undangan

1022 Words
Kotak kecil berwarna putih itu tergeletak di meja, sedikit miring karena tadi dilempar begitu saja oleh Davin. Awalnya, Lexsa mengira itu hanya kotak ponsel bekas, berpikir mungkin Davin ingin membuangnya atau memberikannya untuk hal lain. Namun rasa penasaran menggerakkan tangannya. Perlahan, Lexsa membuka tutup kotak itu. Matanya langsung membesar. “Eh… ini… ponsel baru?” bisiknya tak percaya. Masih terbungkus rapi, plastik pelindungnya belum terbuka, dan bau khas barang baru langsung tercium samar. Tanpa pikir panjang, Lexsa berdiri dari kursinya, kotak itu masih di tangannya, lalu melangkah cepat menghampiri Davin yang duduk di ujung ruangan. "Kenapa kau melempar ponselmu?" tanyanya, setengah heran setengah protes. Davin mengangkat wajahnya sebentar, tatapannya kosong memandang kejauhan. "Tadi aku membeli barang, dan ponsel itu gratisannya. Jika kau tidak mau ponsel itu, kau bisa membuangnya." Ucapannya dingin, seolah memberi sesuatu padanya bukan hal besar. Lexsa menyerengit "Orang ini kalau ngomong selalu tanpa perasaan," pikirnya. Tapi tetap saja, hatinya berdebar senang. Ponsel ini bisa menggantikan ponselnya yang hilang semalam, saat kembali ke apartemenya ia memeriksa tempat ia pingsan dan sudah tidak menemukan tas serta barang-barangnya yang lain, mungkin sudah di ambil orang lain. "Boleh aku mengambil ponsel ini?" tanya Lexsa lagi, kali ini nadanya lebih cerah. Davin menghela napas berat, seperti kesal karena pertanyaannya berulang-ulang. "Gadis bodoh… aku melemparkannya padamu karena memang ingin memberikannya untukmu," gumamnya pelan. Sayangnya, suara itu terlalu lirih untuk dapat didengar Lexsa. "Ponsel ini boleh untukku?" ulang Lexsa lagi. "Hm." Hanya itu jawaban Davin, pendek dan dingin. Lexsa tersenyum puas. "Baiklah," ucapnya lalu kembali ke meja kerjanya, membuka plastik pelindung ponsel baru itu, dan mulai mengotak-atiknya dengan rasa girang yang sulit disembunyikan, sebenarnya Lexsa mampu membeli ponsel baru hanya saja ada yang gratis kenapa harus beli? pikir Lexsa saat itu. *** Tak lama berselang, pintu ruang pengajar terbuka. Seorang lelaki muda, mungkin berusia akhir dua puluhan, melangkah masuk. Penampilannya rapi, kemeja biru muda dengan lengan tergulung, rambut hitam tersisir ke belakang, dan senyum ramah yang langsung menyapa ruangan. "Lexsa?" panggilnya sambil melangkah mendekati meja Lexsa mengabaikan Davin yang juga ada di ruangan saat itu. Lexsa menoleh, masih memegang ponsel barunya. "Iya, Pak Kevin?" jawabnya sambil meletakkan ponsel di meja. Dari ujung ruangan, Davin yang sedang membaca beberapa dokumen mendongak sekilas. Alisnya sedikit mengerut ketika mendengar nada suara Kevin ramah, terlalu ramah, menurutnya. "Nanti setelah kegiatan di panti rehabilitasi selesai, ayo ikut kumpul-kumpul makan bareng sama pengajar yang lain. Itung-itung sebagai acara sambutan atas kehadiranmu," ajak Kevin, senyumnya tak lepas dari wajah. Lexsa mengangguk cepat, merasa senang karena diterima dengan hangat oleh rekan kerja barunya. "Baiklah, Pak Kevin," jawabnya dengan nada riang. Sekilas, Lexsa melirik ke arah Davin. Dalam hati, ia berpikir untuk mengajaknya ikut. Lagipula, akan lebih menyenangkan jika semua pengajar hadir. Tapi sebelum sempat membuka mulut, Kevin mengangkat tangannya sedikit, menghentikan niat Lexsa. "Tidak perlu mengundang Pak Davin," katanya santai, tapi ada nada pasti dalam suaranya. "Dia pasti tidak akan pernah mau ikut." Lexsa terdiam, sedikit bingung. Ucapannya terdengar seperti peringatan tapi melihat dari sifat dan watak Davin, Lexsa berpikir apa yang dikatakan Kevin ada benarnya si Davin pasti tidak akan ikut ke acara itu. Davin yang diam-diam mendengar, tetap menunduk pura-pura sibuk, tangannya merabah diatas lembar dokumen yang di tulis dalam huruf braille tapi telinganya fokus pada percakapan Lexsa dan Kevin. Dalam hati, ia berharap Lexsa tetap mengundangnya. Tapi… gadis itu justru mengangguk dan mengikuti ucapan Kevin. "Baiklah," ucap Lexsa singkat, mengurungkan niatnya. Suasana yang tadinya terasa normal, mendadak tegang di sudut ruangan tempat Davin duduk. Ia menutup map dokumen dengan sedikit lebih keras dari seharusnya. Lalu, dengan wajah cemberut, ia berdiri. Kaki kursinya bergeser dengan suara berderit keras, membuat Lexsa dan Kevin menoleh. Lexsa mendongak, sedikit terkejut. "Eh, Pak Davin mau pulang?" tanyanya. Davin berhenti lalu menghela nafas berat. "Hari ini cuma ada satu kelas. Jadi ya, aku pulang," jawabnya datar, lalu berjalan menuju pintu. Lexsa hampir memanggilnya lagi, tapi langkah Davin sudah melewati ambang pintu. Kevin yang berdiri di dekat meja Lexsa hanya tersenyum tipis. Pintu menutup. Suara langkah Davin perlahan menghilang di lorong. Lexsa menatap pintu itu sesaat, merasa ada sesuatu yang tidak enak di hatinya. Seolah ia baru saja membiarkan seseorang pergi dalam keadaan kesal. Tapi ia tak tahu kenapa—atau mungkin enggan mengakuinya—bahwa ekspresi cemberut Davin tadi sedikit mengusik pikirannya. Langkah Davin panjang dan mantap, meninggalkan ruang pengajar tanpa menoleh sedikit pun. Di belakangnya, Lexsa masih duduk di kursi, menatap punggungnya yang menghilang di ambang pintu. Sesuatu di dalam dirinya mendesak—dorongan aneh yang membuatnya tak mau membiarkan pria itu pergi begitu saja. Tanpa pikir panjang, Lexsa berdiri dan berlari kecil melewati lorong meninggalkan Kevin yang masih ingin berbincang dengannya. "Pak Davin?!" panggilnya lantang. Suaranya memantul di dinding putih, tapi pria itu tak mengubah langkahnya. Lexsa menggigit bibir, lalu mempercepat langkah. Tumit sepatunya berderap cepat, hingga akhirnya ia berhasil menyamai kecepatan Davin. Nafasnya sedikit memburu saat tangannya terulur, menyentuh lengan pria itu. Tarikannya pelan, tapi cukup untuk menghentikan langkah Davin. Davin berbalik, wajahnya tetap datar. Sorot matanya kosong, tapi ada sesuatu di rahangnya yang mengeras—seperti menahan emosi yang tak ia tunjukkan. "Yakin tidak mau ikut ke acara makan bersama nanti?" tanya Lexsa, mencoba tersenyum ramah. "Tidak ada yang mengundang," jawab Davin singkat, nadanya dingin. "Jadi bagaimana aku ikut?" Lexsa tersenyum tipis, meski di dalam hati ia ingin memukul kepala pria itu karena jawabannya yang terkesan menyebalkan. "Ayo kita pergi ikut makan malam bersama itu?" ajaknya, suaranya dibuat setenang mungkin. Davin menaikkan sebelah alis. "Apa ini sebuah undangan?" tanyanya asal, seperti menguji. "Iya," jawab Lexsa sambil mengangguk mantap. "Ini sebuah undangan." Keheningan singkat menyusul. Lalu bibir Davin bergerak, meluncurkan kalimat yang membuat hati Lexsa terasa diremas. "Aku menolak undangan itu. Aku tidak akan ikut." Ucapannya datar, bahkan tanpa jeda. Selesai berkata, Davin memutar tubuhnya kembali, melangkah menjauh tanpa menoleh lagi. Lexsa berdiri terpaku, napasnya teratur tapi dadanya terasa panas oleh kesal yang menumpuk. "Aaaah!..." teriaknya, tak peduli beberapa orang di ujung lorong menoleh. "Dia lelaki menyebalkan! Kalau memang tidak mau ikut, kenapa minta diundang!" Suara teriakannya bergema, dan entah bagaimana, ia tahu Davin mendengarnya. Di kejauhan, punggung pria itu sedikit berguncang—sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, meski langkahnya tak melambat. bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD