MCL 06 #Bertemu Kembali

1746 Words
Walaupun Tia berkata seperti itu. Aldy masih penasaran akan apa yang terjadi dengan Tia sehingga membuat dia menitikkan air mata. *** Senyum manis terlukis di bibir mungil gadis kecil yang tadi menyuapi kue kepada Tia. "Kenapa kue ini terasa sangat enak saat aku makan dari tangan mungil anak didik kecilku." Tia mengelus lembut Surai keriting milik Sinta. Sinta yang mendengar itu tersenyum bahagia dan berjingkrak senang. Tatapan matanya tertuju pada Aldy yang tengah fokus melihat ke arah Tia yang sudah berubah ekspresi menjadi bahagia kembali. "Pak tampan! Apa kakak pacarnya Bu Tia? Apa kakak mau memakan kue dari tangan Sinta juga?" Sinta berbicara dengan polosnya mengeluarkan pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Tia yang mendengar perkataan polos dari gadis kecil yang baru menginjak usia 8 tahun itu membulatkan matanya. "Sinta a...apa yang kau katakan tadi, masih kecil udah tau nama pacar-pacaran," timpal Tia gugup dan panik karena takut tuan mudanya salah mengira. Aldy yang mendengar itu hanya tersenyum seolah dia merasa senang akan perkataan bocah polos tersebut, "Doakan saja semoga itu terjadi adik kecil." Aldy menekuk lututnya dan mengelus Surai keriting milik Sinta. "Sini suapi Bapak kuenya," sambung Aldy dengan tersenyum dan menganga menunggu kue bekas gigitan Tia itu masuk ke dalam mulutnya. Sinta tersenyum senang dan menyuapi kue yang tadi digigit Tia itu untuk aldy. Tia yang melihat itu hanya menahan malu dengan pipi yang memerah. Aldy berdiri di samping Tia dan menggenggam jari jemari Tia. "Anak-anak manis ... bagaimana? Apa pak tampan dan Ibu guru cantik kalian ini sudah terlihat serasi?" Aldy bertanya dengan santainya tanpa tau malu sambil menggenggam tangan Tia. Anak-anak yang ada di sana seolah paham maksud dari perkataan yang Aldy lontarkan tadi, "Bapak dan Ibu terlihat sangat serasi!" seru semua bocah yang ada di dalam kelas tersebut. Tia yang sudah tak tahan dengan suasana itu memilih berlari keluar dengan pipi yang sudah memerah. "Tia ... Tia!" teriak Aldy dan berlari mengejar Tia. "Kenapa kau berlari keluar? Apa kau tidak mau mengajar?" Tanya Aldy setelah berdiri di samping Tia. "Tuan muda seharusnya tidak bercanda seperti itu." Tia berkata sambil menunduk dengan wajah yang masih memerah. "Jika perkataankh tadi bersungguh-sungguh dan bukan bercanda apa kau mau menerimanya?" Aldy bertanya dengan santai tapi terdengar serius membuat Tia menjauh menciptakan jarak, "Hay aku hanya bergurau Tia. Kamu kenapa berekspresi seperti itu?" Aldy lagi-lagi memilih menyembunyikan isi hatinya agar Tia tak menjauh darinya. Membayangkan Tia tak berada di sampingnya saja sudah membuat Pria itu ngeri. Tia yang mendengar itu hanya menarik nafas lega dan refleks memukul lengan kekar Aldy. "Maaf, a...aku tidak bermaksud memukul tuan muda," sesal Tia dan langsung meminta maaf karena sikap kurang ajarnya tadi. "Kau sudah berani memukul majikan mu yah," ucap Aldy berpura-pura marah. "Maafkan saya tuan muda, sungguh sa...saya tidak bermaksud seperti itu," ujar Tia gugup dan membuat Aldy sudah tak bisa menahan tawanya. "Dasar! aku hanya bercanda kenapa ekspresi mu menggemaskan seperti itu gadis Tapi," timpal Aldy dengan bergerak menonjor kepala Tia. Tia mengelus-elus kepalanya yang di tonjor Aldy dengan senyum yang masih tersinggung dan senyum itu seolah membuat Aldy tersihir dan ikut menyinggung senyum di wajahnya. "Sudah jam 09:05, aku ke kantor dulu, siang nanti aku akan menjemput mu dan kau temani aku makan siang." Ajak Aldy di balas gelengan kepala oleh Tia. "Maaf saya tidak bisa menemani anda tuan muda. Saya ada pekerjaan di luar hingga sore nanti." Tia menolak dengan cepat sambil menggeleng kepala. "Baiklah... kalau begitu aku akan menjemput mu sore nanti untuk pulang bersama." ajak Aldy lagi dan dibalas gelengan kepala. "Setelah itu aku ada urusan lagi, sekali lagi saya mohon maaf tuan muda." Tia menolak dengan nada lembut dan menundukkan kepalanya. "Baiklah ... kalau begitu aku pergi dulu, semoga hari mu menyenangkan putri tapi." Aldy berucap dengan sangat lembut dan senyum manis terlukis di wajah tampannya. Pemuda itu berjalan menjauh dari ruang kelas itu dengan bibir terus saja menyinggung senyum seolah merasa senang. Selalu saja seperti ini. Jika Pria itu sudah dekat dengan Tia, hanya kesenangan dan senyum bahagia lah yang dia lukis. Aldy yang terkenal kaku dan dingin di kantor, berubah menjadi lembut di depan gadis bernama Tia. Tia kembali masuk ke dalam gubuk kecil tersebut dan mulai mengajar anak-anak muridnya yang masih menikmati kue yang sudah dibagi rata itu. *** Di sebuah gedung agensi model terbesar di negeri ini, terlihat sebuah mobil berwarna pink memasuki baseman gedung tersebut. Mobil pink tersebut berhenti di sebuah parkiran yang khusus untuk pekerja di sana. Lama mobil berhenti hingga dari pintu kemudi, seorang gadis cantik berkulit putih keluar dari dalam mobil itu. Gadis cantik yang memliki kulit putih tanpa luka, mata hitam, dan Surai hitam lurus itu terlihat cantik dengan dress pink yang sangat pas di tubuh berisinya. Gadis tersebut mulai berjalan dengan slingbag berwarna pink yang tergantung rapi di pundak kanannya. suara dering ponsel membuat langkahnya terhenti. Gadis cantik itu meronggoh slingbagnya untuk mencari keberadaan benda pipih yang tengah berdering ria tersebut. Setelah mendapatkan apa yang dia cari. Gadis itu langsung fokus ke layar handphone yang menunjukkan nama orang yang menelpon dirinya. Tanpa menunggu, gadis itu langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari seberang sana. "Ada hal penting apa hingga kau menelpon ku Tia?" tanya Ica to the poin, iyaa gadis cantik berkulit putih dan terlihat seperti seorang princess Disney itu iyalah, Raisa Putri Kanza Pradipta. "Ica apa kau yakin tidak akan menyambut kedatangan tuan muda Tio?" tanya balik Tia dan membuat Ica memutar bola mata jengah. Sudah dari tadi pagi dia katakan. Apa Tia masih belum mengerti juga? "Berapa kali harus ku katakan Tia, aku tidak peduli dengan si gendut itu. Jika kau mau, kau saja yang menggantikan ku seperti yang sering kau lakukan. Aku juga akan melakukan banyak pemotretan hingga malam nanti." Ica berucap dengan nada jengah dengan masih berjalan ke arah lift. "Tapi, dia pasti akan marah Ica. Dia hanya ingin kau yang datang menyambutnya," Jawab Tia. "Emang apa urusan ku jika dia marah? sudah ... aku banyak pekerjaan Tia, sampai nanti." Ica langsung memutus sambungan telponnya sepihak dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Tia menekan tombol menutup pintu lift dan setelahnya menekan lantai yang akan ia tuju. lift pun bergerak dan nada dering ponsel kembali terdengar membuat Ica risih dan langsung menerima penggilan tersebut tanpa melihat nama si penelepon. "Apa lagi yang ingin kau katakan Tia? Jika kau masih membahas si gen-" "Hay ... kenapa kau berteriak seperti itu Princess?" tanya seorang pria di seberang sana dengan nada lembut. Sontak mata Ica membulat dan di bacanya orang yang tengah menelponnya tadi. "Sam! maaf aku kira kau tadi Tia. Habis aku kesal dengannya, sedari tadi dia menggangguku," ucap Ica dengan nada menyesal manja. "Emang apa yang sahabat mu itu bicarakan?" tanya Sam, seorang pria yang bernama lengkap Samudra Pratama. "Sudah lupakan. Ada perlu apa kau menelpon ku?" tanya Ica dan melangkah keluar dari dalam lift yang pintunya sudah terbuka. "Apa nanti malam kau tidak sibuk baby?" Sam balik bertanya dengan nada lembut. "Tentu saja tidak, apa kau mau mengajak aku berkencan?" jawab Ica dan kembali bertanya pada pemuda itu. "Kau sangat tau jalan pikiranku. Malam nanti akan aku jemput setelah urusanku selesai, jadi kau berdandan lah agar terlihat sangat cantik," pinta Sam dengan nada lembut. "Apa kau serius? Baiklah jemput saja aku di kantor agensi," perinta Ica dengan nada senang. "Baiklah aku akan menjemput mu pukul 18:30 baby. Sampai jumpa nanti malam i love you," ucap Sam dengan tersenyum. "okey aku menunggu mu, i love you too baby," jawab Ica dan memutus sambungan telponnya. Ica berjalan dengan tersenyum membuat para model yang berada dilantai itu melihatnya dengan tatapan memuja. *** "Bagaimana? Apa dia mau menyambut Tuan muda Tio yang kau katakan itu?" Tanya Dewi salah satu guru sekaligus teman Tia. Iya sekarang Tia tengah berada di ruang guru bersama Dewi, guru sekaligus teman yang seumuran dengan dirinya. Karena jam sudah menunjukkan waktu istirahat, Tia terpaksa tidak jadi mengajar dan membiarkan anak didiknya untuk keluar main. "Tidak Dewi ... nona muda, tidak ingin bertemu dengan tuan muda Tio. Dia malah melimpahkannya semuanya padaku," ujar Tia sembari menjambak rambutnya perustasi. "Terus, kenapa kau kelihatan takut? Seharusnya engkau bahagia karena bertemu dengan orang yang engkau cintai Tia," imbuh Dewi bergerak merangkul temannya sekerjanya itu. "Itu tidak mudah Dewi ... dia pasti tidak menyukai ku dan akan marah saat melihat diriku." Tia masih menjambak rambutnya prustasi. "Semua pilihan ada pada dirimu Tia." Dewi menepuk pelan punggung Tia, dan berlalu pergi untuk mengumpulkan anak-anak didiknya karena jam sudah menunjukkan waktu belajar kembali dimulai. Tia memejamkan mata dan menarik nafasnya dalam-dalam. Gadis itu ikut melangkah keluar menuju ruang kelas. *** 18:00pm Terlihat sebuah taksi yang masih belum bergerak dari tempatnya. di dalam taksi sudah ada dua orang yaitu supir dan salah satu penumpang wanita yaitu Sulistiawati Najwa. "Nona ... kemana saya harus mengantar anda?" tanya sang supir taksi tersebut sudah 10x namun, Tia belum bergeming dan masih berperang dengan pikirannya. 'Bagaimana ini? Apa aku harus ke bandara atau pulang saja.' batin Tia. "Nona sebenarnya anda akan pergi kemana? Nona sudah membuang waktu saya," ucap sang sopir yang sudah jengah. "ehh ... kita pergi ke bandara xx pak," spontan Tia berucap dan langsung menutup mulutnya. 'aduh kenapa kau berkata seperti itu mulut sialan.' gerutu Tia dalam hati. Sopir tersebut langsung melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan toko buku untuk membelah jalanan kota menuju bandara xx. Lama mobil Taksi berwarna biru tersebut membelah jalanan kota, akhirnya dia berhenti di bandara xx, tempat yang tadi disebutkan oleh Tia. Tia langsung mengeluarkan beberapa lembar uang dan bergegas keluar dari dalam mobil. Tia berlari sambil melihat arloji yang melingkar di tangan kanannya. 'aku sudah terlambat 10menit, semoga saja tuan muda belum turun' batin Tia. seketika perkataan batinnya bertolak belakang dengan apa yang dia lihat di depannya. Terlihat seorang pria yang mengenakan stelan kantor lengkap dengan dua pengawal di belakangnya tengah berdiri seolah mencari sosok wanita yang dia harapkan datang. Wajah tampan dengan Surai coklat, alis mata yang tak terlalu tebal, mata yang sedikit sipit, dengan bulu-bulu halus yang menghiasi rahang kokohnya, dan jangan lupakan iris mata hitam sedikit coklat yang sangat-sangat nampak indah dan menjadi daya tarik dari pria itu. Seketika Tia berdiri tegap dan mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Gadis itu tersenyum lebar untuk sosok pria yang berdiri di depannya dengan raut wajah terlihat menahan amarah. "Selamat datang tu...tuan muda Evantio." Tia berucap dengan nada gugup. Jangan lupakan degup jantung yang berpacu sangat cepat setiap kali bersitatap dengan Pria yang sudah dia cintai dari 12 tahun yang lalu. T.B.C Jangan lupa tap love, komen, bantu share yah bay bertemu di next part...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD