Makan malam

1277 Words
Mobil hitam itu terparkir di seberang sebuah restoran mewah di pusat kota. Di dalamnya, suasana begitu tegang meski AC menderu pelan. Davin duduk di kursi penumpang bagian belakang, tubuhnya sedikit condong ke depan, jemarinya menggenggam tongkat hitam yang selalu menemaninya. "Arga," panggilnya, nada suaranya berat dan penuh tekanan. "Apa yang sedang dilakukan Lexsa dan Kevin di dalam sana?" Arga yang duduk di kursi kemudi menoleh sekilas ke arah restoran. Melalui kaca jendela besar, ia bisa melihat Lexsa duduk di meja pojok, bersama Kevin dan beberapa orang lain. Dari cara Lexsa tersenyum dan sesekali mengangguk, suasananya tampak cair dan menyenangkan. Namun, melihat wajah majikannya yang tegang, Arga tiba-tiba merasa gatal ingin mengusik. Sebuah ide nakal muncul. "Suasananya… romantis, Tuan," jawab Arga pura-pura serius. "Nona Lexsa dan Pak Kevin duduk bersampingan, saling menatap dalam sambil berbincang." Alis Davin mengerut. Rahangnya menegang. "Tatapan dalam?" ulangnya pelan, seolah sedang menimbang sesuatu. Arga menahan senyum. "Ya. Ah, sebentar…" ia pura-pura terkejut, suaranya dibuat dramatis. "Pak Kevin… sedang menyuapi Nona Lexsa." Kali ini darah Davin benar-benar mendidih. Ia mengetukkan tongkatnya ke lantai mobil. "Cukup." Gerakannya cepat, pintu mobil terbuka kasar. Arga terkekeh dalam hati. Pancingannya berhasil. Namun begitu melihat Davin benar-benar berniat masuk ke restoran, ia buru-buru mematikan mesin mobil dan keluar untuk mengikuti. Trotoar sore menjelang malam itu cukup ramai, tapi langkah Davin yang tegap dan pasti membuat orang-orang otomatis memberi jalan. Tongkatnya mengetuk permukaan beton, iramanya cepat dan teratur. "Arga, buka pintu," perintahnya singkat. Arga dengan sigap membuka pintu restoran. Suara lonceng kecil di atas pintu berbunyi, membuat beberapa pengunjung menoleh. Sorot mata mereka mengikuti sosok Davin yang masuk, diiringi seorang pria muda berbadan tegap di belakangnya. Arga menuntunnya melewati lorong sempit di antara meja-meja, sampai akhirnya tiba di meja yang menjadi sasaran mereka. Lexsa yang tengah mengangkat gelasnya terkejut melihat Davin berdiri di sana dengan wajah marah, dan cemberut. "Davin?" serunya pelan, hampir tak percaya melihat sosok Davin begitupun dengan yang lain juga. Namun Davin tak menjawab. Dengan percaya diri, ia menarik kursi kosong dan duduk—tepat di antara Lexsa dan Kevin. mengmabil posisi tengah. Kehadirannya seperti petir di siang bolong diantara Lexsa dan Kevin. Kevin menoleh sekilas, lalu bangkit soalnya tempat duduknya sudah terasa sempit akan kehadiran Davin, Kevin beranjak bangun sambil berkata datar, "Kalau begitu, aku pindah kursi saja." "Silakan," jawab Davin tanpa basa-basi malah terkesan senang, wajahnya seakan mengejek untuk mengatakan akulah pemenangnya. Arga yang merasa misinya sudah selesai—dan tak mau ikut terjebak di situasi panas—berdehem pelan. "Kalau begitu, aku permisi sebentar." Tanpa menunggu jawaban, ia mundur perlahan, lalu berbalik dan pergi dengan cepat, pura-pura tidak mendengar saat Lexsa memanggilnya. Suasana meja itu langsung berubah kaku. Denting sendok dan garpu dari meja-meja lain terasa sangat jauh. Lexsa meletakkan gelasnya perlahan ia mendekati wajah Davin untuk berbisik agar yang lain tidak mendengarnya "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya, menahan nada suaranya agar tidak terdengar marah di depan tamu lain. Davin memiringkan kepalanya sedikit ke arah suara Lexsa. "Aku hanya ingin memastikan semua berjalan… sesuai keinginanku." Lexsa menyerengit lalu menghela napas. "Kalau kau memang ingin ikut kenapa tidak bilang dari awal." ucap Lexsa lagi. "Awalnya aku memang tidak ingin ikut," Davin tersenyum tipis, meski matanya yang kosong tetap menatap lurus "Tapi berubah pikiran karena ada seekor marmud mencoba mengambil sayuranku." Jawaban Davin itu membuat Lexsa terdiam lalu menyerengit bingung "Apaan sih, ditanya apa jawabnya apa?" Ucap Lexsa "Kalau kau takut marmudnya ambil sayuranmu kenapa datang ke sini kenapa tidak cegah marmudnya ambil sayurannya." Davin tersenyum lalu menjawab "Itulah kenapa aku ada disini sekarang." Sahutnya semakin membuat Lexsa bingung. "Dasar cowok gak jelas." Gumam Lexsa pelan, Davin mendengar itu tapi hanya tersenyum untuk merespon. Davin merabah diatas meja berusaha mencari posisi gelas melihat itu dengan gerakan pelan Lexsa mendekatkan gelas itu pada tangan Davin, Davinpun langsung meraih gelas air mineral di depannya, meneguk sedikit, lalu berkata santai seakan tak ada ketegangan. "Jadi, apa makanannya enak?" Lexsa menatapnya lama, mencoba membaca maksud di balik ekspresi tenang itu. "Ya," jawabnya singkat. Kevin yang kini duduk agak jauh, memperhatikan interaksi mereka dengan tatapan sulit ditebak. Ia tahu Davin buta, tapi pria itu memiliki aura yang mampu mendominasi ruangan tanpa perlu melihat. "Kalau begitu," ucap Davin sambil mengembalikan gelasnya ke meja, "kau tidak keberatan kalau aku ikut makan di sini, kan?" Lexsa hampir menjawab, tapi urung. Ia hanya menarik napas dan mengangguk pelan. "Terserah." Suara riuh rendah dari meja-meja lain di restoran itu tak mampu mengalihkan fokus Lexsa pada potongan steak di piringnya. Aroma daging panggang berpadu dengan saus lada hitam memenuhi udara, membuat suasana makan malam terasa hangat. Namun, ketenangan Lexsa terusik saat mendengar suara seseorang di sampingnya. “Aaaaahhh…” Lexsa spontan menoleh, keningnya berkerut. Di sebelahnya, Davin dengan wajah datar namun mulut terbuka lebar seperti anak kecil menatap ke arahnya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Lexsa dengan nada bingung sekaligus tak percaya. Davin segera menutup mulutnya, lalu menjawab singkat. “Apa lagi? Aku meminta makananmu. Katamu makanannya enak, maka aku memintanya.” Lexsa memutar bola matanya. “Kenapa tidak pesan saja?” “Terlalu lama menunggu jika dipesan. Aku sudah sangat lapar,” jawab Davin santai, lalu kembali membuka mulutnya lebar-lebar, seperti seekor burung kecil yang menunggu disuapi. Lexsa mendesah berat. “Kau ini…” Ia mengambil sepotong kecil daging steak di piringnya, lalu dengan rasa malas yang tak ia sembunyikan menyuapkan daging itu ke mulut Davin. Lelaki itu langsung mengunyahnya dengan penuh kenikmatan, bahkan tersenyum lebar seakan-akan steak itu adalah makanan terenak di dunia. “Kenapa jadi aku yang harus mengurusmu?” gumam Lexsa pelan. “Karena kau yang duduk di sampingku,” balas Davin tanpa ragu. Lexsa sontak menatapnya, lalu mendorong kursinya ke belakang hendak pindah tempat duduk. Namun sebelum ia sempat bangkit, Davin dengan refleks cepat menarik ujung bajunya. Gerakannya asal-asalan, tapi cukup untuk membuat Lexsa terduduk kembali di kursinya. Lexsa hanya bisa ternganga. “Kau...” Namun Davin sudah kembali membuka mulutnya, memberi isyarat jelas bahwa ia ingin suapan berikutnya. Tatapan matanya, meski buta, terasa memaksa Lexsa untuk patuh. Dengan malas, Lexsa menusukkan garpu ke potongan daging berikutnya dan menyuapkannya ke mulut Davin. Lelaki itu kembali mengunyah sambil mengeluarkan suara puas yang membuat Lexsa semakin gemas. “Kalau begini terus, aku bisa kelaparan,” gerutu Lexsa sambil memotong steaknya menjadi bagian-bagian kecil. “Tenang saja, aku tidak akan menghabiskan semua milikmu… hanya sebagian,” ucap Davin dengan nada bercanda yang jarang ia keluarkan. Lexsa menatapnya lama. “Aku tidak tahu, kau ini sedang menguji kesabaranku atau memang menyebalkan sejak lahir.” Davin tertawa kecil, tawa yang membuat beberapa orang di meja lain menoleh. “Mungkin keduanya.” Suasana di meja itu menjadi aneh, campuran antara jengkel dan canggung. Kevin, yang tadi duduk di samping Lexsa sebelum pindah kursi karena kedatangan Davin, kini hanya bisa mengamati dari jauh. Sesekali ia menatap Lexsa, seakan bertanya dalam hati kenapa gadis itu mau saja menuruti tingkah aneh Davin. Arga, yang sejak tadi memperhatikan dari sudut ruangan, tersenyum geli. Ia tahu betul kalau Davin sebenarnya hanya mencari alasan untuk berada dekat dengan Lexsa. Cara yang digunakan memang terkesan kekanak-kanakan, tapi bagi Arga, itu adalah salah satu momen langka di mana Davin terlihat “hidup” dan bukan sekadar lelaki dingin yang selalu menjaga jarak. Lexsa, meski kesal, mulai terbiasa menyuapi Davin. “Kunyah yang benar, jangan buru-buru. Aku tidak mau bertanggung jawab kalau kau tersedak,” katanya sambil memotong potongan daging berikutnya. Davin mengangguk. “Baik, Bu Guru.” Nada menggoda itu membuat Lexsa ingin memukulnya dengan sendok, tapi ia menahan diri. "Aku menjadi suka relawan karena ingin mengumpulkan pahala sebelum meninggal tapi karena lelaki aneh ini bukannya pahala yang ku dapat justru dosa." pikir Lexsa sambil menatap Davin yang terlihat menikmati makanannya. bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD