego part 2

1106 Words
"Sebelum aku tinggal di rumahmu, aku selalu kesini dengan teman temanku," jawab Tia dengan senyuman walau tidak di lirik sedikitpun. "Apa yang kau lakukan disini Tia?" tanya kembali Ica dan mulai menoleh ke arah Tia yang berdiri di belakang dengan masih menunduk dan menautkan kedua jari telunjuknya. "Kami sering berenang dan menangkap ikan disini," jawab kembali Tia dengan menunduk hormat. "Jadi, apa kita bisa berenang disini Tia? Kalau begitu ayok kita berenang," ajak Ica antusias dan langsung menarik lengan Tia dan berlari ke sebuah papan kayu, yang dimana tempat perahu dayung berlabuh. Dengan sangat cepatnya Ica berlari sambil menggandeng lengan Tia dan... Byur!!! Mereka bedua loncat kedalam Air danau. Senyum bahagia terlukis di wajah Ica, berbeda dengan raut takut yang sangat kentara di wajah Tia. "Kenapa ekspresimu seperti itu Tia?" tanya Ica. "Ica jika tuan besar melihat kita pulang dengan basah seperti ini, pasti dia akan curiga," takut Tia dan membuat Ica memutar bola mata malas. "Tidak akan Tia. Kita akan pulang sebelum papa pulang dari kantor," jelas Ica dengan senyum dan mulai menyirami air ke wajah Tia dan membuat gadis kecil itu ikut tersenyum. "Ica kau selalu saja mendahului anak pembantu itu. Sedangkan aku, kau tinggal," sinis Tio dengan pura pura marah. "Terus ... Apa kau juga mau aku gandeng dan loncat kesini hah?" tanya Ica dan di jawab anggukan polos Evantio Kenzo. Tanpa menunggu Tio pun ikut meloncat ke sungai dan langsung menyiram air ke wajah Ica, dan tawa senang di antara ketiga bocah kecil itu memenuhi kawasan danau. lama mereka bermain air, tidak terasa siang yang cerah sudah di ganti dengan sore hari yang indah. kini mereka bertiga tengah duduk di tempatnya masing-masing, dan terlihat Tio dan Ica tengah duduk berduaan di sebuah pohon tumbang dengan mata tengah menatap Danau yang menyemburkan cahaya keemasan sang senja. Sedangkan Tia terlihat tengah duduk menyendiri di sebuah pohon rindang dengan kedua mata memandang dua bocah yang berbeda jenis tersebut. Sudah beberapa kali Ica memaksa Tia untuk duduk bersamanya. Namun, Tia sadar diri dengan statusnya yang hanya sebagai teman bermain Ica dikala bocah itu bosan dengan boneka bonekanya. Tia menolak, dan memilih menyendiri melihat Tio dari belakang dengan terus melukis senyum manis. "Ica aku akan pergi melanjutkan sekolahku ke Amerika," ujar Tio dengan nada lemah sembari memandang wajah cantik Ica. "Terus..." ucap Ica meminta Tio melanjutkan perkataannya. "Kenapa kau hanya menjawab turus. Apa kau tidak akan merindukanku disini?" tanya Tio. "Emangnya kau siapa sehingga aku akan merindukanmu gendut?" tanya Ica dan memukul pelan lengan Tio. "Aku siapa? Aku kekasihmu Ica. Aku sangat mencintai mu," Jawab Tio percaya diri dan langsung berdiri di depan Ica. Seketika senyum manis Tia menghilang dari wajahnya, dan di ganti dengan ekspresi sendu saat ia mendengar dengan jelas ucapan Tio. "kita masih bocah dan kau sudah membahas cinta-cintaan," ucap Ica tidak percaya, "aku juga tidak mungkin jatuh cinta dengan lelaki doyan makan seperti mu Tio," sambung Ica dan tertawa. "Tapi aku mencintaimu Ica. Lihat saja setelah aku kembali ke negri ini, akan kubuat kau jatuh cinta!" teriak Tio dengan percaya diri. "Dan lihat saja, aku pasti akan melupakan bocah gendut seperti mu," sanggah Ica dengan tertawa di akhirnya. "Maka dari itu aku akan memberikanmu sesuatu agar kau tidak akan melupakanku Ica," ucap Tio dengan bergerak meronggoh sesuatu dari kantung celananya. Setelah tangan Tio keluar dari saku celana, terdapat sebuah gelang yang bertuliskan Nama Tio sebagai mainannya. Tio dengan gerakan cepat, meraih tangan kanan Ica dan langsung memasangkan gelang itu dipergelangan tangan pujaan hatinya. Senyum senang terlukis di wajah Tio saat melihat gelang yang dia pesan khusus, melingkar sempurna di tangan Ica dan tetunya terlihat cocok dengan kulit putih Ica. "Tai! Tia!" teriak Tio dan membuat Tia tersentak kaget. 'a...apa dia memanggil namaku.' batin Tia tak percaya. Tia yang mendengar panggilan tersebut melangkah cepat ke arah Tio dan Ica. "a..ada apa tuan muda?" tanya Tia gugup dan menunduk hormat setelah berdiri di hadapan Tio. "Karena kau sahabat Ica, ini untukmu. Sahabat Ica berarti temanku juga, dan ini kuberikan untuk mu," ucap Tio dan menyerahkan sebuah gelang berwarna hitam dan merah tanpa ada mainan yang menghiasinya ketangan Tia. "Ta..tapi tuan mu-" "Ambil saja. Gelang itu juga sisa dari pembuatan gelang Ica," potong Tio dan langsung kembali fokus pada Ica. "Baiklah tuan muda, terimakasih." ucap Tia dengan menunduk dan melukis senyum di wajahnya dengan jantung yang berdegup kencang. "Ica sebaiknya kita pulang sekarang. Kita sudah sangat terlambat dan tuan besar pasti sudah dalam perjalanan pulang," ajak Tia dan dibalas anggukan oleh Ica. mereka bertiga pun berlari pulang ke rumah besar. *** Terlihat para bocah tersebut tengah berdiri di tangga untuk menuju pintu utama dalam keadaan sudah rapi. Dari arah gerbang, mereka melihat sebuah mobil melaju kearah mereka. Senyum sendu terlukis di wajah Tio saat mobil itu berhenti tepat di tempat mereka. "Ica aku akan pergi. Di Amerika sana aku akan selalu mengirimkanmu email, jadi kau harus selalu ada untuk membalas itu," ucap Tio sendu namun tak digubris oleh Ica. "Tuan muda, nyonya besar sudah menunggu di dalam mobil," ucap sang sopir yang sudah keluar dari dalam mobil. "Tunggu sebentar," pinta Tio dan dibalas anggukan oleh supir tersebut "Ca ... Aku harap kau menjaga baik-baik gelang yang bertuliskan namaku itu. Di sana aku akan sangat merindukanmu, jadi kuharap kau juga akan merindukanku Ca," ujar Tio dengan senyum di pipi gembul ya. "Hay ... anak pembantu! kau jaga Ica baik baik. Jika Ica sampai terluka sedikitpun, habis kau," ancam Tio dengan nada berat dan tatapan tajam. Tia yang tadinya melihat arah depan seketika tertunduk saat mendapatkan tatapan tajam Tio. "Tentu saja sa...saya akan menjaga nona muda," jawab Tia gugup. "Bagus lah, kalau begitu aku pergi dulu Ica, I love you," ucap bocah yang masih berusia 12 tahun itu pamit. Ica hanya memutar mata jengah mendengar perkataan terakhir Tio dan berbeda dengan Tia, hatinya seketika sakit dan kosong. "Apa kau sudah selesai? Jika sudah kau berhati-hatilah di sana Gendut," ucap Ica dan Tio hanya tersenyum dan melangkah masuk ke mobil. Tatapan getir Tia seketika muncul melihat mobil yang membawa Tio sudah meninggalkan kawasan rumah besar keluarga Pradipta. "Dasar si gendut menyebalkan, emangnya gelang ini bagus apa," ucap Ica dan bergerak melepas gelang tersebut dan langsung membuangnya. Setalah membuang itu, Ica melangkah masuk ke dalam rumah besar dengan raut wajah tak bersalah sedikitpun. Tia yang masih berdiri mengingat kembali perkataan Tio yang menyuruh Ica untuk menjaga baik baik gelang tersebut. Tia melihat jelas saat Ica membuang gelang tersebut tanpa memikirkan perasaan Tio. Bocah perempuan itu bergerak memungut gelang itu dengan menyinggung senyum, "Aku akan menyimpan ini untuk mu Tio heheh...." ucap Tia dan tertawa di akhirnya. T.B.C Jangan lupa tap love, komen, bantu share yah bay bertemu di next part...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD