Chapter 6 - Aroma Obat dan Doa yang Tertahan

2037 Words
Lampu rumah sakit menyambut Emily dengan cahaya putih yang terlalu terang. Tandu didorong cepat melewati lorong, roda berderit halus di lantai mengilap. Suara langkah tergesa, instruksi medis yang saling tumpang tindih, dan aroma antiseptik bercampur jadi satu. Emily berjalan di sampingnya, nyaris berlari, tangannya gemetar namun genggamannya tak lepas dari ujung tandu. “Mohon tunggu di luar, Nona.” Kalimat itu menghentikannya. Pintu ruang gawat darurat tertutup tepat di depan wajahnya. Emily berdiri terpaku. Napasnya tertahan. Dadanya terasa kosong mendadak, seperti sesuatu baru saja direnggut paksa. Ia menatap pintu itu lama, berharap bisa menembusnya dengan tatapan saja. Perlahan, kakinya melemah. Ia duduk di kursi besi ruang tunggu, punggungnya bersandar, kepala menunduk. Tangannya masih bergetar, jemarinya dingin. Jam dinding berdetak terlalu keras di telinganya. Satu menit terasa seperti satu jam. Ia menatap lantai, lalu tanpa sadar menggenggam liontin kecil di lehernya. Peninggalan ibunya. Benda sederhana, tapi selalu ia bawa ke mana pun. “Ibu…” bisiknya lirih. “Aku takut.” Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Emily membiarkan dirinya rapuh. Tangisnya tidak meledak. Ia jatuh pelan, mengalir diam-diam, membasahi pipi tanpa suara. Bayangan ayahnya tergeletak di lantai gudang kembali menghantam pikirannya. Plastik ziplock. Obat-obatan tanpa nama. Lebam yang belum sempat ia pahami. Apa yang Ayah sembunyikan selama ini? Masalah apa lagi yang tidak pernah ia ceritakan? Langkah kaki mendekat. Seorang perawat menghampirinya, membawa map tipis. “Keluarga pasien atas nama Arman?” Emily segera berdiri. “Saya.” “Kami sedang menstabilkan kondisinya. Diduga overdosis obat campuran. Kami perlu menunggu hasil lebih lanjut.” Kata overdosis membuat lutut Emily hampir goyah. “O-obat apa?” tanyanya lirih. Perawat itu menggeleng pelan. “Belum bisa dipastikan. Tapi tenang, kami lakukan yang terbaik.” Emily mengangguk, meski kepalanya berdenyut hebat. Ia kembali duduk. Waktu kembali berjalan lambat, kejam, tanpa kompromi. Di saat yang sama, di sisi lain kota, sebuah ponsel bergetar di atas meja kaca. Benni melirik layar, lalu menoleh pada Mark yang sedang berdiri di dekat jendela apartemennya. “Rumah sakit,” kata Benni singkat. “Ayah Emily.” Mark menoleh perlahan. “Kenapa?” “Diduga overdosis. Masuk IGD malam ini.” Hening. Mark tidak bertanya lebih jauh. Ia meraih jasnya, mengenakannya dengan gerakan cepat namun tenang. “Arahkan mobil,” katanya. “Sekarang.” Benni mengangguk tanpa bertanya. Derap langkah kaki terdengar tergesa di lorong rumah sakit. Sedikit berlari, sedikit terhuyung, hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan Emily. “Emily.” Ia mengangkat kepala dengan mata sembab. Pria paruh baya itu berdiri di depannya, napasnya masih tersengal. Wajahnya cemas, keningnya berkerut dalam. Itu Paman Christ. Mandor tua yang dulu membantu ayahnya mendapatkan pekerjaan. Tetangga yang rumahnya hanya dipisahkan beberapa pintu dari kontrakan mereka. “Paman…” suara Emily nyaris habis. Paman Christ langsung duduk di sampingnya, menepuk bahunya pelan. Gerakannya canggung, tapi penuh niat baik. “Bagaimana kondisi ayahmu, Emily?” tanyanya. “Paman langsung kemari begitu dengar kabarnya. Kau pasti sangat ketakutan sendirian.” Emily menunduk. Jari-jarinya saling mencengkeram, berusaha menahan getar yang belum juga reda. “Mereka bilang… diduga overdosis,” jawabnya pelan. “Aku belum tahu pasti, Paman. Dokternya belum keluar.” Paman Christ menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. Ada rasa bersalah yang tak terucap di wajahnya. “Harusnya aku lebih awas,” gumamnya. “Belakangan ini ayahmu memang berubah. Lebih pendiam. Lebih sering terlihat takut daripada mabuk.” Emily menoleh cepat. “Takut?” Paman Christ terdiam sejenak, seolah menimbang apakah ia seharusnya melanjutkan. Lalu ia menepuk bahu Emily sekali lagi. “Nanti saja,” katanya pelan. “Sekarang yang penting ayahmu selamat dulu.” Emily mengangguk. Air mata kembali menggenang di matanya, tapi kali ini ia mengusapnya cepat. “Iya, Paman.” Di lorong yang dingin itu, Emily tidak lagi sendirian. Tapi rasa takutnya belum berkurang. Paman Christ berdiri sedikit menjauh, ponselnya menempel di telinga. Suaranya diturunkan, tapi Emily tetap bisa menangkap potongan kalimat yang tercecer di udara lorong. “…ya, Tuan Benni. Ini soal Arman… iya, sekarang di rumah sakit… tolong sampaikan ke bos.” Ia menutup panggilan, lalu kembali mendekat. Tatapannya berat, seperti membawa kabar yang tidak ingin ia ucapkan. Tak lama kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang dokter keluar dengan map di tangan. Wajahnya profesional, netral, tapi terlalu tenang untuk kabar baik. “Apakah keluarga dari Bapak Arman?” tanyanya. Emily berdiri terlalu cepat. Pusing menyerang, tapi ia memaksa tetap tegak. “Saya, Dok.” Dokter mengangguk pelan. “Hasil pemeriksaan awal menunjukkan pasien positif menggunakan narkotika tipe dua. Zatnya cukup kuat. Dalam dosis dan frekuensi seperti ini, sangat membahayakan. Kami menduga ini bukan pemakaian sekali dua kali.” Kata-kata itu jatuh satu per satu, menghantam tanpa suara. “Untuk sementara, kondisi beliau stabil,” lanjut dokter itu. “Namun ayah Anda membutuhkan pengobatan intensif dan pemulihan jangka panjang. Waktu rawat inapnya tidak sebentar.” Emily menggenggam ujung bajunya. “Apakah saya bisa menggunakan asuransi ayah saya…?” suaranya hampir tak terdengar. Dokter menggeleng kecil. “Penyakit akibat penyalahgunaan zat adiktif tidak ditanggung asuransi perusahaan. Kami sarankan keluarga bersiap dengan pembiayaan mandiri.” Emily masih terdiam. meskipun ia memilih kelas perawatan paling rendah, tetap akan membutuhkan biaya yang cukup besar. Lorong itu terasa semakin sempit. Emily mengangguk, meski kepalanya berdenyut. “Baik, Dok. Terima kasih.” Dokter berlalu. Yang tersisa hanya suara mesin, langkah kaki orang asing, dan napas Emily sendiri yang terasa terlalu berat untuk dadanya. Paman Christ mengusap wajahnya kasar. “Soal biaya… Perusahaan sudah tahu. Merekaakan membantu sebisa mungkin, tapi ada batasnya.” Emily tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip refleks daripada perasaan. “Terima kasih, Paman,” katanya pelan. “Setidaknya… setidaknya ayah masih hidup.” Namun di kepalanya, angka-angka mulai berbaris tanpa diminta. Jam kerja. Gaji. Hutang lama. Biaya rumah sakit. Hari-hari tanpa akhir. Kelelahan yang selama ini ia tahan akhirnya menemukan bentuk baru. Bukan lagi di kaki atau punggungnya, tapi di pikirannya. Di balik dinding rumah sakit itu, ayahnya berjuang melawan racun yang ia pilih sendiri. Dan Emily, sekali lagi, menanggung akibatnya. *** Malam merambat pelan di balik jendela rumah sakit. Lampu-lampu koridor tetap menyala, putih dan dingin, seolah waktu di tempat itu menolak untuk benar-benar bergerak. Emily menatap pintu ruang perawatan intensif tempat ayahnya dibawa. Di balik pintu itu, Arman terbaring dengan selang, monitor, dan bau obat-obatan. Pria yang sama yang menarik rambutnya pagi tadi. Pria yang sama yang dulu mengangkatnya ke pundak saat ia masih kecil. Kepalanya terasa penuh. Narkotika. POV Mark Ia sudah menduganya. Arman memang tidak pernah punya daya tahan. Sejak awal, lelaki itu datang dengan punggung membungkuk dan mata yang selalu lapar. Bukan lapar uang. Lapar jalan keluar. Dan orang-orang seperti itu akan menelan apa pun yang disodorkan, asal rasa sakitnya berhenti sesaat. Mark masih duduk tenang di dalam mobil, kota malam berkilau seperti sirkuit listrik yang patuh. Di tangannya, ponsel masih menyala. Nama Arman terpampang dengan deretan pesan lama. Permohonan. Janji. Permintaan tambahan. Tolong, Tuan. Hanya kali ini. Aku akan bayar dari gaji. Aku tidak kuat. Mark menutup layar. Masalah uang tidak pernah ada di meja ini. Uang baginya hanyalah alat. Angka yang bisa bertambah atau lenyap tanpa makna emosional. Kesepakatan mereka sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Obat. Hutang. Jaminan. Emily. Bukan secara eksplisit, tentu saja. Mark tidak perlu mengucapkannya keras-keras. Arman yang menyebut nama itu sendiri, dengan suara bergetar, seolah menyerahkan sesuatu yang paling rapuh dari hidupnya tanpa diminta. “Anakaku akan menjadi Jaminannya. Dia anak baik,” kata Arman waktu itu, nyaris memohon. “Aku cuma butuh waktu.” Mark hanya mengangguk. Waktu adalah kemewahan yang tidak pernah dimiliki orang lemah. Ia mengingat jelas ekspresi Arman saat menerima bungkusan kecil itu. Tangan gemetar, napas terburu. Seperti binatang yang akhirnya diberi makan setelah terlalu lama dikurung. Mark tidak menjelaskan apa pun. Tidak perlu. Arman tidak bertanya. Dan sekarang. Sekilas senyum miring muncul di sudut bibir Mark. Tipis. Dingin. Hampir tak terlihat. Terlalu cepat, batinnya. Sampah itu ternyata lebih rapuh dari yang kupikirkan. Tubuh rusak atau tidak, itu bukan urusannya. Kesepakatan sudah dibuat. Barang sudah diberikan. Hutang dicatat rapi. Jika Arman gagal, maka konsekuensi akan berjalan sendiri, seperti mesin yang tidak butuh belas kasihan untuk beroperasi. “Tunggu saja,” gumamnya pelan, hampir seperti janji yang diarahkan pada udara kosong. Lorong rumah sakit selalu berbau sama. Antiseptik, logam dingin, dan ketakutan yang disamarkan menjadi harapan. Mark melangkah mantap, sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di lantai mengilap. Ia tidak datang karena peduli pada Arman. Lelaki itu sudah lama ia coret dari daftar manusia yang layak diperhitungkan. Ia datang karena Emily. Ia bisa membayangkannya tanpa perlu melihat. Gadis yang kelelahan, dipaksa menanggung beban seseorang yang seharusnya sudah runtuh sejak lama. Ayah yang lebih cocok disebut beban hidup daripada keluarga. Menyusahkan, ya. Tapi justru itu yang membuat Arman bernilai. Bagi Mark, kegagalan orang lain selalu punya harga. Emily duduk di kursi ruang tunggu, tubuhnya sedikit melorot ke samping. Kepalanya bersandar di dinding, rambut jatuh menutupi sebagian wajah. Napasnya pelan, tidak teratur. Tidur yang lahir dari kelelahan, bukan ketenangan. Di pangkuannya, tas kerja masih tergenggam, seolah jika dilepas dunia akan runtuh. Mark berhenti beberapa langkah dari sana. Benni berdiri di sampingnya, ragu sejenak, lalu berdehem pelan. Emily tersentak bangun. Matanya terbuka lebar, napasnya tersedak sesaat. Pandangannya bergerak cepat, belum fokus, masih kabur oleh sisa tidur dan tangis yang tertahan. Dua sosok lelaki berdiri di hadapannya. Tinggi. Asing. Mengintimidasi dalam cara yang berbeda. Ia mengusap matanya cepat, lalu menegakkan punggung. “Maaf…” suaranya serak. Ia berhenti bicara saat pandangannya akhirnya benar-benar bertemu dengan wajah Mark. Orang yang sama. Aura yang sama seperti di restoran. Diam. Tajam. Seolah ruangan ini tunduk tanpa diminta. Mark menatapnya tanpa ekspresi. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk tempat seperti ini. Emily menelan ludah. Jantungnya berdetak tidak nyaman. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya akhirnya, nada profesional yang dipaksakan. Dinding terakhir yang ia punya. Sudut bibir Mark bergerak sangat tipis. “Ayahmu,” ucapnya pelan. “Masih hidup.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa empati, tanpa hiasan. Tapi tepat sasaran. Emily membeku. “Maksud… tuan?” suaranya nyaris tak terdengar. “Saya tidak mengerti.” Mark tidak menjawab. Ia hanya melirik Benni sekilas. Isyarat kecil. Benni melangkah maju setengah langkah, menarik napas pendek sebelum berbicara, nadanya resmi namun dingin. “Tuan Mark adalah direktur utama perusahaan tempat ayahmu bekerja,” katanya. “Perusahaan akan membantu biaya pengobatan melalui dana sosial.” “Tapi,” Benni melanjutkan tanpa jeda, “sesuai aturan, jika dalam tiga bulan ayahmu tidak dapat kembali bekerja, kontraknya akan diputus.” Benni menurunkan suaranya sedikit, seolah ini bagian paling ringan dari semuanya. “Selain itu, di luar urusan perusahaan… Arman memiliki utang pribadi kepada Tuan Mark.” Emily merasakan udara di sekitarnya menipis. “Sebesar,” Benni berhenti sejenak, memastikan setiap angka menghantam tepat sasaran, “tiga belas ribu dolar Amerika.” Dunia Emily runtuh tanpa suara. Tiga belas ribu. Angka itu terlalu besar untuk dipahami, terlalu kejam untuk diterima. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak kasatmata yang menekan paru-parunya dari dalam. Ia menunduk, jemarinya mencengkeram ujung kursi hingga memutih. “Utang… apa?” bisiknya. “Ayah saya tidak mungkin—” “Kau tidak tahu,” potong Mark akhirnya. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Seolah ini bukan tentang hidup seseorang, melainkan laporan cuaca. Emily mengangkat kepala perlahan. Matanya merah, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Ia sudah terlalu sering menangis. Tubuhnya mungkin lelah, tapi sesuatu di dalam dirinya menolak runtuh sepenuhnya. “Dan kalau… kalau kami tidak bisa membayar?” tanyanya lirih. Hening. “Sesuai kesepakatan awal,” katanya, “jaminan harus diberikan.” Emily menoleh cepat. “Jaminan…?” suaranya bergetar. “Jaminan apa?” Mark tidak bergerak. Tidak mendekat. Tidak pula menjauh. Ia berdiri seperti bayangan yang sudah tahu akhir cerita. Benni melanjutkan, datar, seolah membaca poin kontrak. “Kami memberi waktu maksimal tiga hari untuk memberikan keputusan hutang itu akan dibayar atau tidak,” ujarnya. “Jika dalam waktu itu tidak ada penyelesaian, maka jaminan akan segera diambil.” “Ayah saya… tidak pernah bilang soal jaminan,” katanya lirih. “Dia tidak akan—” “Ayahmu bilang banyak hal,” potong Mark. “Tiga hari,” ulangnya. “Aku menyarankan kau memanfaatkannya dengan baik.” Ia berbalik lebih dulu, jasnya berayun pelan mengikuti langkah yang pasti. Benni mengikutinya setelah menunduk singkat pada Emily, formal hingga terasa kejam. Emily tertinggal sendiri di bangku dingin itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD