MCL 07 #Desiran Sebuah Rasa

1472 Words
"Selamat datang tu...tuan muda Evantio." Tia berucap dengan nada gugup. Jangan lupakan degup jantung yang berpacu sangat cepat setiap kali bersitatap dengan Pria yang sudah dia cintai dari 12 tahun yang lalu. *** Pria yang di panggil Evantioio itu, langsung memicingkan mata tidak suka pada Tia. Iya ... Pria berparas tampan yang sekarang menggenakan setelan kantor lengkap, dengan model rambut hitam kecoklatan yang di sisir jambul, mata yang terlihat mengecil karena tengah memicing, alis mata yang tak tebal yang dia naikkan keatas, dan bulu-bulu halus yang menghiasi rahang kokohnya itu iyalah Evantio Kenzo. "Siapa kau berani sekali berbicara denganku?" sinis Tio dengan nada arogannya membuat Tia langsung berdiri tegap. Tia yang mendengar itu seketika menundukkan kepala dan jari telunjuknya mulai ia tautkan pertanda dia tengah gugup, 'seharusnya aku pulang saja. kenapa aku bisa menyuruh supir taksi itu mengantar ku kesini sih?' gerutu Tia dalam hati. "Hay jelek! aku bertanya siapa kau? Kenapa kau berani sekali memanggil namaku dengan mulutmu itu?" imbuh Tio dengan masih bernada sinis. "Ma...maafkan atas ke lancangan saya tuan muda. Sa...saya disuruh nona mud-" "Apa kau anak pembantu itu?" potong Tio dengan ekspresi yang sudah berubah. Pria itu sekarang terlihat menaikkan satu alisnya dengan kedua mata menatap Tia dari atas sampai bawah. Merasakan dirinya ditatap lekat, Tia semakin menundukkan kepala untuk menyembunyikan muka yang sudah dia yakini memerah bak kepiting goreng. 'Tia ... dia marah kepadamu, kenapa kau merasa seperti dia mengatakan kalimat cinta?' batin Tia merutuki sikap anehnya jika setiap kali berdekatan dengan Tio, Pria yang selalu membuat degup jantungnya berdetak. Tia menutup mata sembari membuang nafas perlahan, "I...iya tuan muda Tio! Sa...saya Sul-" "Apa yang dilakukan anak pembantu sepertimu disini? Dan, kenapa kau berbicara menunduk seperti itu? Apa ibumu tidak mengajari sopan santun padamu?" Potong Tio dengan pertanyaan bertubi-tubi yang Pria itu keluarkan. "Ma...maafkan saya karena tidak sopan, tuan muda. Nona muda tidak bisa datang menjemput anda karena, jadwal pemotretan sangat padat. Saya ditugaskan nona muda untuk menjemput anda disini." Tia sudah berbicara dengan menatap wajah tampan Tio yang terlihat datar. Semu merah di pipi berwarna sawo matang Tia, sekarang nampak jelas terlihat. "Apa maksudmu dia tidak datang kesini? Dan apa ini? Kenapa dia menyuruh anak pembantu sialan sepertimu untuk menjemputku?" sarkas Tio dengan menunjuk tidak suka akan keberadaan gadis itu disini. Tia hanya bisa menunduk dan merasakan sakit di hatinya. Kenapa sesakit ini rasanya jika Tio berkata sarkas seperti itu? Padahal dia sudah sering mendengar itu tapi, bisakah dia tak menaruh kata sialan? "Ma...maafkan saya tuan muda. Seharusnya saya tidak datang ke sini tapi, nona muda yang memerintah saya untuk datang menyambut Anda. Sa...saya minta ma...maaf jika sudah membuat anda risih dan terganggu." Tia sudah berbalik dan siap melangkah pergi dari hadapan Tio setelah mengatakan hal itu. 'kenapa? Apa kau sakit hati di bentak dan di hina seperti itu? Apa yang engkau harapkan Tia? Apa? Apa kau berharap tuan muda Tio akan tersenyum? Heh ... itu hanya akan terjadi dalam mimpi mu,' batin Tia dan langsung menyinggung senyum ironi. Gadis itu menegakkan tubuh dan menguatkan hati, dan hendak melangkah pergi. langkahnya terhenti karena suara dingin dan berat Tio mengintruksikan dari arah belakang, "Tunggu! Kau mau pergi kemana anak pembantu?" Suara dingin Tio menghentikan langkah Tia yang sudah mengudara. Pemuda berusia 24 tahun itu berjalan mendekat ke arah Tia, dan langsung berhenti setelah berada di samping Tia. seketika rasa gugup menyerang wanita berkulit sawo matang itu, degup jantungnya berdetak tak sinkron, dan pipinya sudah mulai memerah. Dengan cepat Tia menundukkan kepala, dan kedua jari telunjuk tangannya masih setia saling bertautan, 'kenapa dia berdiri sedekat ini, sadar Tia! Mundur lah,' batin Tia dan langsung bergerak melangkah mundur. "Kenapa kau diam anak pembantu sialan? Aku masih menunggu jawaban darimu." Tio berbicara dengan nada pelan sembari sedikit melirik Tia yang sudah berdiri dibelakangnya. "Ma...maafkan sa-" "Apa tidak ada kata-kata lain selain maaf?! Kenapa kau selalu saja minta maaf?!" Tio berteriak dan bergerak memutar tubuhnya berhadapan dengan Tia. Tia yang mendengar teriakan Tio terkejut dan langsung mengangkat kepalanya dan.... Deg! Mata hitamnya langsung terkunci menatap fokus ke arah mata hitam sedikit kecoklatan milik Tio. Wanita itu sedikit terpaku melihat perubahan wajah Pria yang ada di depannya ini. Begitu juga dengan Tio, dia tak menyangka kalau bocah yang dulunya dekil dan kotor itu berubah menjadi terlihat sedikit manis. "Ma...maafkan saya. Sa...saya pikir, jika saya pergi itu akan membuat anda tidak risih lagi tuan muda," terang Tia dengan gugup bercampur malu membuat Tio secepat kilat membuang pandangannya. "Khem!" Pria itu berdeham untuk menghilangkan kegugupannya dan mengembalikan sikap dingin dan arogannya, "Apa aku memerintahkan mu untuk pergi, Anak pembantu sialan?" tanya dingin Tio disertai wajah datar namun terkesan cool. "Ti...tidak tuan muda, anda tidak pernah memerintahkan saya untuk pergi," jawab Tia dengan menggelengkan kepala. "Lalu kenapa kau ingin pergi?" Tanya Tio dan mulai mengangkat kepala gadis berkulit sawo matang yang sedari tadi menunduk dengan jari telunjuk yang sudah bertengger di dagu Tia. Pipi Tia sudah sangat memerah disertai degup jantung yang sudah berdetak cepat, 'Tia tenang lah...' batin Tia menenangkan jantung dan kegugupannya. Tio menarik telunjuknya yang bertengger di dagu Tia dan bergerak menonjor kepala gadis itu. "Cih ... kenapa kau memerah seperti itu? jangan kau pikir aku akan menciumi anak pembantu sepertimu." Tio menonjor kepala Tia dan kembali memutar tubuhnya. 'kenapa aku melakukan itu pada anak pembantu sialan ini,' sambung Tio merutuki kebodohannya setelah memunggungi Tia. "Maafkan saya tuan muda, saya memerah karena saya sedari tadi ingin ke toilet. Saya permisi dulu tuan muda." Tia berbicara dengan nada cepat dan hendak berlari tapi, lagi-lagi terhenti oleh suara bass Tio. "Aku tunggu 10 menit," ucap Tio singkat dan langsung melangkah keluar dari bandara dengan tersenyum. 'dasar gadis aneh, memerah karena mau ke toilet,' lanjutnya membatin dengan senyum yang melebar. Setelah mendengar itu Tia langsung berlari ke toilet. Tidak memerlukan waktu lama gadis itu sudah berada di dalam toilet. Sesampainya di toilet Tia menutup pintu dan langsung menyandarkan tubuhnya di pintu toilet. "Heh...heh...heh kenapa dia memegang daguku? dan kenapa dia menonjor kepalaku." Tia berucap dengan nada terengah-engah sembari menggenggam bagian yang di pegang Tio, "Kenapa rona merah di pipiku selalu muncul saat dia berbicara atau menatapku? Dan, kenapa jantung sialan ini berdegup sangat cepat?" sambung Tia dengan beralih memegang jantungnya yang sekarang masih berdetak cepat. Tia mulai memejamkan mata, dan menormalkan degup jantung berserta nafas yang terengah-engah. Seketika dia mengigat perkataan Tio yang memberikannya waktu 10 menit, "Aku harus cepat." Tia melihat arloji yang melingkar di lengan kanannya. Tia dengan cepat berbalik, dan membuka pintu toilet kembali berlari ke perkiran. di mana tuan moda Tio menunggu dirinya di sana. Di sisi lain terlihat mobil Limousine saat ini terparkir rapi di depan bandara. Di dalam mobil, sudah ada Tio yang tengah memainkan benda pipih dan sesekali melirik arloji yang melingkar rapi di tangannya. Tio melihat ke arah kaca yang di luar sana terlihat Tia yang berlari keluar dari dalam bandara, "Dasar anak pembantu sialan." Tio menggeleng kepala melihat tingkah Tia yang lebay. Ehh kenapa dia bilang lebay? Bukankah Tia berlari karena tidak mau waktu yang diberikan Tio habis. Tia berhenti tepat didepan pengawal yang menjaga mobil Limousine yang dimana ada Tio di dalamnya, "Hah...hah... Apa aku tidak terlambat paman?" tanya Tia dengan nada terengah-engah. "Tidak nona, silahkan anda langsung masuk, Tuan muda sudah bosan menunggu anda," jawab pengawal tersebut dengan tegas. Tia yang mendengar itu hanya mengangguk paham dan berjalan ke pintu penumpang bagian depan. Tia membuka pintu, dan hendak masuk. Gerakannya terhenti karena suara dingin Tio. "Duduk dan temani aku di belakang," perintahnya dengan nada tegas, membuat Tia langsung mengurungkan niatnya dan beralih ke kursi penumpang bagian belakang. Tia masuk setelah itu langsung memakai sabuk pengamannya, dan duduk manis di samping kiri Tio, "Maaf telah lancang tuan muda, Sebenarnya kita mau pergi ke mana?" tanya Tia memberanikan diri menanyakan tujuannya. pelototan tajam langsung didapatkan dari Tio dan membuat gadis manis itu menunduk, "Apa hak mu bertanya padaku anak pembantu? Lebih baik kau diam, dan ikuti saja kemana tujuanku," sinis dingin Tio dan seperti biasa, detak jantung Tia langsung berpacu hebat bak terkena serangan dari mesin kejut. 'Hay jantung ... dia baru saja memarahiku. kenapa kau berdetak disko seperti ini sih?' gerutu Tia dalam hati. "Ma-" "Berhenti mengeluarkan kata maaf itu anak pembantu," potong Tio dengan sinis disertai ekspresi jengah. "Ma...maafkan ak-" Tio menoleh dan menatap tajam Tia, "Bukankah kupingmu masih bisa bekerja normal. Sekali lagi kau mengatakan kata maaf ini, aku pastikan akan mencium bibir tipis jelekmu itu," ancam Tio dan membuat Tia refleks menutup mulutnya. "ma... Maksudku baiklah tuan muda." Tia menjauhkan tangannya dan langsung tersenyum manis ke arah Tio. Tio sedikit terpana akan wajah manis yang dihiasi senyum lebar dari Tia. Pria itu berdeham dan langsung mengangkat suara untuk memberikan perintah pada sopirnya. "Jalankan mobilnya ke restoran." Perintah Tio dan sang supir langsung menjalankan mobilnya keluar melaju mencari restoran. T.B.C Tap love? komen dan share sekalian masukkan rak yah See you next part?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD