Keyakinan dari Lexsa

795 Words

Mobil hitam yang ditumpangi Lexsa dan Davin berhenti perlahan di depan pintu utama rumah sakit yang menjulang megah dengan lampu-lampu putih dingin memantul di dinding kacanya. Lexsa segera membuka pintu, keluar dengan gerakan cepat lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Udara pagi menyapa, dingin menusuk kulit, tapi yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang adalah rasa cemas yang ia sembunyikan dalam diam. Setelah menunggu sebentar, Davin juga turun dari mobil. Ia mengandalkan tongkat penunjuk jalannya, langkahnya pelan tapi mantap, meskipun wajahnya tidak menampakkan semangat sedikit pun. Seorang lelaki yang mengantarkan mereka—teman Arga—turun sebentar untuk memastikan mereka baik-baik saja. “Terima kasih atas bantuannya,” ucap Lexsa sopan sambil sedikit membungkuk. Le

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD