Chapter 1 - Awal Pengikat Takdir

1984 Words
Dentuman keras menggema di sepetak ruangan gelap, dingin, dan pengap malam itu. Bau anyir menusuk hidung, bercampur dengan keringat yang membuat perut mual. Aura dingin terpancar dari sosok lelaki tampan yang berdiri tegak di tengah ruangan. Sorot mata tajam, rahang mengeras, dan raut wajah penuh amarah menjadikannya terlihat mengerikan. Pria itu adalah Mark. Tinggi seratus delapan puluh sentimeter, bertubuh atletis dengan kulit sawo matang yang bersih dan terawat, dipenuhi bulu-bulu halus di atas permukaannya. Mata cokelatnya yang tajam bak elang kini menatap lurus ke arah mangsanya. Tatapan itu seolah membunuh, mencabik perlahan hingga tak bersisa. “Ampun, Tuan… ampuni aku. Aku mohon,” lirih seorang lelaki paruh baya. “Aku akan melakukan apa pun perintahmu.” Tubuhnya penuh lebam. Ia tergeletak tak berdaya, seakan sudah hancur berkeping-keping. “Ampun, katamu?” suara Mark rendah, tapi mematikan. “Bahkan kau tak mampu menjaga gadisku. Kau pikir pantas diberi ampun?” Wajah Mark mengeras. “HAJAR.” Dentuman demi dentuman kembali terdengar. Tinju para algojo menghantam tubuh lelaki tua itu bergantian, tanpa belas kasihan. “STOP!” Semua tangan terhenti. Mark melangkah mendekat, menunduk sejajar dengan wajah Arman. Tatapan tajamnya disertai senyum tipis yang mengerikan, mengancam, dan penuh intimidasi. “Aku tidak bisa menunggu lebih lama,” ucapnya dingin. “Gadisku harus segera kembali ke sisiku.” Ia memiringkan kepala sedikit. “Kau paham maksudku, Arman?” “Atau aku harus memanggil Ayah Mertua?” Arman terbatuk keras. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, menetes ke lantai dingin. Ia mendongak, menatap Mark dengan mata gemetar, bukan hanya karena sakit, tapi karena ketakutan yang terlalu dalam untuk disembunyikan. “T-Tuan… aku mencarinya,” suaranya bergetar. “Dia menghilang sendiri. Aku—” PLAK. Tamparan Mark mendarat telak. “Kau masih berani beralasan,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan. Namun justru itu yang membuat semua orang di ruangan menahan napas. “Aku tidak peduli bagaimana caranya.” Mark berdiri tegak kembali. Ia merapikan manset kemejanya dengan gerakan santai, seolah darah dan rintihan di belakangnya hanyalah kebisingan tak berarti. “Aku membesarkannya dengan aman. Aku menjaganya dari jauh,” lanjutnya. “Dan kau membiarkannya hilang.” Ia menoleh pada salah satu anak buahnya. “Temukan dia. Apa pun caranya.” “Baik, Tuan.” Mark melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh. “Arman,” katanya datar. "Jika aku tidak menemukannya dalam waktu dekat… kau tahu apa hadiah yang pantas untukmu." Pintu tertutup dengan bunyi berat. Ruangan kembali sunyi, menyisakan tubuh remuk dan ketakutan yang belum selesai. Di tempat lain Seorang gadis tidak menyadari bahwa malam itu seseorang sedang menghancurkan dunia demi menemukannya. Gadis itu hanya duduk diam di sudut halte bus yang sepi, memeluk tasnya erat-reta, seolah benda itu satu-satunya jangkar agar ia tidak runtuh. Napasnya tersengal, tak kunjung teratur. Hujan turun rintik-rintik, seakan malam sengaja menyambut luka yang ia pendam dengan cara paling kejam. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang hilang...… atau mungkin, menekan dari dalam, namun tak mampu terucap lewat kata. Emily. Gadis cantik dengan mata sembab dan wajah pucat itu menatap kosong ke arah jalanan basah di depannya. Lampu-lampu kendaraan berlalu lalang, tapi tak satu pun benar-benar ia lihat. Hari ini adalah peringatan hari kematian ibunya. Satu-satunya orang yang ia sayangi. Satu-satunya rumah yang pernah ia miliki. Tangannya gemetar saat merogoh saku jaket, menggenggam ponsel yang layarnya tetap gelap. Tak ada pesan. Tak ada panggilan. Dunia terasa terlalu sunyi untuk seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Emily menghela napas panjang, dadanya kembali terasa sesak. Ia baru menyadari satu hal yang membuat hatinya semakin berat. Ia lupa mengabari ayahnya bahwa hari ini ia pergi ke desa tempat ibunya disemayamkan. Desa asal-usul ibu dan ayahnya. Desa yang selama ini hanya menjadi cerita singkat dalam kenangan masa kecilnya. Ayahnya jarang menghubunginya sejak ibunya meninggal. Jarak yang perlahan berubah menjadi kebisuan. Emily pun sama. Ia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana memulai percakapan tanpa menyentuh luka lama. “Pasti Ayah marah…” gumamnya pelan. Ia menatap layar ponsel sekali lagi, ragu. Jarum jam sudah melewati tengah malam. Jarinya sempat menggantung di atas layar, lalu mengendur kembali. Tidak sekarang. Tidak malam ini. Emily menyandarkan punggungnya ke bangku halte. Matanya terpejam sesaat, mencoba menenangkan diri. Sejak kematian ibunya, ayahnya berubah. Pria yang dulu ia kenal sebagai sosok pendiam dan bertanggung jawab perlahan menghilang. Malam-malamnya diisi botol-botol kosong, meja judi, dan perempuan-perempuan yang datang lalu pergi tanpa nama. Bukan karena ayahnya tak mencintai ibunya lagi, melainkan karena ia tak pernah tahu cara bertahan setelah kehilangan. Saat itu Emily masih terlalu kecil untuk mengerti semua yang dilakukan ayahnya. Emily mengetahuinya dari tetangga. Dari bisik-bisik yang sampai ke telinganya tanpa ia minta. Dari tatapan iba orang-orang yang menatapnya seolah ia anak yang patut dikasihani. Emily memilih diam. Ia belajar menunduk. Belajar berpura-pura tidak tahu, seakan dengan begitu semuanya akan kembali normal. Namun waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan. Semakin hari, ayahnya semakin tenggelam. Amarahnya tumbuh seiring botol-botol yang kosong. Hingga suatu hari, keberanian kecil itu muncul. Emily yang mulai beranjak remaja memberanikan diri menegur. Bukan dengan suara keras, hanya kalimat lirih yang penuh harap. Dan sejak saat itu, segalanya berubah lebih buruk. Bentakan pertama. Dorongan pertama. Lalu pukulan demi pukulan yang ia terima tanpa sempat menghindar. Emily belajar satu hal sejak malam itu, berbicara tidak selalu menyelamatkan. Ia berhenti menegur. Berhenti berharap. Berhenti percaya bahwa ayahnya akan kembali menjadi sosok yang ia kenal. Setiap luka ia simpan sendiri, setiap tangis ia telan dalam diam. Karena di rumah itu, tidak ada lagi tempat berlindung. Flashback Dulu, sebelum dunia Emily runtuh, hidup mereka sederhana. Ayahnya adalah buruh di kebun teh. Setiap pagi lelaki itu berangkat sebelum matahari benar-benar terbit, membawa bekal nasi dingin dan senyum tipis yang selalu sama. Tangannya kasar, kulitnya menggelap terbakar matahari, tapi pelukannya selalu hangat. Ibunya adalah pemetik teh. Perempuan itu sering mengajak Emily ikut ke kebun saat libur sekolah. Tak jarang ia menyusul ibunya setelah sekolah usai. Dengan keranjang anyam di punggung dan caping lusuh di kepala, ibunya memetik daun-daun teh muda dengan gerakan cekatan. Tangannya selalu wangi daun segar dan tanah basah. Kebun teh tempat mereka bekerja adalah milik seorang konglomerat besar. Johnny Fernandes. Nama itu terdengar asing dan jauh bagi Emily kecil. Ia hanya tahu bahwa pabrik pengolahan teh di kaki bukit itu besar, megah, dan selalu dijaga ketat. Truk-truk keluar masuk setiap hari, membawa hasil panen dari tangan-tangan buruh seperti ayah dan ibunya. “Ayah, itu pabrik siapa?” tanya Emily suatu sore, menunjuk bangunan besar berwarna abu-abu di kejauhan. Ayahnya tersenyum kecil. “Punya orang kaya di kota. Kita cuma numpang kerja.” Emily mengangguk, tak benar-benar mengerti. Baginya, pabrik itu hanya latar belakang. Yang penting adalah tangan ibunya yang menggenggamnya, dan suara ayahnya yang selalu memanggilnya pulang saat senja. Saat itu, hidup mereka mungkin tidak berlebihan. Tapi cukup. Cukup untuk tertawa. Cukup untuk bermimpi. Emily kecil berlarian di antara barisan tanaman teh yang membentang hijau. Tawanya ringan, bebas, pecah bersama angin sore. Sesekali ia terjatuh, lututnya kotor oleh tanah, namun ia hanya tertawa lalu bangkit kembali, seolah dunia tak pernah cukup kejam untuk membuatnya takut. Langkah kaki kecilnya tiba-tiba terhenti. Bruk. Tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan tinggi. Emily terhuyung ke belakang, hampir jatuh, jika saja sebuah tangan tidak lebih dulu menahannya. Ia mendongak. Seorang anak lelaki berdiri di hadapannya. Bukan anak kebun seperti yang biasa ia lihat. Pakaiannya rapi, terlalu bersih untuk tempat seperti ini. Kemeja putih berlengan panjang, celana gelap yang jatuh sempurna, dan sepatu yang nyaris tak tersentuh tanah. Wajahnya tenang, sorot matanya tajam meski usianya masih belia. Seorang remaja. Asing. Dan jelas bukan dari sini. “Maaf…” ucap Emily kecil refleks, suaranya lirih. Anak lelaki itu menatapnya beberapa detik terlalu lama. Seolah ia sedang memastikan sesuatu. CANTIK. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya. Emily mengangguk cepat. Ia baru menyadari bahwa tangan anak lelaki itu masih menggenggam pergelangan tangannya. Hangat. Kuat. Berbeda dari sentuhan siapa pun yang pernah ia kenal. “Aku… aku tidak lihat,” katanya polos. Anak lelaki itu melepaskan genggamannya perlahan. “Tidak apa. Kau berlari terlalu cepat.” Emily mengernyit kecil. Ia tidak terbiasa ditegur dengan suara setenang itu. Biasanya, orang dewasa hanya berteriak atau tertawa melihatnya jatuh. “Namamu siapa?” tanya anak lelaki itu lagi. “Emily,” jawabnya tanpa ragu. “Kakak?” Ia menyebutnya kakak karena anak itu jauh lebih tinggi darinya. Anak lelaki itu terdiam sejenak. “Mark.” Nama itu sederhana. Emily mengingatnya dengan mudah. Dari kejauhan, suara ibunya memanggil. “Emily! Pulang!” Emily menoleh, lalu kembali menatap Mark. “Aku harus pulang.” Mark mengangguk pelan. Tatapannya tak berpindah darinya, seolah ingin mengukir wajah kecil itu ke dalam ingatan. “Besok kau ke sini lagi?” tanyanya. Emily tersenyum lebar. “Iya. Aku selalu ke sini.” Mark mengangguk sekali lagi. “Kalau begitu… aku akan menunggumu.” Emily tidak tahu mengapa kalimat itu terdengar aneh di telinganya. Ia hanya melambaikan tangan kecilnya, lalu berlari pergi. Rambutnya berkibar, tawanya perlahan menghilang di antara barisan tanaman teh. Mark tetap berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti sosok kecil itu sampai benar-benar lenyap dari pandangan. “Tuan Mark!” Sebuah suara memecah keheningan. Seorang pria dewasa bergegas menghampirinya dari arah jalan setapak. Pakaiannya rapi, sikapnya penuh hormat, jelas bukan buruh kebun. “Aku mencarimu ke mana-mana,” ucap pria itu sedikit terengah. “Ayo pulang. Kakek Johnny menunggumu.” Mark menoleh perlahan. Wajahnya kembali datar, dingin, seperti anak lelaki yang berbeda dari beberapa detik lalu. Namun sebelum beranjak pergi, ia menatap sekali lagi ke arah Emily menghilang. Mark melangkah pergi, meninggalkan kebun teh yang kembali sunyi. Sementara itu, Emily berlari menuju ibunya, tak tahu bahwa sore itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ia tidak tahu bahwa anak lelaki yang ia temui adalah cucu dari pemilik kebun teh itu. Tidak tahu bahwa namanya akan terukir jauh lebih dalam dari yang seharusnya. Dan tidak tahu bahwa suatu hari nanti, lelaki bernama Mark… akan menepati kata menunggu itu dengan caranya sendiri. Di sebuah ruang makan itu hangat dan terang, kontras dengan dinginnya senja di kebun teh. Meja panjang telah tertata rapi. Hidangan tersaji lengkap, namun satu kursi masih kosong. Seorang pria tua duduk di ujung meja. Rambutnya memutih, sorot matanya tajam namun penuh wibawa. Dialah Johnny Fernandes, pemilik kebun teh itu. “Dari mana saja kau, Mark?” tanya Johnny tanpa menoleh, suaranya datar namun jelas menahan ketidaksabaran. “Aku sudah menunggumu untuk makan malam.” Mark melangkah masuk dengan tenang. Wajahnya bersih dari rasa bersalah. Ia menarik kursi dan duduk seolah tidak ada yang perlu dijelaskan. “Aku hanya berjalan-jalan,” jawabnya singkat. “Dan menemukan mainan baru.” Johnny akhirnya menoleh. Alisnya terangkat sedikit. “Mainan?” Mark terdiam sejenak. Bayangan rambut hitam yang berkibar dan tawa kecil yang ringan melintas di benaknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Indah sekali,” tambahnya pelan. Johnny tidak bertanya lebih jauh. Ia mengenal cucunya cukup baik untuk tahu bahwa Mark bukan anak yang suka bicara tanpa alasan. Ia menghela napas, lalu mengambil serbet. “Kita akan kembali ke kota malam ini,” kata Johnny akhirnya. “Ada urusan dengan beberapa kolega. Kau ikut denganku.” Mark berhenti menggerakkan sendoknya. “Tidak,” ucapnya tenang. Johnny menatapnya tajam. “Apa maksudmu?” “Aku ingin tinggal di sini sampai libur sekolahku selesai,” kata Mark tanpa ragu. “Aku menyukai tempat ini.” Udara di ruang makan terasa menegang. Johnny meletakkan peralatannya perlahan. “Ini bukan tempat bermain untukmu.” Mark mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, dingin, dan terlalu dewasa untuk usianya. “Aku tidak sedang bermain, Kek.” Johnny terdiam. Ia melihat sesuatu di mata cucunya. Sesuatu yang asing, namun tidak bisa ia bantah. Akhirnya, ia menghela napas panjang. “Baik,” katanya berat. “Tapi jangan buat masalah.” Mark mengangguk pelan. Malam itu, saat Johnny beranjak meninggalkan desa, Mark berdiri di balkon kamar besarnya. Dari kejauhan, hamparan kebun teh tampak sunyi di bawah cahaya bulan. Ia tersenyum tipis. Karena kini, ia tahu satu hal pasti. Ia tidak akan pulang sebelum bermain dengan mainan indahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD