Aldy membuang tatapannya dan kembali fokus untuk mengemudikan mobil ke toko kue. tidak membutuhkan waktu yang lama Mobil Aldy sudah terparkir di depan toko kue yang masih terlihat sangat sepi.
"Tia ... kau tunggu disini dulu dan jangan keluar," perintah Aldy dan membuat Tia yang membuka sabuk pengamannya melongo.
"Kenapa saya tidak boleh turun?" tanya bingung Tia.
Aldy tidak menanggapi perkataan Tia, dan Pria berusia 27 tahun itu memilih keluar dari dalam mobil. Setelah berada diluar, Aldy berlari kecil ke arah pintu penumpang tempat Tia yang tengah duduk. Aldy bergerak membuka pintu tersebut, dan senyum merekah langsung terlukis di wajahnya.
"Sekarang kau boleh turun Tia," perintah Aldy yang sukses membuat Tia terdiam mematung, "Tia ... silahkan," ujar Aldy kembali dan berhasil membuat gadis berusia 23 tahun itu tersadar.
"Anda tidak perlu melakukan ini semua tuan muda. Sa...saya tidak pantas di perlakukan seperti ini," ucap Tia malu sambil menundukkan kepala dan langsung keluar dari dalam mobil.
"Kau sudah terlihat cantik. Jadi kau pantas mendapatkan perlakuan seperti ini," sanggah Aldy dengan tersenyum. Tia bergerak turun dengan menundukkan kepala untuk menyembunyikan raut malu yang sangat jelas terlihat.
Mereka berdua berjalan masuk ke toko kue tersebut dengan Aldy yang memimpin, dan Tia yang mengikuti dari belakang. Tidak memerlukan waktu lama, kue besar dengan mainan berbentuk princess sudah mereka dapatkan. Beruntunglah toko kue dalam keadaan sepi sehingga, mereka dapat dilayani dengan cepat.
"Tuan muda, sebaiknya tuan segera berangkat ke kantor. Dari sini saya bisa menuju sekolah dengan taksi," pinta Tia saat mereka berdua sudah berada di parkiran.
"Tidak ... bukankah sudah aku katakan, kalau aku ingin mengantarmu ke sekolah," tolak Aldy dan langsung membuka kursi penumpang agar Tia masuk.
"Tapi ini sudah jam 08:30am tuan, jika anda terlambat ke kantor, tuan muda bisa di ma-"
"Tia aku pemimpin di sana, jadi aku bebas mau datang jam berapa pun. Soal papa yang akan marah biarkan saja. asal aku bisa mengantarmu ke sekolah, itu membuatku merasa senang," ujar Aldy dan tanpa mau berdebat lagi, Tia langsung masuk kedalam mobil.
"Dasar gadis banyak tapi," gumam Aldy dengan sedikit terkekeh.
Aldy menutup pintu dan langsung berlari kecil ke pintu kemudi. Tanpa banyak bicara, Pria itu kembali melajukan mobilnya keluar dari kawasan toko kue tersebut menuju sekolah tempat Tia mengajar.
***
Tidak memerlukan waktu lama, mobil yang di kendarai oleh aldy berhenti di sebuah kawasan padat penduduk. Aldy memberhentikan mobilnya di luar karena, kendaraan berdoa empat tidak memungkinkan untuk masuk ke gank. Dia dan Tia harus melanjutkan perjalan dengan jalan kaki agar bisa sampai di sekolah terpencil itu.
Aldy keluar dari dalam mobil, diikuti Tia yang juga bergerak keluar dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang yang berisi kue. Sudah berada di luar mobil, Aldy langsung bergerak mengambil alih kotak tersebut dan Tia hanya bisa terdiam tak ingin berdebat lagi.
Melihat itu Aldy langsung menyinggung senyum, "Bu Tia, silahkan ibu yang berjalan terlebih dulu," goda Aldy dan itu berhasil membuat Tia memerah malu.
Tidak memerlukan waktu lama. Di depan sana terlihat gerbang sekolah tempat Tia mengajar. Tia yang sudah tidak sabaran berlari dan membuat Aldy menyinggung senyum.
"Dasar gadis itu," gumam Aldy yang sudah tidak melihat tubuh Tia lagi.
Pemuda itu mempercepat jalannya hingga langkahnya terhenti tepat di gerbang bercat hitam yang sudah berumur sangat tua bisa dilihat dari kondisi gerbang, "ke mana gadis it-...." Ucapan Aldy terhenti saat melihat Tia yang tengah bersembunyi sembari melambaikan tangannya ke arah dirinya, "dasar," gerutu Aldy yang tak pernah berhenti tersenyum dan kembali berjalan cepat ke kelas yang ada dipaling ujung.
Aldy berdiri tepat dibelakang Tia yang tengah bersembunyi semabari mengawasi anak didiknya yang asik bermain di dalam kelas tiga SD.
"Ad-"
"Husss, tuan muda diam dan berikan kue itu," potong Tia dengan suara seperti orang berbisik.
Aldy tersenyum dan menyerahkan kotak berukuran sedang itu ke atas tangan Tia. Aldy bergerak membongkar kotak tersebut hingga kue yang berhiaskan boneka princess itu terpampang rapi.
"Tuan muda, tolong pasang dan nyalakan lilinnya," pinta Tia dan Aldy langsung mengikuti apa yang Tia katakan.
Tia menarik nafas dan kedua matanya bergerak-gerak menunjuk ke arah knop pintu. Aldy yang sudah paham maksud dari itu semua langsung bergerak meraih knop pintu dan.
Cklek!
"Selamat ulang tahun...."
"Selamat ulang tahun...."
"selamat ulang tahun untuk Sinta ... semoga panjang umur!" seru Tia setelah pintu terbuka dan membuat gadis bernama Sintia yang tengah mengobrol dengan teman-temannya itu langsung menoleh.
Tia masuk dan berjalan kearah mejanya dan langsung meletakkan kue itu dengan perlahan, "Murid-murid, ayok kita bernyanyi selamat ulang tahun untuk Sinta!" Perintah Tia dan langsung di sambut oleh suara ruang murid-muridnya.
Aldy hanya bisa melukis senyum di saat dia melihat kebahagiaan Tia yang sangat jelas. Bagi pria yang berusia 27 tahun itu, tidak ada yang membuat dia senang selain melihat kebahagiaan gadis yang membuat dia bertahan hidup selama ini.
Sementara itu, Tia yang melihat senyum yang terlukis di wajah Sinta ikut bahagia. ingatan tentang masa kecilnya yang tak berkecukupan mulai terputar di dalam pikirannya. Dulu dimana dia dengan sang ibu sangat kesusahan dan Tia yang masih anak berusia 4 tahun memiliki banyak keinginan. Dia tidak menyadari kalau keinginannya itu belum bisa di penuhi oleh sang ibu.
Flashback on
19 tahun yang lalu.
"Ibu! Ibu! Ini tolong pegang sebental. Tia mau pelgi kesana sebental," ujar Tia bocah perempuan yang tidak bisa menyebut hurup R.
Rahayu dengan sigap menggenggam sapu kecil yang kebanyakan orang gunakan untuk menyapu mengumpulkan beras, beserta sekop yang terbuat dari jerigen plastik bekas minyak tanah yang di lempar oleh Tia putrinya.
"Emang Tia mau pergi kemana?" tanya Rahayu sembari menyapu butiran-butiran beras yang berserakan di tanah.
"Ibu ... Di lestolan itu ada orang yang belulang tahun, Tia mau melihatnya Bu," girang Tia dan berlari meninggalkan pasar beras di mana di setiap harinya di sana ibu Rahayu mengumpulkan beras untuk di jual nanti.
"Tia! Hati-hati! Lihat sekeliling jika mau menyebrang!" seru Rahayu sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku anaknya yang masih berusia empat tahun itu.
Rahayu melanjutkan pekerjaannya untuk mengumpulkan beras-beras yang berserakan. Sementara itu, Tia berlari ke arah restoran yang nampak ramai pengunjung. Tia berdiri dengan berjingkrak-jingkrak girang tak sabaran untuk melihat siapa gerangan yang berulang tahun.
Tia kecil berlari menyebrangi jalanan pasar yang terlihat sangat padat. Tak ingin menunggu lama, Tia berlari dan para pengendara dengan sigap membunyikan klakson mereka kemudian berhenti secara mendadak, "maaf paman, Tia sedang bulu-bulu," ujar gadis itu dengan tersenyum lebar menunjukkan gigi tanggalnya.
Tia terus berlari kencang dan berhenti tepat di pintu masuk restoran tersebut. Keringat bercucuran memenuhi wajah dekil Tia. Nafasnya terengah-engah dan kedua tangannya menggenggam gerbang.
"Nak tolong pergi, disini sedang ada acara," usir seorang petugas keamanan yang bekerja di restoran tersebut.
"Paman ... tolong belikan Tia melihatnya sebental saja," pinta Tia dengan wajah memelas dan membuat sang petugas keamanan itu membiarkan dirinya untuk tetap berdiri dan menonton.
"Wow ... besal sekali kuenya," ujar Tia dengan wajah berbinar membuat petugas keamanan itu menyinggung senyum, "paman! paman! Apa kue itu dibuat di sini?"
"Tentu saja kue itu dipesan disini," jawab petugas keamanan tersebut apa adanya dan membuat Tia semakin berbinar.
"Wow baju yang anak itu pakai bagus sekali," ujar Tia lagi dan membuat petugas keamanan itu menggelengkan kepala, "aku akan membelitahukan pada ibu agal besok mengadakan pesta ulang tahunku di sini," girang Tia dan kembali berlari ke tempat ibunya.
Tidak memerlukan waktu lama. Tia dengan kaki kecil dan tanpa alas kaki itu berlari kembali ke tempat ibunya yang masih menyapu beras-beras yang berserakan di pasar.
"Ibu! Ibu! Ibu! Akhhh ... akhhh." Tia kecil membungkukkan tubuhnya karena merasa lelah, "ibu lihat di sana. Di sana ada yang ulang tahun dengan kue yang besal, dan baju pesta yang sangat bagus."
"Bicara pelan-pelan Tia, lihat kau sampai berkeringat," ujar Rahayu yang hanya bisa menyinggung senyum.
"Ibu ... Tia mau mengadakan pesta ulang tahun sepelti anak itu. Diulang tahun Tia besok. Tia ingin memotong kue yang besal, dan memakai baju yang cantik. Apa ibu bisa membelikannya untuk Tia?" Seketika senyum bahagia yang melihat kebahagiaan sang anak luntur di wajah Rahayu saat mendengar permintaan anaknya yang tak mungkin bisa dia penuhi.
Mata wanita itu langsung berkaca-kaca karena mendengar permintaan dari sang anak, "Ibu kenapa? Apa ibu akan membelikan kue dan gaun untuk Tia?"
Rahayu membuang pandangan ke samping kanan dan bergerak menyeka air matanya yang hendak terjatuh, "I...iya ... Ibu akan memberikan semua yang Tia mau tapi, tidak sekarang. Kita harus mengum-"
"Hanya itu yang ibu katakan! Kita halus mengumpulkan banyak belas agal bisa membeli kue dan gaun yang Tia minta. Kita sudah mengumpulkannya tapi, di mana kue dan gaun yang Tia minta. Ibu pembohong! Tia benci ibu!" teriak Tia cadel dan berlari meninggalkan Rahayu yang tak bisa menahan air matanya untuk tak keluar lagi.
"Tia maafkan ibu ... ibu tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Ibu adalah ibu yang buruk, maafkan ibu nak," gumam Rahayu dengan masih menyapu-yapu beras yang berserakan itu.
Flashback off
"Bu Tia! Bu Tia kenapa?" panggil Sinta dengan sedikit berteriak namun belum di gubris oleh Tia yang larut dalam lamunannya.
Sebutir liquid hangat jatuh dari pelupuk mata Tia dan membuat Aldy bergerak menepuk pundaknya, "Tia ... kau kenapa?" Tia tersentak dan langsung menyeka sebutir air mata yang merambat keluar dari pelupuk matanya.
"Bu Tia kenapa menangis?" tanya polos Sinta dan langsung mendapatkan gelengan dari Tia.
"Ibu tidak apa-apa sayang. Sekali lagi selamat ulang tahun untuk Sinta," ucap Tia dan langsung memakan kue yang sedari tadi di sodorkan oleh Sinta.
Walaupun Tia berkata seperti itu. Aldy masih penasaran akan apa yang terjadi dengan Tia sehingga membuat dia menitikkan air mata.
T.B.C
Jangan lupa tap love, komen, bantu share yah bay bertemu di next part...