Mereka berdua memasuki lift untuk menuju lantai bawah rumah besar kediaman keluarga Pradipta. Tia menekan tombol untuk menutup pintu lift dan langsung menekan tombol lantai satu sebagai tujuannya.
Lift pun bergerak turun ke lantai satu, "Tia aku baru melihatmu, ternyata kau memakai baju yang aku berikan padamu itu," celetuk Ica dengan melihat penampilan Tia, "kau terlihat sangat cantik memakai baju yang aku berikan itu Tia. Jujur baju itu sangat pas di tubuhmu," sambung Ica dengan menyinggung senyum membuat Tia menunduk.
"Makasih Ica tapi, kamu terlihat lebih cantik daripada diriku," sanggah Tia dengan senyum kikuk. "I...ini juga karena baju yang kamu berikan padaku," lanjutnya sambil menunduk.
Ica yang mendengar itu, hanya menggeleng gelengkan kepala sambil tersenyum manis. Pintu lift terbuka. Ica langsung bergegas keluar diikuti Tia yang berjalan di belakangnya.
"Good morning nek, good morning papa, good morning mama, and good morning kak," sapa Ica dengan langsung berlari ke arah duduk neneknya.
Julian Dinata Pradipta yang melihat tingkah putrinya langsung mengeluarkan raut cemberut, "Apa nenekmu itu lwbih penting, daripada papamu princess?" gerutu Julian Dinata Pradipta.
"Tentu saja pa, bagi Grizzly nenek yang terpenting," timpal Aldy Prayoga Pradipta kakak dari Ica.
Ica yang mendengar itu menekuk wajahnya pura-pura mengeluarkan raut cemberut, "Sudah jangan menggoda adik mu Al. Ica duduklah kita sarapan," ujar Sintia Ardila Pradipta, istri dari Julian dan membuat Ica langsung menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak, "Ica...." peringat Sintia dan membuat anak perempuan itu tersenyum kikuk dan langsung duduk di kursinya.
Disaat bersamaan dengan duduknya Ica, Tia pun datang dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya. Dengan langkah kaki anggun Tia masuk ke ruang tamu.
"Selamat pagi tuan besar, nyonya, nenek, dan tuan muda," sapa Tia lembut dengan menundukkan kepalanya.
Mereka semua tersenyum untuk menanggapi ucapan selamat pagi Tia, kecuali sang nenek yang terlihat memandang sinis gadis berparas ayu itu. Tia yang mengetahui hal itu langsung menunduk.
"Selamat pagi, Duduklah Tia kita sarapan bersama," perintah Julian.
Mendengar itu, Tia dengan cepat menggelengkan kepala, "Ti...tidak perlu tuan besar, saya sudah sarapan pagi tadi sebelum membangunkan nona muda," jawab lembut Tia dengan masih menunduk hormat.
"Grizzly! Apa kau tidak bisa bangun sendiri? Kenapa kau selalu saja merepotkan Tia?" ujar Aldy kepada sang adik dengan raut yang dibuat marah.
"Tia saja tidak marah, kenapa kakak yang sewot," balas Ica dengan menjulurkan lidahnya.
"Kalian berdua seperti anak kecil, Ayok kita mulai sarapannya." Sintia menyela Aldy yang tadinya ingin membalas perkataan dari adiknya.
"Jika kau sudah sarapan, kenapa masih berdiri di situ? Pergi sana ... dasar kau tak tau sopan santun," sinis nenek yang masih melihat Tia berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Ibu jangan berkata seperti itu," timpal Julian dengan menatap sang ibu yang masih berekspresi tak suka.
"Ti...tidak apa-apa tuan besar. Kalau begitu tuan besar, saya izin untuk pergi mengajar dulu," jelas Tia lembut dan membuat Julian melukis senyum.
Iya ... Sulistiawati Najwa iyalah bekerja sebagai guru yang sekolahnya berdiri di sebuah desa terpencil. Dengan ditemani beberapa guru lainnya, Tia mengajar para anak-anak jalanan yang tak bisa bersekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga.
"Baiklah ... kalau begitu, kau hati-hati di jalan sayang," ujar Julian dengan nada lembut. Tia yang sudah mendapatkan izin hendak melangkahkan kaki keluar dari ruang makan.
"Tia ... tunggu sebentar," ujar Aldy dan membuat langkah Tia terhenti di udara.
Gadis yang berusia 23 tahun itu kembali memutar tubuhnya, "Ada yang anda butuhkan tuan muda?" tanya Tia lembut dengan tersenyum untuk menghormati Aldy, tuan mudanya.
"Tolong siapkan makananku," perintah Aldy.
Tia tersenyum dan berjalan ke arah kursi yang di mana di sana Aldy tengah duduk sambil menatapnya.
"Apa tangan kakak sudah tidak bisa digunakan? kakak dengar sendiri bukan tadi Tia mau pergi?" sinis Ica dan Aldy langsung mencubit gemes pipi putih adiknya.
Aldy bergerak mendekati telinga Ica untuk berbisik, "kau anak kecil tidak tau apa-apa, jadi diam dan lihatlah," bisik Aldy sambil terus menyinggung senyum, "Tia cepatlah. Aku sudah sangat lapar," kesal Aldy yang melihat Tia berjalan dengan sangat pelan.
Sementara Julian beserta sang istri hanya terkekeh sambil mengunyah sarapannya. Sedangkan nenek yang melihat itu, tak pernah berhenti menunjukkan ekspresi tidak sukanya.
"Tu-...."
"Letakkan makanan yang kau suka di piringku," potong Aldy dengan mata yang terfokus memandang wajah ayu sawo matang Tia.
Mendengar itu, Tia pun bergerak mengambil makanan yang terlihat sangat enak di matanya. "Apa kah ini sesuai selera tuan muda?" Tanya Tia memastikan kalau dia tak salah ambil makanan untuk Aldy.
"Jika kau menyukainya, aku juga otomatis akan suka" ujar spontan Aldy dan membuat semua orang di meja makan tersedak.
Tia yang mendengar Perkataan Tuan mudanya terkejut, dan langsung memundurkan tubuhnya ke belakang agar jarak antara dirinya dan Aldy tak sejajar.
"Apa kakak tadi menggombal?" tanya Ica dengan masih membulatkan mata terkejut.
"Apa papa tidak salah dengar nak?" tanya Julian setelah tadi meneguk air yang ada digelarnya.
"Kalian berdua berhenti berpura-pura tidak tahu. Lihat putri ibu jadi merona," imbuh Sintia yang melihat rona merah di wajah Tia. Walaupun gadis itu sudah menundukkan kepalanya tapi, rona merah masih bisa terlihat oleh semua orang yang berada di meja makan itu.
"Kalian semua salah paham. Maksud Al tadi, Al suka makanan yang bi Rahayu buat. Kalian juga pasti suka bukan?" sanggah Aldy yang sudah menyadari perkataannya tadi.
"Kau menyukai ibu atau anaknya Al?" hoda Julian dan membuat Aldy tersenyum.
"Aku suka anaknya. maksud Al, Al suka masakan Yang di masak bi Rahayu." ujar Aldy kelabakan dan perkataannya tersebut berhasil membuat Tia semakin memerah.
Tawa kebahagiaan memenuhi meja makan keluarga besar Pradipta. Mungkin orang kaya lainnya akan membuat aturan jika waktu makan jangan ada yang berbicara tapi, berbeda dengan keluarga Pradipta. Mereka malahan menggunakan waktu makan untuk bergurau, karena pada saat makan saja mereka dapat berkumpul seperti ini.
Semua keluarga Pradipta tertawa karena tingkah Aldy, namun beda dengan sang nenek yang masih menatap Tia dengan padnagan tidak suka kepada gadis itu, "Tuan ... kalau begitu apa saya pergi dulu," pamit Tia dengan masih menundukkan kepala hormat.
"Kenapa buru buru sayang, kau belum menjawab ungkapan suka dari jagoan papa," goda tuan besar membuat Tia semakin merona.
Iyaa ... Tia sangat di sayang oleh keluarga besar Pradipta. Walaupun dia hanya anak pembantu, Dia sudah di anggap anak oleh Julian dan Sintia dan dicintai oleh mereka berdua.
"Murid-murid saya pasti sudah menunggu kedatangan saya tuan besar," terang Tia dengan nada lembut dan terus menunduk.
"Baiklah nak, kalau gitu suruh supir mengantarkan mu ke sekolah. Ingat jangan pulang terlalu larut." timpal lembut Sintia.
"Baiklah nyonya, kalau begitu saya permisi dulu selamat pagi semua," pamit Tia dan melangkah cepat keluar dari rumah besar tersebut.
Sulistiawati POV
Aku berjalan cepat keluar dari ruang makan untuk menghilangkan rasa maluku atas ucapan tuan muda Aldy.
Entah apa yang ada di dalam pikirannya sehingga dia bisa berkata seperti itu dan membuatku malu, dan semua orang menggodaku.
Aku melangkah ke pintu utama untuk keluar dari rumah besar ini. Setelah aku sampai di luar, disana aku melihat supir yang menungguku. aku berjalan melewati supir tersebut.
iyaa ... nyonya memang menyuruhku untuk memakai sopir jika mau pergi kemana saja tapi, aku yang sudah terbiasa menggunakan taksi untuk pergi kemana pun memilih untuk keluar dan mencari taksi.
Aku berjalan menuju gerbang rumah yang jadkanya beberapa meter dari rumah utama. Aku berjalan dengan sedikit cepat, terlihat seorang penjaga melihatku mendekat ke gerbang utama.
Tanpa bertanya penjaga tersebut langsung membuka gerbang untukku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kepada penjaga yang sudah membuka gerbang untukku.
Author POV
Sesampainya di luar Tia berdiri di sisi jalan untuk melihat taksi yang lewat. Tapi nihil, sudah 30 menit dia berdiri menunggu taksi tidak ada satupun yang lewat.
Tia mulai jengah dan hendak melangkah ke jalan raya, siapa tau dia bisa menemukan taksi disana.
Tin... Tin... Tin...
Tia yang hendak melangkah langsung terhenti karena, mendengar suara klakson sebuah mobil. Seseorang yang ada di dalam sana menurunkan kaca dan terlihat wajah tampan Aldy yang tersenyum kepadanya.
Seketika ucapan Aldy di meja makan kembali terngiang diingatan Tia, dan membuat Tia memerah menunduk untuk menyembunyikan rasa malinya.
"Ayo aku antar," ajak Aldy dengan tersenyum.
"Tuan muda duluan saja, saya akan menunggu taksi disini," tolak Tia dengan nada lembut dan masih menunduk
Seketika senyum Aldy berhenti tersungging dan langsung berganti raut tak suka, "Ini bukan ajakan Tia, ini perintah. Naiklah atau kau ingin aku gendong seperti kemarin," ucap Aldy dengan seringai jahilnya.
Seketika Tia memutar kejadian yang kemarin dialaminya. di mana kemarin Aldy mengajaknya untuk berangkat bersama dan dia sudah menolak ajakan itu tapi, Aldy tanpa malunya menggendong Tia masuk ke dalam mobil.
"Naik atau aku gendong kau Tia?" perintah Aldy dan membuat ingatan Tia menghilang di kepalanya.
"Ba...baiklah tuan muda," jawab Tia dan bergerak cepat menaiki mobil Aldy.
Tia masuk kedalam mobil tepat di kursi depan penumpang, "Bisakah kau tidak bersikap formal jika kita tengah berduaan seperti ini?" tanya Aldy setelah Tia duduk dan hendak memasang sabuk pengamannya.
"Ma...maksud tuan muda apa?" tanya balik Tia yang tak mengerti atau pura pura tidak mengerti.
"Maksudku? Kamu jangan memanggilku tuan muda disaat kita berdua seperti ini."
"Ti...tidak bisa seperti itu tuan muda," tolak Tia yang sudah selesai memasang sabuk pengamannya.
"Kenapa tidak? Bukankah Papa dan mama sudah menganggap kamu anaknya? Jadi kamu bisa memanggilku tanpa embel - embel tuan muda karena, kau bukan pekerja disana." Jelas Aldy dan bergerak melakukan mobilnya menuju sekolah Tia.
"Baiklah kak Aldy," panggil Tia dengan tersenyum kearah Aldy. Aldy yang mendengar itu langsung menolehkan kepala dan jantungnya berdegup cepat saat melihat senyum di bibir Tia.
"Hanya Aldy Tia, jangan menaruh kata kakak," sanggah Aldy dan kembali memfokuskan matanya ke arah jalanan.
"Tapi Ica memanggil tuan muda dengan sebutan kakak bukan? Lalu kenapa saya tidak boleh memanggil tuan muda dengan sebutan kakak juga?" tanya Tia polos.
"Aldy terdengar sangat indah saat bibir mu yang mengucapkannya," jawab spontan Aldy, "ma...maksudku kau hanya perlu memanggil aku lady jika kita berdua, dan jangan bertanya lagi!" lanjut Aldy dan membuat Tia melongo karena ucapannya yang pertama.
Keheningan tercipta di antara mereka berdua. Tia memberanikan diri untuk memecah keheningan yang terjadi diantara mereka berdua.
"Tu... maksudku Aldy, Apa kita bisa berhenti di toko kue?" tanya Tia memberanikan diri.
"Tentu saja bisa, emang siapa yang ulang tahun?" tanya Aldy dengan menolah ke arah Tia.
"Salah satu muridku ulang tahun, dan aku tidak sabar melihat senyum bahagianya," ujar Tia antusias dengan senyum tulus yang terlukis di bibirnya.
Aldy melirik sekilas Tia dan matanya menangkap senyum manis dari gadis yang tengah duduk di sebelahnya. seketika senyum Aldy ikut terpatri di wajah tampannya.
T.B.C
Jangan lupa tap love, komen, bantu share yah bay bertemu di next part...