Halte itu masih sama.
Sepi. Dingin. Lampu jalan berkedip lemah, seolah ikut kelelahan menemani seseorang yang menunggu tanpa tujuan pasti. Emily duduk diam di bangku besi, memeluk tasnya erat. Sudah tiga jam berlalu sejak ia tiba, namun tak satu pun bus melintas.
Hanya menunggu.
Jarum jam akhirnya merangkak ke pukul empat pagi ketika suara mesin tua terdengar dari kejauhan. Bus pertama hari itu berhenti dengan decit pelan. Emily berdiri, naik tanpa berkata apa pun, lalu duduk di dekat jendela.
Begitu bus melaju, kepalanya bersandar ke kaca. Matanya terpejam tanpa ia sadari. Tubuhnya menyerah pada lelah yang sudah terlalu lama dipendam.
Ia tertidur sepanjang perjalanan.
Saat bus berhenti di halte dekat rumahnya, matahari baru mulai muncul. Emily terbangun dengan napas berat, lalu turun tergesa. Ia masih harus bekerja siang nanti. Tidak ada waktu untuk berlama-lama.
Ini genap enam bulan sejak ia bekerja di restoran itali.
Enam bulan penuh kaki pegal, punggung nyeri, dan senyum yang harus tetap terpasang meski dadanya kosong. Ia bekerja keras. Terlalu keras untuk seseorang seusianya. Tapi ia tidak punya pilihan lain.
Emily membuka pintu rumah dengan kunci yang berdecit pelan.
Rumah itu sunyi.
Ia melangkah masuk, meletakkan tasnya, lalu berhenti mendadak.
Di sofa ruang tengah, sang Ayah masih terlelap.
Tubuhnya terkulai tidak wajar. Kemejanya kusut dan terbuka sebagian. Wajahnya lebam. Ada bekas darah kering di sudut bibirnya. Lengannya penuh memar, sebagian sudah menghitam.
Emily menjatuhkan tasnya.
“Ayah…?”
Ia mendekat dengan langkah gemetar. Tangannya menyentuh bahu Ayahnya pelan. Dingin. Napasnya masih ada, tapi berat dan tidak teratur.
Jantung Emily berdegup kencang.
Tak selang berapa lama, ayahnya terbangun.
Matanya terbuka perlahan, merah dan keruh. Napasnya berat, dadanya naik turun tidak beraturan. Untuk sesaat, Emily merasa lega. Ia masih hidup.
Namun kelegaan itu hanya bertahan satu detik.
Tangan kasar itu tiba-tiba bergerak.
Menarik rambut panjang Emily dengan sisa tenaga yang ia miliki.
“Ayah—!” jerit Emily tertahan.
Bukan pelukan yang ia dapatkan.
Bukan pertanyaan penuh khawatir.
Melainkan ledakan emosi yang sudah lama mengendap.
“Kau ke mana?!” suara Arman serak, bercampur amarah. “Pergi tanpa pamit! Kau tahu apa yang terjadi padaku?!”
Emily terhuyung, kulit kepalanya terasa perih. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.
“Ayah, aku hanya—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan itu kembali bergerak. Mendorong. Menekan. Menyakiti. Amarah sang Ayah tumpah tanpa arah, tanpa logika.
Ia tidak mengatakan yang sebenarnya.
Tentang malam ketika ia hampir mati di tangan mereka.
Yang ia tahu hanyalah satu hal: seseorang harus disalahkan.
Dan Emily ada di sana.
“Semua ini karena kau!” bentaknya.
Emily berusaha melepaskan diri, tangannya gemetar menahan tubuh ayahnya yang berat dan penuh luka. Ia tidak melawan. Ia hanya bertahan. Seperti biasa.
“Ayah, tolong…” suaranya pecah.
“Aku cuma…”
Namun kata-kata itu tidak sampai.
Yang tersisa hanyalah tangan yang terus berusaha menyiksa, menyalurkan kemarahan yang tidak berani ia arahkan ke sumber aslinya.
Emily jatuh ke lantai. Rambutnya terlepas dari ikatan. Napasnya tersengal. Dunia berputar.
Di antara sakit dan takut, satu kesadaran muncul pelan tapi pasti.
Tenaga sang Ayah memang tidak banyak lagi.
Dengan napas terengah, ia melepaskan rambut Emily. Tubuhnya sendiri goyah, lalu jatuh kembali ke sofa dengan suara berat. Dadanya naik turun tak beraturan, tangannya gemetar saat mencoba mengatur napas. Wajahnya menegang, bukan karena penyesalan, melainkan karena tubuhnya sendiri yang menyerah.
Emily terduduk di lantai beberapa detik. Kepalanya berdenyut. Dunia masih terasa miring.
Ia bangkit perlahan.
“Ayah…” suaranya serak, hampir habis. “Aku pergi ke desa karena kemarin hari kematian Ibu.”
Sang Ayah tidak bergerak.
“Ponselku mati. Aku tidak sempat pulang hanya untuk pamit,” lanjut Emily, menelan ludah. “Kalau aku kembali, aku tidak akan sempat sampai. Aku hanya… aku hanya ingin berdoa sebentar.”
Hening.
Arman memejamkan mata. Atau pura-pura. Emily tidak tahu. Yang jelas, tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Tidak ada tanggapan. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada pengakuan.
Hanya napas berat dan diam yang dingin.
Emily berdiri lebih tegak. Sesuatu di dadanya mengeras, bukan marah, tapi letih yang terlalu lama dipendam.
“Aku harus bersiap,” katanya pelan.
“Shift kerjaku sebentar lagi mulai. Aku tidak mau terlambat. Gajiku bisa dipotong.”
Tetap tidak ada jawaban.
Emily menunggu satu detik. Dua.
Lalu berhenti berharap.
Ia melangkah menuju kamar, menutup pintu perlahan, seolah takut suara kecil itu bisa memicu ledakan lain.
Di dalam kamar sempitnya, Emily menyalakan lampu. Cahayanya pucat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil di dinding.
Lebam merah keunguan mulai muncul di lengan dan bahunya. Bekas jari masih jelas di kulit lehernya. Rambutnya kusut, sebagian tercabut. Bibirnya sedikit pecah.
Ia membersihkan lukanya dengan tangan gemetar. Air menyentuh kulit yang nyeri, membuatnya meringis. Ia mencoba menutup lebam itu dengan baju lengan panjang, tapi warna merahnya terlalu nyata. Tidak bisa disembunyikan.
Emily menarik napas panjang. Menahan. Menghela.
Tidak apa-apa, katanya pada diri sendiri.
Ia harus bekerja. Ia selalu bisa bekerja.
Ia mengenakan seragamnya perlahan, memastikan semuanya rapi. Tidak ada ruang untuk terlihat lemah di dunia luar.
Di luar kamar, Arman masih terbaring di sofa. Diam. Jauh. Seperti orang asing.
Emily mengambil tasnya.
Lalu pergi.
Pintu tertutup pelan di belakang Emily.
Langkah kakinya menjauh, membawa tubuh yang masih nyeri dan hati yang sudah kebal. Ia tidak menoleh lagi.
Di ruang tengah, Arman membuka mata.
Tatapannya kosong beberapa detik, lalu bergerak malas ke arah meja kecil. Tangannya meraba ponsel. Layar menyala, menyinari wajahnya yang lebam dan kusam.
Ia mengetik singkat. Dingin. Tanpa ragu.
Emily kembali ke rumah. Ia melayat sebentar ke makam ibunya. Aku akan pastikan dia tetap di sini.
Pesan itu terkirim.
Arman merebahkan kepala kembali, seolah semua urusan dunia sudah selesai hanya dengan satu kalimat.
Di tempat lain, Benni menerima pesan itu kurang dari satu menit kemudian.
Ia membaca cepat, lalu segera menghubungi satu nama yang sejak lama tak pernah lepas dari pikirannya.
Mark.
“Dia sudah kembali,” lapor Benni singkat.
“Hari ini dia kerja.”
Ada jeda di seberang sana.
Cukup lama.
“Aku tahu, siapkan mobil,” jawab Mark akhirnya. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk sesuatu yang sudah ia tunggu bertahun-tahun.
Telepon ditutup.
Mark berdiri di depan cermin kantor pribadinya. Setelan jas abu gelap melekat sempurna di tubuhnya. Rambutnya rapi. Wajahnya tenang, nyaris tanpa cela. Tidak ada yang bisa menebak badai kecil yang bergerak perlahan di balik matanya.
Hari ini.
Ia akan menampakkan diri.
Bukan sebagai bocah lelaki di kebun teh.
Bukan sebagai kenangan samar di rumah pohon.
Tapi sebagai pria dewasa yang telah belajar mengendalikan dunia.
Ia mengambil mantel, melangkah keluar. Lift turun dengan suara halus, seperti menuruti kehendaknya. Mobil sudah menunggu.
“Restoran Italia,” katanya singkat pada Benni.
Di perjalanan, Mark menatap kota yang berlalu di balik kaca. Gedung-gedung, manusia, lalu lintas. Semua bergerak seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa satu pertemuan kecil akan menggeser hidup seseorang selamanya.
Di restoran itu, Emily sedang bekerja.
Tangannya bergerak cepat, menata piring, mengantarkan pesanan, lalu kembali ke dapur membantu menyiapkan bahan. Jam makan siang hampir tiba. Suasana mulai ramai, suara kursi bergeser dan percakapan tumpang tindih memenuhi ruangan.
“Emily, cepat, segera ke depan!”
Suara Benedict, manajer restoran, terdengar tajam dari balik pintu dapur.
“Pelanggan sudah mulai berdatangan. Jangan lama-lama di dapur. Fast, fast, waiters!”
“Iya, Pak!” sahut Emily spontan.
Ia mengusap tangannya pada celemek, menarik napas sebentar, lalu melangkah ke area depan. Senyum profesional terpasang rapi di wajahnya, meski tubuhnya masih menyimpan sisa nyeri dari pagi yang tidak ramah.
Pintu restoran terbuka.
Seorang pria masuk dengan langkah tenang dan aura yang membuat ruangan terasa sedikit lebih hening. Setelan jasnya sederhana tapi jelas mahal. Tatapannya tajam, dingin, seolah tidak sedang mencari meja kosong, melainkan sesuatu yang sudah lama ia miliki.
Mark.
Emily belum melihatnya.
Belum menyadari bahwa dari sudut ruangan, sepasang mata sedang menelusuri setiap wajah pelayan satu per satu, hingga akhirnya berhenti.
Tepat padanya.
Waktu seperti melambat satu detik.
Mark tidak tersenyum. Tidak terkejut.
Emily bergerak cepat dari satu meja ke meja lain, mencatat pesanan dengan tulisan rapi dan tangan yang nyaris tidak pernah berhenti. Nada suaranya sopan, senyumnya stabil. Ia sudah terbiasa dengan ritme ini. Sibuk membuatnya lupa pada rasa sakit di tubuhnya.
Setelah pesanan terakhir dicatat, ia berbalik dan melihat seorang pria berdiri tak jauh dari pintu masuk.
Sendirian.
Tegap.
Diam.
Emily melangkah mendekat, profesional seperti biasa.
“Selamat siang, Tuan,” ucapnya ramah. “Apakah Anda sudah melakukan reservasi?”
Pria itu mengangkat pandangannya.
Tatapan itu.
Tenang. Dalam. Tajam. Seolah sedang menilai, bukan sekadar melihat. Aura dingin dan berkarisma menyelubunginya tanpa usaha. Ia tidak segera menjawab. Hanya menatap Emily, terlalu lama untuk ukuran percakapan biasa.
Emily sedikit berdeham, tetap tersenyum.
“Tuan?” ulangnya pelan. “Jika belum reservasi, mohon maaf sekali. Meja kami sudah penuh.”
Bibir pria itu bergerak tipis.
“Aku tidak perlu reservasi untuk makan di sini.”
Nada suaranya rendah, datar, tapi ada sesuatu di sana. Keyakinan mutlak. Bukan sombong, melainkan kepastian yang membuat kata itu terdengar seperti fakta.
Emily mengernyit tanpa sadar.
“Hah…?” Senyumnya berubah canggung. “Maaf, saya tidak paham maksud Anda.”
Di dalam kepalanya, pertanyaan berdesakan. Siapa dia? Pelanggan aneh lagi? Atau orang penting yang lupa sopan santun?
Belum sempat ia melanjutkan, langkah tergesa terdengar dari belakang.
“Emily!”
Benedict muncul dengan wajah pucat dan keringat tipis di pelipisnya. Matanya langsung tertuju pada pria di depan Emily. Seketika, rautnya berubah.
Panik.
“T-Tuan Mark…” suaranya nyaris tercekat.
Emily menoleh cepat. Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang.
Tuan… Mark?
Benedict menunduk sopan. Terlalu sopan.
“Maafkan staf kami,” lanjutnya tergesa. “Silakan, silakan duduk. Meja terbaik akan segera kami siapkan.”
Emily terpaku.
Ia menatap Benedict, lalu kembali ke pria itu.
Siapa pria ini?
Sampai-sampai bosnya terlihat seperti baru saja melihat badai datang tanpa peringatan.
Benedict melirik Emily tajam, lalu memberi isyarat halus namun tegas agar ia mundur. Dengan senyum yang dipaksakan, ia mempersilakan pria itu menuju sofa dekat jendela, posisi terbaik di restoran. Dari sana, jalanan kota terbentang jelas, cahaya siang memantul di kaca, menciptakan pemandangan yang biasanya hanya diberikan pada tamu istimewa.
Emily menurut, meski kepalanya penuh tanda tanya. Ia berjalan di belakang Benedict, menunduk sedikit, lalu berbisik cepat.
“Siapa dia?”
Benedict tidak menjawab. Ia justru melotot singkat, memberi peringatan sunyi agar Emily menutup mulutnya sekarang juga.
Mark duduk dengan tenang.
Gerakannya terkontrol, elegan, seolah kursi itu memang menunggunya sejak awal. Ia menyandarkan punggung, menyilangkan kaki, lalu meletakkan satu tangan di sandaran sofa. Tatapannya menyapu ruangan sekilas, dingin dan penuh penguasaan.
Benedict berdiri di samping meja dengan sikap nyaris kaku.
“Silakan, Tuan, Anda dapat memilih menu yang tersedia. Menu utama hari ini adalah Braciole.”
Mark bahkan tidak melirik buku menu.
Ia mengangkat satu jari. Isyarat sederhana, tapi cukup membuat Benedict terdiam seketika.
“Aku tidak mau semua yang kau sebutkan,” ucap Mark datar.
Lalu, tanpa tergesa, ia mengalihkan pandangan sedikit dan menunjuk Emily.
“Kamu.”
Emily refleks menegang.
“Rekomendasikan menu yang cocok untukku saat ini,” lanjutnya tenang. “Aku akan menilai seakurat apa kamu memahami selera pelangganmu.”
Hening.
Suara restoran yang ramai terasa menjauh di telinga Emily. Ia menatap pria itu dengan bingung, lalu melirik buku menu di tangannya.
Kenapa harus aku?
Kenapa tidak tinggal menunjuk saja?
Dalam hatinya, keluhan berputar cepat. Restoran sedang ramai. Pesanan menumpuk. Dan pria ini… memilih mempersulit segalanya di jam paling sibuk.
Emily menarik napas pelan.
“Maaf, Tuan,” katanya hati-hati, tetap profesional. “Biasanya pelanggan memilih langsung—”
“Aku tahu,” potong Mark singkat.
Nada suaranya tidak meninggi. Justru itu yang membuatnya terasa menekan.
“Aku ingin mendengar pilihanmu.”
Emily menggigit bagian dalam bibirnya. Tangannya sedikit berkeringat. Ia menatap Mark sekali lagi, lebih saksama kali ini. Cara pria itu duduk. Seolah ia benar-benar ingin diuji… atau justru sedang menguji.
Baiklah.
Emily menegakkan bahunya.
“Jika Anda tidak ingin sesuatu yang terlalu berat, tapi tetap berkarakter,” ucapnya perlahan, “saya sarankan Braciole, tapi dengan saus anggur merah. Dipadukan dengan kentang panggang dan Sautéed asparagus. Rasanya seimbang. Tidak berisik, tapi meninggalkan kesan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan tanpa sadar,
“Cocok untuk orang yang tidak suka membuang waktu.”
Mark menatapnya.
“Menarik,” katanya pelan.
Ia menoleh pada Benedict.
“Itu pesananku.”
Emily menunduk sopan, lalu berbalik pergi.