Davin berjalan perlahan menuju ruang makan, tongkat penunjuk arahnya mengetuk lantai kayu yang dingin. Setiap langkahnya terdengar mantap meski dalam hatinya ia menyimpan kekosongan yang tak pernah mampu ia isi lagi sejak penglihatannya menghilang. Aroma gurih yang memenuhi udara membuat langkahnya terhenti sesaat. Hidungnya menangkap wangi saus tomat yang berpadu dengan bumbu rempah, membangkitkan rasa lapar yang semalaman ia tahan. “Ayo sarapan,” suara lembut Lexsa memecah keheningan. Davin menoleh ke arah suara itu. Wajahnya tenang, tapi bibirnya membentuk senyum tipis yang entah kenapa membuat d**a Lexsa sedikit menghangat. Gadis itu segera menghampirinya, jemarinya yang halus menyentuh lengan Davin, menuntunnya perlahan menuju kursi. “Aroma ini luar biasa,” ucap Davin sambil menghi

