Chapter 2 - Ia Benar-Benar Menunggu

1695 Words
Mark menepati kata-katanya. Keesokan sore, saat matahari mulai condong dan kebun teh diselimuti cahaya keemasan, ia sudah berdiri di tempat yang sama. Tangannya dimasukkan ke saku celana, punggungnya tegak, tatapannya mengarah ke jalan setapak di antara barisan tanaman. Ia tidak tahu pasti mengapa ia datang lebih awal. Atau mengapa dadanya terasa sedikit tidak sabar. “Dia bilang selalu ke sini,” gumamnya pelan. Angin berembus lembut, membawa aroma daun teh segar. Para buruh mulai berdatangan, termasuk perempuan-perempuan dengan keranjang di punggung. Mark mengamati satu per satu wajah yang lewat, sampai akhirnya ia melihat sosok kecil berlari tanpa arah, rambutnya dikuncir asal, tawanya pecah tanpa beban. Emily. Langkah Mark terhenti seolah kakinya tertanam di tanah. Gadis kecil itu kembali berlari di antara tanaman teh, persis seperti kemarin. Kali ini, ia tidak jatuh. Ia berhenti sendiri saat melihat Mark berdiri tak jauh darinya. “Kak Mark!” serunya ceria, seolah mereka sudah saling mengenal lama. Mark terkejut. Bukan karena dipanggil, tapi karena namanya keluar begitu mudah dari bibir kecil itu. “Kau datang,” katanya, lebih pelan dari yang ia maksudkan. “Iya!” Emily mengangguk antusias. “Aku bilang, kan. Aku selalu ke sini.” Mark menatapnya beberapa detik. Ia tidak tahu kenapa, tapi mendengar kalimat itu membuat sesuatu di dalam dirinya mengendur… lalu mengencang bersamaan. “Kau sendirian?” tanyanya. Emily menggeleng. “Ibu di sana,” katanya sambil menunjuk barisan pemetik teh. “Ayahku juga kerja di sini.” Mark mengikuti arah telunjuknya. Untuk pertama kalinya, ia melihat dunia yang tidak pernah benar-benar ia perhatikan. “Kau suka tempat ini?” tanya Emily tiba-tiba. Mark kembali menatapnya. “Iya,” jawabnya jujur. “Sekarang aku suka.” Emily tersenyum lebar, lalu menarik tangan Mark tanpa berpikir panjang. “Ayo! Aku tunjukkan tempat favoritku.” Mark membeku sesaat. Tak ada yang pernah menarik tangannya seperti itu. Tidak tanpa izin. Tidak tanpa rasa takut. Namun tangan kecil itu hangat dan yakin. Ia tidak melepaskannya. Mereka berjalan berdampingan, langkah Mark melambat menyesuaikan. Dari kejauhan, seorang pria dewasa memperhatikan mereka dengan dahi berkerut. Salah satu penjaga Johnny. Ia menghela napas pelan. “Ini bisa jadi masalah…” gumamnya. Namun Mark tidak mendengar itu. Yang ia dengar hanya tawa Emily. Mereka berhenti di sebuah rumah pohon tua yang berdiri kokoh di antara rimbunnya daun teh dan pepohonan liar. Tangga kayunya sederhana, beberapa anak tangga sudah mulai lapuk, tapi masih cukup kuat untuk dinaiki. “Ini tempat rahasiaku,” bisik Emily bangga. “Aku sering main di sini.” Mark menatap ke atas. Rumah pohon itu kecil, tapi cukup untuk dua anak. Ia tidak bertanya siapa yang membuatnya. Ia hanya mengikuti Emily menaiki tangga, langkahnya hati-hati. Emily duduk bersila, lalu tiba-tiba berdiri lagi dengan wajah cerah. "Ini tempat bermainku. Aku suka bermain menjadi pengantin." Mark mengerjap. “Pengantin?” “Iya!” Emily sudah melompat turun, memetik beberapa bunga kecil yang tumbuh liar di sekitar batang pohon. Ia kembali naik, duduk di depan Mark, lalu mulai merangkai bunga dan ranting kecil dengan penuh keseriusan. Lidahnya sedikit menjulur, tanda ia sedang fokus. “Kak Mark jadi pengantin pria,” katanya tegas. “Aku pengantin perempuan.” Mark terdiam. Ia tidak tertawa. Tidak menolak. Ia hanya memperhatikan setiap gerakan Emily, seolah itu sesuatu yang penting. Emily mengangkat hasil buatannya. Sebuah mahkota kecil dari lilitan ranting dan bunga liar. “Ini buat Kak Mark.” Ia berdiri berjinjit, lalu dengan hati-hati meletakkan mahkota itu di kepala Mark. Rambut Mark sedikit berantakan, tapi Emily tersenyum puas. “Sekarang aku,” katanya lagi. Ia membuat mahkota lain untuk dirinya sendiri, lalu mengambil dua ranting kecil yang dibentuk melingkar. “Nah, ini cincin,” ucapnya polos sambil menyelipkan salah satunya ke jari Mark. “Yang ini punyaku.” Mark menatap cincin ranting itu. Sesuatu di dadanya terasa menghangat… lalu mengikat. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia tidak ingin melepasnya. Emily tersenyum lebar, matanya berbinar. “Sekarang kita sudah jadi sepasang pengantin.” Mark mengangkat wajahnya. “Kalau begitu,” katanya pelan, terlalu serius untuk sebuah permainan, “kau tidak boleh pergi.” Emily tertawa kecil.“Aku tidak ke mana-mana. Ini rumahku.” Mark mengangguk. “Bagus.” Angin berembus lembut, membuat bunga-bunga kecil di mahkota mereka bergoyang. Di rumah pohon itu, dua anak mengucapkan janji yang tak pernah mereka pahami artinya. Bagi Emily, itu hanya permainan. Bagi Mark… itu adalah awal. Sore itu, Mark datang lebih awal. Langit kebun teh tampak muram, seolah warna hijaunya ikut meredup. Angin berembus pelan, membawa daun-daun kering jatuh satu per satu. Mark melangkah cepat menuju rumah pohon, cincin ranting masih melingkar di jarinya. Namun tempat itu kosong. Tidak ada tawa kecil. Tidak ada langkah kaki berlari. Tidak ada suara Emily memanggil namanya. Mark menaiki tangga kayu dengan langkah tergesa. Rumah pohon itu sunyi. Terlalu sunyi. Mahkota bunga yang kemarin dipakai Emily sudah layu, tergeletak di sudut, kelopaknya gugur satu per satu. Ia menunggu. Beberapa menit. Satu jam. Hingga matahari turun semakin rendah. Emily tidak datang. Hari itu, di rumah kecil dekat kebun, keluarga Emily sedang bersiap pergi. Ibunya terbaring lemah, wajahnya pucat, napasnya tersengal. Penyakit itu datang terlalu cepat, terlalu parah. Tak ada cukup waktu untuk berpamitan. Mereka harus pergi ke kota lain, mencari pengobatan tradisional yang katanya masih memberi harapan. Emily tidak sempat kembali ke kebun teh. Tidak sempat naik ke rumah pohon. Tidak sempat melepas cincin ranting di jari kecilnya. Ia pergi sambil menangis di dalam mobil tua, menoleh ke arah kebun yang perlahan menjauh, tanpa tahu bahwa seorang anak lelaki sedang menunggunya di tempat yang sama. Sore itu, Mark turun dari rumah pohon sendirian. Ia berdiri lama di bawahnya, menatap ke arah jalan setapak yang biasa dilalui Emily. Tangannya mengepal. Dadanya terasa sesak, asing, dan tidak bisa ia jelaskan. Ia tidak mengerti mengapa Emily tidak datang. Ia hanya tahu satu hal. Ia telah berjanji menunggu. Hari berganti hari. Mark tetap datang. Ke rumah pohon. Ke kebun teh. Ke tempat yang kini hanya menyisakan bayangan. Namun Emily tidak pernah kembali lagi saat itu. Di bawah rumah pohon yang kini sunyi, seorang anak lelaki belajar arti kehilangan. Dan sejak sore itu, menunggu bukan lagi permainan. Melainkan janji yang akan ia tagih seumur hidup. Hari ketujuh penantian Mark berakhir tanpa jawaban. Pagi itu, mobil hitam milik keluarga Fernandes berhenti di depan rumah besar di tengah kebun. Johnny berdiri di teras, wajahnya keras, tak memberi ruang untuk penolakan. “Kita pulang hari ini,” ucapnya tegas. “Liburanmu selesai.” Mark berdiri kaku. Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Aku belum selesai,” katanya pelan. Johnny menatap cucunya lama. “Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan di sini. Sekolahmu masuk sebentar lagi.” Mark ingin berteriak. Ingin mengatakan bahwa ada. Bahwa seseorang telah berjanji. Bahwa rumah pohon itu bukan sekadar tempat bermain. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan, berubah menjadi sesuatu yang lebih berat. Ia hanya menurut. Di dalam mobil, Mark menatap keluar jendela tanpa berkedip. Kebun teh perlahan menjauh, hijau yang dulu terasa hidup kini seperti luka terbuka. Cincin ranting itu masih melingkar di jarinya. Ia tidak melepasnya. Tidak berniat. Di dalam hatinya, amarah mengendap. Bukan kemarahan yang meledak, melainkan yang diam, dingin, dan menunggu waktu. Ia tidak tahu ke mana Emily pergi. Tidak tahu mengapa ia ditinggalkan. Tapi satu hal mengakar kuat, Ia akan menemukannya. Beberapa bulan kemudian, sebuah mobiltua berhenti di tepi desa yang sama. Desa itu terlihat lebih kecil dari yang ia ingat. Lebih sunyi. Rumah-rumah tampak sama, tapi rasanya berbeda. Tidak ada tangan hangat yang menggenggamnya. Tidak ada suara lembut yang memanggil namanya. Ibunya telah pergi. Pengobatan itu gagal. Kota lain tak memberi keajaiban. Yang tersisa hanya kain putih dan tanah basah yang kembali menyambut ibunya pulang, kali ini untuk selamanya. Emily berdiri di depan makam itu dengan mata kosong. Tangisnya sudah habis di perjalanan. Yang tertinggal hanya duka yang berat dan sunyi. “Aku pulang, Bu,” bisiknya. “Tapi Ibu tidak ada.” Hari-hari berikutnya, Emily menjadi anak yang berbeda. Ia tidak lagi berlari di kebun teh. Tidak naik ke rumah pohon. Tawa kecil itu menghilang, digantikan tatapan yang terlalu dewasa untuk usianya. Dua anak itu kini berada di dua dunia berbeda. Satu tumbuh dengan kehilangan. Satu tumbuh dengan amarah. Namun takdir tidak pernah benar-benar memutuskan benang yang sudah terikat. Waktu berlalu begitu cepat. **** Kota menyambut Emily dengan suara bising dan udara yang tak ramah. Ia datang bukan untuk mengejar mimpi, melainkan untuk bertahan. Bersama ayahnya, Emily pindah ke sebuah rumah kontrakan sempit di pinggir kota. Dindingnya tipis, catnya mengelupas, dan malam-malamnya dipenuhi suara pertengkaran dari tetangga yang tak pernah benar-benar ia kenal. Ayahnya tidak pernah benar-benar pulih. Ia bekerja sekadarnya, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, tak pernah bertahan lama. Siang hari dihabiskan dengan tidur, malam hari dengan botol-botol murah yang baunya menusuk. Kadang berjudi. Kadang pergi bersama orang-orang yang Emily tidak kenal, lalu pulang dengan mata merah dan langkah sempoyongan. Kadang tidak pulang sama sekali. Namun hidup selalu punya cara aneh untuk memberi celah. Seorang pria datang suatu sore. Mandor tua yang dulu bekerja di kebun teh. Rambutnya kini lebih memutih, tapi sorot matanya masih sama. Dialah orang yang dulu sering memberi ayah Emily rokok saat jam istirahat. “Aku dengar kau di kota,” katanya pada ayah Emily. “Kalau kau mau, ada kerjaan. Supir. Perusahaan yang mengelola ekspor bahan mentah.” Sejak saat itu, ayahnya mulai bekerja sebagai supir. Mengantar barang, menjemput orang, kadang pergi ke luar kota berhari-hari. Sering kali, Emily pulang sekolah dan menemukan rumah kosong. Atau ayahnya tergeletak di sofa, bau alkohol memenuhi ruangan. Itulah dunia tempat Emily tumbuh. Ia belajar memasak sendiri. Belajar mengurus luka sendiri. Belajar mengerjakan tugas sekolah di bawah lampu redup sambil menahan lapar. Ia tidak menangis keras-keras. Tangis hanya datang diam-diam, larut malam, saat kota sedang tidur. Di sekolah, Emily dikenal pendiam. Nilainya cukup baik. Tidak menonjol, tapi juga tidak pernah benar-benar jatuh. Emily tidak tahu bahwa di kota yang sama, bertahun-tahun kemudian, seseorang sedang tumbuh dengan kuasa dan kendali. Menyusun hidupnya dengan rapi. Mengingat janji yang bahkan tidak ia sadari pernah ia buat. Sementara Emily tumbuh dengan kerasnya dunia, Mark tumbuh dengan satu keyakinan yang tidak pernah pudar. Saat waktu mempertemukan mereka kembali, Yang ada hanya dua orang dewasa dengan masa lalu yang sama sekali belum selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD