terpaksa menjadi care giver

1368 Words
Langkah-langkah kaki Lexsa menuruni tangga terdengar berirama, bergema di lorong panti yang mulai sepi setelah kelas selesai. Udara siang menelusup dari jendela besar di ujung koridor, membawa aroma samar dedaunan kering. Sinar matahari miring memantulkan warna keemasan di dinding, membuat bayangan tubuhnya memanjang di lantai keramik putih. Ia baru saja selesai mengajar anak-anak seni rupa di ruang kelas lantai atas. Biasanya, setelah kelas usai, Lexsa akan langsung menuju perpustakaan atau ruangan pengajar untuk merapikan alat-alat gambar. Namun, kali ini langkahnya tertuju ke satu tempat yaitu ruang kepala panti. Tadi, saat kelas hampir berakhir, Davin pria yang selalu membuat darahnya mendidih secara tiba-tiba muncul di depan pintu kelas, menyampaikan pesan singkat bahwa kepala panti memanggilnya. Tidak ada senyum, hanya wajah datar sedikit bersahaja dan nada suara yang sulit ditebak. Lexsa tiba di depan pintu kayu bercat cokelat tua. Ia berdiri sejenak, menarik napas dalam, lalu mengetuk pelan. Dari dalam terdengar suara kepala panti, hangat dan ramah seperti biasanya, “Masuk, Nona Lexsa.” Ia membuka pintu perlahan. Ruangan itu berbau kopi hangat dan sedikit aroma kayu tua. Rak-rak buku memenuhi sisi kiri ruangan, sementara di sudut kanan ada lemari kaca berisi berbagai penghargaan dan foto-foto kegiatan panti. Kepala panti, seorang pria paruh baya dengan rambut memutih di pelipis, sedang duduk di balik meja kerjanya. "Maaf, Pak," ucap Lexsa sopan sambil berdiri di ambang pintu, “aku diberitahu oleh Tuan Davin, katanya Bapak memanggilku. Ada apa, yah Pak?” Kepala panti menoleh, tersenyum, dan mengangguk pelan. “Iya, benar, Nona Lexsa.” Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju sofa di tengah ruangan. Gerakannya agak pelan, seakan tengah mempersiapkan pembicaraan yang berat. “Silakan duduk dulu, Nona Lexsa.” Lexsa menurunkan tas dari bahunya, lalu duduk di sofa empuk berwarna krem yang menghadap langsung ke sofa kepala panti. Posisi duduknya tegak, kedua tangannya bertumpu di pangkuan, menunggu penjelasan. Kepala panti menarik napas perlahan sebelum mulai berbicara. “Begini, Nona Lexsa, ada seseorang yang membutuhkan care giver. Dan dia…” pria itu menatapnya dengan sedikit ragu, “…meminta Nona Lexsa secara khusus untuk menjadi pengurusnya.” Alis Lexsa berkerut. “Memangnya siapa dia, Pak?” “Tuan Davin." Nama itu membuat mata Lexsa membesar. Ia hampir spontan berdiri. “Maaf, Pak. Tapi aku...” Ucapan itu terhenti. Bukan karena ia kehilangan kata-kata, melainkan karena kepala panti tiba-tiba menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a, menatapnya penuh harap seperti orang yang sedang memohon sungguh-sungguh. “Tolong, Nona Lexsa…” suara kepala panti sedikit bergetar, “jadilah caregiver Tuan Davin. Aku tidak sanggup menolak keinginannya. Dia adalah donatur tetap dan terbesar di panti ini. Kalau kita membuatnya marah… aku khawatir dia akan menarik dukungannya. Dan jika itu terjadi, anak-anak di sini yang akan menderita.” Kata-kata itu menghantam batin Lexsa. Ia memalingkan wajah sejenak, menatap ke arah jendela. Di luar sana, halaman panti terlihat lengang, hanya beberapa anak kecil yang sedang bermain alat musik berupa suling dan biola alunan lagu yang di mainkan anak-anak itu membuat Lexsa tenang. Senyum polos mereka berkelebat di benaknya, bercampur dengan bayangan Davin yang arogan, licin, dan menyebalkan. Ia menelan ludah. Hatinya berteriak menolak. Ia tahu betul bekerja dekat dengan Davin akan menguji kesabarannya habis-habisan. Namun di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan tatapan memohon kepala panti dan kenyataan bahwa panti ini benar-benar bergantung pada donasi Davin. “Pak…” ucapnya pelan, suaranya hampir berbisik, “Aku… tidak yakin aku sanggup. Dia itu...” "Aku tahu, Nona Lexsa,” potong kepala panti lembut, “aku tahu dia keras kepala dan sulit dihadapi. Tapi aku percaya kamu punya kesabaran dan keteguhan hati yang dibutuhkan. Hanya kamu yang bisa.” Lexsa terdiam. Kata-kata itu terasa berat. Ia menunduk, memandangi jemarinya yang saling meremas di pangkuan. Dalam hati, ia mencoba membuat daftar alasan untuk menolak, namun setiap alasan terhenti oleh bayangan wajah anak-anak panti yang selama ini ia ajar, yang mungkin akan kehilangan banyak hal jika donasi berhenti. Beberapa detik terasa seperti menit. Udara di ruangan seakan mengental. Akhirnya, ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. “Baiklah, Pak… Aku akan melakukannya.” Senyum lega terukir di wajah kepala panti. “Terima kasih, Nona Lexsa. Kau tidak tahu betapa berarti keputusan ini bagi kami semua.” *** Mobil hitam itu terparkir manis di depan gerbang panti rehab. Mesin masih menyala, mengalunkan dengung pelan yang berpadu dengan suara AC. Di kursi belakang, Davin duduk bersandar, tubuhnya tampak rileks, tapi jemarinya mengetuk-ngetuk paha pelan, irama yang hanya ia sendiri yang tahu. Wajahnya mengarah ke depan, tapi mata yang redup karena keterbatasan penglihatannya tak benar-benar fokus. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Lexsa pasti menolak mentah-mentah. Itu kesimpulan yang sudah ia yakini sejak pagi. Perempuan itu bukan tipe yang mudah dibujuk, apalagi oleh dirinya. Satu-satunya yang membuat Davin penasaran adalah—apa cara yang akan dipakai kepala panti untuk membuatnya mau? Keheningan di dalam mobil akhirnya pecah ketika Arga, yang duduk di kursi kemudi, bersuara sambil sedikit menoleh ke luar jendela. “Itu Nona Lexsa, Tuan.” Davin langsung tegak. “Dimana dia sekarang?” tanyanya cepat. “Dia baru saja keluar dari gerbang,” jawab Arga. Tanpa aba-aba, keduanya serempak menurunkan kaca jendela. Angin sore yang agak hangat menerobos masuk, membawa aroma dedaunan kering. “Nona Lexsa!” panggil Arga lantang. Lexsa yang sedang melangkah keluar gerbang menoleh spontan. Begitu matanya menangkap sosok Davin di kursi belakang mobil, wajahnya seketika memancarkan kemalasan yang nyaris tak disembunyikan. Namun, karena suara Arga terlalu jelas dan ia tahu tak mungkin pura-pura tak dengar, ia akhirnya melangkah menghampiri. Davin menangkap langkahnya dari suara yang semakin dekat. Bibirnya membentuk senyum kecil. “Masuklah,” ucapnya singkat, nada suaranya lebih mirip ajakan yang tak memberi pilihan. Lexsa menarik napas dalam. Seluruh tubuhnya menolak untuk berada satu mobil dengan pria ini. Tapi janji yang ia buat pada kepala panti dan status barunya sebagai caregiver Davin memaksanya untuk patuh. Dengan langkah berat, ia menuju pintu sisi kiri mobil. Davin mendengar bunyi pintu dibuka. Tumben dia nurut, pikirnya, sedikit terkejut. Lexsa masuk dengan wajah cemberut, menutup pintu agak keras, lalu duduk di samping Davin. Aroma lembut parfumnya memenuhi ruang kabin. Arga memindahkan gigi persneling, dan mobil mulai meluncur perlahan keluar dari area panti. “Kau sudah menemui kepala panti?” tanya Davin membuka percakapan, suaranya terdengar santai tapi penuh selidik. “Iya,” jawab Lexsa singkat, matanya menatap lurus ke luar jendela. “Tapi ingat, aku hanya akan menjadi caregiver-mu selama sembilan puluh hari. Setelah itu, aku kembali mengajar seperti biasa di panti rehab.” “Baiklah,” Davin menjawab ringan. Tapi di balik itu, ia menyimpan senyum tipis. Wah… trik apa yang dipakai kepala panti sampai Lexsa setuju? pikirnya, menahan rasa penasaran. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Lexsa berbalik menatapnya, wajahnya jelas menyimpan kekesalan. “Aku baru tahu kalau kau memang lelaki licik. Bisa-bisanya kau mengancam kepala panti akan berhenti jadi donatur kalau aku tidak mau menjadi caregiver-mu.” Alis Davin terangkat, senyumnya tipis. Jadi itu alasannya… Ia tidak membantah, tidak juga membenarkan. Sebaliknya, ia hanya bersandar lebih nyaman, seperti seseorang yang tahu ia baru saja memenangkan sesuatu. "Aku juga menerima menjadi care givermu juga karena aku pikir ini kesempatanku untuk balas budi padamu karena kau perna menolongku dulu saat pingsan di depan lift." pikir Lexsa Mobil melaju melewati jalanan kota. Di luar, sinar matahari sore menyorot miring, membuat bayangan pohon memanjang di aspal. Di dalam mobil, suasana kembali hening, namun bukan hening yang nyaman—lebih seperti ruang yang dipenuhi ketegangan tak terucap. Lexsa memeluk tasnya erat-erat di pangkuan, sesekali menggeser pandangannya ke luar, mencoba mengabaikan kehadiran Davin di sampingnya. Sementara Davin, meski matanya tak bisa melihat dengan jelas, tetap merasakan aura enggan yang dipancarkan Lexsa. Dan itu, entah kenapa, justru membuatnya sedikit terhibur. “Jadi,” ucap Davin akhirnya, memecah hening, “Apa rencanamu untuk membuat sembilan puluh hari itu cepat berlalu?” Lexsa menoleh tajam. “Dengan tidak banyak bicara denganmu,” balasnya cepat. Senyum Davin melebar. “Kedengarannya… akan sangat membosankan untukku.” Lexsa hanya mendengus, lalu kembali memandang keluar jendela. Dalam hatinya, ia bertekad—apapun yang terjadi, ia akan bertahan hanya sampai batas waktu yang ia tetapkan. Sembilan puluh hari. Tidak lebih. Bagi Davin, sembilan puluh hari itu justru terasa seperti tantangan. Dan duduk di samping Lexsa hari ini hanyalah awal dari permainan yang baru dimulai. bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD