Lebih gila

1014 Words
Mereka duduk saling berhadapan di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari kantor tempat di mana Sania bekerja, sesuai kesepakatan kemarin, Bobby menemui Sania untuk membicarakan perihal penting. Jujur, saat ini Sania cukup penasaran dengan apa yang ingin disampaikannya, tetapi meski demikian tidak terlalu memperlihatkan rasa penasaran yang besar pada pria di depannya ini. Keduanya sama-sama terdiam, terlihat kikuk sekali ketika berada dalam meja yang sama. Entah apa yang terjadi sehingga mereka seperti sangat asing dalam situasi ini. "San, sebelumnya aku minta maaf." Dalam jangka waktu yang cukup lama menanti, akhirnya suara Bobby mengudara, Sania yang awalnya menatap jari-jarinya di atas meja kini mengalihkan atensi pada lawan bicaranya.Ia menatap sekilas pada Bobby yang sudah menghilangkan panggilan sayang padanya. Ah, baiklah, itu bukan hal besar. Biarkan saja Bobby memanggilnya apa. "Minta maaf untuk apa?" Sania bertanya diplomatis, dia benar-benar bingung mengapa tiba-tiba Bobby menyatakan permintaan maaf? Bukannya di sini Bobby akan bicara penting padanya? Lantas apa korelasinya 'bicara penting' dengan 'minta maaf' yang barusan didengar? Ah, Sania tahu, apa mungkin Bobby mulai menyadari jika dalam waktu beberapa pekan ini hubungan mereka kian merenggang dan Sania terkesan acuh tak acuh padanya? Atau mungkin Bobby sudah menimbang-nimbang untuk pada siapa melanjutkan masa depannya. Astaga ... kenapa pikiran Sania penuh dan berisik sekali? "Untuk semuanya, Sania. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Aku nggak tahu harus memulai dari mana yang jelas pada intinya, aku ... mau kita putus." Sania tidak terkejut, meski tidak pernah menduga jika Bobby yang justru mengusaikan hubungan ini, bukan dia. Tidak berkutik, Sania hanya dapat menghela napas panjang. Meraih gelas berisi jus semangka untuk mengaliri tenggorakan sebelum ia balas ucapan Bobby. "Aku nggak masalah, aku tahu mungkin hubungan ini terlalu stagnan buat kamu. Kurang menantang dan aku ... nggak bisa kasih apa yang kamu mau, Bob." Senyum manis terukir dari kedua sudut bibir sehabis berkata demikian. "Kamu nggak marah?" "Enggak. Untuk apa aku marah?" sahut Sania cukup tenang. Tidak ada gurat emosi yang timbul pada ekspresi wajah. Dia benar-benar menguasai dirinya dengan baik. "Aku tahu, aku sadar kalau selama ini aku yang terlalu menggebu-gebu dalam hubungan ini, aku terlalu excited." "Nggak kok, aku juga sama. Aku juga menggebu-gebu dalam menjalin hubungan sama kamu." Jawaban Bobby membuat Sania terkekeh kecil, serasa sedang mencemooh jika pada dasarnya ucapan itu hanya sekadar manipulasi belaka. "Lalu, kenapa sekarang kamu berniat ninggalin aku?" Pertanyaan itu cukup menjebak, benar! Apabila Bobby memang mencintai sebesar itu, tidak akan pernah adalah alasan untuk berakhir seperti ini. "San ..." "Enough, iam okay. Lebih baik aku nggak tahu alasan apa pun dari mulutmu, biar aja aku berspekulasi dengan diriku sendiri," sahut Sania. "Spekulasi seperti apa?" "Mungkin aku membosankan." "Nggak, bukan kayak gitu." Sania bergerak memundurkan punggung kemudian menyandarkannya pada kursi. "Aku ... aku ..." Bobby menghela napas setelah menjeda kalimatnya barusan. "Aku harus bertanggung jawab atas kehamilan seseorang, San. Itu alasanku." Bobby tertunduk usai mengatakan hal demikian. "Maaf ... "sambungnya. Mama harinya Sania tidak dapat istirahat dengan tenang, pikirannya terus tertuju pada percakapannya dengan Bobby siang tadi. Ia merasa terusik, sangat terusik oleh semua yang diputuskan oleh Bobby. Sania menghela napas, jika Bobby bisa diambil begitu mudah oleh Resti, seharusnya Sania bisa mengambil Shaka dengan mudah pula dari Resti bukan? Sepetinya ini saat yang tepat untuk meminta perhatian dari Shaka, ia benar-benar butuh teman untuk mencurahkan segalanya. Telepon tersambung dengan cepat, ada sebongkah rasa puas ternyata Shaka menanggapi sangat cergas. "Ya, San. Ada apa?" "Mas di mana?" "Aku di rumah, kenapa?" "Aku mau ketemu, bisa nggak? Aku butuh kamu sekarang. Aku mau berkeluh kesah." Tanpa tahu malu ia meminta Shaka untuk menemuinya. "Kapan?" "Sekarang, Mas. Kalau nggak bisa, nggak usah." "Emang siapa yang bilang nggak bisa? Belum juga kasih jawaban kamu malah menarik kesimpulan sendiri." Terdengar suara kekehan di seberang sana membuat hati yang semula kesal berubah dengan cepat. "Kemana aku harus datang, San?" "Ke apartemenku." "Aku berangkat sekarang." Panggilan berakhir, Shaka buru-buru meraih kunci mobil dan bergegas keluar dari rumah. Tanpa ia tahu, Resti yang hendak pergi ke dapur, mencuri dengar percakapan mereka tanpa hambatan. Jadi, kamu udah ada wanita lain, Mas? Pantas semakin cuek sama aku. *** "Rencanaku gagal, aku jadi kesel." Air mata Sania merebak memenuhi retina. Dia tidak sedang berakting di sini, kekesalannya benar-benar ada sehingga tidak lagi dapat membendung air mata. "Rencanaku untuk balas dendam nggak sesuai ekspektasi. Padahal aku udah effort banget dalam menjalankan strategi ini, bersikap pura-pura nggak tahu tentang kebusukan Bobby di belakangku dan menahan diri untuk nggak labrak istri kamu. Aku benci kayak gini tahu nggak?" Emosinya meluap dan Shaka memahami perasaan yang dialami oleh Sania sekarang. "Kamu tenang, ya. Jangan emosi, jangan marah-marah!" Diraihnya tubuh itu untuk kemudian didekap seerat mungkin. Sania yang mendapatkan perlakuan semanis itu jujur saya menjadi sangat terenyuh, ia terpejam seraya menghirup aroma parfum yang melekat pada tubuh pria yang melingkupinya. "Dengar ya! Kamu akan baik-baik aja, walaupun rencanamu gagal karena dia lebih dulu putusin kamu. Jangan kesel lagi, oke!" Telapak tangan Shaka terulur mengusap pelan mengusap permukaan punggung yang saat ini tengah bergetar hebat. "Makasih banyak atas afeksinya. Kamu berhasil sedikit membuat perasaan ini membaik," ungkapnya dengan sejujur-jujurnya. Awalnya Sania benar-benar kecewa, ia menyesali keputusannya yang saat itu memilih untuk diam saja seperti itu. Harga dirinya mendadak merasa jatuh lantaran sudah ditinggalkan usai dikhianati. Lantas apa artinya balas dendam jika seperti ini pada akhirnya? Bobby meninggalkannya, itu sama artinya dengan perhitungan straranya tidak lebih tinggi dibandingkan Resti. Sania tidak sepenting itu sehingga Bobby memilih untuk bersama Resti yang statusnya jelas istri dari orang lain. "Iya sama-sama." "Lalu bagaimana sama kamu sendiri? Apa kamu bakal tetap sama dia? Sama wanita yang udah dihamili kekasih orang lain?" Tatapannya terangkat menatap lekat dua bola mata milik Shaka. "Enggak San, Resti ... minta cerai sama aku." "Terus respon kamu bagaimana?" "Aku menyetujuinya. Memang apa yang harus aku cegah dari permintaan itu? Nggak ada alasan untuk mempertahankan hubungan yang sejak awal nggak seharusnya ada ini." "Apa dia mengaku kalau dia hamil?" Sania sangat penasaran, dan Shaka menggeleng pelan atas pertanyaan itu. "Ayo, lanjutkan rencana kita. Jika mereka bisa segila ini, maka kita juga bisa melakukan hal yang lebih gila." Sania cukup terperangah atas ucapan Shaka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD