Pagi itu, cahaya matahari menelusup lembut melalui celah tirai kamar Lexsa. Udara terasa hangat, namun tubuhnya masih diselimuti rasa lemah. Lexsa terbangun perlahan, matanya membuka dengan sedikit kesulitan. Pandangannya buram beberapa detik sebelum akhirnya kembali jelas. Wajahnya masih terlihat pucat, meski tak sepucat semalam. Ia mengusap pelipis dengan jari-jarinya, mencoba mengusir sisa nyeri yang berdenyut di kepalanya. Rasa sakit itu masih ada, namun tak lagi sekeras semalam. Setidaknya kini ia bisa bernapas tanpa rasa seperti pecahan kaca menekan otaknya. Dengan gerakan pelan, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layar ponsel menyala, memantulkan bayangan dirinya yang tampak letih. Jemarinya mulai menari di atas layar, mengetik pesan singkat untuk kedua orang tuanya.

