CHAPTER 6: Alea dan Avelo

1579 Words
"Lea, mau ikut gue nggak?" "Ke mana?" "Bersenang- senang!" Avelo menarik tangan Alea dan pergi menuju anak-anak yang tengah adu sepeda. *** Kini di hadapan Alea adalah sepeda berukuran sedang. Sementara Avelo sudah siap mengendarai dari depan begitu juga dengan anak-anak di sebelahnya yang sangat antusias dengan apa yang akan mereka lalukan hari ini. "Ayo Le, naik!" pinta Avelo membuyarkan lamunan Alea yang sejak tadi ragu pasalnya ia baru pertama kali naik sepeda apalagi dibonceng di depan. "Tapi Vel, kita mau ngapain?" tanya Alea ragu. "Kita bersenang-senang." Awalnya Alea ragu, namun ia mulai memepercayai setiap perkataan Avelo. Bersenang-senang, mungkin itu ide yang baik.Batinnya Ajakan Avelo membuat Alea luluh, dengan tangan sedikit gemetar ia mulai berpegangan di kedua bahu Avelo sebagai penyangga dan naik dengan posisi berdiri pada sepeda itu. "Siap ya!" "Jangan kencang-kencang!" sahut Alea. "Tenang aja, lo aman sama gue." "Oke anak-anak. Semua udah pada siap!!" teriak Avelo. "Siap kak!!" Avelo memberi intruksi pada anak-anak lain. Turunan di bawah sedikit terjal. Alea sedikit was-was sembari menutup mata. "Okee!!" Avelo mulai mengayuh pedal dan mulai meluncur ke bawah. "Wooooo!!!" teriak Avelo begitu nyaring begitu juga dengan anak-anak saat menikmati itu. "Lea, buka mata lo!" perintah Avelo. "Aku takut!" "Ada gue, nggak usah takut." Perlahan Alea membuka matanya. "Aaaaaaaa." pegangan Alea semakin mengerat seiring turunan yang mereka lewati. "AVELOOO!!" Hahahaha Avelo terlihat sangat senang hari ini. Apalagi saat Alea memeluk erat lehernya, dalam hati ia begitu bahagia melihat ekspresi yang ditunjukan Lea padanya. *** Alfa berjalan ke belakang rumah —tepatnya di lapangan basket yang biasa digunakan Avelo saat mengisi waktu luang dengan bermain basket. Tempat ini memang jarang digunakan sekarang—hanya saja menyimpan banyak kenangan terutama saat masa kecilnya bermain riang bersama Avelo. Tangan Alfa terulur mengambil bola basket di bawahnya. Ia mencoba mendribel bola itu, rasanya sudah lama ia tak memainkan bola ini—dan hampir saja ia lupa cara memasukkan bola di ring dengan benar karena beberapa kali ia mencoba selalu gagal—padahal dulu waktu kecil Alfa bermimpi menjadi pemain basket profesional. Kadang Alfa sering diam-diam mengamati Avelo bermain basket sendirian--jujur ia sangat iri padanya. "WOI!!" teriak Avelo muncul secara tiba-tiba dari jauh dan masih mengenakan seragam sekolah. Avelo menghampirinya. "Lo baru pulang?" tanya Alfa. "Iya. Kenapa? Nyokap nyariin gue?" "Enggak. Mama belum pulang dan masih di rumah tante Mika." sahutnya. "Bagus deh!!" Avelo bernapas lega. Avelo menaikan satu alis menatap heran pada Alfa yang saat ini memegang bola basket. "Tumben. Lo main basket?" sindir Avelo. "Oh, gue cuma iseng." "Kenapa nggak lo aja yang gantiin buat pertandingan Basket lusa depan?" ujar Avelo. "Lo nyindir gue?" "Enggak. Dulu kan lo lebih jago main basket daripada gue," ucapnya. "Karena gue nggak bisa," ucap telak Alfa. "Oh, apa lo lupa cara main basket? " Avelo merampas bola itu di tangan Alfa. Avelo melempar tas ke sembarang arah, tak lupa blazer sekolah ia lepas. Avelo mulai lagi mendribel bola itu dan langsung melempar bola dan tepat ke arah ring dengan sempurna. Alfa hanya diam di tempat. "Gue mau lo rebut bolanya!" tantang Avelo kemudian tepat di hadapan Alfa. Awalnya Alfa bersikap acuh, tapi berulang kali justru Avelo mulai memancingnya untuk bermain kembali seperti saat waktu kecil mereka sering bermain bersama. "Ayolah Fa, nggak asik lo." Saat Avelo kembali melempar bola itu tak disangka Alfa menangkisnya. Avelo tersenyum ternyata Alfa mulai terpancing. Kini bola itu di tangan Alfa, ia mendribel bola dan langsung melempar ke ring. Masuk!Tak disangka Alfa berhasil melakukannya lagi. "Gimana udah mulai bersemangat?" canda Avelo tersenyum tipis. "Lo yang mulai!" Alfa kembali mendribel bola itu saat Avelo menghadang. Keduanya begitu bersemangat hari ini. 15 menit mereka bermain bersama, peluh keringat membasahi hampir sebagian dahi mereka dengan napas terengah-engah. Alfa terus memegangi dadanya yang mulai kelelahan sembari mengatur napas. Saat ini giliran Avelo yang mendribel bola, sebisa mungkin Alfa mencoba menahannya—namun di luar perkiraan. Kemampuan Avelo semakin lebih baik dan hampir saja Alfa terjungkal ke belakang. "Oke gue nyerah, lo yang menang!" akhirnya Alfa menyerah sekarang. Skor hampir sebanding hanya saja Avelo lebih unggul di atasnya. Keduanya kini tergeletak di lapangan menatap langit sore hari. Wajah mereka dipenuhi keringat. "Eh Alfa!" "Hem!" "Kenapa lo berhenti main basket?" tanya Avelo menoleh sekilas. "Karena basket bukan pilihan gue, dan gue juga nggak bisa, " ujar Alfa kemudian. "Maksud lo?" Avelo memincingkan mata bingung. Alfa bangkit, sudah waktunya ia harus masuk ke rumah sebelum orang tua mereka datang. "Gue balik dulu!" Alfa berjalan pergi meninggalkan Avelo yang masih tergeletak di sana. *** Malam harinya. "Uhuk...uhuk..." Alfa berulang kali terbatuk merasakan sesak di dadanya. Ia berjalan menuju ke kamar mandi secepatnya dan langsung menuju ke kotak obat di samping wastafel. Sebuah botol berukuran sedang berwarna coklat pekat diambilnya lantas ia buka, dua pil langsung ditelannya. Sejenak ia menatap dirinya di depan cermin sembari mengatur napas. "Lo kuat Fa...lo kuat!!" *** 10 tahun yang lalu. Alfano atau biasa disapa Alfa, ia seorang murid yang cukup pintar dan berprestasi. Kemampuannya tak diragukan lagi saat ia berkesempatan menjadi juara olimpiade Fisika di sekolahnya. Sosok yang selalu ceria dan ramah pada siapapun. Alfa berasal dari keluarga sederhana yang mencintai dunia Astronomi. Ayahnya, Alexander Nichoolas adalah Profesor yang sangat terobsesi dengan benda langit. Bahkan Ayahnya memiliki satu ruangan khusus untuk mengamati benda langit di malam hari. Malam ini, Alfa dan sang Ayah tengah mengamati dengan teropong bintang akan benda langit yang diperkirakan akan jatuh malam ini. "Ayah yakin nanti malam ada hujan meteor?" tanya Alfa ragu. "Ayah sudah memastikannya Alfa, nanti jam 12 malam akan ada satu bintang yang akan jatuh ke bumi." Alfa hanya duduk sembari melihat sang ayah tengah sibuk dengan teropong bintang dan buku kecil di tangannya--mungkin untuk mencatat data. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Alfa mulai menguap karena mengantuk. "Ayah, Alfa udah ngantuk!" keluh Alfa berpangku tangan menoleh ke arah Ayahnya. "Tunggulah beberapa saat lagi Alfa, hujan meteor akan datang. Kamu pasti akan suka melihatnya, " ujar Ayahnya. Alfa mencoba untuk bertahan dari rasa ngantuknya, ia memposisiskan duduk di sofa sambil bersandar dengan bantal kecil yang ia gunakan sebagai tumpuan. Sementara sang Ayah masih sibuk mengamati sembari melirik jam di tangannya. "ALFA!!" teriak sang Ayah memanggil namanya, namun saat ia menoleh ternyata Alfa sudah tertidur pulas. Benar saja, jam kini menunjukkan pukul 12 lebih dan hujan meteor Orionid tengah melintas di langit malam, tapi sayang pemandangan indah ini Alfa tak bisa melihatnya. Hanya berlangsung 30 -70 kali perjam, sang Ayah mencatat semua data di buku kecil yang selalu ia bawa lantas menghampiri Alfa yang tertidur disana, tangan sang Ayah mengambil selimut kecil dan menyelimuti tubuh anaknya yang ringkih itu. "Selamat malam Alfa!" ..... Kebahagiaan Alfa bersama keluarganya tak berlangsung lama saat sebuah kebakaran menghanguskan rumah mereka. Benar, Alfa selamat hanya saja kedua orang tuanya meninggal karena tak bisa di selamatkan. Sejak kejadian itu Alfa berubah menjadi sosok pribadi tertutup dan sangat pemurung. Ia sudah tak punya siapa-siapa lagi, bahkan pernah polisi akan membawanya ke panti asuhan dan Alfa hanya pasrah saja sampai ia bertemu dengan dokter Radith yang juga dokter yang saat ini mengurusnya, ia sangat murah hati dan sangat baik. "Alfa, ada yang ingin bertemu dengan kamu," ujar dokter Radith padanya. Alfa hanya diam sembari memeluk kedua lututnya di ranjang rumah sakit. Kedatangan Sharen merubah segalanya. Ia mengadopsi Alfa untuk menjadi bagian keluarganya. Dan kebahagiaan Alfa kembali hadir dengan keluarga baru dan juga saudara seusianya. **** Hari berikutnya di sekolah. "ALFAA!!" Alfa berhenti dan menoleh ke belakang saat mendengar teriakan Danu, salah satu pengurus OSIS menghampirinya. "Proposal kemarin udah lo kasih ke kepala sekolah, oh ya hari ini sepulang sekolah ada rapat anggota," ujar Danu mengingatkan. "Gue udah lihat usulan kalian, nanti gue pertimbangan lagi dan minta persetujuan kepala sekolah," kata Alfa. "Oh ya jangan lupa, lo kasih tahu Avelo. Tadi anak basket suruh Velo datang latihan." "Velo bolos lagi?" tanyanya menyerngit. "Pokoknya gue serahin Velo sama lo. Yaudah gue balik ke kelas dulu!" Danu langsung bergegas pergi dengan sedikit tergesa gesa. "Tunggu...Dan!!" belum sempat Afa mencegah, Danu lebih dulu pergi. Alfa mendengus kesal sekaligus marah—bisa-bisanya Avelo bolos lagi. Kalau sampai ketahuan tidur di UKS, awas aja. Dugaan Alfa benar, Avelo membolos tapi saat ini ia bukan di UKS, melainkan di balkon atap sekolah sambil tiduran. Tak lupa headset yang ia pasang di kedua telinga sambil menikmati lagu yang saat ini diputarnya. Jam menunjukkan pukul 08.00 WIB—dan sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Hari ini ada jadwal pelajaran sejarah, pelajaran yang paling membosankan bagi Avelo-- bagaimana tidak, selama dua jam nonstop Guru akan bercerita panjang lebar di depan kelas, tak jarang ada murid yang malah tertidur di kelas. Itulah kenapa Avelo menghindari pelajaran itu dan memilih membolos. Jangan berpikir kalau Avelo sering bolos dan suka membuat masalah di sekolah, nilai pelajaran pun ikut hancur—itu salah besar. Karena dasar otak Exel yang menurun pada anaknya membuat Avelo hampir selalu menduduki peringkat 10 besar di sekolahnya. So genius ! *** Berbeda tempat, Aleania baru saja keluar dari toko bunga membeli setangkai mawar putih yang ia khususkan untuk diberikan pada seseorang. Alea lalu berjalan sambil menggenggam setangkai bunga itu di tangannya. 10 menit ia berjalan, Alea sudah sampai di tempat yang akan ia temui, tepat di pertigaan jalan ia menaruh bunga itu disana. Tepat 2 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan pernah terjadi di sini dan salah satu korbannya adalah kakaknya sebelum ia pindah ke bandung. Alasan ia kembali ke tempat ini dan memulai kehidupan baru disini, awalnya ia tak ingin terus meratapi kesedihan kehilangan anggota keluarganya, terutama kakaknya yang sangat ia sayangi. Alan Argian Vando
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD