Chapter 3 - Janji yang Tak Pernah Mati

1606 Words
Mark tumbuh dengan disiplin yang dingin. Sejak orang tuanya meninggal, ia menjadi anak yang pendiam. Konon, kematian itu bukan kecelakaan. Orang tuanya dibunuh oleh sekelompok orang yang diduga dibayar oleh salah satu rival keluarga Fernandes. Atau mungkin lebih dari satu. Koalisi yang rapi, licik, dan nyaris tanpa jejak. Sampai detik ini, tidak ada jawaban. Hanya spekulasi. Kota membesarkannya dengan gedung tinggi, aturan ketat, dan tatapan orang-orang yang selalu menunduk saat menyebut nama keluarganya. Johnny Fernandes memastikan cucunya tidak kekurangan apa pun kecuali satu hal, yaitu kelembutan. Mark diajari untuk tidak mempercayai siapa pun. Untuk tidak menunjukkan emosi. Untuk selalu mengendalikan keadaan, sebelum keadaan mengendalikannya. Ia belajar bahwa kehilangan adalah kelemahan, dan kelemahan harus dikubur dalam-dalam. Mark tumbuh menjadi remaja dengan kecerdasan di atas rata-rata dan sikap dingin yang membuat orang dewasa merasa tidak nyaman. Ia jarang tersenyum. Jika bicara, suaranya tenang, singkat, dan mematikan. Seolah setiap kata telah dipertimbangkan risikonya. Di balik semua pencapaian itu, satu nama terus berputar di kepalanya, seperti gema yang menolak hilang. Emily. Ia bahkan tidak yakin wajahnya masih sama. Tapi perasaan itu tidak berubah. Perasaan kehilangan yang tidak pernah diberi penjelasan. Janji yang tidak pernah dibatalkan. “Aku akan menunggumu.” Kalimat itu tidak pernah Mark tarik kembali. Saat Mark menginjak usia dewasa, kekuasaan jatuh ke tangannya seperti sesuatu yang memang sudah menunggunya. Perusahaan berkembang. Jejaring meluas. Nama Fernandes menjadi lebih ditakuti daripada dihormati. Dan di antara berbagai berkas usang, laporan yang sudah mulai luntur pada beberapa huruf, dan orang-orang yang berusaha menyenangkan hatinya, Mark mulai mencari. Arman. Status: Pindah ke Kota. Istri: Anna (Meninggal). Anak: Emily. Mark menatap data itu lama. Terlalu lama. Bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum bahagia, melainkan sesuatu yang lebih gelap. Lebih pasti. “Ketemu,” gumamnya pelan. Ia berdiri, mengenakan jas hitamnya. Kota berkilau di balik jendela kantor lantai atas. Dunia terasa kecil. Terlalu kecil untuk menyembunyikan seseorang darinya. Mark mematikan layar tablet itu perlahan. Tidak ada rasa ragu. Tidak ada kegembiraan. Yang ada hanyalah ketenangan berbahaya dari seseorang yang akhirnya menemukan apa yang ia cari selama ini. “Persiapkan mobil,” perintahnya datar pada sekretaris di luar ruangan. Langkahnya mantap saat meninggalkan kantor. Jas hitamnya jatuh sempurna di bahu, seolah dunia memang diciptakan untuk tunduk padanya. Kota berkilau di bawah kakinya, kecil dan rapuh. ******* Mercedes-Benz hitam itu berhenti di tepi jalanan pinggir kota. Mesin masih menyala, namun kabinnya sunyi. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Mark duduk di kursi belakang, menatap lurus ke depan. Rumah kontrakan itu berdiri di antara bangunan-bangunan serupa, sempit dan pengap. Catnya mengelupas, jendelanya buram, dan pagar besinya berkarat di beberapa bagian. Tampak usang. Terlalu rapuh untuk melindungi siapa pun di dalamnya. “Di sini?” tanyanya datar. Benni, Sekretaris sekaligus menjadi sopirnya kala itu hanya mengangguk. “Iya, Tuan.” “Pantau,” katanya singkat. “Jangan ada yang tahu.” Mercedes-Benz itu kemudian melaju pergi, melaju tenang membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan memantul di kaca jendela, berkelebat seperti bayangan yang tak pernah benar-benar menetap. Mark menyandarkan punggungnya, tatapannya lurus ke depan. Benni,” panggilnya tanpa menoleh. “Ya, Tuan.” “Apa yang dibutuhkan si tua bangka Arman itu?” Benni melirik kaca spion sebentar sebelum menjawab. “Pekerjaan tetap.” Hening sejenak. Mark menggerakkan rahangnya pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum, lebih seperti keputusan yang sudah lama menunggu bentuknya. “Bisa diatur,” katanya singkat. Benni tahu. Kalimat itu bukan tawaran. Bukan rencana. Itu perintah yang sudah final. “Posisi?” tanya Benni hati-hati. Mark menatap ke luar jendela, bayangan rumah kontrakan tadi masih jelas di kepalanya. “Sopir,” jawabnya tenang. “Biarkan dia membawa kontainer kita ke negara-negara tetangga. Aku tidak mau ada pengganggu yang tidak perlu.” Benni terdiam sejenak. Ia paham betul maksud di balik perintah itu. “Akan saya urus,” jawab Benni akhirnya. “Riwayatnya?” “Tidak perlu terlalu bersih,” potong Mark datar. “Selama dia patuh.” Mobil melaju mulus, meninggalkan kawasan padat menuju jalan utama. Lampu merah menyala, membuat kendaraan berhenti sejenak. Mark menatap pantulan wajahnya di kaca jendela. Tatapannya tenang, terkendali. Tidak ada jejak keraguan. “Pastikan dia sibuk,” lanjutnya. “Jauh dari rumah. Jauh dari waktu luang.” Benni mengangguk pelan. “Dan gadis itu?” Mark tidak langsung menjawab. Nama itu tidak ia ucapkan. Tidak perlu. Mereka berdua tahu siapa yang dimaksud. “Dia tidak perlu tahu apa pun,” kata Mark akhirnya. “Belum.” Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju. Di luar, kota bergerak seperti biasa. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing, tak sadar bahwa di balik kaca gelap sebuah mobil mewah, takdir seseorang sedang disusun rapi. Dan dengan seketika, semua berjalan begitu mudah. Melalui seorang mandor tua yang kini bekerja di gudang ekspedisi, Arman mendapatkan pekerjaan tetap. Tanpa wawancara panjang. Tanpa banyak pertanyaan. Namanya langsung masuk dalam daftar sopir pengangkut kontainer lintas negara. Truk besar. Rute panjang. Jam kerja yang melelahkan. Upahnya jauh lebih besar dari pekerjaan apa pun yang pernah Arman pegang sebelumnya. Arman menerima tawaran itu bagaikan ketiban bulan. Tanpa banyak bertanya. Tanpa rasa curiga. Ia memang tidak punya kemewahan untuk memilih. Uang itu ia butuhkan. Hutang pada lintah darat menumpuk. Bunga berjalan tanpa ampun. Ancaman datang silih berganti, lewat pesan singkat dan kunjungan malam yang membuat tidur Arman tak pernah nyenyak. Selama ini ia hanya menggali lubang untuk menutup lubang lain. Lingkaran yang tak pernah selesai, dipicu oleh kebiasaan buruk dan hidup yang berantakan. Pekerjaan itu seperti tali penyelamat yang tiba-tiba dilemparkan. Arman menggenggam surat kontraknya dengan tangan gemetar. Bukan karena bangga, melainkan karena takut kehilangan kesempatan itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bertahan kali ini. Untuk tidak membuat kesalahan yang sama. Namun janji-janji seperti itu sudah terlalu sering ia ucapkan. Ia pulang malam itu dengan langkah lebih ringan, meski matanya masih menyimpan lelah yang dalam. Di hadapan Emily, ia berusaha terlihat baik-baik saja. Tidak mabuk. Tidak marah. Tidak kasar. “Kerjanya berat,” katanya singkat. “Tapi bayarannya besar.” Emily mengangguk. Ia tersenyum kecil. Bukan senyum penuh harap, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. Mungkin ini awal yang baru, pikirnya. Mungkin ayahnya akan berubah. “Selama Ayah merasa senang dengan pekerjaan itu,” ucap Emily pelan, “aku tidak masalah.” Arman menoleh padanya. “Aku juga akan mulai kerja di restoran Italia,” lanjut Emily. “Beberapa hari lagi. Masa latihanku sudah selesai. Aku kerja penuh waktu mulai sekarang.” Ia menarik napas, mencoba terdengar lebih kuat dari yang ia rasakan. “Aku bisa melakukan apa saja. Ayah tidak perlu khawatir.” Arman tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu menyalakan rokok di teras rumah. Asap mengepul perlahan, membawa kelelahan yang tidak pernah benar-benar hilang. Beberapa bulan lalu, Emily memutuskan untuk cuti dari perguruan tingginya. Bukan karena malas. Beasiswanya tidak mampu menutup biaya praktik beberapa mata kuliah. Satu demi satu tagihan datang, dan Emily tidak punya pilihan selain berhenti sejenak. Untuk sekarang, ia memilih bekerja. Restoran Italia itu tidak mewah. Tapi cukup ramai. Jam kerjanya panjang. Kakinya sering pegal, tangannya sering panas karena piring dan oven. Namun Emily tidak mengeluh. Ia terbiasa lelah. “Baguslah,” ucap Arman tiba-tiba, suaranya datar. “Kau sudah besar. Sudah seharusnya kau bantu Ayah melunasi hutang kita.” Emily terdiam. “Kita bisa berbagi tugas mulai sekarang,” lanjutnya, seolah itu keputusan bersama. Emily mengangguk pelan. Refleks. Bukan persetujuan yang lahir dari keikhlasan, melainkan kebiasaan menelan segalanya sendirian. Di dalam hatinya, sebuah tanya menggantung. Tugas macam apa yang Ayah maksud? Selama ini, Arman jarang benar-benar memikirkan hidup mereka berdua. Mabuk-mabukan, berjudi, menghilang berhari-hari. Dunia ayahnya selalu berputar pada dirinya sendiri, dan Emily hanya bayangan yang ikut terseret. Ironisnya, Emily justru tumbuh dengan caranya sendiri. Sekolahnya bukan hasil jerih payah Arman. Beasiswa yang ia dapatkan sejak kecil menjadi satu-satunya alasan ia bisa terus belajar. Tak jarang, beberapa guru dan orang tua teman-temannya membantu membelikan buku, seragam, atau sekadar ongkos pulang. Tidak banyak. Tapi cukup. Dan Emily selalu bersyukur. Ia tidak pernah meminta lebih. Tidak pernah menuntut keadilan. Ia hanya bertahan. Kini, mendengar kata berbagi tugas, dadanya terasa sedikit sesak. Bukan karena takut bekerja keras, melainkan karena beban itu kembali diletakkan di pundaknya, seolah memang sudah seharusnya begitu. Emily menunduk, menyembunyikan pikirannya. “Baik, Yah,” jawabnya akhirnya. Di teras, Arman menghembuskan asap rokok ke udara malam. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Hanya lelah yang bercampur kebiasaan. Emily berdiri di ambang pintu, memandang punggung ayahnya sebentar, lalu masuk kembali ke rumah. Ia tahu satu hal dengan pasti. Ia akan bekerja. Ia akan membantu. Tapi ia juga tahu, selama ini, ia sudah melakukannya sendirian. Andai Ibu masih ada, batinnya. Mungkin hidup tidak seperti ini. Ia membayangkan wajah ibunya. Senyum lembut yang selalu menenangkan. Pelukan yang membuat dunia terasa aman, meski hanya sejenak. Semua itu kini tinggal kenangan yang semakin pudar, tapi tidak pernah benar-benar hilang. Emily mengusap sudut matanya cepat-cepat. Tangis tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia sudah terlalu lama belajar untuk kuat. Ia meraih sebuah bingkai foto kecil di atas meja. Foto lama. Sudah sedikit menguning di sudut-sudutnya. Di sana, ibunya tersenyum lembut, seolah dunia tak pernah sekeras ini. Emily memandanginya lama. “Ibu tidak perlu khawatir di sana,” ucapnya pelan, hampir berbisik. “Aku akan tetap menjaga Ayah.” Jarinya mengusap kaca foto itu perlahan. “Meski Ayah tidak pernah berpikir begitu.” Suara Emily bergetar tipis, tapi ia tidak menangis. Ia hanya menatap wajah ibunya, mencari kekuatan yang dulu selalu ia dapatkan dari sana. Lampu kamar redup. Malam menutup kota dengan tenangnya yang palsu. Emily meletakkan kembali foto itu, lalu berbaring tanpa mematikan lampu. Matanya menatap langit-langit, pikirannya penuh, hatinya kosong. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa terus sekuat ini. Ia hanya tahu, menyerah bukan pilihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD