Setelah acara makan malam berakhir, suasana malam di luar restoran mulai terasa dingin. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke trotoar yang basah akibat gerimis yang turun sejak sore. Rombongan para pengajar panti rehab, sebagian sudah lebih dulu pulang. Lexsa berjalan paling akhir, langkahnya sedikit terhambat karena ia membantu Davin menuruni anak tangga restoran.
Awalnya Kevin menawarkan diri untuk membantu, namun Davin langsung menolak mentah-mentah.
"Tidak perlu, biar Lexsa saja."
Nada suaranya tenang, tapi terdengar seperti penegasan yang tak bisa dibantah.
Lexsa hanya bisa tersenyum tipis, meski sebenarnya ia agak bingung kenapa Davin bersikeras begitu. Ia tahu sifat Davin yang biasanya enggan dibantu, apalagi soal berjalan, tapi entah kenapa malam ini ia seperti sengaja membiarkan dirinya tampak membutuhkan Lexsa.
Begitu sampai di depan restoran, suasana sudah sepi. Hanya ada mereka bertiga: Lexsa, Davin, dan Kevin. Mobil-mobil lalu-lalang di jalan, menyisakan suara mesin dan klakson samar.
Lexsa melirik ke kiri dan kanan, mencari sosok yang sejak tadi ia tunggu. Namun… Arga tak terlihat di mana pun.
"Dimana lelaki yang mengantarmu ke restoran tadi?" tanya Lexsa sambil menoleh ke arah Davin. Ia tahu Davin paham siapa yang dimaksud.
"Mungkin dia sudah pulang," jawab Davin santai, sudut bibirnya terangkat sedikit. Dalam hati, ia merasa lega. Setidaknya, tanpa Arga, ia punya kesempatan pulang bersama Lexsa.
Kevin menatap keduanya lalu berkata, "Aku akan memesankan taksi untukmu, Tuan Davin. Anda bisa pulang sendiri."
Mendengar itu, kening Davin berkerut.
"Kenapa aku harus pulang sendiri? Tentu aku akan pulang bersama Lexsa. Kami tinggal bersama."
Ucapan itu membuat mata Lexsa langsung membesar. Kevin, yang berdiri di samping mereka, menatap Lexsa penuh tanda tanya.
Lexsa tertawa kecil, mencoba menghilangkan ketegangan. Sambil memukul pelan perut Davin, ia berkata, "Jaga ucapanmu, Tuan Davin. Bisa-bisa orang salah paham."
"Tapi memang benar kita tinggal bersama, bukan?" balas Davin, nada suaranya seolah sengaja menambah kesalahpahaman itu.
Kevin langsung menatap Lexsa serius. "Apa itu benar, Nona Lexsa?"
Lexsa menarik napas, mencoba menjelaskan, "Sebenarnya tidak seperti yang kau pikirkan. Kebetulan apartemenku dan apartemen Tuan Davin berada di gedung yang sama… dan lantai yang sama."
Kevin tampak lega, mengangguk pelan. Ia lalu menatap Davin dengan sedikit kesal.
"Itu bukan tinggal bersama namanya, Tuan Davin."
Davin hanya terdiam, tidak menanggapi, seolah sengaja membiarkan Kevin kesal.
Sebelum ketegangan berlanjut, sebuah taksi berhenti di tepi jalan, menarik perhatian mereka bertiga.
"Taksinya sudah tiba," ujar Kevin.
Tanpa ragu, Davin meraih tangan Lexsa, jemarinya mencengkeram erat.
"Tunjukkan pintu taksinya. Kita harus segera pulang," katanya singkat, ketus.
Lexsa sedikit terkejut dengan sentuhan itu, tapi ia tidak menolak. Kevin yang melihat pemandangan itu hanya mengerutkan kening. Ia mengenal Davin cukup lama, dan biasanya Davin paling anti dibantu. Jika ada yang mencoba menuntunnya, Davin akan merasa diremehkan. Tapi dengan Lexsa… entah kenapa ia justru memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk membiarkan dirinya terlihat tak berdaya.
"Kalau begitu, kami pergi dulu, Pak Kevin," ucap Lexsa sopan sambil menoleh sebentar.
Kevin mengangguk, meski tatapannya mengikuti mereka sampai pintu taksi tertutup. Hatinya gelisah, seperti ada sesuatu di antara Lexsa dan Davin yang belum ia mengerti.
Begitu taksi mulai melaju, lampu-lampu kota memantul di kaca jendela. Di dalam taksi, suasana hening sesaat. Hanya suara hujan yang semakin deras memecah keheningan itu.
Lexsa menoleh pada Davin. "Jangan lagi kau berkata bahwa kita tinggal bersama karena itu tidak benar." omel Lexsa membuat Davin tersenyum tipis.
"Apanya yang tidak benar Lexsa, kita memang tinggal bersama." balas Davin "Lagian kenapa memangnya jika aku mengatakan yang sebenarnya, memang betul bukan kita tinggal bersama."
Mendengar ucapan Davin emosi Lexsa ssdikit memuncak, ia menarik nafas dalam lalu di hembuskannya "Sabar, sabar Lexsa." gumam Lexsa pelan lalu ia menatap Davin.
"Ku tegaskan sekali lagi bahwa kita tidak tinggal bersama, kita hanya tinggal di gedung dan lantai yang sama jadi berhenti mengatakan bahwa kita tinggal bersama aku tidak mau orang salah paham akan ucapanmu." Ucap Lexsa melampiaskan emosinya dan Davin hanya diam tidak memberikan respon apapun.
***
Udara malam di apartemen Davin terasa hangat, kontras dengan hawa dingin di luar. Begitu pintu apartemennya tertutup, lelaki itu langsung melangkah menuju sofa tanpa melepas sepatu. Mantel panjangnya ia lepaskan begitu saja dan jatuh di sisi sofa. Tubuhnya terhempas ke sandaran empuk, dan ia memiringkan kepalanya, membiarkan napasnya teratur kembali setelah perjalanan pulang.
Wajahnya mengerut, seolah pikirannya sedang dipenuhi banyak hal. Tidak ada suara lain selain dengung samar pendingin ruangan. Beberapa menit berlalu dalam keheningan sebelum akhirnya Davin menegakkan tubuhnya. Matanya, yang kosong namun penuh bayangan pikiran, menatap ke arah jauh yang tak bisa ia lihat. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum.
"Aku memiliki ide… ide yang akan membuat Lexsa bersamaku sepanjang hari," gumamnya pelan, hampir seperti rahasia yang ia bisikkan pada dirinya sendiri. Ada nada kepuasan dalam suaranya, seakan ia baru saja menemukan celah yang akan menguntungkan dirinya.
Sementara di sisi lain, di apartemen tepat sebelah unit Davin, Lexsa baru saja memasuki ruang tamunya. Begitu pintu tertutup, langkahnya goyah. Keseimbangannya nyaris hilang, tubuhnya miring, dan ia buru-buru menahan diri pada dinding. Napasnya tercekat, dan rasa sakit yang tajam menghantam kepalanya seperti ada tangan tak terlihat yang meremas otaknya dari dalam.
"Ah…," desisnya lirih.
Kulit wajahnya mendadak pucat. Dengan langkah tertatih, ia memaksa dirinya berjalan ke sofa. Begitu tiba, ia langsung menjatuhkan diri, tubuhnya tenggelam di antara bantal-bantal. Tangannya bergetar saat meraih botol air mineral yang sudah ia letakkan di meja. Air itu ia teguk terburu-buru, mencoba meredakan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.
Dengan tangan lain, ia merogoh tas yang tergeletak di lantai. Dari dalam, ia mengeluarkan botol kecil berisi obat-obatan. Tanpa ragu, ia menuang satu butir pil berwarna putih ke telapak tangannya. Ia menelannya bersama sisa air di botol, lalu menjatuhkan kepala ke sandaran sofa, matanya terpejam rapat.
Sesekali, alisnya berkerut, dan bibirnya mengerang pelan ketika rasa sakit itu kembali menyerang. Pucat di wajahnya semakin jelas, seakan darah di tubuhnya mengalir terlalu lambat.
Di tengah rasa perih itu, Lexsa membuka matanya sedikit. Tatapannya kosong, tapi senyum getir muncul di bibirnya.
"Tampaknya ucapan dokter itu benar… usiaku tidak akan lama lagi," gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar di ruangan yang sepi. Kata-kata itu menggantung di udara, menambah berat yang sudah menekan dadanya selama berbulan-bulan. Sakit di kepalanya bukan hanya rasa nyeri fisik—itu adalah pengingat, setiap hari, bahwa waktu yang ia miliki semakin menipis.
bersambung!..