Lexsa yang saat itu terbaring di rumah sakit berangsur-angsur mulai siuman. Kelopak matanya terasa berat, pandangannya buram, namun perlahan mulai fokus. Suara monitor detak jantung di sebelahnya berdetak pelan, memberi tanda bahwa ia masih di dunia ini.
Saat penglihatannya semakin jelas, ia mendapati sosok Davin sedang duduk di kursi samping ranjangnya, kepalanya bersandar di tepi kasur, tertidur. Nafas Davin teratur, namun wajahnya terlihat lelah, seolah ia sudah lama berada di sana.
Lexsa terdiam, mengamati. Ingatannya kembali pada detik-detik sebelum ia pingsan di depan pintu lift apartemen. Perutnya mengeras, kepalanya berdenyut, pandangannya berkunang-kunang… lalu gelap. Ketika ia membuka mata sekarang, menyadari bahwa Davin ada di sini, hatinya dipenuhi rasa syukur yang sulit diungkapkan.
Jemari Lexsa bergerak refleks, menyentuh tangan Davin. Sentuhan itu membuat Davin tersadar dari tidurnya. Ia langsung mengangkat kepalanya, wajahnya sedikit panik, lalu tangannya meraba permukaan kasur untuk memastikan posisi Lexsa.
"Syukurlah kau sudah siuman," ucapnya, nada suaranya datar tapi terselip rasa lega. Ia kemudian meraih tombol di dinding, menekannya untuk memanggil perawat atau dokter.
"Terima kasih telah menolongku," kata Lexsa pelan.
"Hm," balas Davin singkat dan ketus, seolah tak ingin membesar-besarkan kejadian itu. Namun dari tatapannya, Lexsa tahu pria itu benar-benar khawatir.
Tak lama, pintu ruangan terbuka. Dokter yang memeriksa Lexsa saat pertama kali ia dibawa masuk ke rumah sakit berjalan masuk, memegang map catatan medis. Wajahnya agak serius.
"Nona Lexsa, aku baru saja mendapatkan laporan medis anda. Anda tahu, anda memiliki—"
Ucapan dokter itu langsung terhenti ketika Lexsa mengangkat telunjuknya ke bibir, memberi kode untuk diam. Matanya melirik sekilas ke arah Davin, jelas tidak ingin pria itu mengetahui kondisinya yang sebenarnya.
Dokter itu menangkap maksudnya dan segera mengubah topik. “Bagaimana kondisi anda sekarang, Nona Lexsa?”
“Sudah lebih baik,” jawab Lexsa singkat.
"Bagus. aku harap anda tidak lupa meminum obat anda lagi, Nona. Jika tidak, bukan tidak mungkin anda akan kembali ke sini dalam waktu dekat," ujar sang dokter, nadanya tegas.
Lexsa mengangguk, mencoba menutup rasa bersalahnya dengan senyum tipis.
Davin yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu mengernyit. “Memang, apa sakitnya dokter?” tanyanya.
Sekilas, tatapan Lexsa dan dokter itu bertemu. Ada jeda canggung selama beberapa detik sebelum Lexsa buru-buru menjawab, “Asam lambung.”
Untungnya, Davin langsung mengangguk, terlihat menerima jawaban itu tanpa curiga.
Setelah dokter pamit keluar, ruangan itu kembali tenang. Davin duduk lagi di kursinya, menatap Lexsa yang kini berusaha bangkit sedikit. “Kau benar-benar ceroboh,” katanya pelan, tapi ada nada khawatir yang sulit disembunyikan.
Lexsa hanya tersenyum lemah. “Kau tidak harus di sini, Davin. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
Davin memalingkan wajah, tapi jemarinya mengepal di pangkuannya. “Mengurus diri seperti apa maksudmu Lexsa? Jika kau mampu mengurus dirimu sendiri kau tidak akan masuk rumah sakit sekarang."
Hening. Lexsa menatap Davin, ingin mengucapkan banyak hal, tapi kata-katanya terhenti di tenggorokan.
Ketukan pelan di pintu memecah suasana. Seorang perawat masuk, tersenyum kearah Lexsa lalu berdiri tepat di depan botol infus milik Lexsa.
"Suster apa aku sudah boleh pulang?" Tanya Lexsa membuat Davin menyerengit.
"Tidak betah sekali di rumah sakit." Gumam Davin mencibir.
"Tentu saja Nona, Dokter sudah memberitahukan bahwa anda sudah boleh pulang setelah infus anda habis." jawab Suster itu membuat Lexsa merasa lega.
Suara pintu ruang rawat yang menutup pelan menjadi tanda bahwa suster telah pergi. Hening kembali menyelimuti ruangan, hanya terdengar dengung pelan dari mesin monitor di sudut ruangan.
Lexsa yang sedari tadi duduk bersandar di tempat tidur tiba-tiba melotot. Matanya membesar seakan sesuatu yang penting baru saja terlintas di kepalanya. Napasnya tertahan, dan dalam sepersekian detik, wajahnya memucat.
"Astaga… aku seharian belum menelpon Mama dan Papa."
Seketika pikirannya terlempar pada bayangan wajah kedua orang tuanya. Ia bisa membayangkan ibunya mondar-mandir di ruang tamu sambil menatap layar ponsel, berharap ada kabar darinya. Ayahnya mungkin mencoba menenangkan, tapi justru ikut tegang.
"Gawat…" gumam Lexsa lirih, namun nada suaranya cukup membuat Davin yang tengah berdiri di dekat meja kecil menoleh. Alis lelaki itu bertaut, wajahnya memancarkan rasa ingin tahu bercampur khawatir.
"Kenapa?" tanya Davin, suaranya datar namun penuh perhatian.
Lexsa menelan ludah, jemarinya menggenggam erat selimut. "Ponselku tidak ada… aku belum mengabari orang tuaku. Mereka pasti khawatir sekali sekarang." Suaranya terdengar tergesa, hampir seperti seseorang yang sedang dikejar waktu.
Davin mengerutkan kening, ekspresi wajahnya terlihat menyesal. "Kurasa… saat kau pingsan tadi, tasmu terjatuh. Aku tidak sempat membereskannya." Nada suaranya pelan, penuh penyesalan, seolah ia menanggung beban dari kejadian yang bahkan bukan salahnya.
Lexsa memandangnya, lalu menggeleng pelan. "Tidak perlu minta maaf, Davin. Ini bukan salahmu. Aku justru bersyukur… kau membawaku ke rumah sakit." ucap Lexsa Meski suaranya berusaha terdengar tenang, matanya masih menyiratkan kegelisahan yang sulit disembunyikan.
Hening sejenak. Kemudian tanpa ragu Davin merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam, lalu mengulurkannya pada Lexsa. "Pakailah untuk menelpon orang tuamu."
Lexsa tidak membuang waktu. Jemarinya langsung meraih ponsel itu, dinginnya permukaan layar terasa menusuk telapak tangannya yang sedikit berkeringat. Dengan cepat ia membuka kontak dan menekan nomor yang sudah tertanam kuat di ingatannya.
Nada sambung pertama terdengar. Lexsa menelan ludah.
Nada kedua—jantungnya mulai berpacu.
Nada ketiga—ia hampir saja takut ponselnya tidak diangkat. Dan akhirnya panggilan telpon Lexsapun di jawab.
“Hallo, Ma.”
Suara lembut Lexsa terdengar di ujung sambungan telepon, membuat Nyonya Celine yang sedari tadi duduk gelisah langsung terisak lega. Tuan William, yang duduk di kursi sebelahnya, pun menarik napas panjang seolah beban berat yang menindih dadanya baru saja terangkat.
“Kau dari mana saja, sayang? Mama khawatir sekali… takut terjadi sesuatu. Apa lagi ini hari pertamamu bekerja, Mama takut kau kelelahan dan…” Suara Nyonya Celine bergetar, namun kalimatnya terhenti di tengah jalan. Ia tak sanggup melanjutkan, hanya mampu menyeka air mata yang mengalir tanpa izin.
Lexsa memejamkan mata, hatinya terasa diremas. Ia bisa merasakan betapa tulusnya kekhawatiran ibunya meski jarak memisahkan mereka.
Di sisi lain sambungan, terdengar suara Tuan William yang tenang namun penuh rasa ingin tahu. “Ini nomor telepon siapa, sayang?”
Lexsa menarik napas perlahan. “Ini nomor telepon teman kerjaku, Pa. Tadi saat pulang aku… melupakan tasku di dalam taksi. Oleh karena itu aku telat menghubungi kalian,” jelasnya. Ia berkata tanpa jeda, takut jika ada keraguan sedikit saja, kebohongannya akan terbongkar.
Davin yang duduk di kursi dekat ranjang mendengarkan percakapan itu sambil menunduk, tidak berniat memotong. Namun, ekspresi wajahnya sekilas mengeras saat menyadari Lexsa tidak mengatakan yang sebenarnya.
“Syukurlah jika kau baik-baik saja,” sahut Nyonya Celine, suaranya mulai lebih tenang. “Kau tahu? Papa dan Mama sudah mencari tiket pesawat hari ini… niatnya mau menyusulmu jika kau tidak menelpon.”
Lexsa menutup mulutnya sejenak, tertegun mendengar pengakuan itu. Betapa besar rasa cemas orang tuanya sampai mereka berencana menempuh perjalanan mendadak.
“Maaf, Ma… telah membuat Mama dan Papa khawatir,” gumam Lexsa dengan nada penuh penyesalan. “Tapi aku sungguh baik-baik saja.”
Kalimat itu membuat kedua orang tuanya di seberang sana sedikit lebih lega. Mereka sempat berbincang beberapa menit lagi, saling menanyakan kabar dan memastikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lexsa menahan diri untuk tetap terdengar ceria, padahal dadanya masih menyimpan kegelisahan.
Akhirnya, setelah merasa cukup menenangkan hati orang tuanya, Lexsa mencari alasan untuk mengakhiri panggilan. “Ma, Pa… aku harus mengembalikan ponsel ini. Teman kerjaku mau memakainya. Nanti aku kabari lagi, ya.”
“Baiklah, sayang. Jaga kesehatanmu,” pesan Nyonya Celine.
“Jangan lupa makan tepat waktu,” tambah Tuan William dengan suara hangat.
Panggilan berakhir. Lexsa menatap layar ponsel yang kini kembali gelap, lalu mengembalikannya pada Davin. “Terima kasih,” ucapnya tulus.
Davin menerima ponsel itu, namun tidak langsung menaruhnya. “Kenapa berbohong pada orang tuamu?” tanyanya, nada suaranya tenang namun menyiratkan rasa ingin tahu yang serius.
Lexsa menghela napas panjang. “Karena aku tak ingin mereka khawatir,” jawabnya sambil menunduk, mengamati ujung jarinya yang saling meremas.
“Tapi… bukankah mereka lebih berhak tahu yang sebenarnya?”
Lexsa menatapnya sejenak, lalu tersenyum miris. “Kalau mereka tahu aku pingsan di jalan, dirawat di rumah sakit, dan bahkan tidak memegang ponselku… mereka akan panik. Dan panik mereka tidak akan membantu apa pun, selain membuat mereka langsung terbang ke sini. Aku… tidak ingin membuat mereka repot.”
Davin terdiam. Ada bagian dari dirinya yang mengerti alasan Lexsa, tapi ada pula yang merasa ia terlalu banyak memendam sendiri.
“Kadang…” ujar Davin pelan, “…membiarkan orang yang mencintaimu tahu keadaanmu justru bisa membuatmu merasa lebih ringan.”
Lexsa tersenyum tipis, tapi matanya meredup. “Mungkin. Tapi… aku sudah terbiasa menjaga kekhawatiran mereka tetap kecil. Kalau aku kuat, mereka akan tenang.”