Lexsa menatap formulir pendaftaran yang tergeletak di atas meja administrasi. Jemarinya sempat mengetik huruf demi huruf nama Davin pada layar monitor sebelum ia terdiam membeku. “Jika aku menaruh nama Davin, itu akan memudahkan Nyonya Victoria menyabotase segalanya jika sampai tahu…” pikirnya panik. Bayangan wajah dingin wanita itu menghantui kepalanya. Ia bisa membayangkan bagaimana cepatnya kabar ini sampai ke telinga Nyonya Victoria—dan saat itu terjadi, semua akan berakhir sebelum dimulai. Lexsa menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin kacau. Akhirnya, dengan tangan sedikit bergetar, ia menghapus nama Davin dan menggantinya dengan nama yang tidak asing baginya—Xavier. Sebuah nama samaran yang ia harap cukup untuk mengecoh siapa pun yang mencoba melac

