12 tahun kemudian.
***
Di pagi hari yang masih terlihat gelap tanpa ada cahaya matahari yang menghiasi pagi hari ini. Suara burung-burung bersahutan begitu merdu memecah kesunyian di sebuah rumah besar kediaman keluarga Pradipta.
Di halaman belakang rumah, berdiri sebuah gubuk yang disediakan oleh tuan pemilik rumah besar itu untuk para pelayannya.
"Tia ... Tia ... Sulistiawati Najwa bangun!" suara seorang wanita paruh baya yang sedari tadi membangunkan anaknya yang masih membungkus diri dengan selimut
Tia yang mendengar namanya di panggil, mulai membuka perlahan mata hitamnya, "30 menit lagi Bu," nego Tia kembali menurunkan kelopak matanya yang tadi sedikit terbuka.
"Tia ini sudah jam 05:30," sanggah Rahayu wanita paruh baya berusia 44 tahun kembali membangunkan anaknya.
Tia yang sudah malas mendengar ocehan ibunya langsung bergerak bangun. Gadis berkulit sawo matang itu tersenyum, "selamat pagi ibu," sapa Tia dan langsung memeluk ibu yang sangat dia cintai.
"Pagi-pagi, buruan pergi mandi sana dan bangunkan Ica," perintah Ibu Rahayu dan membuat Tia mengurai pelukannya.
"Baiklah ibuku tersayang, Tia pergi mandi dulu," ujarnya dan langsungmencium pipi ibunya kemudian berlalu pergi masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit berlalu. Tia sudah keluar dari kamarnya dengan memakai setelan kemeja berbahan katun warna coklat, dan bawahan celana jeans hitam membuat dia terlihat sangat cantik.
"Ibu ... Ibu...." panggil Tia namun tidak ada jawaban yang gadis itu dapatkan. Tia mencoba mengedarkan pandangan mencari keberadaan ibunya, namun sudah tidak ada siapapun di rumah ini selain dirinya.
Mata gadis itu berbinar kala melihat sepiring nasi goreng yang sudah tersaji di meja makan, "Pasti ibu sudah pergi ke rumah utama," tebak gadis itu sembari melangkah mendekat ke meja makan.
Senyum merekah masih disinggung oleh Tia. Gadis itu mendudukkan diri di kursi yang sudah disediakan di meja makan itu, "Wanginya enak sekali," gumam gadis itu dan langsung saja menyuapi nasi goreng tersebut.
***
Biasan warna jingga mulai muncul dari ufuk timur. Tia yang sudah beberapa menit yang lalu menghabiskan sarapannya, melangkah masuk ke dalam rumah besar tempat ibunya bekerja. Sesampainya di dalam rumah besar berlantai lima itu, gadis itu berjalan kearah lift untuk naik kelantai lima. Lantai dimana tempat ruang kamar seluruh penghuni rumah besar itu.
Pintu lift terbuka. Tia hendak melangkah masuk kedalam lift, namun gerakan gadis itu terhenti saat dia melihat anak pertama keluarga Pradipta keluar dari dalam lift.
Gadis itu menunduk hormat kepada pria yang bersetelan kantor lengkap itu, "Selamat pagi tuan muda," ucap Tia hormat.
"Pagi juga Tia," balas pria tersebut dengan tersenyum.
"Saya permisi ke kamar nona muda dulu tuan muda," izin Tia formal dan hendak melangkah masuk ke dalam lift.
"Baiklah, tolong bangunkan Grizzly itu," instrupsi Pria tampan itu membuat langkah Tia terhenti.
"Tentu saja tuan muda," jawab Tia dan hendak melangkah lagi namun, pergelangan tangannya di cekal.
"Ma...maaf Tia, tapi pagi ini kau terlihat cantik," puji pria tampan yang bernama lengkap Aldy Prayoga Pradipta itu dan langsung melepas cekalan tangannya dari lengan Tia.
"Te...terimakasih, kalau begitu saya permisi dulu tuan muda," pamit Tia yang sudah memerah malu dan langsung masuk kedalam lift.
Tia menormalkan ekspresinya terlebih dahulu, dan tangannya bergerak menekan tombol angka 5 dan lift pun bergerak naik ke lantai 5.
'a...apa yang di katakan tuan muda Aldy tadi.' ucap Tia membatin
Tidak membutuhkan waktu lama. Pintu lift sudah terbuka dan Tia langsung bergegas melangkah ke kamar nona mudanya.
Sesampainya di depan pintu kamar Ica, gadis itu bergerak memutar knop pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Pandangan mata Tia langsung tertuju kepada seorang wanita cantik, yang masih tertidur dengan selimut pink menutupi seluruh tubuhnya.
Tia tersenyum melihat Sahabatnya yang mulai menggeliat namun tak kunjung membuka mata. Gadis itu berjalan ke arah jendela yang masih tertutupi oleh gorden pink. Tia membuka gorden pink tersebut, dan membuat cahaya sang Surya masuk tanpa permisi memenuhi kamar yang nampak gelap tadi.
"Tia kau selalu saja mengganggu tidurku," gumam Ica yang mulai mengerjap-ngerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.
"Maafkan saya nona muda," sesal Tia dan mulai bergerak mendekati kasur queen size milik Ica.
"Berhenti memanggilku nona muda Tia, panggil aku Ica. Ingat, hanya Ica," tegas Ica dan membuat Tia tidak enak hati.
"Ba...baiklah Ica. Sekarang kamu bangun dan bersihkan tubuhmu itu Grizzly," perintah Tia sembari menarik lengan Ica yang masih terduduk di ranjang queen sizenya.
"30 menit lagi Tia," nego Ica dengan nada malas.
"Tidak boleh, tuan besar sudah menunggumu untuk sarapan Grizzly," tolak Tia dan berhasil membuat Ica berdiri.
"Berhenti memanggilku Grizzly Tia, kau sama seperti kak Aldy, kalian berdua menyebalkan," desis Ica dan langsung berjalan ke kamar mandi.
"Dasar manja," gumam Tia. Gadis itu mulai membereskan tempat tidur Ica, dan menyiapkan baju yang akan di kenakan Ica hari ini.
Beberapa menit berlalu. Ica sudah keluar dari dalam kamar mandi, wanita itu menggunakan jubah mandi dan bergerak mengambil baju yang sudah di siapkan oleh Tia, "Kau selalu pintar memilihkanku baju Tia, aku menyayangimu," puji Ica dengan menyinggubg tsenyum pada Tia yang duduk di kursi tempat belajar Ica.
Tia hanya tersenyum mendengar pujian itu. Melihat Ica sudah masuk ke walk in kloset, Tia sedikit melirik ke komputer Ica yang masih menyala. Betapa terkejutnya Tia saat melihat notif email dari Tio masuk ke komputer tersebut.
"Ica! Tuan muda Tio mengirimkan sebuah email!" teriak Tia semabari pandangan tak hentinya melihat notif tersebut.
"Seperti yang sering kau lakukan dulu. kau balas saja email dari si gendut jelek itu," perintah Ica dengan berteriak dari walk in kloset.
"Tapi...." ucap Tia menjeda ucapannya. "Baiklah akan ku buka." gumam Tia dan tangannya menggerakkan mouse.
sontak mata Tia membulat dan jantungnya berdegup kencang membaca email yang di kirimkan tuan muda Tio.
To: Princess?
Hai...! apa yang sedang kau lakukan princess Ica. 18:20pm nanti, kemungkinan pesawat ku akan lending, aku akan senang jika kau datang menyambut ku di bandara. Jika tidak aku akan datang ke rumah mu dan sudah tidak sabar bertemu dengan mu, i Miss you so bad baby Ica?
'Ti... tidak, dia akan kembali' batin Tia antara senang dan takut bercampur menjadi satu.
"Apa yang si gendut itu katakan Tia?" tanya Ica yang sudah rapi menggunakan dress berwarna pink dipadukan make up tipis.
"Tu...tuan muda Tio akan kembali Ca." jawab jujur Tia dengan nada gugup.
"Ohhh," ujar santai Ica membuat Tia melongo..
"Kenapa kau begitu tenang Ica? Jika tu-...."
"Memang aku pikirin," potong Ica dengan nada santai, "ayok kita turun, papa dan yang lainnya pasti sudah menunggu di meja makan," lanjutnya sembari menarik lengan Tia untuk ikut bersamanya.
"Dia akan datang jam 18:30 nanti, dan dia meminta mu un-...."
"Aku sibuk Tia, jadi kau saja yang menyambutnya," potong Ica dan kembali membuat Tia melongo, "aku tidak mau kau menolaknya, ini perintah dariku," lanjut Ica dan membuat Tia terdiam tanpa bisa menolak lagi.
T.B.C
Jangan lupa tap love, komen, bantu share yah bay bertemu di next part...