Mark menyadarinya sejak detik pertama.
Bahwa Emily tidak mengenalinya.
Ia duduk diam, punggung bersandar santai, kaki tersilang rapi. Dari luar, bahasa tubuhnya nyaris tanpa celah. Tenang. Terkendali. Seorang tamu eksklusif yang terbiasa dilayani. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang mengganjal, halus tapi mengusik.
Tidak ada kilat pengenalan di mata gadis itu.
Tidak ada jeda napas yang tersandung.
Tidak ada keterkejutan.
Sambutan Emily kepadanya sama seperti kepada pelanggan lain.
Ramah. Profesional. Jaraknya pas.
Dan itu… mengganggunya.
Ia mengamati setiap geraknya tanpa tergesa. Cara Emily berdiri. Cara ia mencatat. Cara senyumnya singgah sebentar lalu pergi. Semua terasa terlalu asing untuk seseorang yang seharusnya mengenalnya, meski hanya samar.
Mark mengencangkan rahangnya pelan. Bukan marah. Lebih seperti perasaan yang tidak biasa ia izinkan muncul.
Ia telah membawa dunia ke kakinya. Nama Fernandes membuat orang-orang gemetar bahkan sebelum ia bicara. Namun di hadapannya, Emily hanya melihatnya sebagai satu hal.
Hanya tamu.
Saat Emily berjalan menjauh dari mejanya, Mark menurunkan pandangan sejenak. Jemarinya mengetuk sandaran sofa sekali. Pelan. Terukur.
Menarik.
Emily kembali bekerja. Mengantar minuman, mencatat pesanan, tersenyum pada pelanggan lain. Ritmenya cepat, cekatan, seolah dunia tidak memberi ruang untuk melambat. Namun di kepalanya, satu kalimat terus bergema, menolak pergi.
Mark masih di sana.
Duduk tenang, membaca sesuatu di ponselnya, sesekali menatap keluar jendela. Kota membentang seperti papan permainan yang sudah ia kuasai aturannya. Ia menunggu. Bukan makanan. Bukan pelayanan.
Reaksi.
Dan ia tidak mendapatkannya.
Di dapur, Emily akhirnya meledak.
“Pak, saya benar-benar tidak mengerti,” ucapnya setengah berbisik tapi penuh tekanan, tangannya masih memegang baki. “Ini jam sibuk. Kita hampir penuh. Kenapa Bapak membiarkan tamu tanpa reservasi masuk dan malah memberikan meja orang lain? Itu bikin kekacauan.”
Ia menarik napas cepat, jelas menahan emosi.
“Lebih parahnya lagi, waktu saya habis lama hanya untuk satu orang. Pelanggan lain jadi menunggu.”
Benedict menoleh tajam. Matanya membesar, lalu melotot khas gaya cerewetnya yang mulai naik pitam.
“Kamu itu salah orang, Emily,” katanya cepat dan tegas. “Justru tamu itu sangat penting.”
Emily mengerjap. “Penting bagaimana, Pak?”
Benedict mendekat, menurunkan suara tapi nadanya tetap tajam.
“Dia itu investor restoran ini,” katanya. “Sahabat dekat Tuan Endy, pemilik resto. Kalau dia ada di sini—” Benedict menunjuk ke arah luar dapur, ke sofa dekat jendela. “Percaya atau tidak, sebentar lagi Tuan Endy sendiri akan muncul.”
Emily terdiam.
Investor?
Sahabat pemilik?
Ia menelan ludah. Seketika potongan-potongan sikap pria itu terhubung di kepalanya. Ketegangan Benedict. Perlakuan istimewa. Meja terbaik. Kartu hitam di atas meja.
Tapi satu hal tetap tidak berubah.
Dia tetap orang yang menyulitkan siangku.
Emily menghela napas panjang, mencoba meredam kekesalan yang tersisa. Ia mengambil nampan, menata makanan penutup dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari biasanya.
Di luar dapur, Mark mengangkat pandangannya dari ponsel tepat saat Emily keluar.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Emily hampir tersandung oleh langkahnya sendiri.
Ada sesuatu di mata pria itu yang membuat tengkuknya meremang. Bukan karena marah, bukan pula karena tajam semata, melainkan karena tenangnya terasa… mengintimidasi. Seperti seseorang yang terbiasa menunggu dunia menyesuaikan diri dengannya.
Kenapa harus aku yang melayani orang sepenting itu? batinnya.
Dadanya berdegup tidak nyaman. Jika boleh memilih, ia lebih suka menghadapi pelanggan cerewet, pasangan yang ribut soal menu, atau tamu yang tidak sabar menunggu. Orang-orang biasa. Yang marahnya bisa ditebak, yang kuasanya berakhir di meja makan.
Bukan pria seperti ini.
Bukan seseorang yang kehadirannya saja membuat seluruh restoran berjalan pincang.
Emily melangkah mendekat, memaksa wajahnya kembali netral. Senyum profesional itu terpasang lagi, meski terasa tipis.
“Ini makanan penutup Anda, Tuan,” ucapnya, menurunkan piring di meja dengan hati-hati.
Mark tidak langsung menyentuhnya.
Ia hanya menatap Emily, seolah makanan itu tidak sepenting orang yang mengantarnya.
“Kau tidak menyukainya,” katanya tiba-tiba.
Emily membeku. “Maaf?”
“Kau lebih suka melayani tamu lain,” lanjut Mark pelan. “Yang biasa.”
Emily terdiam sepersekian detik. Jari-jarinya mencengkeram nampan tanpa sadar.
“Itu bagian dari pekerjaan saya,” jawabnya akhirnya, hati-hati.
Mark tersenyum tipis. Kali ini bukan senyum dingin. Lebih seperti seseorang yang menemukan potongan teka-teki yang lama ia cari.
“Jujur,” katanya singkat.
Emily menatapnya. Lelah. Jengkel. Gugup. Semua bercampur.
“Saya tidak memilih melayani tamu spesifik, tuan,” jawabnya . “Semuanya sama bagi saya.”
Mark mengangguk pelan, seolah jawaban itu memang sudah ia duga.
“Tidak apa-apa,” ucapnya. “Kau memang begitu.”
Kalimat itu membuat Emily mengernyit.
“Maksud--?” ulangnya pelan.
Mark tidak menjawab.
Ia mengambil sendok, mencicipi makanan penutup itu dengan gerakan santai, seolah percakapan barusan hanyalah jeda kecil yang tak perlu diselesaikan.
“Mark!”
Suara hangat memotong udara.
Seorang pria paruh baya dengan setelan rapi melangkah mendekat, wajahnya cerah begitu melihat Mark. Ia tertawa kecil, lalu duduk di seberangnya tanpa sungkan.
“Akhirnya kau muncul juga,” kata pria itu. “Aku dengar kau datang tanpa kabar.”
Mark mengangkat pandangan. “Endy.”
Emily berdiri kaku di samping meja, menatap adegan itu tanpa suara.
Endy melirik sekilas ke arahnya, lalu memberi isyarat halus dengan tangan. Kode yang jelas.
Pergi.
Emily mengangguk kecil. Ia mundur satu langkah, lalu berbalik menuju dapur tanpa menoleh lagi. Punggungnya terasa ringan sekaligus berat. Ringan karena akhirnya bisa menjauh. Berat karena kata-kata pria itu masih menggantung di kepalanya.
Kau memang begitu.
Di dapur, Emily berhenti sejenak. Ia bersandar pada meja stainless, menatap kosong ke arah lantai. Kalimat itu diputar ulang berkali-kali di kepalanya. Aneh. Terlalu personal untuk diucapkan orang asing.
“Kenapa sih orang itu berani-beraninya menilai aku?” gumamnya lirih.
Hari ini benar-benar melelahkan.
Ia baru saja tiba kembali di kota, tubuhnya belum sempat benar-benar beristirahat, dan langsung dihantam jam kerja panjang tanpa jeda. Kaki pegal, kepala pening, hatinya pun tidak lebih baik. Dan di tengah semua itu, muncul seseorang yang membuat segalanya terasa semakin berat tanpa alasan yang jelas.
Emily menarik napas panjang.
Semoga setelah ini aku bisa pulang dengan tenang, harapnya dalam hati.
***
Malam menjelang.
Lampu jalan memanjang seperti garis lelah yang tak putus-putus di sepanjang perjalanan pulang. Emily berjalan pelan, menenteng bungkusan makanan yang ia sisihkan dari restoran. Untuknya dan ayahnya. Kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan, meski sering berakhir sia-sia.
Di kepalanya, satu kekhawatiran berputar tanpa henti.
Ia harus mengobati ayahnya.
Ia harus mencari tahu kenapa lebam itu ada.
Semoga bukan karena judi lagi, doanya lirih, hampir tak bersuara.
Rumah kontrakan itu gelap saat ia tiba.
Tidak ada lampu teras. Tidak ada suara televisi. Tidak ada dengkuran berat yang biasanya menyambutnya, entah dalam kondisi mabuk atau setengah sadar.
Hati Emily mencelos.
“Ayah…?” panggilnya pelan sambil membuka pintu.
Hening.
Ia menyalakan lampu ruang tengah. Kosong. Sofa tempat ayahnya biasa tergeletak kini dingin dan rapi secara tidak wajar. Emily berjalan cepat, memeriksa kamar ayahnya.
Tidak ada.
Jantungnya mulai berpacu.
“Ayah?” suaranya meninggi, nyaris panik.
Ia berbalik ke arah gudang belakang. Tempat yang jarang sekali disentuh ayahnya. Bau lembap dan debu menyergap saat pintu kecil itu dibuka.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Arman tergeletak di lantai.
Tubuhnya kaku, napasnya tersengal lemah. Di sampingnya berserakan beberapa cerat obat-obatan, hanya terbungkus plastik ziplock bening. Tanpa label. Tanpa nama. Tanpa aturan pakai.
Emily menjatuhkan bungkusan makanannya.
“Ayah—!” Ia berlari, berlutut di samping tubuh itu. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh bahu Arman. “Ayah, bangun… tolong bangun…”
Tidak ada respon.
Dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat. Pandangannya buram oleh air mata yang ia paksa bertahan.
Tenang, Emily. Tenang.
Ia mengatur napas dengan susah payah, lalu meraih ponselnya dengan tangan bergetar. Jemarinya hampir salah menekan layar saat menghubungi layanan darurat.
“H-halo… ambulans,” suaranya pecah, bergetar hebat. “Ayah saya… ayah saya tidak sadar. Tolong… tolong cepat…”
Ia menyebutkan alamat dengan suara tersendat, diiringi isak yang tidak bisa lagi ia tahan.
Ia menyebutkan alamat dengan suara tersendat, diiringi isak yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Emily menutup panggilan, lalu kembali berlutut di samping tubuh ayahnya. Ia memeluk lututnya sendiri, jemarinya menggenggam ujung kaus pria itu erat, seolah jika ia melepaskannya sedetik saja, ayahnya akan benar-benar pergi.
Beberapa menit kemudian, suara sirine memecah keheningan malam.
Ambulans datang cepat, lampunya menyilaukan halaman sempit rumah kontrakan itu. Dua petugas medis bergerak sigap, memeriksa kondisi Arman, memasang oksigen, mengangkat tubuhnya ke atas tandu.
“Anda keluarga?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya,” jawab Emily tanpa ragu. “Anaknya.”
Ia ikut naik ke dalam ambulans.
Pintu ditutup. Sirine kembali meraung, mengiris malam yang basah dan dingin.
Di dalam kendaraan yang melaju kencang itu, Emily duduk di samping tandu, tangannya tak lepas dari lengan ayahnya. Wajah Arman pucat, bibirnya membiru samar. Setiap tarikan napas terdengar berat, seolah harus diperjuangkan.
Perasaan Emily carut marut.
Takut. Marah. Lelah. Semua bercampur jadi satu.
Ia memejamkan mata, memaksa dirinya berpikir jernih. Tidak boleh panik. Tidak sekarang. Ia harus kuat, setidaknya sampai ayahnya selamat.
Suara sirine meraung seperti mantra panjang yang tak putus-putus. Di dalam kepalanya, doa-doa berhamburan, tak teratur, namun penuh harap.
Tolong…
Tuhan, selamatkan Ayah…
Air mata menetes diam-diam di pipinya, jatuh ke lantai ambulans yang dingin.
Malam itu, Emily tidak meminta keajaiban.
Ia hanya memohon satu hal sederhana.
Agar ayahnya bertahan.