Koridor rumah sakit sore itu terasa sunyi. Hanya suara roda troli perawat yang sesekali melintas memecah keheningan. Lampu-lampu neon di langit-langit menyala dengan cahaya putih yang menusuk mata. Bau antiseptik yang pekat membuat udara seperti berhenti, menahan setiap tarikan napas dengan ketegangan. Arga duduk di bangku besi panjang, tubuhnya condong ke depan, siku bertumpu pada lutut, menatap jam di pergelangan tangan kirinya. Jarum detik berjalan pelan, seolah ikut merasakan cemas yang menggantung di udara. “Sudah hampir satu jam,” gumam Arga dengan nada geram yang disamarkan. “Pemeriksaannya belum selesai juga.” Lexsa, yang duduk di sebelahnya, hanya mengangguk pelan. Wajahnya pucat, dan jemari yang saling meremas di pangkuannya tampak sedikit bergetar. Ia sudah berusaha tenang, t

