Pagi itu, udara di halaman panti rehabilitasi terasa segar, meski matahari baru saja menyembul di balik gedung-gedung. Suara tawa dan candaan anak-anak didikan panti terdengar memenuhi udara. Mereka bercanda dengan riang, meskipun semua berada dalam keterbatasan penglihatan. Ada bunyi langkah kaki kecil berlarian, ada pula suara riuh rendah dari beberapa anak yang tengah berdiskusi di bangku panjang dekat taman.
Davin melangkah perlahan namun mantap, tongkat putih di tangannya bergerak teratur, menyentuh lantai sebagai penunjuk jalan. Ia mengenakan kemeja putih rapi dengan lengan yang digulung hingga siku, memberi kesan tegas namun santai.
Kevin, yang baru saja tiba di panti, memperhatikan sosok Davin dari kejauhan. Biasanya, setiap kali datang ke panti rehabilitasi, Davin langsung menuju ruang pengajar untuk menyiapkan materi ajarnya. Namun pagi ini, langkahnya berbeda. Alih-alih lurus menuju kelas, ia malah berbelok ke arah ruangan kepala panti.
Kevin mengerutkan dahi. "Tumben sekali dia pergi ke ruangan kepala panti rehab," gumamnya. Namun ia memilih untuk tidak terlalu penasaran dan segera melanjutkan langkah menuju ruang pengajar.
Davin tiba di depan pintu ruangan kepala panti. Ia mengetuk pelan, tiga kali. Tak butuh waktu lama, terdengar suara lelaki paruh baya yang ramah dari dalam.
"Masuk."
Davin membuka pintu perlahan lalu melangkah masuk. Kepala panti rehab, seorang pria berumur sekitar lima puluh tahun dengan rambut yang mulai memutih di pelipis, langsung berdiri menyambutnya.
"Silakan masuk, Tuan Davin," ucapnya dengan sopan.
Davin membalas dengan anggukan kecil sebelum duduk di sofa yang berada di hadapan meja kerja. Kepala panti ikut duduk, namun dalam hati ia tidak tenang. Ini pertama kalinya Davin datang ke ruangannya secara langsung, dan itu membuatnya bertanya-tanya. Apakah ada masalah? Apakah ia akan ditegur atas suatu kesalahan?
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Davin?" tanya kepala panti hati-hati.
Davin mengangguk pelan, lalu tanpa basa-basi berkata, "Aku ingin satu care giver."
Kepala panti tertegun, dahinya berkerut. Ia teringat, beberapa waktu lalu ia pernah menawarkan pada Davin seorang care giver sebagai bentuk terima kasih karena lelaki itu adalah donatur tetap—dan terbesar—di panti. Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah. Bahkan, saat itu Davin marah besar, menganggap tawaran itu sebagai bentuk meremehkan keterbatasan penglihatannya.
Tapi kini… Davin sendiri yang memintanya.
"Baiklah, Tuan Davin. Saya akan meminta salah satu petugas panti untuk menjadi care giver Anda," jawab kepala panti, berusaha terdengar tenang.
Namun Davin langsung menimpali, "Aku menginginkan anggota sukarelawan baru yang menjadi care giver-ku."
Kepala panti terdiam sejenak. Ia mulai paham arah pembicaraan ini. "Apa maksud Anda… Nona Lexsa?"
Davin mengangguk membenarkan. Senyum tipis muncul di wajahnya, seolah ia sudah memikirkan ini sejak lama.
"Bagaimana jika petugas panti tetap saja yang menjadi care giver Anda, Tuan? Setidaknya mereka sudah terbiasa dan profesional," tawar kepala panti mencoba bernegosiasi.
Namun Davin menggeleng tegas.
"Tidak. Aku hanya mau Lexsa."
Suasana ruangan seketika terasa lebih berat. Kepala panti tahu ia berada di posisi sulit. Sebagai donatur terbesar, Davin memiliki kuasa yang tak bisa ia abaikan. Menolak permintaan ini berarti berisiko kehilangan dukungan finansial yang sangat dibutuhkan panti.
Akhirnya, kepala panti hanya bisa menghela napas pelan dan mengangguk.
"Baiklah, Tuan Davin. Saya akan mengatur agar Nona Lexsa menjadi care giver Anda."
Senyum puas muncul di wajah Davin. Tanpa banyak bicara lagi, ia bangkit dari duduknya, berpamitan, dan melangkah keluar ruangan dengan tongkatnya yang bergerak mantap di lantai. Di kepalanya, rencana yang ia susun sudah mulai berjalan.
***
Lorong panti rehabilitasi pagi itu terasa tenang. Cahaya matahari yang masuk lewat jendela panjang memantul di lantai yang mengilap, menciptakan suasana hangat. Langkah pelan namun mantap terdengar di ujung lorong. Davin, dengan kemeja putih dan celana panjang hitam, menapaki tangga menuju lantai dua. Tongkat putihnya bergerak teratur di depan tubuhnya, setiap ketukan kecilnya di lantai seolah menjadi irama yang memandu langkahnya.
Ia tidak terburu-buru. Gerakannya tenang, seperti seseorang yang tahu persis ke mana ia akan pergi. Setelah tiba di lantai dua, ia melangkah menyusuri lorong hingga berhenti di depan sebuah pintu kelas. Dari dalam, terdengar suara tawa dan obrolan ringan anak-anak. Itulah kelas kesenian milik Lexsa.
Davin berdiri di sisi kiri ambang pintu. Meski matanya tak mampu melihat, ia "memperhatikan" melalui suara-suara yang datang dari dalam kelas.
"Miss Lexsa, apakah ini sudah benar bentuk origami burungnya?" terdengar suara salah satu murid yang duduk di meja dekat jendela.
Lexsa mendekat, memperhatikan hasil lipatan kertas di tangan anak itu. Dari tatapannya, terlihat bahwa origami itu belum sempurna. Senyum tipis muncul di wajahnya. Ia lalu memegang tangan murid itu dengan lembut, membimbing lipatan demi lipatan.
"Setelah itu, lipat bagian sisi ini," ucapnya pelan, suaranya hangat dan penuh kesabaran.
Murid itu tersenyum lebar. "Aah, aku mengerti sekarang, Miss. Tadi aku salah melipatnya."
Lexsa tersenyum kembali, mengusap pelan kepala murid itu. "Baiklah, kalau begitu lanjutkan."
Ia kemudian berjalan meninggalkan meja murid tersebut, langkahnya ringan. Namun ketika ia berbalik, pandangannya langsung menangkap sosok yang berdiri di sisi pintu—Davin. Lelaki itu tersenyum tipis, seolah menunggu sejak tadi.
"Davin?" gumamnya pelan, hampir tak percaya.
Lexsa tahu, hari ini Davin tidak memiliki jadwal mengajar di panti. "Setahuku dia tidak ada kelas hari ini… lalu kenapa dia datang ke sini?" pikirnya, sedikit bingung.
Ia melangkah mendekati pintu. Tangannya menyentuh lengan Davin, dan seperti sudah menduga, Davin tidak terkejut sama sekali. Lelaki itu mengenali aroma parfumnya yang khas—aroma yang sudah begitu familiar di indranya.
Tanpa banyak bicara, Lexsa menuntun Davin menjauh beberapa langkah dari pintu kelas, cukup agar suara mereka tidak terdengar oleh murid-murid yang sedang serius membuat origami.
"Bukankah kau tidak ada kelas hari ini?" tanya Lexsa, suaranya datar namun sarat rasa ingin tahu.
"Iya," jawab Davin singkat.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lexsa lagi, kali ini nadanya sedikit lebih menekan.
"Aku ada beberapa urusan di panti, jadi aku datang," jawab Davin dengan nada santai. Lalu, seakan teringat sesuatu, ia menambahkan, "Oh iya, ketua panti memanggilmu ke ruangannya."
Lexsa mengangguk kecil tanda mengerti. "Aku akan menemui ketua panti nanti, setelah kelas ini berakhir."
Davin hanya mengangguk. Tidak ada percakapan panjang setelah itu. Lexsa pun kembali melangkah ke arah pintu kelas, membiarkan Davin berdiri di lorong, sementara tawa kecil dan suara kertas yang dilipat kembali memenuhi udara di balik pintu itu.
Bersambung