Tiga hari berlalu.
Emily tetap menjalani rutinitasnya. Pagi ke rumah sakit. Siang ke restoran. Malam kembali ke bangku dingin ruang tunggu. Tidur tidak pernah benar-benar tidur. Makan sekadar mengisi perut. Waktu bergerak, tapi hidupnya terasa diam di satu titik yang sama.
Ia menghitung semuanya berulang kali. Dengan kertas, dengan ponsel, dengan angka-angka yang semakin tidak masuk akal.
Gajinya tiga puluh lima ribu dolar per tahun. Dipotong pajak. Dipotong biaya hidup. Dipotong ongkos transportasi, makan seadanya, dan kebutuhan dasar yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Biaya rumah sakit ayahnya terus berjalan, per hari, per malam, per tindakan. Belum termasuk pengobatan lanjutan yang dokter sebutkan dengan wajah serius.
Tiga belas ribu dolar.
Angka itu terlihat kecil bagi sebagian orang. Tapi bagi Emily, itu seperti dinding beton tanpa celah. Dengan perhitungan paling optimistis, ia baru bisa melunasinya tahun depan. Itu pun jika tidak ada keadaan darurat lain. Dan hidupnya terlalu sering dipenuhi keadaan darurat.
Mark tidak memberi waktu selama itu.
Pagi itu, sebelum matahari benar-benar naik, Emily duduk di bangku rumah sakit dengan ponsel di tangannya. Jarinya diam cukup lama di atas layar. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar satu kali. Dua kali.
“Tuan Benni,” suara di seberang terdengar cepat dan waspada.
“Saya Emily,” katanya. Suaranya tenang. Bahkan ia sendiri terkejut mendengarnya. “Saya ingin bicara.”
Ada jeda singkat. “Silakan.”
“Saya sudah menghitung semuanya,” lanjut Emily. Tidak berputar-putar. “Dengan gaji saya, saya butuh waktu setidaknya sampai tahun depan untuk melunasi utang ayah saya. Itu belum termasuk biaya rumah sakit.”
Benni tidak langsung menjawab. Seolah ia memang menunggu kalimat itu.
“Saya paham,” katanya akhirnya. “Dan?”
Emily menelan ludah. “Saya ingin tahu… apa masih ada pilihan lain.”
Hening di seberang. Kali ini lebih panjang.
“Tidak,” jawab Benni jujur. Tidak kasar, tidak pula lembut. “Sejak awal, kesepakatannya bukan soal cicilan.”
Emily memejamkan mata. Bangku dingin di bawahnya terasa semakin keras.
“Kalau begitu,” katanya pelan tapi jelas, “katakan pada Tuan Mark… saya ingin bertemu.”
Benni menarik napas pendek. “Hari ini?”
“Ya.”
“Aku akan mengatur waktunya.”
Telepon terputus. Emily menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia tidak menangis. Entah karena sudah terlalu lelah, atau karena sesuatu di dalam dirinya akhirnya menyerah pada kenyataan.
Ia berdiri dan menatap pintu ruang rawat ayahnya. Di balik pintu itu, terbaring pria yang telah memberinya hidup, lalu merusaknya sedikit demi sedikit. Marah masih ada. Luka masih segar. Tapi ia tetap berdiri di sini.
“Ini yang terakhir,” bisiknya, entah pada ayahnya, atau pada dirinya sendiri.
Beberapa jam kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung perkantoran tinggi yang asing baginya. Emily keluar dengan langkah ragu, mengenakan pakaian paling rapi yang ia punya. Tidak mewah. Tidak mencolok. Tapi bersih dan pantas.
Di lantai atas, Mark sudah menunggu.
Ia berdiri di dekat jendela besar, membelakangi pintu, tangan di saku jas. Kota membentang di bawah sana, kecil dan tertib. Saat Emily masuk, ia tidak langsung menoleh.
“Kau datang,” katanya akhirnya.
“Iya.”
Mark berbalik. Tatapan itu jatuh padanya dengan tenang, dingin, penuh penilaian. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada keraguan.
Emily berdiri tegak. Jantungnya berdegup keras, tapi ia tidak mundur.
“Saya tidak punya uangnya,” katanya langsung. “Dan saya tidak akan berpura-pura bisa mendapatkannya dalam waktu dekat. Dan kontrak yang saya baca, saya menjadi jaminan dari hutang ayah saya”
Hati emily sakit. kita membaca dirinya menjadi jaminan atas hutang orang lain, meskipun itu ayahnya. Ia seperti barang yang bisa diberikan semudah itu kepada orang lain yang tidak dikenal.
Mark mengangguk kecil. “Aku tahu.”
“Jadi,” Emily menarik napas, memaksa suaranya tetap stabil, “kalau jaminannya memang saya…”
Ia berhenti sejenak. Lalu melanjutkan.
“Katakan apa artinya.” kata emily lirih.
Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibir Mark.
Mark tidak langsung menjawab.
Ia melangkah mendekat, berhenti pada jarak yang cukup dekat untuk membuat Emily sadar akan perbedaan dunia di antara mereka. Tinggi badannya, ketenangannya, cara ia berdiri seolah ruangan itu memang miliknya sejak awal.
“Artinya sederhana,” katanya akhirnya. “Kau berada menjadi milikku, di bawah tanggung jawabku.”
Tidak ada nada main-main. Tidak ada kesan menggoda. Justru itu yang membuatnya terasa lebih menakutkan.
“Ayahmu bebas dari utang,” lanjut Mark. “Biaya rumah sakitnya akan ditanggung.”
Emily menelan ludah. “Dan saya? Apa yang perlu saya lakukan?”
“Kau akan tinggal di tempat yang aku tentukan. Kau mengikuti aturan yang aku buat. Kau tidak pergi tanpa izinku. Kau tidak berhak mengambil keputusan besar tanpa persetujuanku.”
Setiap kalimat jatuh rapi, seperti butir peluru yang ditempatkan satu per satu.
“Aku tidak membelimu,” tambah Mark, seolah membaca pikirannya. “Aku mengamankan aset.”
Emily mengepalkan tangan. Kata itu menusuk, tapi anehnya… jujur.
“Berapa lama?” tanyanya lirih.
Mark menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang bergerak, cepat, lalu kembali membeku.
“Sampai aku menemukan tujuanku. Sampai aku bilang cukup.”
Ruangan terasa sunyi. Emily bisa mendengar detak jam di dinding, juga detak jantungnya sendiri yang terlalu keras. Ia memikirkan ayahnya. Selang infus. Wajah lebam. Tubuh rapuh yang bahkan tidak tahu betapa mahal harga yang harus dibayar.
“Kalau saya menolak sekarang?” tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya.
Mark menyeringai tipis. Smirk itu singkat, dingin, dan penuh kepastian.
“Maka kau harus melunasi hutang itu sekarang.”
Emily mengembuskan napas panjang. Perlahan, ia mengangguk. Bukan karena pasrah. Tapi karena ia memilih satu-satunya jalan yang tersisa.
“Baik,” katanya.
“Saya setuju,” ulang Emily. Suaranya lebih kuat sekarang. “Tapi dengan syarat.”
Mark tampak tertarik. Sedikit saja. “Katakan.”
“Ayah saya benar-benar aman,” ucap Emily. “Rawat ayahku hingga sembuh.”
Hening.
Mark memandangnya, menimbang. Lalu ia mengangguk sekali.
"Satu lagi, aku..." Ujar emily lirih.
"Katakan." Mark mengatakan dengan tenang.
"Tidak ada kontak fisik diantara kita. Bukankah kita tidak menikah. aku hanya jaminan kan?" Ujar Emily gemetar.
"Jadi apakah kau menginginkan pernikahan agar ada konta fisik diantara kita?"
Hening kembali jatuh di antara mereka.
Udara terasa menegang, seperti ditarik terlalu kencang lalu ditahan. Emily berdiri tegak meski jemarinya dingin. Ia menatap Mark, memaksa dirinya tidak menunduk.
Mark tidak langsung menjawab pertanyaannya sendiri. Ia memiringkan kepala sedikit, menatap Emily seolah sedang membaca sesuatu yang lebih dalam dari kata-katanya.
“Aku bertanya,” katanya pelan, “karena kau tampak sangat takut pada satu hal yang bahkan belum kuminta.”
Emily menelan ludah. “Aku hanya ingin batas yang jelas,” ujarnya lirih. “Aku sudah menyerahkan hidupku. Itu cukup.”
Mark mendekat satu langkah. Tidak menyentuh. Tidak melewati garis. Tapi cukup dekat untuk membuat napas Emily terasa lebih berat.
“Kau salah satu dari sedikit orang,” katanya, suaranya rendah dan terkendali, “yang masih berani mengajukan syarat setelah berada di posisi sepertimu.”
Mark tersenyum tipis. Bukan smirk kali ini. Lebih seperti senyum orang yang menemukan sesuatu yang menarik di tempat yang tidak ia duga.
"Aku menyentuh apa yang ingin ku sentuh,dan sebaliknya. Aku tidak akan menyentuh hal yang tidak ingin kusentuh." Ucap Mark.
"Barang milikku adalah hak ku sepenuhnya." Jelas Mark. "Aku yang menentukan, dan siapapun tidak berhak atas itu. Paham?
Emily semakin gusar. Tidak mudah menghadapi manusia seperti Mark Fernnandes.
"Lalu, bagaimana dengan diriku? aku tidak mau menjual diriku sendiri. Apalagi dengan orang yang tidak ku kenal sepertimu." Tugas Emily, meskipun dalam hatinya ketakutan sudah menyelimuti.
Mark tersenyum sini.
"Maka kesepakatan ini tidak mencapai mufakat. Diskusi kita cukup sampai disini." Mark mengatakan dengan tenang.
"Jaminan akan tetap ditagihkan, dan ayahmu tidak akan mendapat apapun."
"Kau bisa keluar sekarang juga."
Mark memalingkan pandangannnya dari Emily. Ia menekan tombol merah yang ada di atas meja kerjanya.
"Benni. Bawa nona manis ini pergi dari sini, segera."
"Baik" Ucap Benni dari speaker pada lingkaran di sekitar tombol.
Emily membeku.
Darahnya seperti berhenti mengalir saat Mark memberi isyarat pada Benni yang baru saja memasuki ruangan. Ia langsung melangkah maju. Wajahnya profesional, dingin, tanpa ekspresi.
“Tuan?” Benni menoleh sekilas ke arah Mark.
“Antar dia keluar,” kata Mark singkat. Nada suaranya datar, seolah yang baru saja ia lakukan bukan menghancurkan hidup seseorang, melainkan membatalkan janji makan siang.
Panik menghantam Emily tanpa aba-aba.
“Tunggu—!” suaranya meninggi, retak. Ia melangkah refleks ke depan, lalu berhenti. Tubuhnya gemetar, napasnya kacau. “Tolong… jangan seperti ini.”
Mark tidak menoleh. Ia kembali menatap kota di balik jendela, punggungnya tegak, tak tergoyahkan.
Emily menelan ludah keras. Matanya panas, tapi air mata tidak jatuh. Ia tahu, menangis di sini hanya akan membuatnya semakin kecil.
“Aku tidak menawar,” lanjut Mark. “Aku memberi pilihan. Kau yang menolaknya.”
Benni mendekat satu langkah. Tidak menyentuh, tapi cukup untuk menekan ruang geraknya.
“Nona,” katanya pelan namun tegas, “silakan.”
Emily menoleh ke Benni, lalu kembali ke Mark. Dadanya naik turun cepat. Dalam kepalanya, wajah ayahnya terlintas. Tubuh lemah di ranjang rumah sakit. Mesin yang berbunyi pelan. Hidup yang bergantung pada keputusan ini.
“Aku tidak minta apa-apa darimu,” katanya tiba-tiba. Suaranya bergetar, tapi ada tekad yang memaksa keluar. “Aku hanya ingin aman. Aku tidak mau menjadi… seperti gadis j*l*ng yang rela menyerahkan dirinya.”
Akhirnya, Mark berbalik.
Tatapan mereka bertemu. Kali ini, ada sesuatu yang lebih gelap di mata Mark. Bukan marah. Bukan jijik. Melainkan ketertarikan yang dingin dan berbahaya, seperti predator yang mengamati mangsa yang masih berani berdiri.
“Aku tidak butuh opinimu,” katanya. “Aku butuh kepemilikan.”
“Dan kepemilikan,” Mark menambahkan, “tidak dinegosiasikan.”
Kalau aku pergi sekarang,” katanya lirih, “ayahku mati.”
Mark tidak menyangkal.
“Kalau aku tinggal,” lanjut Emily, suaranya pecah, “hidupku bukan milikku lagi.”
Mark menatapnya lama. Lalu, sangat perlahan, ia tersenyum.
“Sekarang kau mulai paham.”