kenangan 3 tahun lalu

1217 Words
Setelah mengantar Lexsa pulang, Davin berjalan pelan menuju kamarnya. Rasa lelah menyelimuti tubuhnya, namun pikirannya masih penuh dengan potongan-potongan kejadian hari ini. Begitu pintu kamar tertutup rapat, ia menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Tangannya merabah ponsel yang tergeletak di nakas. Dengan suara datar namun jelas, ia merekam pesan suara. "Arga, belikan aku ponsel baru. Bawa besok saat kau menjemputku," ucapnya singkat. Beberapa detik kemudian, pesan terkirim. Davin meletakkan ponsel di samping bantal, lalu berbaring. Namun, matanya tidak segera terpejam. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya—bukan pekerjaan, bukan masalah keluarga—melainkan sesuatu yang jauh lebih samar dan pribadi. Aroma. Harum parfum milik Lexsa masih terjebak di ingatannya. Aroma itu begitu khas, lembut namun meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Ia mengerutkan kening, berusaha mengingat di mana dan kapan ia pernah mencium wangi itu sebelumnya. Davin menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur. Sorot matanya kosong, menatap ke arah langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya terus berputar, mencoba mencari potongan memori yang cocok. Semakin ia berusaha, semakin samar ingatan itu. Beberapa menit berlalu. Akhirnya, Davin memejamkan mata, membiarkan pikirannya melayang bebas. Dalam keheningan, aroma itu perlahan menariknya ke masa lalu—ke satu momen yang selama ini ia usahakan untuk terkubur rapat-rapat. Kenangan itu datang dari tiga tahun lalu. Hari di mana hidupnya berubah selamanya. Hari ketika ia kehilangan penglihatannya. Tiga tahun lalu. Langit sore kala itu mulai menggelap. Davin mengemudi sendirian di jalan tol yang lengang, musik lembut mengalun dari radio mobilnya. Tidak ada tanda bahaya, tidak ada firasat buruk. Sampai… kilatan lampu dari belakang menyilaukan matanya. Ia hanya punya waktu sepersekian detik untuk menoleh dan melihat sebuah truk meluncur dengan kecepatan tak terkendali. Dentuman keras memecah udara, tubuh mobilnya terhentak hebat, terpelanting ke sisi jalan. Suara logam berderit, kaca pecah, dan kemudian… hening. Rasa nyeri menjalar di seluruh tubuhnya. Kepalanya berdenyut, darah mengalir di pelipis. Asap tipis mulai keluar dari kap mobil yang ringsek. Davin mencoba menggerakkan kakinya, tapi sabuk pengaman seakan mencekik d**a. Di tengah keheningan yang mencekam itu, telinganya menangkap suara—derap langkah kaki yang berlari tergesa. Lalu terdengar suara seorang gadis. "Tolong! Ada yang terjebak di dalam mobil!" teriaknya, napasnya terengah-engah. Suara itu mendekat, lalu berhenti tepat di samping pintu yang ringsek. “Bertahanlah! Aku akan mencoba membukanya!” Gadis itu berbicara dengan nada panik namun tegas. Davin hanya bisa mendengar bunyi logam yang dipaksa terbuka, diiringi batuk pelan gadis itu akibat asap yang semakin pekat. Wangi parfum samar tercium di sela udara berdebu dan bau bensin—wangi yang kini, setelah bertahun-tahun, kembali memenuhi memorinya. Akhirnya, pintu berhasil terbuka. Sebuah tangan kecil namun kuat meraih lengannya. “Ayo! Aku akan membantumu keluar!” Gadis itu menariknya dengan sekuat tenaga. Davin tak pernah sempat melihat wajahnya. Pandangannya kabur, lalu gelap total. Suara gadis itu adalah hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya hilang. Davin membuka mata tiba-tiba. Napasnya sedikit memburu. Dan saat itu juga, kepingan teka-teki yang selama ini membingungkannya tersusun sempurna. “Itu dia…” gumamnya. Ia menatap kosong ke depan, namun hatinya berdegup kencang. “Gadis yang menyelamatkanku waktu itu… adalah Lexsa.” Aroma parfumnya sama persis. Suaranya, nada paniknya, bahkan ketegasan dalam ucapannya—tidak mungkin ia salah. Setelah pencarian tiga tahun yang tanpa jawaban, ia akhirnya menemukan orang itu. Perasaan hangat sekaligus getir menjalar di dadanya. Hangat karena ia menemukan sang penyelamat. Getir karena selama ini, ia bahkan tidak mengingatnya dengan jelas. “Kenapa aku bisa sebodoh itu… melupakan kejadian itu,” bisiknya, menutup wajah dengan telapak tangan. Dalam hatinya, rasa penyesalan tumbuh. Lexsa telah mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkannya, namun ia sendiri bahkan tidak mengenalinya saat pertama kali bertemu kembali. Selama tiga tahun, ia sibuk dengan rasa kehilangan penglihatannya, dengan pekerjaannya, dan dengan hidup yang berubah drastis—hingga melupakan sosok yang memberi kesempatan kedua untuknya tetap hidup. Sekarang, Davin tahu satu hal, ia tidak akan membiarkan Lexsa pergi lagi dari hidupnya. Tidak setelah semua yang telah ia ketahui malam ini. Ia bersandar kembali pada kepala tempat tidur, membiarkan pikirannya dipenuhi rencana. Mungkin Lexsa tidak ingat kejadian itu, atau mungkin ia memilih untuk tidak menyebutkannya. Tapi Davin bertekad, ia akan memastikan Lexsa tahu bahwa ia berhutang nyawa padanya. *** Pagi itu, lorong apartemen terasa sepi. Hanya terdengar dengung mesin lift yang naik-turun dari lantai ke lantai. Davin berdiri di depan pintu lift, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Setiap kali pintu lift terbuka, ia akan menoleh sekilas, lalu mundur lagi tanpa melangkah masuk. Ia menunggu seseorang—Lexsa. Entah kenapa, ia ingin sekali berada di lift bersamanya pagi ini. Menit demi menit berlalu. Lift terbuka dan tertutup berkali-kali, namun sosok yang dinantinya tak kunjung muncul biasanya suara Lexsa sudah menjadi polusi di loby dekat litf tapi sekarang gadis itu belum juga muncul. Hampir tiga puluh menit ia menunggu, namun tak ada tanda-tanda Lexsa. Padahal biasanya, mereka berangkat hampir bersamaan. Tiba-tiba, ponselnya bergetar di dalam saku. Davin meraihnya cepat, menggeser layar untuk menjawab panggilan. “Halo?” suaranya terdengar tenang, meski hatinya mulai bertanya-tanya. “Tuan, ini sudah jam 8.30 pagi. Bukannya Anda sudah terlambat mengajar?” Suara Arga di seberang terdengar setengah cemas, setengah heran. Mata Davin melebar. “Apa?” kali ini ia benar-benar terkejut. Namun ia berusaha menahan nada suaranya tetap stabil. “Tunggulah, aku akan turun sekarang.” Begitu lift terbuka, ia langsung melangkah masuk. Tidak ada lagi alasan untuk menunggu. *** Tiba di panti rehabilitasi tuna netra, suasana sudah ramai. Anak-anak muridnya sedang duduk di kelas, dan begitu Davin masuk, suara protes mulai terdengar. “Pak Davin, telat lagi!” seru salah satu murid sambil menyilangkan tangan di d**a. “Katanya mau kasih contoh disiplin,” timpal yang lain dengan nada menggoda. Davin tersenyum tipis, merasa bersalah. “Maaf, maaf. Aku janji akan mentraktir kalian pizza saat jam istirahat nanti.” Sekejap, ruangan yang tadinya penuh protes berubah menjadi sorakan riang. “Setuju!” “Asik, pizza!” Anak-anak itu langsung semangat. Dengan itu, Davin memulai pelajarannya. Ia berbicara dengan nada hangat, sabar membimbing setiap anak. Meski pikirannya sempat terganggu oleh peristiwa pagi tadi, ia berusaha fokus. Satu jam berlalu, dan kelas pun berakhir. Sesuai janjinya, Davin segera menelpon Arga untuk menyiapkan sebuah truk pizza datang ke panti. Ia tahu, janji pada murid tidak boleh diingkari. Setelah semua urusan kelas selesai, langkahnya otomatis berbelok menuju ruang pengajar. Namun begitu tiba di ambang pintu, ia langsung berhenti. Hidungnya menangkap aroma parfum yang sangat ia kenal—lembut, manis, dan khas. Aroma itu sama persis dengan yang ia pikirkan semalam. Lexsa. Ia berdiri diam beberapa detik, membiarkan aromanya membangkitkan memori. Sementara itu Lexsa yang saat itu sedang membaca menyerengit melihat Davin berdiri di ambang pintu. "Ada apa dengannya?" pikir Lexsa "Wajahnya terlihat muram sekali." Davin melangkah perlahan ke arah meja Lexsa. Gerakannya santai, tapi ekspresi wajahnya campuran antara serius dan kesal yang sulit dibaca. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat tangannya dan melemparkan sebuah kotak kecil ke arah Lexsa. Gerakannya asal, namun tidak cukup kencang untuk membahayakan. Untung Lexsa refleks menangkapnya. Kotak itu adalah kotak ponsel baru. Lexsa mengangkat kepalanya, menatap Davin yang kini sudah berbalik dan berjalan perlahan menuju mejanya sendiri. Ia tidak memberi penjelasan, tidak menoleh, hanya duduk di kursinya dengan ekspresi datar. Lexsa memandangi kotak ponsel di tangannya, lalu menghela napas pelan. “Sebenarnya dia punya masalah hidup apa sih, sampai bertingkah aneh seperti ini?” gumamnya lirih. “Dasar orang nggak jelas.” bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD